Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Gita & Rama


__ADS_3

Rama dan Gita sudah berada didalam kamar. Rama menatap tajam pada Gita. Gita cemberut, melihat ekspresi Rama padanya seperti orang yang kesal.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Gita


Rama tak menjawab. Rama tetap memperhatikan Gita dalam-dalam. Gita kesal, Gita merasa risih karena suaminya.


"Kamu mau jawab aku enggak?" tanya Gita lagi


Rama tetap tidak menjawab. Rama masih menatap istrinya yang cantik itu. Entah apa yang berada dibenak Rama. Rama tak berbicara sepatah kata apapun.


"Aneh! Perasaan aku gak ngelakuin kesalahan apapun sama kamu, tapi kamu malah ngediemin aku kayak gini. Ya sudah, aku mau pergi ke kamar anak-anak saja!"


Gita berdiri dari ranjangnya, Ia berjalan kesal. Kemudian, Rama menahannya. Rama memeluk Gita dari belakang. Pelukan Rama sangat hangat. Tangannya memeluk tubuh Gita dari belakang. Tangan Rama dan tangan Gita saling bersentuhan.


"Kenapa kamu harus marah?" tanya Rama


"Kenapa kamu malah diam? Kenapa kamu tak menjawab ucapan ku, HAH?" Gita kesal


"Aku terpukau melihatmu! Apa kau tahu? Kamu benar-benar istimewa dalam hidupku!" ucap Rama


Gita berbalik arah. Kini, Gita dan Rama saling berhadapan.


"Apa maksudmu? Bukannya kamu marah padaku? Padahal, aku tak melakukan kesalahan apapun!" cecar Gita


"Tidak, tidak sedikitpun sayang! Kamu tak melakukan kesalahan apapun. Kamu memang wanita yang pantas mendampingiku. Kamu memang wanita yang luar biasa."


"Apa sih maksud kamu? Selalu saja seperti ini. Ketika aku bertanya baik-baik, kamu tak merespon! Ketika aku telah marah, kamu pura-pura baik seperti ini. Aku tak mengerti apa yang ada dalam isi hatimu!" ucap Gita


Rama menatap Gita. Rama memegang pipi merah Gita. Tubuhnya mendekat. Jarak Gita dan Rama hanya sekitar 3 cm. Rama mendekatkan bibirnya ke wajah Gita, Rama mencium Gita dengan hangat.


Ia tak melepaskan ciumannya. Ia terus bermain-main di sana. Gita yang tak siap menerima serangan Rama, kesulitan untuk bernafas. Meskipun begitu, Gita mencoba mengatur nafas, dan menikmati kecupan lembut dari lelaki yang menjadi suaminya.


Ciuman hangat itu bermain-main sekitar dua menit. Gita dan Rama larut dalam kemesraan. Perlahan, Rama melepaskan ciumannya. Kemudian ia memegang halus pipi Gita, tersenyum lembut padanya. Mengecupnya lagi dengan hangat, lalu melepaskannya lagi dengan manis.


"Kamu tahu, alasanku tak menjawab perkataan mu itu karena aku tak mampu berkata-kata. Kamu membungkam mulutku. Kamu membuatku takjub. Betapa beruntungnya aku memiliki kamu!"

__ADS_1


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Gita


"Kamu, kamu wanita yang berbeda! Ketika wanita lain, seperti Ibu dan Adikku, menyukai accessories dan barang-barang yang mahal, kamu tak pernah meminta itu. Ketika mereka ingin membeli tas mahal, kamu bahkan tak tertarik untuk mengikutinya. Kamu tak pernah melihatku dengan harta, kamu tulus mencintaiku, bukan begitu?"


Gita tersenyum bahagia. Suami yang ia perjuangkan mati-matian, benar-benar memperhatikan dirinya. Rama menilai Gita dengan segala kebaikannya. Ketulusan Gita membuat Rama menjadi lelaki paling beruntung bisa memilikinya.


