Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ini untukmu..


__ADS_3

Vina masuk kedalam kamar putrinya. Ternyata, Givia sudah terlelap. Mungkin Givia lelah, seharian beraktifitas di luar rumah, sampai ia lupa tidur siang. Vina mendekati putrinya yang sedang terlelap, mengelus-elus rambut panjangnya, dan mengecup keningnya dengan hangat.


Anakku, buah hatiku..


Aku tahu, kamu menginginkan sosok seorang Ayah dalam hidupmu,


Aku mengerti, ketika kamu bertemu dengan Ayahmu,


Tak sedikitpun ada rasa canggung dalam dirimu,


Karena apa? Karena dia adalah darah daging mu,


Kamu dengan mudahnya merasakan kenyamanan saat pertama kali bertemu Ayahmu,


Anakku, Givia,


Mungkin aku belum bisa menjadi Bunda sekaligus Ayah yang baik untukmu,


Apa kamu benar-benar menginginkan sosok Ayah dalam hidupmu, Nak?


Apa mungkin, aku harus benar-benar menerima Gilvan kembali?


Akankah aku dan anakku bahagia bersama Gilvan?


***


Pagi ini, seperti biasa Vina akan berangkat bekerja dan Givia akan berangkat ke sekolah. Sebelum Vina berangkat ke kantor, ia pasti selalu mengantar Givia terlebih dahulu.


"Sayang, udah selesai? Bukunya udah bunda masukin ya ke tas Givi."


"Iya, Bunda. Givi tinggal bawa bekal."


"Bekal Givi lagi disiapin Oma, sayang." jawab Vina


Givia keluar dari kamarnya, ia bersiap akan sekolah. Givi pamit kepada Oma dan Opanya. Ia selalu periang dan ceria. Givia anak yang baik, ia tak pernah menyulitkan Vina sebagai Ibunya. Ia tak manja, ia anak yang pintar dan mandiri.


"Opa, Oma, Givi berangkat dulu ya."


"Iya, sayang. Hati-hati dijalan ya. Nanti Oma jemput Givi jam 10." ucap Mama Vina


Papa dan Mama Vina memeluk cucu kesayangannya tersebut. Vina segera keluar dan mengambil kunci mobilnya. Vina menohok kaget, ketika melihat Gilvan melambai-lambaikan tangannya di depan gerbang rumah Vina.


Vina kaget, dengan cepat ia segera menuju gerbang depan rumahnya. Ia heran, untuk apa Gilvan sepagi ini berada di rumahnya.


"Van, kamu ngapain pagi-pagi disini?"


"Aku mau jemput anakku, Givia." jawab Gilvaan enteng


"Kenapa kamu harus repot-repot seperti ini, Van?"


"Anakku bilang, bahwa dia ingin diantar oleh Ayahnya. Yasudah, aku datang pagi ini. Akan menjemput anakku." jawabnya


Givia keluar bersama Mama Vina. Mama Vina pun terkejut melihat Gilvan sudaah berada di depan rumahnya.


"Ayaaaaaaaaaaaah..." seru Givia

__ADS_1


Givi segera berlalu menuju Gilvan. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Gilvan. Ayahnya menepati janjinya. Gilvan tak berbohong pada Givia. Givia memeluk Gilvan dengan sangat bahagia.


"Givia.. Ayo, kita berangkat." Gilvan tersenyum pada Givia


"Makasih, Ayah. Ayah udah jemput Givia."


"Iya, sayang. Ayah sengaja pagi-pagi jemput kamu kesini, karena Ayah ingin mengantar Givia pergi ke sekolah." jawab Gilvan


Mama dan Papa Vina melihat kejadian itu. Mereka terenyuh, betapa Givia sangat mengharapkan kehadiran Gilvan. Mereka jadi tak tega, jika harus memisahkan Gilvan dan Givia. Papa Vina melakukan keputusan yang tepat.


