
Mereka makan siang bersama di restoran yang diinginkan oleh Raina. Raina terlihat pura-pura cuek pada Fadli, Raina tak ingin terlihat gugup, apalagi ketahuan jika ia pergi ke Rumah sakit karena Fadli.
"Kamu lagi ngapain di Rumah sakit?" Raina pura-pura tak tahu.
"Ara sakit, dia gak bisa ngapa-ngapain."
"Emang dia kenapa?" tanya Raina.
"Dia sakit, asam lambungnya naik, dehidrasi juga, udah lemas banget. Kasihan." ucap Fadli.
"Perhatian banget ya kamu." ucap Raina.
"Aku disuruh Pak Gilvan untuk melihat Ara, karena aku tahu dimana kontrakannya." ucap Fadli.
"Kamu suka sama dia?" Raina bertanya hal yang membuat Fadli gugup.
"Enggak, kok. Aku hanya dekat dengannya. Karena dulu kita tetanggaan. Aku ngontrak di dekat kontrakan dia."
"Kayaknya kamu menaruh simpati padanya. Dari awal juga kamu lengket bgt sama dia." Raina terlihat cemburu.
"Dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri." ucap Fadli.
"Bohong banget." ucap Raina.
"Kamu cemburu?" tanya Fadli.
"Cemburu? Ngapain aku cemburu sama kamu, gak level banget sih!" Raina berkilah.
"Padahal aku seneng kalau dicemburuin sama istri sendiri." ucap Fadli.
"Maaf ya, aku gak cemburu sedikitpun. Kamu gak usah terlalu berharap deh, Fad!" jawab Raina.
"Iya juga sih. Kamu gak mungkin jealous sama Ara. Siapa aku, yang harus kamu cemburuin. Aku sadar diri kok, Rain." ucap Fadli.
"Baguslah kalau kamu sadar, Fadli." ucap Raina.
Ketika selesai makan, handphone Fadli berdering. Ternyata, Bibinya dari kampung menelepon dirinya. Fadli segera mengangkat telepon dari sang Bibi.
[Halo, Bi. Assalamualaikum, ada apa?]
__ADS_1
[Halo, Fad? Ieu Bibi. Fadli, kapan atuh kamu teh bisa pulang? Ini ada oleh-oleh buat kamu, ada buah-buahan banyak pisan, ada beras pandan wangi juga Fadli, Bibi teh udah kangen sama kamu. Katanya mau bawa istri kamu juga. Kan Bibi pengen kenalan Fadli.]
[Eh, i-iya Bi. InsyaAllah, nanti Fadli pulang. Minta cuti dulu sama Bos. Tapi, istri Fadli sedang sibuk kuliah Bi, bentar lagi dia wisuda, jadi dia sibuk. Gak akan ada waktu untuk ikut pulang.]
[Yah, padahal Bibi pengen banget ketemu sama dia. Ya sudah, kamu cepet pulang yah, usahakan secepatnya, takutnya busuk manten ini buahnya.]
[Baik, Bi. Nanti Fadli kabari lagi. Sudah dulu ya Assalamualaikum.]
[Baik, bibi tunggu. Waalaikumsalam, Fadli.]
Telepon terputus. Fadli tersenyum pada Raina. Fadli tak pernah sedikitpun memperlihatkan wajah kesal atau marah pada Raina. Ia tetap terlihat manis dan tampan.
"Sepertinya, weekend nanti aku bakal pulang kampung dulu." ucap Fadli.
"Oh." jawab Raina malas.
"Maaf ya, aku gak bisa antar jemput kamu kuliah, aku pulang sekitar tiga hari."
"Terserah."
Raina jutek dan dingin lagi. Entah apa lagi yang menyebabkan ia jadi seperti itu? Fadli tak mengerti dengan isi hati Raina. Padahal, tadi terlihat baik-baik saja.
"Ya udah sana, aku sendiri aja."
"Loh, jangan gitu dong, Rai. Nanti aku dimarahin kakak kamu." ucap Fadli.
"Gak usah banyak bicara. Aku bisa pulang sendiri. Udah, kamu pergi kerja sana. Aku gak akan ganggu kamu." ucap Raina.
"Gak apa, Rain. Aku bakal anterin kamu dulu. Baru aku kerja lagi."
"Aku bilang gak usah, ya gak usah! Udah kamu pergi. Tinggalin aja aku sendiri." Raina membentak Fadli.
"Baiklah, maafkan aku, jika membuatmu kesal. Aku pergi dulu."
Fadli pergi meninggalkan Raina seorang diri. Fadli tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Raina. Memikirkan Raina selalu membuatnya pusing. Raina masih berdiam diri di mejanya. Ia kesal pada Fadli. Ia ingin sekali mendengarkan penjelas tentang Fadli dan Ara, tapi ia gengsi untuk bertanya lebih dulu.
