Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
All about Vina


__ADS_3

Gita telah dijemput oleh Dimas dan Intan. Vina kini sendiri lagi. Meratapi kegelisahan yang mendalam. Suasana hatinya kini muram lagi, karena Gita telah pergi, Vina merasa tak semangat.


Vina ketiduran. Vina tak tahu mengapa hatinya masih belum juga membaik. Vina berharap, semoga semuanya akan baik-baik saja. Vina tak bisa memaksakan untuk beraktifitas, jiwanya cukup lelah untuk itu.


Vina terlelap tidur. Ia tak menyadari panggilan masuk ke handphonenya sejak tadi. Puluhan panggilan tak terjawab, juga di abaikannya. Vina tak menyadari handphonenya menyala sejak tadi.


***


Kediaman Gilvan


Gilvan berpikir. Membuka pesan whatsapp dari Vina sejak saat mereka terakhir bertemu. Gilvan merasa, Vina pasti sedih. Hatinya tak karuan jika mengingat Vina. Gilvan merasa bersalah, sebenarnya bukan ini yang Gilvan inginkan. Gilvan hanya tak percaya diri, Gilvan hanya merasa hatinya sedang mengalami kesulitan.


Gilvan mencoba membalas pesan tersebut, namun tak ada balasan, hanya ceklis satu yang terlihat di layar handphonenya.


Gilvan sangat merindukan Vina, Gilvan ingin Vina ada disampingnya saat ini juga. Tetapi, ini pasti sulit. Vina pasti sangat membencinya saat ini. Gilvan masih ragu, hatinya masih takut untuk jatuh cinta lagi, ia masih belum siap.


Tetapi? Sampai kapan cinta akan datang kalau Gilvan tak mencobanya, sesak dadanya jika mengingat Vina. Ternyata Gilvan memang merindu pada Vina. Ini memang cinta, hanya saja cinta itu tertutup oleh ketidaksiapan Gilvan untuk memulai lagi.


Gilvan mencoba menelepon ke nomor telepon Vina, tetapi tak ada jawaban. Berpuluh-puluh kali Gilvan menelepon, tak ada jawaban pula dari Vina. Gilvan tak menyerah, dia terus saja menelepon Vina. Entah mengapa Vina tak mau mengangkat teleponnya. Gilvan sempat putus asa, tapi dia tak boleh menyerah.


Gilvan harus mencoba memulai kembali. Gilvan harus melunakkan hati Vina, Gilvan harus meyakinkan Vina bahwa ini memanglah cinta. Cinta ini memang masih belum sepenuhnya, tetapi hati Gilvan tak bisa berbohong,


Gilvan mengirim pesan kepada Vina, tak terasa air matanya mengalir mengetik kata demi kata. Gilvan tahu, dia adalah lelaki yang egois. Vina pasti sudah sangat membencinya, tetapi baru kali ini hatinya siap memulai lagi. Cinta yang ia kubur telah bangkit kembali.


Gilvan baru menyadari, bahwa ia memang sangat tertarik dengan Vina. Tak mungkin Gilvan meniduri Vina kalau Gilvan tak menyukai Vina. Seperti ada tarikan magnet pada diri Vina, membuat Gilvan ingin menyetubuhinya. Gilvan menyadari kesalahannya, ia ingin sungguh-sungguh meminta maaf pada Vina.


***


Malam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Vina bangun dari tidurnya. Sejak sore, Vina memang sudah tidur. Kini, ia terbangun. Malam sangatlah dingin, sunyi sepi tiada suara apapun. Vina melirik sekitarnya, di mejanya sudah ada menu makan malam untuk Vina.


Vina beranjak ke kamar mandi, dan mengganti pakaiannya. Ia segera melahap makanan yang telah disiapkan oleh Ibunya. Ia tak nafsu makan, makanannya tak benar-benar dimakan. Ia hanya memainkan sendok nya.


Vina kembali lagi ke ranjangnya. Ia melupakan handphonenya. Terdengar bunyi bip, pertanda baterai handphonenya melemah, ingin segera di charge.


Vina melihat handphonenya, betapa kagetnya Vina. Ada 73 panggilan tak terjawab, dan 7 pesan masuk di handphonenya. Vina mengernyitkan dahinya, siapa yang meneleponnya sebanyak itu, pikirnya.


Vina membuka panggilan, nomornya tidak dikenal. Vina lupa itu nomor siapa, Vina tak sama sekali mengingat Gilvan, karena tak mungkin baginya jika Gilvan menghubunginya.


Vina akan membuka pesan masuk. Ketika ia akan memencet gambar pesan, handphonenya ada yang memanggil. Vina refleks mengangkatnya.


"Hallo, siapa ini?" tanya Vina


"Vina, teman baik nona. Kamu belum tidur? Rey yang menelepon


" Rey? Kamu dari tadi neleponin gue ya?"


Vina berpikir, yang meneleponnya berpuluh-puluh kali mungkin Rey. Vina tak mengecek nomor handphonenya dengan benar.


"Enggak, kok. Baru sekarang aja saya nelepon kamu. Iseng, kirain kamu sudah tidur." ucap Rey


Rey baru saja meneleponku. Lalu, siapa yang tadi meneleponku? Banyak sekali panggilan tak terjawab, ada pesan masuk pula. Ah, biarkan saja dulu. Rey sedang meneleponku, tak enak kalau aku tak fokus padanya. Vina dalam hati.

__ADS_1


"Oh, maaf. Abisnya nomor lu gak ada namanya di handphone gue."


"Ini sudah malam. Kenapa kamu belum tidur?" Rey bertanya


"Gue baru bangun!" jawab Vina cuek


"Kamu baru bangun jam segini? Memangnya kamu tidur jam berapa?" tanya Rey


"Jam 5 sore." ucap Vina


"Berarti kamu gak sholat dong?"


