
Senja mulai menggema. Vina telah selesai bergulat dengan ayam dan racikannya. Sementara itu, Givia sedang tidur di kamar Gilvan. Givia kelelahan seharian bermain bersama Fadli dan Ara. Karena hari sudah menunjukkan pukul enam sore, Vina memutuskan untuk pulang, Vina bersiap-siap.
"Sayang, kamu serius banget. Sampe kamu lupa waktu, di pantry terus." ucap Gilvan.
"Aku ingin serius menekuni bidang yang dijalankan calon suamiku, tentunya aku tak mau mengecewakanmu, Mas." Vina tersenyum.
"Terima kasih, calon istriku. Kamu memang wanita yang spesial. Kenapa tak dari dulu aku memilihmu," Gilvan tersenyum.
"Karena kamu terlalu egois." jawab Vina.
"Kamu benar." Gilvan malah tersenyum.
"Baguslah kalau kamu sadar. Eh, Givia mana?" tanya Vina.
"Givi di kamarku. Dia lelah, habis bermain-main dengan Ara dan Fadli." seru Gilvan.
"Mereka suka anak-anak juga rupanya." tambah Vina.
"Iya, namun aku kasihan juga pada Fadli."
Vina menoleh Gilvan, "Memangnya kenapa?"
"Kamu tahu kan, bahwa Fadli akan di jodohkan dengan Raina. Nah, yang aku lihat sejak kemarin-kemarin, bahkan tadi pun aku melihat, Fadli dan Ara itu terlihat dekat. Kurasa, mereka bukan hanya sekedar teman satu kontrakan saat dulu, namun ada rasa yang spesial juga diantara mereka. Sayangnya, keduanya sama-sama mengedepankan ego, jadi tak ada yang berani saling mengungkapkan. Padahal, aku sudah tahu bahwa mereka sepertinya sama-sama saling mencintai." ucap gilvan.
vina mengangguk-angguk, "Oh, begitu. Aku paham. Kurasa, Fadli harus menentukan sikap. Kalau dia sanggup menjalani perjodohan itu, dia jangan sampai memberikan perasaannya pada wanita lain." jawab Vina.
"Aku pun berkata begitu padanya. Semoga saja Fadli mengerti. Karena, aku tak ingin Rama kecewa padanya." jelas Gilvan.
"Semoga saja Fadli bisa menentukan sikap."
Setelah obrolan kecil itu, Vina dan Givia diantar Gilvan pulang. Sementara, restoran Fadli yang memegang. Vina dan Givia pamit pada semua karyawan Gilvan. Vina memang wanita yang ramah.
Fadli mengantar Bosnya pergi ke depan sampai masuk ke mobil. Hal rutin itu selalu Fadli lakukan, sebagai penghormatannya pada Gilvan yang telah berbaik hati mempercayakan restoran padanya. Tiba-tiba, ketika Fadli masuk kedalam restoran, Ara bertanya padanya.
"Givia udah pulang ya?" tanya Ara tiba-tiba.
"Iya, kenapa? Kamu gemes ya sama Givia?" ucap Fadli.
"Banget, Fad. Habisnya, dia lucu. Cara bicaranya, ketawanya, luci banget. Berasa punya adik kecil lagi aku." seru Ara.
"Memang dia anak yang periang, aku jiga suka padanya." tambah Gilvan.
Kalau kamu, suka sama siapa Fad? Batin Giara.
__ADS_1
Fadli dan Ara kembali mengerjakan pekerjaan restoran. Sampai waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ayam pun telah habis tak tersisa. Akhirnya, semua pekerja di perbolehkan pulang, Fadli dan Ara yang akan menutup restoran.
"Ra, aku mau beli jam tangan yang rusak. Kamu mau ikut aku gak? Biar ada temen nih, aku." ajak Fadli
"Boleh, Fad. Aku juga mau beli pencuci muka. Pencuci muka aku udah abis."
"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita tutup dulu restorannya. Aku akan mengambil motor Pak Gilvan dari garasi belakang." ucap Fadli.
Setengah jam berlalu. Restoran telah ditutup oleh Fadli. Sebelum berangkat, Fadli telah mengabari Gilvan bahwa dirinya akan pergi. Untungnya, Gilvan selalu membawa kunci cadangan. Jaga-jaga kalau Fadli akan pergi mendadak seperti ini.
Fadli dan Ara naik motor menuju Mall. Fadli merasa nyaman ketika bersama Ara, orangnya asyik dan membuat Fadli betah bersamanya.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di Mall yang ingin dituju. Fadli segera memarkirkan motor Gilvan di basement khusus parkir motor. Mereka segera berjalan bersama masuk kedalam Mall.
"Cari kebutuhan kamu dulu aja, Ra." ucap Fadli.
"Kamu dulu aja, kan yang ngajak kamu. Aku belakangan deh!" jawab Ara.
"Gak apa-apa. Ladies first dong! Hehehe." Fadli tersenyum.
"Bisa aja, kamu. Baiklah, ayo kita ke tempat kecantikan."
"Kuyyy, Ra." balas Fadli.
Tapi, berbeda dengan Fadli. Fadli malah ikut-ikutan melihat beberapa jenis lipstik di toko kecantikan ini. Tak terlihat rasa malu ataupun canggung pada diri Fadli, ia merasa enjoy dan tetap santai meskipun ia sedang berada di toko khusus kecantikan wanita.