Fadli rese, Fadli nyebelin. Kenapa bikin emosi terus sih dia? Kenapa aku muak banget sama dia? Kenapa dia bisa-bisanya bilang aku kuliah, dan aku sibuk, jadi gak bisa ikut dia pulang kampung? Nanya aja enggak! Kenapa bisa-bisanya memutuskan semuanya sendiri? Kenapa dia gak anggap aku sama sekali? Benar-benar menyebalkan. Padahal, aku bisa ikut dia pulang kampung.Tapi dia malah seenaknya berkata begitu. Aku benci Fadli. Awas saja, aku tak akan memaafkan dia. Masalah pelayan genit itupun dia santai saja terlihat tak ada beban. Dasar lelaki buaya!!! Umpat Raina dalam hati.
Raina kesal, karena Fadli tak mengajaknya ke kampung halamannya, padahal Raina ingin sekali ikut dengan Fadli, dan mengunjungi keluarga Fadli di kampung. Tapi Fadli seakan menutup jalannya, dengan berkata bahwa Raina sibuk.
__ADS_1
***
Fadli telah sampai di restoran. Ia mengatakan pada Gilvan perihal keadaan Ara, dan Gilvan sore akan menjenguknya bersama Wildan. Fadli kembali bekerja, agar bisa sedikit melupakan Raina yang memusingkan dirinya.
Beberapa jam telah berlalu, Gilvan dan Wildan pergi menengok Ara, sehingga Fadli mengelola restoran sendirian. Pelayan lain hanya ada dua orang, itupun satu orang mengambil di bagian dapur.
Fadli sibuk. Pelanggan berdatangan silih berganti. Hingga Fadli tak sadar, bahwa Raina sudah meneleponnya beberapa kali. Handphone Fadli di silent, karena Fadli sibuk. Raina menelepon Fadli, karena ia ingin pulang dan ingin di jemput.
Fadli baru tersadar ketika pukul delapan malam. Ia akan pulang dan membuka handphonenya. Betapa kagetnya ia ketika melihat panggilan tak terjawab dari Raina sebanyak 19x.
Gilvan yang baru datang dari menjenguk Ara, melihat ekspresi kaget Fadli. Ia segera menghampirinya.
"Kenapa kamu, Fad?" tanya Gilvan.
"Raina, Bos."
"Kenapa?"
"Dia meneleponku, dan aku lupa mengangkatnya. Aku terlalu sibuk. Handphone-ku, aku taruh di tas. Aku benar-benar sibuk hari ini, jadi aku melupakan handphone-ku."
"Apa ada hal penting? Sudah kamu coba hubungi lagi belum, Fad?" tanya Gilvan.
"Sudah, tapi malah di riject, Pak. Aduh, bikin pusing saja wanita itu. Tadi, ketika aku akan mengantarnya pulang, dia malah tak mau. Sekarang, meneleponku hingga berkali-kali. Aku sungguh tak mengerti apa maunya, Pak. Pusing aku dibuatnya." keluh Fadli.
"Fad, sadarlah kamu. Dia itu istrimu. Dia ingin kamu, tapi dia malu. Coba lebih pahami hatinya. Mungkin saja ia merindukanmu. Sudah, segera pulang, dan jangan terlihat kesal padanya. Kamu harus tetap terlihat lembut pada Raina. Wanita memang manja, dan sulit ditebak maunya seperti apa. Tugas kita sebagai laki-laki, mengetahui keinginan hatinya dan buat dia bahagia dengan perlakuan-perlakuan kecil kita." ucap Gilvan.
"Contohnya apa Pak?"
"Berikan coklat kek, boneka kek, berikan makanan atau apalah gitu, agar dia bahagia ketika kamu pulang kerja. Kalau kamu membawa tangan kosong, emosinya akan menjadi-jadi. Anggaplah barang bawaan mu itu sebagai hadiah, dan sebagai pemancing agar istrimu tak jadi marah padamu."
"Benarkah Pak? Anda sungguh telah berpengalaman dengan hal ini. Terima kasih, Pak. Saya akan segera pulang dan memberikan hadiah untuk istri saya. Terima kasih, saya pamit dulu."
Fadli berlalu dan menundukkan tubuhnya pada Gilvan. Gilvan hanya tersenyum, seraya berkata,
"Kalian akan saling jatuh cinta. Terlihat dari reaksi mu, Fadli. Kamu sangat antusias pada Raina. Semoga, suatu saat nanti, kalian tak akan saling gengsi lagi."
*Bersambung*
Lanjut malam ya..
__ADS_1
anakku sakit, kalau sempat akan up malam, tp kalau tidak, sepertinya besok. mohon di maklumi😇😊