Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Tutorial dan referensi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Semuanya telah bersiap, akan mengantar Mami dan Papi mereka menuju bandara. Karena keberangkatan dimulai pada pukul sembilan. Fadli bingung, apakah ia harus ikut atau tidak.


Fadli dan Raina masih berada didalam kamar. Fadli melihat, Raina sepertinya tak akan kuliah, karena ia harus mengantar kedua orang tuanya menuju bandara.


"Aku ikut jangan?" tanya Fadli.


"Terserah kamu aja."


"Menurut kamu gimana?" tanya Fadli lagi.


Raina menatap Fadli, "Enaknya gimana?"


"Aku nanya, harusnya dijawab, bukan malah nanya balik." Fadli sedikit kesal.


"Itu aku udah jawab!" Raina tak mau kalah.


"Kamu memang jawab, tapi kamu malah nanya balik, bukan jawaban yang aku minta!"


"Ikut aja! Setelah selesai, baru kamu kerja." ucap Raina.


"Nah, gitu dong dari tadi. Kan aku jadi gak pusing." tambah Fadli.


"Harusnya kamu lebih pinter! Tanpa kuberi tahu, harusnya kamu udah tahu!"


"Baiklah, maaf." Fadli tak mau memperpanjang.


Raina memakai tas kecilnya, lalu turun menuju ruang utama. Fadli mengikutinya dari belakang. Seperti biasa, Raina selalu bersikap dingin setiap pagi. Ibarat es batu, ketika masih menjadi es dia amat dingin dan beku, tapi lambat laun juga ia pasti mencair dan meleleh.


Rama dan Gita telah siap. Rama diantar oleh pengawal Rey, sedangkan kedua orang tua Rama dan Raina, naik mobil bersama Fadli. Fadli telah memberi tahu Gilvan, kalau ia pasti datang terlambat. Ia harus mengantarkan kedua mertuanya ke bandara.


***


Mereka telah sampai di Bandara. Mami Maya tak henti-hentinya memeluk Raina, si anak bungsunya. Kesedihan dan kerinduan menjadi satu. Raina sebenarnya berat melepaskan kepergian kedua orang tuanya, namun mau bagaimana lagi. Rumah besar di Moskow kasihan terbengkalai.


"Raina sayang, jaga dirimu baik-baik ya. Ingat, nurut sama suami kamu, jangan bandel, jangan nakal. Mami gak mau ya, kamu ngelakuin hal aneh-aneh lagi. Kalau kamu kangen sama Mami, kamu ke Moskow ya, kamu ajak Fadli ke sana. Kamu belum pernah kan honeymoon bersama Fadli? Mami tunggu kamu di sana." Mami Maya memeluk Raina.


"Rai, Papi minta maaf gak bisa hadir di acara wisuda kamu nanti. Sekarang kan udah ada Fadli, kamu pasti akan didampingi oleh suamimu. Ada Kakakmu juga, kamu minta tolong apa aja sama Kakakmu ya, jangan sungkan. Pokoknya, kamu gak boleh ngecewain suamimu dan kedua Kakakmu. Rain, Papi tunggu hadiah dari kamu ya!" ucap Papi Angga.


"Hadiah apa Pi? Aduh, Raina gak bawain apa-apa. Maaf banget, Pi."


"Bukan hadiah barang maksud Papi. Hadiah cucu, untuk Papi dan Mami." ucap Papi Angga.


"Haish, Papiiiiiiii, nyebelin!!!" Raina kesal.


"Hahahaha, Papi, Raina sama Fadli itu kayaknya belum malam pertama, mereka masih malu-malu. Entah harus diajarin entah gimana." Rama tertawa.


"Pokoknya, nanti Papi mau cucu dari kalian ya!"


"Ih, Papi."


***


Kedua orang tua Raina telah naik kedalam pesawat. Mereka semua melambaikan salam perpisahan untuk kedua orang tua Raina. Selesai sudah, kepergian kedua orang tua Raina.


Mereka semua kembali pulang. Rama dan Gita akan pergi ke kantor, sedangkan Fadli dan Raina, akan ke restoran.


"Kamu mau kuliah gak?" tanya Fadli.


"Enggak, aku mau pulang aja."


"Yaudah, aku antar kamu dulu."


Fadli segera mengantar Raina pulang ke rumahnya. Fadli harus bekerja, karena ia malu, lusa Fadli akan cuti, karena akan pulang ke kampungnya.

__ADS_1


Fadli sudah sampai di restoran. Ara dan Wildan terlihat sibuk melayani para pelanggan. Fadli segera membantu kedua rekannya yang sedang sibuk.


Waktu tak terasa, sudah pukul lima sore, dan Fadli masih beraktifitas mengelola restoran. Tiba-tiba, Vina dan Gilvan datang bersama Givia.


