Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Terluka


__ADS_3

Shift pagi telah selesai pukul empat sore. Vina bergegas pulang ke rumahnya. Vina akan membawa uang Gilvan yang pernah diberikannya saat malam menyesatkan itu.


Vina tak memberi tahu Gita, Vina tak mau sahabatnya itu dibawa-bawa dalam masalah mereka. Vina akan meyakinkan Gilvan, Vina akan membuat Gilvan pergi dari kehidupannya.


Vina memesan ojek online agar segera sampai ditempat yang dimaksud olehnya tadi. Ia tak mau Gilvan menunggu lama. Ia ingin segera membereskan masalahnya dengan Gilvan.


Vina sudah sampai ditempat tujuan. Ternyata, Gilvan belum datang. Vina kira Gilvan akan tepat waktu. Vina mencoba menelepon nomor Gilvan yang dulu ia blokir.


Telepon tersambung.


"Hallo! Kamu masih dimana?" tanya Vina


"Aku terjebak macet. Tunggu sebentar ya, kamu jangan dulu pergi."


"Ya!" Vina mematikan teleponnya


Vina menunggu Gilvan di taman pinggir Mall. Handphone Vina berbunyi, Rey memanggilnya.


"Hallo, Rey. Ada apa?" tanya Vina


"Kamu dimana Vin?" tanya Rey


"Aku di Mall Buana, lagi nganterin Mamaku belanja." ucap Vina


Vina berbohong. Ia tak mungkin menjelaskan pada Rey bahwa dia akan bertemu Gilvan. Kalau Rey tahu, mungkin saja ia akan langsung menuju kemari. Vina terpaksa berbohong.


"Mau aku jemput?" usul Rey


"Tidak, tidak. Aku malu sama Mamaku, lain kali saja ya?" Vina sedikit khawatir


"Baiklah, kamu hati-hati ya di sana." ucap Rey


"Tentu, Rey."


Vina mematikan teleponnya. Gilvan masih belum juga tiba. Vina menelepon Gilvan tetapi tak diangkat juga. Vina masih menunggu sambil sesekali memotret dirinya dengan handphone pemberian Rey.

__ADS_1


Sudah satu jam lamanya Vina menunggu Gilvan. Tetapi, Gilvan tak kunjung datang. Vina mulai kesal menunggu Gilvan. Vina mencoba menelepon Gilvan berkali-kali, tetapi tak ada yang mengangkatnya. Vina mulai kesal menunggu Gilvan.


Kemana sih dia? Kenapa lama sekali? Apa dia memang sengaja mengerjaiku? Teleponku juga beberapa kali tak ia angkat. Lihat saja nanti, kalau sampai dia tak datang. Tak ada ampun lagi baginya, dan aku akn membakar semua uang ini. Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Batin Vina dalam hati.


Tanpa Vina sadar, ternyata handphonenya berdering. Ia melihat, nomor itu, itu nomor Gilvan yang tak ia simpan. Vina mengangkatnya.


"Hallo, Kamu dimana sih? Lama banget!" gerutu Vina


"Hallo, ini dengan kerabat saudara Gilvan? Saya dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa saudara Gilvan mengalami kecelakaan. Mobil yang ia kendarai menabrak sebuah truk besar. Sekarang, pasien dibawa ke Rumah sakit Darmaraja. Dimohon untuk wali atau kerabat, segera datang ke rumah sakit untuk dimintai keterangan." ucap suara dalam gawai Vina


Handphone baru Vina jatuh tergeletak ke jalan, Vina jatuh tersungkur. Ia benar-benar shock, Vina tak percaya Gilvan mengalami kecelakaan. Vina menangis tersedu-sedu. Niat hati ingin menyelesaikan semuanya dengan Gilvan, tetapi kejadian tak terdua malah menimpa Gilvan seperti ini. Hati Vina terluka, Vina benar-benar tak menyangka Gilvan akan mengalami kecelakaan seperti ini.


Vina segera memberi tahu Gita dan Rama. Vina menangis didalam taksi. Vina benar-benar ingin segera melihat kondisi Gilvan. Vina sudah tak peduli dengan hati Rey. Ternyata, ketika mendengar Gilvan kecelakaan, hati Vina terasa di iris-iris. Sakit sekali, lubuk hatinya masih mencintai Gilvan.


Mulut bisa berbohong, tetapi hatinya tidak. Vina dengan Rey agar bisa melupakan Gilvan. Tetapi, hatinya masih menyimpan nama Gilvan. Tak semudah itu melepaskan Gilvan. Meskipun Gilvan lelaki bejad yang merenggut kesucian Vina, tak dapat Vina pungkiri, Vina pun menikmati setiap hentakkannya, Vina sadar melakukan itu bersama Gilvan. Melupakan tak semudah menjalankan.


***


Gita diberi kabar oleh Vina bahwa Gilvan mengalami kecelakaan. Gita kaget, Gita segera memberi tahu Rama dan Rey yang sedang ada di garasi rumah mereka.


"Baik, Bos."


