Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Bertemu orang tuamu


__ADS_3

Kampung halaman Fadli.


Tok, tok, tok,


"Assalamualaikum, Bi."


Pintu rumah pun terbuka,


"Waalaikumsalam. Eh, Fadli, aduh, keponakan Bibi yang tampan, akhirnya datang juga. Wah, kamu datang sama istri kamu, Fadli? Cantik pisan, ya Allah gusti. Hayu atuh masuk dulu, hayu masuk." ucap Bibi Fadli.


"Eh, iya, Makasih Bi."


Fadli dan Raina duduk di ruang tamu rumah Bibi Fadli yang sederhana. Jauh berbanding terbalik dengan rumah mewah Raina. raina terlihat sedikit tak nyaman, karena ia tak biasa berada di rumah sederhana seperti ini.


"Tunggu dulu ya, Bibi ambilkan dulu minum untuk kalian. Kalian pasti lelah." ucap Bibi Fadli, lalu berlalu.


"Makasih, Bi."


Fadli menatap Raina yang terlihat sedikit tak nyaman dengan kondisi rumah Bibinya. Namun, ini adalah rumah peninggalan Ayah dan Ibunya dulu, Fadli tak punya rumah lagi, selain rumah tua ini.


"Maaf ya, rumahnya tak seperti yang kamu bayangkan. Kamu pasti tak nyaman." ucap Fadli.


"Mmh, enggak kok, gak apa-apa. Aku hanya belum terbiasa saja." jawab Raina.


Raina tak mengetahui keberadaan orang tua Fadli. Sejak kemarin, yang Fadli bicarakan adalah Bibinya Fadli, dan Fadli pun berbincang dengan Bibi nya saja. Raina penasaran dengan kedua orang tua Fadli. Entah berada dimana mereka, Raina tak mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Fad, Ayah dan Ibumu, mana?" tanya Raina.


"Oh iya, aku belum mengenalkan mu pada mereka. Nanti ku ajak kamu menemui mereka." jawab Fadli tersenyum manis.


"Baiklah." Raina membalas senyuman Fadli.

__ADS_1


Bibi Fadli memberikan teh hangat dan aneka kue. Fadli berbincang, dan memperkenalkan Raina pada mereka. Bibi Fadli bernama Bi Mina. Bi Mina sangat senang sekali pada Raina. Anak-anak Bi Mina juga senang sekali, kerena Fadli membawakan banyak oleh-oleh untuk mereka. Ditambah lagi, Raina yang membawa banyak bungkusan snack dan roti, ia berikan pada semua saudara Fadli.


"Neng Raina teh sangat cantik sekali. Beruntung pisan Fadli bisa jadi suami Neng Raina." Bi Mina tersenyum senang.


"Makasih, Bi. Bibi berlebihan, aku biasa saja kok." Raina tersipu malu.


"Beneran atuh, Neng Raina sangat cantik. Kenapa mau sama ponakan Bibi yang kayak gini? Fadli mah gak ada apa-apanya, Neng. Lihat, rumahnya saja kecil begini, pasti mobil dan semua oleh-oleh ini dari Neng Raina ya. Maafkan ponakan "Bibi, Fadli hanya orang biasa Neng." ucap Bibi Fadli.


Fadli malu, Bibinya dengan blak-blakkan berkata keadaan Fadli yang sesungguhnya. Memang benar, mobil mewah itu adalah mobil Rama, Kakak dari Raina, namun oleh-oleh yang Fadli berikan, itu murni uangnya sendiri, tanpa ada campur tangan dari Raina.


"Eh, Bi Mina, jangan bicara seperti itu. Benar, itu memang mobil Kakak saya, tapi Fadli juga punya mobil kok. Cuma, mobil Fadli gak bisa dibawa bepergian jauh, takutnya mogok ditengah jalan. Semua oleh-oleh ini juga dari Fadli, saya hanya menambahkan makanan ringan saja, Bi. Sekarang, Fadli sudah bukan tukang kebun lagi, sekarang Fadli adalah manager di restoran, Bi. Raina bangga sama pekerjaan Fadli." Raina tersenyum manis.


Fadli yang mendengar ucapan dari mulut Raina, benar-benar tak habis pikir, wanita itu memujinya. Padahal, sejak semalam hingga tadi di perjalanan, Raina tak berbincang sedikitpun pada Fadli. Karena, Raina masih kesal padanya.


"Rai, kamu tak usah berlebihan." Fadli malu.


"Benarkah, Neng Raina? Benar sekarang Fadli bukan tukang kebun lagi? Fadli, syukurlah, kalau kamu teh sekarang udah maju. Bibi bahagia, bibi senang. Hidup kamu gak kesepian lagi, sekarang kamu udah nemuin kebahagiaan kamu yabg seutuhnya. Neng Raina, jaga Fadli ya, di sana Fadli teh hanya sendiri. Dia udah gak punya siapa-siapa lagi, Bibi seneng kalau sekarang Fasli udah punya istri, jadi Fadli teh gak bakalan kesepian lagi." Bibi Fadli tersenyum.


"Makasih, Neng Raina. Bibi percaya, bahwa Neng Raina adalah wanita yang baik."


