Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Bekerja hari 1


__ADS_3

Pelepasan mereka terjadi bersamaan. Rama terkapar di ranjangnya. Begitu pun dengan Gita. Sungguh, ini malam yang panjang bagi mereka. Malam yang melelahkan. Bergulat bersama entah sudah berapa kali mereka melakukannya.


"Tidurlah! Kamu pasti lelah." ucap Rama mengusap-usap rambut Gita


"Aku tak bisa tidur." jawab Gita


"Kenapa?" tanya Rama


"Aku pasti kehilanganmu! Satu minggu tanpamu, hidupku pasti hampa sekali." Gita cemberut


"Aku akan menelepon mu setiap satu jam sekali. Kamu pasti takkan kesepian kan?" Rama menguatkan Gita


"Janji ya?"


"Iya, sayang. Aku janji." jawab Rama


Mereka berpelukan. Malam yang panjang itu membuat Rama melupakan kekesalannya pada Gita. Gita lega, suaminya tak marah lagi padanya. Itu tandanya, Gita pasti di izinkan masuk kerja.


"Kamu yakin ingin bekerja lagi?" tanya Rama


"Aku yakin, aku ingin berkarier sayang." jawab Gita mantap


"Baiklah. Tapi, jangan terlalu serius. Nanti, sekretaris ku yang akan membantumu." ucap Rama


"Tentu. Aku hanya ingin ada kegiatan. Aku bosan diam di rumah terus, sayang!" rengek Gita.


"Baiklah. Karena esok Rey tak ada, maka Dimas dan Intan yang akan jadi pengawal mu!" tegas Rama


"Kamu kenapa seenaknya saja sih kak? Mereka kan pasti sibuk bekerja." protes Gita


"Mereka berdua pun aku gaji. Bahkan dua kali lipat dari biasanya! Tentu, mereka pasti setuju." jawab Rama santai


"Kamu selalu saja menghambur-hamburkan uang!"


Gita lelah. Ia terlelap di pelukan Rama. Rama mengecup kening Gita berkali-kali. Rama tak bisa tidur. Betapa membayangkan jauh dari istrinya selama seminggu. Itu artinya Rama tak bisa bertemu little Gita selama seminggu. Sebenarnya, Rama ingin mengajak Gita, tetapi kasihan anak-anaknya kalau Gita pergi.


***


Pagi ini, mereka sangat sibuk. Rey sedang memasukan koper Rama kedalam bagasi mobil, dibantu oleh beberapa asisten lainnya. Gita bersiap akan pergi ke kantor. Meninjau kondisi kantor setelah hampir satu tahun lamanya tak Gita kunjungi.


"Sayang, pegang janji kamu ya!" ucap Rama


"Iya sayang."


"Ingat, kamu adalah istri pimpinan perusahaan. Kamu tak boleh baik hati dengan siapapun! Kamu tak boleh senyum kepada laki-laki lain, kamu tak boleh berbincang dengan laki-laki yang tak dikenal." Rama menjelaskan


"Kenapa serumit itu sayang? Aku kan harus berbincang dengan bawahan kita. Ya pastinya aku tak mengenalnya!" Gita protes lagi

__ADS_1


"Semuanya Andin yang mengurus. Kamu hanya lihat, setujui, tolak ataupun memberi perintah revisi. Simpel kan? Kamu tak perlu berbincang dengan siapapun, terutama laki-laki." ucap Rama


"Iya, iya sayang." Gita sedikit kesal


"Satu lagi. Tiga hari lagi, aku harusnya meeting dengan klien. Kamu bisa menggantikan ku, dengan syarat, kamu tak boleh berbicara apalagi tersenyum kepada klien kita. Dua, pasang tatapan mata yang tajam, tiga jangan pakai baju yang seksi. Harus formal. Kamu harus berwibawa, kamu tak boleh banyak bicara. Mengerti?" ancam Rama


"Memangnya aku ini robot apa? Ribet banget." Gita mendengus kesal


"Turuti atau aku tak mengizinkan?" tanya Rama


"Baik, baik. Aku akan menurut." Gita tak mau ambil pusing


Rama bersiap akan segera berangkat menuju bandara. Rama telah pamit kepada semua keluarganya, dan juga anak-anaknya. Gita masih setia mendampinginya ketika akan berangkat. Rama mengecup kening Gita, Rama berpamitan pada Gita.


"Jaga dirimu baik-baik. Jaga anak kita, jaga kesehatan, jangan lupa makan, perbanyak istirahat. Jika melelahkan, tak usah kerjakan pekerjaan kantor. Aku tak mau istriku kelelahan." ucap Rama


"Kamu juga. Jangan lupa makan dan istirahat. Jangan nakal, jangan genit-genit. Jangan lupa telepon aku setiap satu jam sekali. Mengerti?" ucap Gita


"Siap sayangku. Aku tak akan macam-macam ketika jauh darimu!" Rama memeluk Gita erat


Rey kesal. Sebentar lagi jadwal keberangkatan mereka, tetapi Rama masih saja bergelayut dengan Gita. Terpaksa, Rey harus mengingatkan.


"Bos, Nona!" panggil Rey


Gita dan Rama melihat kearah Rey bersamaan. Kemudian, melepaskan pelukannya masing-masing.


"Baiklah. Sayang, aku pergi. I love you, jaga mata hati dan cintamu. Aku akan kembali dengan cintaku." Rama memasuki mobil


"Iya sayang. I love you too. Aku akan melakukan semua perintah mu." Gita melambaikan tangannya.


***


Gita diantar sopir menuju perusahaan Rama. Dimas dan Intan telah diberi tahu oleh Rama bahwa Gita akan datang ke perusahaan menggantikan Rama untuk sementara.