"Gue lagi halangan, baru sehari." jawab Vina cuek


"Baguslah kalau gitu. Kamu sudah makan?" tanya Rey


"Gak usah basa-basi deh! Lu ngapain nelepon gue malem-malem gini?" tanya Vina jutek


"Gak ada apa-apa. Saya hanya kesal, Tuan Rama sudah tidur. Saya tak ada teman berbincang. Lalu, tak sengaja memencet nomor telepon mu. Maafkan diriku yang lancang ini ya!" ucap Rey sopan


"Darimana lu tau nomor handphone gue?"


"Pas di gerai handphone, aku mencoba memasukan nomor teleponku di handphone barumu, dan aku memanggilnya dari handphonemu, aku jadi tahu nomor mu." jelas Rey


"Lancang banget lu ya?" ujar Vina


"Maaf, kalau kamu tidak suka. Aku akan menghapus nomormu." ucap Rey


"Becanda lah gue, serius amat sih idup lo Rey! Lo yang udah beliin gue handphone ini, gue gak masalah akan hal itu. Gue justru mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kebaikan hati lo." terang Vina


"Thanks banget, Rey! Suatu saat nanti, gue bakal ganti uangnya. Untuk sekarang, gue masih belum punya uangnya." jawab Vina


"Aku tidak minta kamu menggantinya, Vin. Cukup kamu pakai saja handphone itu. Aku sudah senang sekali. Toh, nona Gita sudah menggantinya padaku." jawab Rey


"Gita gantiin uang lu? Serius lu?"


"Tuan Rama yang menggantinya, aku sudah bilang tak perlu diganti, tetapi Tuan Rama tetap memaksa." ucap Rey


"Itu balasan atas kebaikan hati lo, Rey. Terima kasih banyak. Gue beruntung bertemu lo kemarin." Vina terlihat senang


"Tentu, Vina. Yasudah, ini sudah malam. Aku tak mau mengganggu waktu mu. Simpan nomorku ya? Besok aku telepon lagi." kata Rey


"Oke, Rey. Bye!" Vina mematikan teleponnya.


Vina lupa, tadi ia akan membaca pesan masuk di handphone nya. Tetapi, Rey keburu meneleponnya. Vina tak sempat membukanya, handphonenya terlanjur mati. Sejak tadi, handphone nya sudah low bate, ia lupa mencharge handphonenya.


Duh, malah mati handphonenya. Baterainya sudah habis sepertinya. Biarlah, pesan dari siapapun itu, pastinya tidak penting untukku. Vina dalam hati.


Vina mengambil kabel charge handphonenya dan segera menyimpan handphonenya dimeja. Vina membuka laptopnya, dan membuka file yang berisi drama-drama korea kesukaannya. Vina membuka file drama Crash Landing On You. Drama yang sangat ia sukai, karena ia sangat menyukai Hyun Bin.


***

__ADS_1


Gita tak bisa tidur. Ia sudah beberapa kali bolak-balik dari kamar anaknya menuju kamar tidurnya. Ternyata, tanpa Rama, hidup Gita sangat hampa sekali. Rama pasti sudah tidur, tetapi Gita tak bisa juga memejamkan matanya.


Gita mengambil handphonenya. Hatinya sangat rindu pada suami yang baru satu hari saja tak bertemu. Gita segera memanggil Rama.


Kalau teleponnya tidak diangkat, berarti dia tak merindukanku. Aku akan marah besok pagi. Keluh Gita dalam hati.


Telepon terus berdering, tetapi Rama tak mengangkatnya. Gita menelepon lagi, ia tak menyerah. Hatinya benar-benar merindukan Rama. Pada telepon ke 4, akhirnya telepon pun diangkat.


"Halo, Nona. Ini saya, Rey." ucap Rey diseberang sana


Kenapa harus Rey yang menjawab sih? Menyebalkan sekali. Gita dalam hati.


"Kenapa kamu yang angkat? Suamiku mana?" tanya Gita


"Bos sudah tidur Nona! Kasihan dia, hari ini dia lelah sekali. Saya tak tega membangunkannya."


"Terus, kenapa lu angkat telepon gue sih?" Gita kesal


"Saya tak tega, Nona harus menelepon berkali-kali seperti ini. Makanya, saya mengangkatnya." jawab Rey


"Ya sudah, gue tutup."


"Eh, Nona! Jangan dulu ditutup." cegah Rey


"Kenapa emangnya?" tanya Gita


"Saya mau tanya. Apa teman baik Nona sudah punya kekasih?" tanya Rey


"Vina maksud lu?"


"Iya, nona." jawab Rey malu


"Lu liat kan? Waktu acara gue Vina sama cowok?" tanya Gita


"Oh, jadi itu pacarnya ya non?" tanya Rey sedikit kecewa


"Bukan, itu saingan lo Rey!"


"Saingan? Maksud Nona?"


"Lelaki itu juga suka sama Vina. Sepertinya Vina juga menyukainya. Itu akan berat buat lo Rey." jelas Gita


"Jadi, aku sudah tak punya harapan lagi nona?" tanya Rey


"Harapanmu masih ada. Perjuangkan hatimu, cinta itu sulit. Cinta butuh perjuangan. Aku pun dulu begitu. Aku sempat menyerah, aku kalah. Tetapi, aku percaya kekuatan cinta. Hingga akhirnya aku dan suamiku bisa bersatu, dan hidup bahagia!" ucap Gita bijak


*Bersambung*


Happy reading ya All😘


Bagi komentarnya dooong, kalian yang sudah baca jangan jadi silent reader. Aku bahagia kalau kalian juga ikut mengomentari ceritaku ini. 😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya kak😍


Terima kasih..


__ADS_2