"Makasih Bi,"


"Ya sudah, kalian silahkan istirahat. Kamar kalian ada di kamar Fadli dahulu ya, Bibi sudah bersihkan kok. Bibi kedalam dulu ya, silahkan atuh diminum teh dan kue nya." ucap Bibi.


"Baik Bi, terima kasih sebelumnya."


Fadli menatap Raina penuh dengan keanehan. Kenapa Raina mendadak jadi wanita yang pengertian dan baik hati? Padahal, Fadli mengira, Raina akan berperilaku sedikit kurang sopan, tapi ternyata Raina bisa ramah dan baik hati pada Bibinya Fadli.


"Fad, ayo kita ketemu Ayah dan Ibumu." ucap Raina.


"Kemana? Memangnya kamu tak lelah?" tanya Fadli.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin sekali bertemu dengan orang tuamu, Fad." jawab Raina.


"Baiklah, kita ke sana sekarang. Aku akan pamit dulu pada Bi Mina." ucap Fadli.


"Iya, Fad."


Fadli membawa Raina ke suatu tempat yang sepi, tempat yang penuh dengan tanaman rumput liar. Raina tak mengerti, kenapa Fadli membawanya ke sini, bahkan lumayan jauh dari perkampungan, Raina heran, tapi ia tetap santai dan mengikuti kemana Fadli pergi.


Hingga akhirnya Fadli dan Raina sampai di sebuah pemakaman penduduk. Raina kaget, kenapa Fadli malah membawanya kesini. Raina ingin bertemu dengan orang tua Fadli, bukan berada di makam seperti ini.


"Fad, kamu kok ngajak aku kesini sih? Katanya kita mau ketemu kedua orang tua kamu." ucap Raina.


"Iya, ini rumah kedua orang tuaku, Rai. Aku akan mengenalkan mu pada mereka. Ayo," Fadli tersenyum penuh makna.


"Jadi, Fad? Orang tuamu?" Raina tak menyangka.


Fadli berjalan menuju nisan makam yang berjejer berdekatan. Memang sehidup semati, hingga akhir hayat pun kedua orang tua Fadli tetap bersatu.


"Assalamualaikum, Ibu dan Bapa. Fadli datang, kini Fadli datang dengan seseorang. Maafkan Fadli, yang jarang mengunjungi kalian. Maafkan Fadli yang terlalu sibuk dengan kehidupan duniawi, sehingga jarang sekali Fadli kesini. Fadli kini sudah menikah, Pa, Bu. Fadli punya istri yang cantik dan baik. Fadli datang bersamanya. Ini dia, Raina, Bu, istri Fadli. Doakan Fadli dari sana, semoga Fadli dan Raina bisa menjadi pasangan yang seutuhnya, menjadi pasangan suami istri yang kekal abadi, dan diridhoi olehNya, semoga Fadli bisa mengemban amanah untuk mampu menjadi imamnya. Fadli mengenalkan Raina, karena Raina ingin bertemu Ibu dan Ayah, sayangnya, kalian sudah tak berada disisi Fadli lagi, tapi, kalian akan tetap terkenang di hati Fadli, selamanya..." air mata Fadli jatuh tak tertahankan.


Raina yang masih berdiri, ikut tertunduk, memegang bahu Fadli. Raina tahu, kesedihan Fadli saat ini, namun Raina pun tak bisa berbuat apa-apa, selain mendoakan yang terbaik. Raina jongkok, kemudian ia memegang batu nisan makam Ibu Fadli.


"Asalamualaikum, Ibu. Aku adalah wanita yang telah menikah dengan Fadli. Aku adalah wanita yang selalu menemani hari-harinya. Kenalkan, Bu, aku Raina. Aku kira, aku bisa melihat dan menatap wajah cantik Ibu. Ternyata, aku hanya bisa melihatnya seperti ini. Aku tak tahu, bahwa Fadli sudah tak memiliki kalian lagi. Aku sedih, karena aku pernah menyakiti hatinya. Kalau aku tahu, ternyata dia sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi, mungkin dari awal saja aku akan menyayanginya. Maafkan aku, Bu. Aku berjanji, di depan nisan ini, bahwa aku akan mencoba mencintai Anak Ibu dan Bapa, bahwa aku akan menyayanginya sepenuh hatiku. Aku akan mengganti kasih sayang kalian padanya, dengan semua kasih sayangku. Fadli, suamiku yang malang, ternyata hidupmu benar-benar kesepian. Aku berjanji, aku akan selalu ada bersamamu, dan mencoba menjalankan bahtera rumah tangga ini bersamamu. Semoga, aku dan Fadli tetap bersama, walaupun kisah kita pada awalnya adalah hal yang tak diharapkan. Tapi, tak ada yang mustahil, bahwa kita juga bisa saling menyayangi dan mencintai pada akhirnya. Aku akan mencobanya mulai saat ini. Terima kasih, untuk Ibu dan Bapa, yang telah melahirkan Fadli ke dunia, hingga ia tercipta dan hadir untuk diriku...." Raina tersenyum, sambil mengusap bulir kecil yang jatuh dari pelupuk matanya.


"Raina, apa kamu yakin dengan ucapan mu itu?" Fadli sungguh tak menyangka.


*Bersambung*


Selamat siang..


Jangan lupa LIKE dan Vote ya.

__ADS_1


Komentar kalian juga salah satu penyemangat aku 😍🥰


__ADS_2