"Van, tapi maaf, hari ini aku harus membayar SPP Givia, aku yang akan mengantarkannya sekolah." jawab Vina keberatan


"Apa susahnya? Tinggal kamu naik mobil bersamaku, kita pergi ke sekolah bersama-sama." jawab Gilvan santai


"Eh, ta-tapi, aku gak bisa.." Vina keberatan


"Udah, gak apa-apa. Ayo, kita berangkat bersama. Nanti, aku antar kamu juga ke kantor." ucap Gilvan


"Tapi, Van."


Gilvan melihat kedua orang tua Vina di dalam rumah. Mereka enggan keluar, hanya melihat dari kejauhan.


"Om, tante. Gilvan izin mengantar Givia pergi ke sekolah." Gilvan tersenyum


"Eh, i-iya, silahkan. Hati-hati, Nak." jawab Mama Vina


"Van, ini ngerepotin." ucap Vina


"Gak apa-apa, kok. Ini kemauan anak kita, aku justru sangat bahagia melakukan hal ini."


Akhirnya, Vina dan Gilvan naik kedalam mobil bersama. Seperti biasa, Givia duduk dibelakang kemudi, sedangkan Vina didepan bersama Gilvan.


"Gak apa-apa, Van. Gak usah repot-repot. Aku bisa naik taksi kok." jawab Vina


"Jangan gitu, gara-gara aku, kamu jadi gak bawa mobil sendiri. Biar aku yang menjemput kamu, ya?"


Aku bingung. Sepertinya, hari ini aku harus menyelesaikan urusanku dengan Andra. Aku akan berbicara dengannya setelah pulang kerja. Aku harus jujur padanya, agar dia mengerti dan bisa melepaskan ku, kuharap Gilvan mengerti untuk tak menjemput ku. Batin Vina.


"Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Andra. Nanti saja, kalau kamu ingin menjemput ku, setelah aku selesai bertemu Andra."


"Baik, semoga kamu bisa segera menyelesaikan masalahmu dengan Andra. Kabari saja aku, dimana kamu akan bertemu dengannya." ucap Gilvan


"Baik, Van."


Givia melihat pembicaraan antara Bundanya dengan Ayahnya. Givia heran, mengapa mereka terlihat seperti itu.


"Bunda?" tanya Givia


"Iya, sayang?"


"Kenapa Bunda gak manggil Ayah sama Ayah Ayah Gilvan? Kenapa malah manggil Van aja? Harusnya, Bunda manggil Ayah sama Ayah Gilvan. Ayah juga, harusnya jangan manggil Vina sama Bunda, harusnya Ayah bilang Bunda juga kayak Givi." protes Givia


Gilvan dan Vina terdiam. Anak sekecil itu tak tahu, tentang pernikahan. Bahkan, kedua orang tuanya belum menikah sama sekali, Givia tak mengerti akan hal itu.


"Sayang, Bunda dan Ayah itu belum meni.." ucapan Vina terpotong

__ADS_1


"Iya, sayang. Maafin Ayah. Ayah terbiasa mengucapkan nama Bunda, karena Ayah dan Bunda seumuran, jadi kita seperti teman. Lain kali, Ayah akan memanggil Bunda kok." jawab Gilvan


"Nah gitu dong, kan Givi senang dengarnya Ayah." jawab Givia


Gilvan mengedipkan matanya pada Vina. Pertanda Vina tak usah bicara, biar Gilvan yang menjawab ucapan Anaknya.


Lima belas menit kemudian, Givia telah sampai di sekolahnya. Gilvan turun membukakan pintu untuk Givia. Terlihat, Givia bahagia sekali bisa bergandengan tangan dengan Gilvan, Ayahnya.


Semua mata Ibu-Ibu wali murid melihat kejadian tersebut. Mereka baru pertama kali, melihat Vina bersama laki-laki. Ibu-ibu tersebut saling berbisik satu sama lain. Vina melihatnya, namun Vina tak mau ambil pusing.