"Sore, Mbak, Pak." sapa Fadli.


"Hy, Fadli. Apa kabar? Gimana Raina? Baik?" tanya Vina.


"Baik, Mbak. Dia masih sibuk kuliah." ucap Fadli.


"Oh iya. Denger-denger, mertua kamu udah terbang ya ke Moskow?" tanya Vina lagi.


"Udah, Mbak.Tdi pagi berangkatnya." ucap Fadli.


"Honey, kayaknya kalau kita adain liburan ke Moskow bareng-bareng seru kali ya? Nanti kita ke sana aja, itung-itung nemuin Tante Maya sama Om Angga juga." ucap Vina pada Gilvan.


"Ide bagus. Rencanakan saja dengan Rama dan Gita." jawab Gilvan.


"Eh, iya Fadli! Kamu belum pernah honeymoon ya sama Raina? Kapan dong kalian honeymoon? Jangan kerja terus! Biar aku beri izin kamu cuti untuk pergi honeymoon!" Vina tersenyum.


"Lusa dia mau honeymoon kali yang, dia udah minta izin buat cuti tiga hari. Dia mau ke Ciamis, pangandaran. Kampung halamannya si Fadli. Sekalian ketemu keluarganya, sekalian juga honeymoon sama istrinya!" Gilvan tertawa.


"Eh, enggak kok, enggak Pak." Fadli menggelengkan kepalanya.


"Uuuu, pangandaran ya? Romantis banget itu sih! Dia nih kayak si Rama sama Gita, sukanya suasana pantai aja. Ciye, mau honeymoon." goda Vina.


"Eh, enggak kok Mbak. Saya berangkat sendiri. Raina sibuk kuliah, dia gak mungkin bisa ikut." ucap Fadli.


"Raina bilang gitu sama kamu?" tanya Vina.


"Enggak sih, dia gak bilang apa-apa. Cuma aku aja yang sadar diri, kalau Raina tak mungkin bisa ikut, karena dia memang sedang sibuk. Sebentar lagi kan dia wisuda." ucap Fadli.


Vina mengernyitkan dahinya. Fadli memang laki-laki super polos dan tak paham akan isi hati wanita.


"Ya ampun, Fadli. Kamu gak nanya sama Raina kalo dia mau ikut apa enggak?" tanya Vina.


"Ya ampun, polosnya emang kebangetan deh! Cewek itu gak mungkin menawarkan diri, dia pasti mau kamu ajak Fadli. Kenapa kamu gak ajak istri kamu? Kuliah kan bisa pending dulu, cuma tiga hari kok, gak mungkin ketinggalan." ucap Vina.


"Masa saya harus ngajak Mbak? Kayaknya, dia juga gak akan mau saya ajak ke kampung." jawab Fadli.


"Diajak juga belum, kamu udah berasumsi begitu! Ajak aja dulu, kalau diajak gak mau, baru berangkat sendiri. Ngajak aja enggak, maen bilang gak mau. Kamu ish! Kalau kamu suamiku, udah ku ceramahin deh jadi laki gak peka amat! Untungnya, suamiku orangnya peka dan dia tu ngerti banget mau istrinya kayak gimana.“ jawab Vina panjang lebar.


"Oh, gitu ya mbak? Jadi, saya harus ajak istri saya, gitu?" tanya Fadli.


"Ya iyalah, Fad! Kamu tuh ajak aja dulu, kukira udah ngajak, cuma Raina nya gak mau."


"Fadli, Fadli. Kamu harus belajar sama saya. Kamu itu polos banget sih. Apa jangan-jangan, sampe sekarang, kamu juga belum malam pertama sama istrimu?" tanya Gilvan.


Fadli terdiam. Ia tak mungkin menjawab didepan kedua pasangan ini.


"Apa benar, Fad? Kamu belum malam pertama?" Vina pun ikut penasaran.


"Fadli, jawab dong!" Gilvan penasaran.


"Mm, i-iyaa, Pak. Saya belum melakukannya." Fadli benar-benar malu.


"Ya ampun, Fadli. Sudah kuduga! Kalian apa tahan satu kamar tanpa melakukan hal itu?" tanya Gilvan.


"Saya tidur di sofa, Pak." jawab Fadli.


"Fadli, kamu benar-benar polos." Vina tak menyangka.


"Saya belum siap. Raina juga kelihatannya gak siap, Pak."


"Wanita memang begitu. Gak akan ada wanita yang siap melakukan itu, Fadli. Tapi, kamu yang harus memulainya. Kamu yang harus meyakinkan istrimu, untuk berhubungan denganmu." ucap Vina.

__ADS_1


"Aku masih bingung, Pak. Dia dan aku, ah entahlah, kita sama-sama tak siap." jawab Fadli.


"Apa yang membuatmu tak siap?" tanya Gilvan.


