Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Lamaran dan kemarahan


__ADS_3

TIGA HARI KEMUDIAN


Hari ini, adalah hari lamaran Gilvan dan Vina. Gilvan sengaja menutup restorannya untuk hari spesial ini. Kedua orang tua Gilvan dan Vina akan bertemu. Karena rumah Vina tidak terlalu luas, Gilvan hanya mengundang orang-orang penting saja.


Rama dan Gita akan hadir, Gilvan juga meminta Fadli dan Ara untuk hadir. Karena, hanya Fadli dan Ara yang sangat dekat dengan Gilvan. Ternyata, Rama mengajak Raina untuk ikut, agar Raina membantu Gita menjaga Nayya dan Nakka, karena Mia sedang pulang kampung diantar oleh sekretaris Rey. Rama sengaja, agar Rey tidak hadir kesini dan melihat Vina bersanding dengan Gilvan.


Mama dan Papa Vina telah menyiapkan menu makan malam yang mewah. Keluarga Vina dibantu oleh beberapa saudara dari Mama Vina. Semua acara hanya fokus untuk melamar Vina dan makan malam keluarga saja.


Semua telah berkumpul di ruang keluarga. Keluarga Gilvan langsung membahas rencana pernikahan mereka. Ditambah lagi, keluarga Gilvan menyerahkan uang seseraham dan sebaginya pada keluarga Vina.


"Gilvan, apa kamu akan benar-benar menyayangi putriku dan cucuku?" tanya Papa Vina


"Tentu saja, Om. Saya akan menebus kesalahan saya. Saya akan membahagiakan Vina dan Givia, saya akan menyayangi mereka. Saya berjanji, tak akan mengecewakan Vina. Saya sangat mencintainya, Om." jawab Gilvan tegas


"Aku percaya padamu. Kuharap, kamu benar-benar memegang janjimu, karena aku dan keluargaku telah memberimu kesempatan kedua. Jangan sia-siakan kesempatan ini." tambah Papa Vina


"Tentu saja, Om. Saya serius dengan pernikahan ini. Disinilah, saya berani membawa keluarga saya ke hadapan Vina dan keluarga, karena saya ingin bersungguh-sungguh dengan cinta ini." Gilvan tersenyum


Keluarga Gilvan mempercayakan semuanya pada pihak keluarga Vina, karena pernikahannya pun akan dilaksanakan di Bandung, Keluarga Gilvan hanya tahu selesai saja. Proses lamaran dan seserahan, telah dilaksanakan dengan baik. Kedua belah pihak saling bahagia.


"Mohon maaf, jika keluarga kami kurang memberikan yang terbaik, namun saya sebagai Kakak, tulus dan sangat berbahagia, akhirnya adik-adik saya tercinta, bisa kembali bersatu. Meskipun, pada awalnya, kisah mereka benar-benar memilukan, akhirnya cinta mereka bisa bersatu juga." ucap Kakak Gilvan


"Kalau saja anakku dulu jujur, mengenai Gilvan, mungkin aku akan segera menikahkan mereka, tapi karena kecelakaan yang menimpa Gilvan, semuanya jadi berantakan. Tapi syukurlah, mereka bisa sabar dan tetap tabah menjalaninya." jawab Papa Vina


"Ayo, kita makan malam bersama. Hidangannya sudah siap, maaf hanya seadanya." ucap Mama Vina


"Terima kasih, maafkan jika kami malah merepotkan." ucap Ibu Gilvan


"Tentu tidak, dengan senang hati kami menyambut Gilvan dan keluarga. Mari, menuju meja makan. Maklum ya, rumah kami sangat sempit." ucap Mama Vina


Raina menatap kesal pada Fadli dan Ara. Ia tak menyangka, jika kedua makhluk itu datang juga ke acara ini. Kalau saja Raina tahu ada mereka disini, mungkin Raina anak menolak habis-habisan ketika diajak Rama.


"Kak, aku jagain anak-anak aja. Kalian makan duluan aja." ucap Raina ketika yang lain meninggalkan ruang tamu dan menuju meja makan


"Ya sudah, kamu menyusul saja nanti." jawab Rama


"Ya." balas Raina malas


Rama dan Gita meninggalkan Raina dan anaknya di ruang keluarga. Raina benar-benar dalam mood yang sangat jelek. Raina kesal, ia tak suka melihat Fadli dan Ara.