Vina mengajak Givia menuju ruang administrasi terlebih dahulu, karena Vina harus membayar uang SPP Givia. Gilvan mengikutinya dari belakang, Givia bahagia sekali bisa membawa Ayahnya datang ke sekolahnya.


"Selamat pagi, Bu Mirna. Saya akan membayar SPP Givia untuk bulan ini dan dua bulan kedepan." ucap Vina


"Eh, Bundanya Givia. Baik, Bu. Bulan ini 300 ribu ya, kali jadi 900.000." ucap sang guru


"Iya, Bu. Ini saya beri 1 juta. Sisanya, untuk infak kepada sekolah saja." ucap Vina


"Wah, terima kasih banyak. Bundanya Givia memang baik sekali."


"Iya, sama-sama." Vina tersenyum


"Halo, Givia. Ini Ayahnya ya? Bahagia sekali, Givia bisa berangkat sekolah bersama Ayahnya. Ayahnya Givia seorang pelayar ya Bu? Pasti sangat jarang sekali pulangnya." ucap sang guru


"Eh? Ah, iya Bu. Ayahnya seorang pelayar. Dia baru pulang minggu ini." jawab Vina asal


Gilvan tersenyum pada guru Givia. Sebenarnya, ia ingin tertawa. Namun, ia tahan. Bagaimana mungkin guru tersebut menyangka dirinya seorang pelaut? Dan lagi, Vina malah mengiyakan.


Givia telah masuk kedalam kelasnya. Ia diantar oleh Vina dan Gilvan. Tak lama, Vina segera masuk lagi kedalam mobil Gilvan, karena dirinya pun harus bekerja.


Didalam mobil, mulai terasa canggung. Gilvan belum melajukan mobilnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya. Ia mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan, dan jumlahnya lumayan banyak.


"Vin, ini untuk mengganti uang SPP Givia. Aku memegang uang 5 juta. Ambil saja, untukmu dan Givia."


"Eh, tak perlu. Lagipula, aku baru saja gajian, kok." tolak Vina halus


"Tidak apa-apa. Kumohon, ambil saja uang ini. Aku hanya memegang uang segini, nanti aku tambah lagi."


"Tak usah, Van. Aku serius."


Gilvan mengambil tangan Vina. Dengan lembut, ia memberikan uang tersebut ke tangan Vina. Ia tetap memegang tangan Vina. Tersenyum melihat wanita pujaan hatinya.


"Ambil saja, ini sebagai ucapan rasa terima kasihku padamu, karena telah mengurus dan menjaga Givia. Aku minta maaf, menjadi lelaki yang tak bertanggung jawab pada Anaknya. Aku malu, karena itu, aku berjanji, walaupun hanya bisa seperti ini, aku akan memberi kamu dan Givia tunjangan hidup. Aku akan memberikannya sebulan sekali. Kumohon, jangan menolak."


"Baiklah, aku terima. Terima kasih, kamu telah mengerti."


"Sama-sama. Aku bahagia melakukannya. Hidupku rasanya lebih berarti melihat kalian bahagia, dan ada didalam kehidupanku."


*Semoga saja, hidupku dan hidupmu bisa bersatu. Aku tahu, kamu memang lelaki yang baik dan pengertian. Aku memang salah mengenalmu, dan kita memang sempat saling berselisih paham. Semoga saja, setelah badai yang menerpa kita, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik dan lebih bermakna.


*Bersambung*


Halo, selamat malam semuanya..


Selamat membaca.. Jangan lupa like dan komentarnya ya..

__ADS_1


Oh iya, jangan lupa sering-sering aktif juga ya di ceritaku, aku akan menilainya, siapa saja yang sering vote dan komentar, nanti setelah tamat, semoga saja aku punya rezeki dan akan mengadakan give away kecil-kecilan ❤🥰


Terima kasih*..


__ADS_2