"Pak, saya gak bisa bilang sekarang." Fadli melirik Vina.


"Oh, aku mengerti. Sayang, kamu temani Givia dulu, Fadli ini sedikit gugup kalau bicara didepan wanita, katanya." ucap Gilvan.


"Dasar Fadli, baiklah-baiklah, aku tak akan mengganggu kalian." Vina berjalan menuju Givia yang sedang asyik mengganggu Wildan.


Fadli menatap Gilvan dengan tatapan penuh tanya. Gilvan tak mengerti, apa yang dialami oleh Fadli.


"Kenapa kamu ini?" tanya Gilvan.


"Pak, tapi jangan bilang-bilang ya!" Fadli berbisik.


"Iya, tenang saja. Apa?"


"Saya belum berpengalaman mengenai malam pertama. Apa Bapak mau memberi tahu saya? Bagaimana cara melakukan malam pertama yang baik dan benar?" tanya Fadli.


"Wah, parah kamu Fad! Kayak gitu mana bisa ngasih tahu?' tanya Gilvan.


"Saya benar-benar gugup, dan saya gak tahu harus kayak gimana kalau dekat-dekat dengan istri saya." jelas Fadli.


"Aku gak bisa ngasih tahu kamu tentang malam pertama. Tapi, mungkin file di handphoneku ini bisa menjadi referensi untukmu! Biar aku kirimkan padamu, dan kamu bisa belajar dari situ, Fad." Gilvan mengeluarkan handphonenya.


"File apa Pak? Tata cara malam pertama yang baik dan benar, begitu?" tanya Fadli.


"Bukan lah! Video panas, biar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan saat bersama istrimu. Itu referensi paling mantap buat pemula kayak kamu. Udah tuh! Udah ku kirim, kamu tinggal buka aja, dan belajar dari sana." jawab Gilvan enteng.


"Eh, eh, maksud Bapak apa? Pak Gilvan nyuruh saya nonton video panas, begitu?"


"Iya, kan biar sekalian belajar kan?" tanya Gilvan.


"P*rno banget, Pak. Mesum banget kalau harus nonton video panas kayak gitu!" ucap Fadli.


"Yaelah, Fadli! Lu kira, ngelakuin malam pertama sama istri kamu, itu gak mesum apa? Kepalamu ini masih bersih banget, Fad. Gak apa-apalah sekali-kali kepalamu tercemar oleh video itu. Tujuannya kan baik, agar kamu bisa menjalankan malam pertama dengan indah dan romantis. Liat dari segi positifnya aja deh! Jangan lupa tonton ya, dan pelajari." Gilvan cengengesan.


"Aduh, Pak. Rasanya saya tak sanggup membuka video seperti itu." ucap Fadli.


"Buka video gitu aja kamu gak sanggup, gimana kalau nanti buka baju istrimu? Belajar dulu makanya, biar nanti gak gugup pas buka baju istri kamu!" ucap Gilvan.


"Aduh, Pak. Udah ah, gak kuat saya ngomongin hal kayak gitu." jawab Fadli.


"Baru aja ngomongin, udah gak kuat. Gimana kalau nanti ngelakuin? Jangan cepet-cepet keluar ya, Fad. Nanti istri kamu gak puas!" Gilvan tertawa.


"Astaga, Pak Gilvan. Udah ah, aku makin gak ngerti aja dengan Pak Gilvan. Makin hot sekarang setelah menikah!"


"Tentu saja. Makanya, cepet tidurin Raina, biar kamu juga hot sepertiku. Hahaha!"


"Ampun, Pak Gilvan. Udah ah, saya mau kerja lagi. Bahaya kalo ngomongin gituan terus." ucap Fadli.


"Kalo mau cepet, tonton aja videonya. Itu tutorialnya, Fad. Tutorial melaksakan malam pertama! Kalau bisa, ajak Raina juga untuk melihatnya. Biar makin aduhay nanti."


"Astagfirullah. Istighfar, Pak. Ini masih sore. Bahaya banget Bapak ini." Fadli geleng-geleng kepala, dan segera berlalu meninggalkan Gilvan.


"Ah, gara-gara si Fadli sih! Aku jadi ingin. Apa aku juga harus membawa Vina ke lantai atas ya?" Gilvan berbicara sendiri sambil cekikikan.


*Bersambung*


Ada yang tahu, tutorial malam pertama itu kek mana? 🤣


Jangan lupa like, komentar dan vote nya ya.


kalau terlalu malas, jangan pelit JEMPOL untuk LIKE ya sayang-sayangku. Please 😍🥰😘

__ADS_1


HAI SAYANG-SAYANGKU


BAB INI DOUBLE, ADA DUA. NOVELTOONNYA EROR GATAU KENAPA. MAAF YA 😭


__ADS_2