Begitupun dengan Fadli dan Ara, mereka pun kaget bisa melihat Raina disini. Apalagi, Fadli. Fadli takut, kalau Rama akan membahas mengenai perjodohan itu. Entah akan bagaimana reaksi Raina, karena selama ini Raina tak tahu, bahwa lelaki yang akan dijodohkan dengan dirinya ada didepan matanya.


Gilvan mengajak Fadli dan Ara untuk makan bersama, namun mereka berdua juga menolak, dengan alasan agar keluarga inti dahulu yang ikut makan malam. Mereka berdua akan menyusul. Fadli dan Ara membicarakan Raina, karena Ara penasaran dengan Raina.

__ADS_1


"Fad, cewek itu siapa sih? Kok bisa ada di acaranya Pak Gilvan?" tanya Ara


"Dia adiknya temen Bos, tuh yang duduk berdua disebelah sana, itu Kakaknya." jawab Fadli


"Mereka berasal dari orang kaya ya, kelihatan banget dari pakaian yang mereka kenakan." ucap Ara


"Orang-orang seperti mereka itu menyeramkan, Ra. Kamu jangan mau berhubungan dengan mereka. Gak akan bisa bebas hidup kamu." ucap Fadli


"Maksud kamu? Gak bebas gimana?" tanya Ara tak mengerti


"Ah, sudahlah! Kamu gak akan ngerti. Udah yuk, kita nyusul makan. Cuma, duduknya terpisah." ajal Fadli


"Ayo, Fad." seru Giara


Raina tahu, Fadli dan Ara sedang membicarakannya. Bagaimana bisa, ia menjadi mati kutu seperti ini, kalau tidak ada Rama dan gita, mungkin Raina akan mengeluarkan tanduknya ketika melihat Fadli dan Ara membicarakannya.


"Rai, kenapa melamun?" Gita mengagetkan Raina


"Eh, Kak. Ada apa?" Raina kaget


"Kamu cepet makan dulu, kakak udah selesai makan, biar kakak yang ganti jaga Nayya sama Nakka." ucap Gita


"Aku gak nafsu makan!" tolak Raina


"Rai, kamu jangan seperti itu. Hargai tuan rumah, walaupun sedikit, kamu tetap harus mencicipi jamuan yang disediakan oleh tuan rumah. Itu pertanda bahwa kamu menghargai mereka." saran Gita


Tiba-tiba, Rama datang. Rama tak suka dengan sifat Raina sekarang.


"Kamu jangan membantah, kakakmu benar! Kamu harus menghargai tuan rumah, jangan seperti ini terus Raina. Aku benar-benar tak suka dengan sifat mu sekarang ini. Cepat pergi!" bentak Rama


Raina kesal, ia tak menjawab. Dengan tatapan penuh amarah, ia segera menuju ruang makan untuk mengambil makanan. Bukannya Raina tak mau makan malam disini, karena Ara dan Fadli juga sedang berada di ruang makan. Raina enggan bertemu dengan mereka.


Gita menatap Rama yang terlihat masih kesal pada Raina.


"Pi, jangan terlalu keras pada Raina. Kasihan dia," Gita memegang pundak Rama


"Dia memang keras kepala. Aku harus memberitahu dia tentang perjodohan ini, aku harus segera menikahkan dia juga dengan Fadli." ucap Rama


"Sayang, kamu jangan emosi. Tenangkan dirimu, jangan karena emosi, kamu jadi gegabah seperti ini." ucap Gita


"Aku tidak emosi. Mungkin, ini saat yang tepat agar mereka juga tahu, aku akan menikahkan adikku. Raina juga sudah berusia 23 tahun kan, dia sudah dewasa. Aku muak jika Raina terus seperti ini." ucap Rama


"Hati-hati, Raina akan marah. Jangan terlalu memojokkan Raina."

__ADS_1


"Tak akan, aku hanya akan mengenalkan dulu Raina pada Fadli. Karena, Raina masih tak tahu, siapa lelaki yang akan aku jodohkan dengannya." ucap Rama.


"Tapi, ini kan di tempat ramai, Pap. Kalau Raina marah bagaimana?" Gita khawatir.


"Justru aku sengaja, kalau aku mengenalkan Fadli padanya di rumah, dia pasti ngamuk dan marah besar. Kalau aku memberi tahunya di tempat seperti ini, dia pasti akan menahan emosinya, karena malu. Lebih baik sekarang menurutku." jelas Rama


"Baiklah, hati-hati bicaranya. Jangan membuat Raina kesal dan marah." tambah Gita


Satu jam berlalu, mereka semua selesai makan malam, dan kini sedang mengobrol ringan sebelum sampai keluarga Gilvan dan Rama pulang.


