Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ada apa denganmu?


__ADS_3

Raina dan Fadli telah selesai dari makam kedua orang tua Fadli. Raina tak menyangka, bahwa kedua orang tua Fadli telah meninggal.


"Kamu yakin?" tanya Fadli dalam perjalanan saat mereka pulang.


"Yakin apa?"


"Dengan ucapan mu di depan makam orang tuaku?" Fadli menjelaskan lebih rinci.


"Tentu saja. Bagaimana aku tak yakin, aku telah menikah denganmu! aku telah kehilangan mahkotaku karena ulah mu! Mana mau laki-laki lain dengan wanita sepertiku?" tanya Raina sedikit ketus.


"Kenapa kamu jadi sensitif lagi sih? Tadi di makam orang tuaku kamu terlihat sangat tulus sekali padaku." Gilvan sedikit kecewa.


"Masa didepan makam almarhum orang tuamu aku harus marah-marah? Tentu saja aku harus mendoakan yang terbaik." jawab Raina.


"Terus, kenapa marahnya malah diterusin lagi?"


"Urusan kita belum selesai, Fad." kata Raina.


"Urusan apa lagi?"


"Selangk*ngan ku masih sakit. Tahukah kamu? Dari tadi aku nahan rasa sakit ini saat aku masih ada di rumah Bibi kamu. Perih tahu, aku jalan dari tadi pelan gini, karena rasa sakitnya sampe sekarang itu masih ada! Dasar kamu laki-laki enggak peka." umpat Raina kesal.


"Ya ampun, maaf. Aku gak tahu. Aku kira kamu baik-baik aja, Raina. Ya udah, apa kamu mau aku gendong?" tanya Gilvan.


"Nah, gitu kek! Peka sedikit jadi cowok!"


"Iya, iya, maaf. Aku kan gak tahu. Aku kira, udah gak sakit."


Fadli diam berdiri, tangannya meraih tubuh Raina, kemudian, Raina segera mendekatkan tubuhnya pada Fadli. Tangannya ia lingkarkan pada leher Fadli. Kini, Raina telah digendong oleh Fadli. Perasaan aneh itu muncul lagi, ketika Fadli berjalan menggendongnya.


"Padahal tubuhmu itu mungil, tapi kalau aku gendong gini kok berat ya?" Fadli terkekeh.


"Kamu ngeledek? Kamu gak ikhlas gendong aku, iya? Kuping mu apa mau aku jewer?" Raina kesal.


"Eh, bukan gitu maksud aku. Kamu pemarah banget sih, Rai. Gitu aja ngambek."


"Abisnya kamu nyebelin."


Aduh, kenapa adikku malah berdiri tegak? Padahal, aku hanya menggendong dia saja. Aku tak melakukan apapun kan? Apa yang menyebabkan kamu terbangun, wahai Fadli kecil? Apa karena gundukan kenyalnya yang menempel pada punggungku? Ah, mungkin benar. Buah dada Raina yang ranum dan menonjol, menempel pada punggungku, itulah yang menyebabkan adik kecilku terbangun. Raina, kalau ku ingat-ingat lagi, rasanya aku sangat ingin bermain-main lagi dengan buah dada milikmu. Itu sangat indah, Raina. Tapi, kalau kamu saja galak begini, apa aku bisa mencobanya lagi denganmu? Gumam Fadli dalam hatinya.


Tiba-tiba, Raina mengagetkan lamunan Fadli yang sedang traveling pada tubuh Raina.


"Fad! Kamu kok diem aja sih? Kamu ngelamunin apa sih?" Raina sewot, merasa diabaikan.


"Susu kamu Rai," Fadli keceplosan.

__ADS_1


"HAH, APA?"


"Astagfirullah, Raina. Aku ngomong apa barusan? Ya ampun, maaf, aku refleks!" Fadli benar-benar malu.


"Kamu benar-benar mesum ya, Fad! Aku bener-bener gak nyangka, ternyata kamu diam-diam menghanyutkan ya. Turunkan aku sekarang!" perintah Raina.


"Tapi, katanya kamu masih sakit?" Fadli enggan menurunkan Raina.


"Kalau kamu terus menggendong aku, pikiranmu pasti traveling kemana-mana! Barusan aja kamu ngomong hal yang tak beretika! Keterlaluan kamu ya, turunkan aku!" perintah Raina.


"Ba-baik, Raina. Maafkan aku." muka Fadli memerah, ia benar-benar malu.


Fadli menurunkan Raina. Raina cemberut, ia benar-benar kesal pada apa yang dikatakan Fadli. Kemarin, Fadli sangat polos sekali, sekarang? Kenapa Fadli nakal sekali? Raina tak habis pikir dengan Fadli. Benar-benar menyebalkan.


"Bisa-bisanya kamu ya, lagi gendong aku, pikiranmu menjurus pada hal-hal seperti itu!" Raina kesal.


"Maaf, Raina. Aku tak memikirkan hal itu, kok. Aku hanya refleks saja. Bener deh."


"Bohong! Alasan aja kamu, mentang-mentang tubuhku menempel pada punggungmu, kamu jadi merasa ada sesuatu yang aneh kan pada dirimu? Ngaku kamu!" ucap Raina.


"Enggak, sumpah deh. Kamu gak percayaan banget sih." Fadli terus mengelak.


"Bodo amat deh, aku kesel sama kamu!" Raina pergi meninggalkan Fadli seorang diri.