"Aku tak mencintai hartamu, aku mencintai dirimu. Aku menyayangi dirimu sepenuh hatiku. Kalau pun kau memang berasal dari keluarga yang kaya raya, aku tak pernah berniat ingin memiliki hartamu!" ucap Gita


"Itulah kelebihan mu. Kamu bahkan tak pernah sekalipun meminta apapun dariku." ucap Rama


"Karena aku tak butuh, semua yang ku butuhkan sudah ada di rumah ini. Aku tak perlu barang-barang yang berlebihan." ucap Gita


"Karena itulah aku sangat beruntung memilikimu. Alu bahagia kamu berada di sampingku." Rama memegang tangan Gita


"Terima kasih! Aku sangat mencintaimu." ucap Gita


"Mulai sekarang, jangan sungkan padaku, sayang! Mintalah apapun padaku jika ada sesuatu yang kamu inginkan. Kamu tak perlu menahannya. Kamu ini istri dari seorang direktur. Kamu harus bisa menikmati uang hasil jerih payahku." ucap Rama


"Apapun yang aku inginkan sudah terpenuhi. Uang yang selalu kamu beri padaku setiap hari itu cukuplah besar. Kamu memberiku uang 10 juta sehari. Itu sudah lebih dari cukup sayang! Aku tak perlu lagi merengek padamu kalau aku menginginkan sesuatu." jawab Gita


"Aku memang memberi uang itu untuk kebutuhan kecilmu. Tetapi, jika kamu menginginkan barang yang lain, mintalah padaku. Lihat, handphonemu. Bukankah sudah lama sekali tak kau ganti?"


"Ini masih bagus, sayang." jawab Gita mengambil handphone dari saku celananya


"Gantilah handphone mu dengan handphone keluaran terbaru. Aku memang tak memaksamu dari awal, karena aku takut kamu merasa direndahkan jika aku harus ikut campur pada apa yang kamu pakai." jawab Rama


"Terima kasih atas semua perhatianmu. Aku memang tak pernah meminta, karena aku tak membutuhkannya." jelas Gita


"Sesekali, belilah barang mahal dan bermerek seperti yang Mami sering beli, tetapi jangan terlalu berlebihan seperti Mami. Aku bekerja keras sampai bisa seperti ini itu untuk siapa? Ya, tentunya untuk kamu! Jodohku, istriku, dan Ibu dari anak-anakku!" jawab Rama


Rama memeluk gita hangat. Mengusap-usap lembut punggung istrinya itu. Gita merasakan hangat di sekujur tubuhnya. Perasaan ini masih sama seperti dulu. Perasaan ketika pertama kali bibir mereka saling berpagut.


Aliran darah yang mengalir lebih cepat, membuat hasrat semakin terpancing. Pelukan hangat dan mesra. Selama ini, mereka terlalu sibuk dengan keadaan dan urusan. Mereka lupa bahwa raga ini butuh kehangatan. Hangat sekali, pelukan mesra yang Rama dan Gita lakukan.


"Aku bahkan tak ingin melepaskan pelukanku untukmu." ucap Rama

__ADS_1


"Tapi, pelukanmu terlalu erat, sayang. Aku kesulitan bernafas." ucap Gita


Rama melepaskan pelukannya. Menatap istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku minta, jangan pernah berubah. Tetaplah seperti ini, tetaplah bahagia bersamaku. Aku tak akan bisa menemukan cinta lagi, cintaku sudah kuberikan seluruhnya padamu."


"Aku akan tetap menjadi diriku. Menjadi diriku yang mencintai dirimu dengan segala kekuranganku. Semoga kamu takkan bosan dengan cintamu yang apa adanya ini." jawab Gjta


"Bosan? Bualan macam apa itu? Justru, setiap hari aku kehausan cinta darimu, sayang! Kalau kamu tak memberiku cinta, hampa rasanya hatiku." Rama tersenyum


Gita tahu, akan kemana ujung-ujungnya percakapan ini. Gita tahu, dirinya harus pasrah menerima apa yang akan terjadi selanjutnya. Suaminya sudah terpancing sejak mereka berciuman tadi.


"Aku selalu memberimu cinta. Apa kamu tak merasakannya?" ucap Gita


"Cinta yang sesungguhnya, sayang! Cinta yang penuh dengan kehangatan dam gairah." Rama mulai nakal


"Aku tahu kemana arah pembicaraan ini." Gita sudah menduga sejak tadi


"Kau yakin sudah tahu?" tanya Rama


"Tentu saja!"


"Apa yang kau tahu?" Rama menggoda Gita


"Tanya saja pada dirimu sendiri." balas Gita


Rama mengangkat Gita, ia membopong Gita menuju kasurnya. Gita kaget dengan perlakukan ganas Rama. Gita benar-benar pasrah. Tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Wanita polos ini benar-benar menggodaku! Aku tak bisa melepaskannya begitu saja." ucap Rama


Rama berada di atas tubuh Gita. Juniornya sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Sejak tadi, Rama telah menahannya. Akhirnya, ia ingin segera menerobos pertahanan Gita.


"Bersiaplah, malam panjang kita akan dimulai lagi. Tarik nafas, dan aku akan menikmati dirimu."


Ah, sayang..."

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2