Gita lupa mengabari Vina. Gita segera menelepon Vina dan berkata bahwa ia akan mengunjungi Vina setelah pulang dari perusahaan, karena Gita harus menggantikan Rama. Untungnya, Vina mengerti dan memakluminya.


Sesampainya di perusahaan, Gita disambut oleh Intan dan Dimas. Mereka berdua yang akan menjadi asisten Gita selama Gita di perusahaan.


"Gitaaaaaaa, bos kita yang paling cakep!" Intan memeluk Gita


"Mbak Intan, apaan sih!" Gita malu.


"Git, lu gak usah cape-cape kerja! Serahkan saja semuanya pada kita. Kita digaji untuk mengikuti lu. Dan, gaji kita sekarang ini lebih besar dari pendapatan kita setiap bulannya. Gue mohon kerja sama dari elu ya." ucap Dimas.


"Baiklah. Aku hanya akan melihat-lihat kondisi perusahaan. Sekarang, antar aku menuju ruangan Kak Rama ya!" pinta Gita


"Baik Bos cantik." Intan memuji Gita

__ADS_1


Sebelum menuju ruangan kerja Rama, Gita pergi ke bagian staff accounting lebih dulu. Ia bertemu rekan-rekannya yang dulu kerja bersamanya. Gita sangat merindukan Mbak Rani dan yang lainnya. Posisi Gita kini telah diduduki seorang akuntan yang baru.


Gita bercanda bersama sahabat-sahabat lamanya. Gita sangat bahagia sekali. Mereka tak melupakan Gita sedikitpun. Setelah selesai bernostalgia, Gita segera menuju ruang kerja Rama. Dimas mengantar Gita sampai ke depan pintu ruang kerja Rama.


"Andin, ini Istri Pak Bos. Lu pasti udah tahu kan? Biarkan dia masuk. Ajarkan dia mengenai tugas-tugas yang harus Bos Rama Lakukan." perintah Dimas


"Selamat pagi Nona, Gita. Mari, silahkan masuk." ucap Andin sambil membuka pintu ruang kerja Rama.


Andin membuka pintu dan mempersilahkan Gita duduk ditempat Rama bekerja. Tugas Gita hanya meninjau dan menandatangani proposal dari berbagai bagian perusahaan.


"Tugas nona sangat mudah bukan? Jika ada yang nona kurang mengerti, nona bisa tanyakan pada saya. Meja saya ada didepan pintu tadi." ucap Andin, sekretaris Rama


"Baik, Andin. Silahkan kamu kembali ke tempat kerjamu." ucap Gita


"Baik, nona." Andin menunduk


Gita mengamati keadaan ruang kerja Rama yang memiliki kenangan indah didalamnya. Mereka pernah ciuman di kantor ini. Mereka pernah saling bertengkar, dan beradu pendapat di ruangan ini.


*Kamu pernah memarahiku di ruangan ini. Aku ingat sekali betapa sinis dan kejamnya wajahmu padaku. Aku tak mengerti apa yang ada didalam benakmu. Mengapa semudah itu kau emosi dan memarahiku. Tapi, itu menjadi awal dari kisah kita. Aku dan kamu bisa bersatu sampai saat ini.


Waktu begitu cepat berlalu. Aku merindukan masa-masa saat dulu aku masih menjadi karyawan mu. Ketika itu, cintamu dan cintaku masih malu-malu untuk bersatu. Aku bahagia jika mengingat masa itu. Gita dalam hati*.


Gita duduk di kursi tempat Rama bekerja. Kursinya sangat nyaman dan empuk. Gita sedang meninjau laporan dari bawahannya dan mengirimkannya pada Rama. Agar Gita tak salah membuat keputusan.


Di luar ruangan kantor Rama, terdengar sedikit kericuhan antara Andin dengan seseorang. Gita penasaran, ia segera keluar dari ruangannya. Gita melihat seorang wanita berdiri di hadapan Andin dan bersikeras kepada Andin.


"Ada apa ini?" tanya Gita


Wanita itu menoleh kearah Gita. Itu adalah Mira, wanita yang berjanji akan datang ke perusahaan Rama saat Mira meneleponnya.


"Kamu Gita ya? Kamu pasti istri Rama! Kenalkan, aku Mira. Aku kesini ingin mencari rumah di kawasan yang ellite dengan bangunan minimalis." Mira melambaikan tangannya pada Gita


"Bukankah suamiku sudah bilang padamu, bahwa dia tak tahu apa-apa dan ingin memberikan kontak marketing kepadamu. Kenapa kamu memaksa ingin datang kemari? Apa tujuanmu datang kemari?" Gita terlihat marah


"Aku hanya ingin prosesnya lebih cepat kalau aku datang kemari. Dan kamu, seharusnya lebih ramah kepada costumer! Aku ini pelangganmu." Mira emosi


"Kamu tak perlu mengajariku. Kebetulan sekali, kamu bertemu denganku. Ada urusan apa kamu kemari? Aku akan membantumu, dan setelah urusanmu selesai, kamu bisa pergi dari tempat ini. Karena aku tahu, kamu kesini untuk menemui suamiku, bukan mencari perumahan. Betulkan?" Gita mendongakkan kepalanya


"Aku memang ingin mencari perumahan ellite untukku. Aku tak ada maksud apapun selain itu!" ucap Mira


"Kamu bertemu dengan orang yang tepat. Aku akan menghentikan mu sebelum kamu bertindak lebih jauh. Aku memang wanita yang polos, tapi aku juga wanita yang menjunjung tinggi harga diriku. Camkan itu!" Gita berapi-api.


*Bersambung*


Happy reading..


Jangan lupa like komen dan vote ya..

__ADS_1


Kehadiran jejak kalian di ceritaku membuat aku tambah semangat. Ditunggu ya komentarnya😘😘😘


__ADS_2