"Fad, kamu lagi apa sih?" tanya Ara.
"Ini, aku lagi lihat-lihat lipstik yang warnanya bagus. Kayaknya ini cocok deh buat kamu. Warnanya soft, tapi keliatannya tetep menawan. Nih, ambil. Biar aku belikan untuk kamu, Ra." Fadli memberikan lipstik yang ia pilih.
"Eh, Fad. Gak apa-apa. Biar aku aja yang belinya." Ara sungkan.
"Ini kan aku yang pilih. Udah, biar aku yang bayar. Cuma lipstik ini aja, kok." Fadli mengurai senyum manisnya.
"Wah, terima kasih banyak, Fad."
"Sama-sama, Ra."
Fadli membayarkan lipstik pilihannya untuk Ara, dan Ara juga membayar barang-barang yang ia beli. Ara heran, baru pertama kalinya ia melihat laki-laki yang tak gengsi berada di toko kecantikan.
"Fad?" tanya Ara.
"Ya, Ra? Kenapa?" jawab Fadli.
__ADS_1
"Apa kamu gak malu?" tanya Ara lagi.
"Maksud kamu? Gak malu gimana?" Fadli tak mengerti.
"Kamu mau masuk kedalam toko kecantikan, kamu juga memilih beberapa lipstik. Biasanya, kebanyakan laki-laki kan malu kalau harus berada di tempat-tempat kayak gitu." jelas Ara.
"Oh, itu. Aku gak pernah merasa seperti itu, Ra. Aku senang berjalan-jalan, dan aku ingin orang yang jalan bareng aku gak jenuh karena sifat ku, jadi aku tetap enjoy dimana pun aku berada." jelas Fadli.
"Woaaah, jarang-jarang banget loh ada lelaki seperti kamu!" Puji Ara.
"Kalau aku gak sabaran, kasihan dong orang yang jalan bareng aku, pasti merasa gak nyaman dan gak suka sama sifat ku. Aku mencoba membuat kamu nyaman juga. By the way, pakai ya lipstiknya. Sebagai orang awam, aku mencoba memilih lipstik yang menurutku cocok untuk kamu. Tapi, kalau gak cocok, buang aja ya?" ucap Fadli.
"Eh, ya gak akan aku buang lah, Fad. Aku suka, kok! Lipstik nude gini, ini bagus. Selera mu bagus juga, walaupun kamu laki-laki, tapi kamu pinter memilihnya. Salut deh sama kamu, Fadli." Ara mengacungkan jempolnya pada Fadli.
Fadli, kamu lelaki yang keren. Aku belum pernah menemukan laki-laki seperti kamu, gak pernah gengsi jika berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut wanita. Kamu benar-benar lelaki idaman, Fadli. Batin Ara.
"Wah, makasih nih udah muji aku. Eh, kalau begitu, ayo kita ke toko jam, aku harus mengganti mesin jam ku yang rusak, Ra." ajak Fadli.
"Oke, Fad. Ayo," Ara mengikuti Fadli.
Fadli memilih toko jam yang tak terlalu mewah, agar harganya pun tak terlalu tinggi. Ia dan Ara duduk didepan etalase toko jam tersebut. Fadli mengatakan bahwa ingin mengganti mesin jamnya yang rusak.
"Apa bisa dibetulkan, Pak? Ini pernah jatuh beberapa kali, ketika saya sedang sibuk." jelas Fadli.
"Oh, ini sudah hancur dalamnya. Dibenarkan pun tak akan bisa. Ini harus diganti saja mesinnya. Namun, mesin seri ini, kebetulan stoknya sedang kosong. Kemungkinan ada sekitar dua minggguan lagi." jelas pedagang toko jam tersebut.
"Yasudah, Fad, selagi menunggu mesinnya, kamu beli jam baru aja." saran Ara.
"Yasudah, saya cari jam bagus tapi yang harganya tak terlalu mahal, Pak. Apakah ada?" tanya Fadli.
"Ada, ini saya ambilkan beberapa, silahkan tinggal dipilih saja." jawab Pedagang itu.
Ara membantu Fadli memilih-milih beberapa jam yang sekiranya cocok ditangan Fadli. Sementara itu, Gita dan Raina sedang berada di Mall yang sama dengan Fadli dan Ara. Gita meminta Raina menemaninya untuk membeli kebutuhan Nayya dan Nakka.
Ketika Gita dan Raina akan membeli minuman dingin, pandangan Raina tertuju pada seorang laki-laki dan seorang wanita. Terlihat sang wanita sedang memakaikan jam ke tangan lelaki tersebut. DEG, itu adalah Fadli.
Oh, jadi pelayan cewek yang tengil itu pacarnya si Fadli ya? Pantas saja, saat itu ia membela wanita itu habis-habisan. Ternyata, memang pacarnya. Sudah tahu akan dijodohkan, malah pacaran bersama wanita lain. Lagipula, masih cantikan aku kemana-mana, dibanding wanita tengil itu. Seharusnya, aku juga punya pacar. Agar aku bisa menandingi si Fadli. Sepertinya, aku harus segera mencari pacar. Batin Raina, sambil menatap tajam kearah Fadli dan Ara.
*Bersambung*
Selamat malam.
Jangan lupa like dan komentarnya setelah membaca. Beri vote-nya juga ya 🥰
__ADS_1