"Rey, kamu juga hati-hati dijalan. Jangan terlaku cepat." ucap Gita.


"Baik, nona."


Hati Rey sakit. Rey tahu, Vina berbohong padanya. Rey melihat Vina turun dari Mall, Rey seketika itu menelepon Vina. Vina berkata sedang menemani Ibunya, tetapi Rey tahu, Vina memang sendiri.


Vina memang akan bertemu dengan Gilvan. Rey sudah menyadari itu. Rey harus siap sakit hati, karena ini sudah Rey pastikan sebelum mengungkapkan perasaannya pada Vina.


"Sayang, kenapa Gilvan bisa tabrakan?" tanya Rama


"Sepertinya Gilvan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dari lawan arah, ternyata ada truk yang juga sama melaju sangat cepat, akhirnya truk itu menabrak mobil Gilvan. Truk dan Gilvan sama-sama tak siap, sehingga mereka terlambat menggunakan rem." jelas Gita


"Semoga tak terjadi apa-apa pada Gilvan." jawab Rama

__ADS_1


"Aku pun berharap begitu. Kasihan Vina, hatinya pasti sangat terpukul." ucapan Gita membuat hati Rey tersentak


Gita lupa bahwa ada Rey yang sedang mengemudi. Gita lupa, bahwa Rey menyukai Vina. Gita terlalu memikirkan kondisi Gilvan, sehingga tak menyadari kehadiran Rey yang juga sakit hati dengan ucapan Gita. Tetapi, Rey tak bisa berbuat apa-apa.


***


Vina sudah berada di Rumah sakit. Vina memeriksa pasien kecelakaan atas nama Gilvan, ternyata Gilvan sedang berada diruang operasi, karena kepala Gilvan mengalami pendarahan yang cukup hebat. Kepalanya terbentur stir mobil dan terhimpit kursi joknya.


Vina menangis dan segera berlari menuju ruang operasi. Vina benar-benar tak menyangka kejadian ini akan sangat menyakitkan baginya dan juga Gilvan. Kalau saja Vina tak bersikeras menyuruh Gilvan cepat-cepat, mungkin saja kejadian ini tak akan terjadi pada Gilvan.


Di ruang tunggu operasi, ternyata sudah ada Ibu dan Kakak Gilvan. Mereka menanti, dan berharap semoga Gilvan baik-baik saja. Vina segera berlari menuju pintu ruang operasi. Vina menggedor-gedor pintu temoat Gilvan di operasi, ia menangis sejadi-jadinya, tak mempedulikan dibelakangnya ada Ibu dan Kakak Gilvan.


"Gilvan, maafkan aku! Aku yang menjadi penyebab kamu kecelakaan seperti ini. Maafkan aku! Aku menyesal telah membuat hatimu sakit, aku terlalu egois, aku sadar diriku benar-benar tak memberi sedikit saja kesempatan untukmu. Gilvaaaaaaaan, kumohon jangan terjadi apa-apa padamu. Aku menyesal, sungguh aku menyesal."


Vina menangis meraung-raung, dirinya benar-benar kacau. Ia terjatuh, tertunduk lesu sambil terus menangisi penyesalannya yang sudah tak bisa dimaafkan lagi.


Ibu Gilvan melihat Vina menangis, ia tak tega dan mendekat kearah Vina sambil menangis. Ibu Gilvan merasakan apa yang Vina rasakan. Meskipun Ibunya tidak mengenal Vina, tapi beliau yakin bahwa Vina mempunyai kedekatan dengan Gilvan.


"Sudah, kamu jangan menangis. Kita doakan saja semoga operasinya berhasil dan Gilvan cepat sadar." Ibu Gilvan menitikkan air mata


"Maafkan aku, semua ini karena aku! Aku yang membuat Gilvan kecelakaan. Gilvan, kumohon.. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu, kamu tak boleh pergi, kamu harus kuat, kamu harus sadar kembali. Aku menyesal membuatmu sakit hati. Percayalah, hati kecilku masih untukmu. Kamu harus kuat, Van!!! Aku masih mencintaimu, aku ingin kau kembali padaku. GILVAN......"


Vina menangis dan menjerit memanggil nama Gilvan, ia menggebrak-gebrak pintu ruang operasi. Vina tak sanggup berdiri, ia lemas sekali, badannya serasa mati.


Tanpa disadari, Gita, Rama dan Rey ada dibelakang Vina. Mereka baru tiba, mereka mendengarkan ucapan Vina.


Hati Rey serasa dicabik-cabik mendengar apa yang Vina lontarkan. Rey sedih mengetahui Gilvan kecelakaan, tetapi Rey lebih sedih lagi mendengar apa yang telah Vina ucapkan. Seperti inikah yang dinamakan sakit hati?


*Bersambung*


Ya ampun, aku ngetik ini jantungku rasanya ikutan sedih. Kalian ngerasa sama kek aku gak sih? Kenapa sakit banget ya rasanya 😭😭😭


Kasih komentarnya dong guyss..


Happy reading..

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya say ❤


__ADS_2