***


"Ngapain ngikutin?" tanya Raina ketus.


"Gak apa-apa dong, aku kan suami kamu. Kamu kalau disini jangan manggil nama ya, aku malu sama Bibi dan Pamanku." ucap Fadli.


"Terus, panggil apa dong?" tanya Raina.


"Panggil Sayang, atau hunny, kan romantis." Fadli tersenyum.


"Hmmm, maunya kamu!" Raina menyunggingkan bibirnya.


"Ya cuma disini doang kok. Boleh ya, sayang?" Fadli malu-malu.


"Geli deh aku dengernya!" Raina bergidik.


"Coba dong kamu," pinta Fadli.


"Iya, iya hunny bunny sweety similikitty!" Raina menjulurkan lidahnya pada Fadli.


"Ah, kamu gitu, kok gak serius sih?" Fadli sedikit ngambek.

__ADS_1


"Iya, iya hunny! Bawel banget deh kamu, Fad. Eh, maaf, hunny-ku!" Raina kikuk.


Seketika, Fadli melihat wanita bak bunga desa yang sedang berjalan bersama Ibu-ibu paruh baya. Fadli ingat, ia adalah Asri, teman kecilnya saat Fadli masih tinggal di kampung ini. Fadli refleks memanggil Asri.


"ASRI..." sapa Fadli dari kejauhan.


Fadli segera berjalan menuju jalanan, ia segera menemui Asri yang menoleh padanya. Raina yang melihat Fadli berlari menemui wanita itu, benar-benar merasa kepanasan. Raina heran, begitu semangatnya Fadli memanggil seorang wanita didepan istrinya sendiri. Raina mengumpat didalam hati, betapa Fadli tak jauh beda dari buaya mata keranjang.


Cih, coba lihat dia! Berani-beraninya memanggil wanita lain di depanku. Siapa wanita itu? Apa dia mantannya si Fadli? Apa dia cinta pertamanya? Batin Raina.


Raina melihat Fadli dan wanita itu dari kejauhan. Terlihat, Fadli menyalami mereka. Wajah Fadli berseri-seri, dan tersenyum manis pada wanita itu. Mereka sepertinya terlibat perbincangan yang hangat.


Oh my God, berani sekali dia tersenyum ramah seperti itu pada seorang wanita? Apa dia tak menganggap aku sebagai istrinya? Fadli, kenapa kamu membuatku kesal? Ternyata, ada sifat mu yang belum aku ketahui, yaitu Buaya genit!!! umpat Raina dalam hati.


Raina kesal, ia memutuskan untuk masuk kedalam rumah Bibi Fadli. Raina masuk kedalam kamarnya, ia kesal, ia marah, ia memutuskan untuk tidur saja walaupun cuaca gersang sekali.


Fadli menyapa Asri, teman sekolahnya dulu. Fadli senang sekali, bisa menemui Asri disini.


"Asri, kamu gak berubah! Tetep aja mungin dari dulu. Kamu kerja dimana sekarang?" tanya Fadli.


"Aku coba ngajak di SD kita dulu, Fad. Alhamdulillah, aku teh diterima, dan sekarang sedang mencoba tes CPNS. Doakan aku ya Fad, semoga aku teh bisa lulus," ucap Asri.


"Jang Fadli meni kasep, meni ganteng. Pangling pisan, dulu mah item, sekarang mah bersih banget atuh kamu teh Fadli, apa rahasianya sih, semenjak di kota jadi cetar Fadli teh." goda Ibu Asri.


"Aduh, eteh mah gitu sama Fadli teh. Mungkin sesuai bertambahnya usia, jadi Fadli makin kasep juga! Hehehe. Oh iya, Fadli kesini sama istri da," ucap Fadli.


"Wah, kamu sudah nikah Fadli? Hebat atuh kamu yah, mana istri kamu? Kenalin atuh sama Asri," ucap Fadli.


"Itu, lagi duduk di kursi tamu, di rumah Bibi. Bentar ya,"


Fadli membalikkan tubuhnya, melihat di teras rumahnya. Ia berniat memanggil Raina, namun sang istri tak ada ditempatnya tadi. Fadli bingung.


"Mana, Fadli ai kamu? Gak ada juga. Halu mereun kamu mah, ah!" ledek Asri.


"Neng, gak boleh gitu atuh sama temen teh!" ucap Ibu Asri.


"Eh, tadi dia lagi duduk disitu. Apa udah masuk kedalam ya? Hayu atuh, masuk dulu ke rumah, sekedar silaturahmi dulu, yuk?" ajak Fadli.


"Eh, Fadli, maaf, bukannya Asri nolak apa gimana, tapi kita teh lagi buru-buru mau ke rumah Nyi Lastri, dia sudah melahirkan. Lain kali saja atuh ya? Maaf pisan, teh." ucap Asri.


"Oh, begitu. Baiklah, maaf ya aku ganggu kamu atuh, Sri. Hati-hati dijalan ya,"


"Iya, Fadli, hatur nuhun."


Asri dan Ibunya telah berlalu. Fadli masih merasa aneh, dengan ketiadaan Raina di meja halaman depan rumah bibinya.

__ADS_1


Kemana dia? Bukannya tadi masih ada disitu? Apa dia salah paham padaku? Raina, kenapa kamu malah tak ada? Ada apa denganmu, Raina?


*Bersambung*


__ADS_2