Ini kesempatan bagi Rama untuk memberi tahu Raina, karena kebetulan Fadli juga hadir ke acara lamaran ini. Rama memanggil Raina dan Fadli menuju ruang tamu didepan yang kosong, karena semua keluarga sedang mengobrol ringan di ruang keluarga, dan beberapa masih di ruang tamu.


Raina heran. Ada apa Rama terlihat serius memanggilnya menuju ruang tamu. Dengan kesal Raina menemui Rama. Mata Raina terbelalak, ketika melihat Fadli sudah duduk di depan Rama.


"Ada apa?" tanya Raina jutek


"Duduklah dulu! Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu." jawab Rama


Raina duduk dipinggir Rama. Ia tak mengerti kenapa Kakaknya menyuruh ia duduk disini bersama Fadli juga. Namun, berbeda dengan Fadli, Fadli sudah mengetahui maksud dan tujuan Rama mengumpulkan ia dan Raina.


Fadli sudah paham, kemana alur pembicaraan Rama akan berlangsung. Ia tahu, perjodohan ini akan segera dilakukan. Fadli sejujurnya ingin menolak, namun Fadli pun tak tega jika Rama harus memohon-mohon terus padanya.


Fadli sudah bertekad, bahwa ia akan menerima perjodohan ini, dan memasrahkan semua pada yang di atas. Karena, semua ini mungkin sudah takdir yang digariskan, dan Fadli tak bisa mengelak nya.


"Ada apa sih? Ngapain ada dia disini?" tanya Raina


"Dengarkan aku, kamu jangan menjawab, cukup kami dengarkan apa yang akan aku bicarakan. Paham? Karena, sekeras apapun kamu membantah aku, tak akan ada yang bisa merubah keputusan mutlak ini."


Raina mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar tak paham apa yang Kakaknya bicarakan. Rama memang tegas jika ia sedang berbicara. Raina tak akan bisa melawannya.


"Raina, dengarkan aku! Kamu lihat, lelaki yang di sampingmu ini. Keputusan mutlak surat wasiat yang kakek tuliskan, bahwa orang yang menolong kakek harus dijodohkan denganmu. Bukan begitu? Nah, kini akan ku sampaikan padamu. Lelaki yang menolong Kakek dahulu, dan lelaki yang akan aku jodohkan denganmu adalah dia! Lelaki di sampingmu ini lah yang telah berbaik hati menolong kakek. Fadli, namanya! Kumohon, hanya dengarkan aku! Jangan membantah aku, karena ini bukan di rumah. Kamu harus tahu diri, ini di rumah teman Kakakmu, aku hanya akan memberi tahu kamu, karena kebetulan Fadli pun ada disini, dan agar kamu juga tak kaget nantinya. Paham sampai disini?" ucap Rama


Raina seperti di tembak sekaligus oleh peluru tajam. Rasanya sangat menyakitkan. Rasanya benar-benar seperti ia ingin mati saja sekarang ini. Bagaimana mungkin, laki-laki yang sangat ia benci, akan dijodohkan dengannya? Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Kenapa Fadli hanya diam saja? Kenapa? Raina tak mengerti.


"Karena ini di rumah Kak Vina, aku akan menahan amarahku. Demi Tuhan, aku menolak keras perjodohan ini. Kalau kakak, tetap bersikeras, aku akan melakukan hal gila diluar dugaan kalian semua. Dan kamu, lelaki pecundang! Kenapa kamu diam saja? Oh, aku tahu! Kamu tak mungkin menolak kan? Karena aku anak orang kaya, kakakku punya perusahaan dimana-mana, pastinya kamu senang kan akan menikah denganku? Jangan harap kamu bisa menikahi ku! Dasar pecundang! Lelaki tak tahu diri!" umpat Raina


Rama marah, adiknya benar-benar diluar batas. Raina sudah seperti monster yang mengerikan. Fadli hanya terdiam. Ia tak ingin ikut campur. Ia tetap bersyukur, jika perjodohan ini di batalkan. Fadli juga tak ingin menikahi wanita seperti Raina, Fadli sudah menyukai seseorang, namun Fadli pun tak bisa menyatakannya.


"RAINA! JAGA UCAPAN MU!" Rama benar-benar marah


Rama tak bisa mengontrol emosinya. Suaranya terdengar sampai kedalam, Raina hanya tersenyum kecut, lalu meninggalkan Rama, dan kemudian masuk kedalam mobil.


*Bersambung*

__ADS_1


Siang semuanya..


Jangan lupa like dan komentarnya ya..


__ADS_2