
"Fad, Fadli... Sakit, aarrgghhhh," Raina menjerit kesakitan.
Fadli terus menghentakkan tubuhnya, ia benar-benar tak mengerti ritme bercinta yang sesungguhnya. Ia terlalu gugup dan shock, karena miliknya masuk pada tubuh Raina, sehingga Fadli pun tak mengontrol pergerakannya. Ia menghentak terlalu keras dan cepat, sehingga Raina terus-terusan menjerit menahan rasa sakit.
Fadli tak mengindahkan tangisan Raina, Fadli terus menyetubuhi Raina tanpa ampun. Ia menikmati tubuh Raina seperti yang ia ingat dalam video yang telah ia saksikan. Selagi melakukan pergerakan, Fadli juga mencoba mencium gunung kembar Raina, sehingga terdengar jerit tangis dan lenguhan dari diri Raina.
"Rai, kenapa harus menangis? Ini enak, Rai."
"Aaarrrggh, hentikan Fadli! Aku sakit, kenapa kamu jahat sekali HAH?"
Raina memejamkan matanya, ia tetap menangis hingga mengeluarkan air mata. Gadis itu memegang sprei dengan kuat, ia meronta kesakitan, ia menggigit bibirnya, dan sesekali terdengar desahan dari gadis itu. Fadli terlalu cepat, sehingga Raina tak bisa menikmatinya. Apalagi, ini kali pertama bagi gadis itu melakukan hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Raina, kenapa kamu menangis? Bukankah ini nikmat, Rai? Aku melihat dalam video, sang wanita tak menangis, ia malah mendesah dan melenguh. Tapi kenapa, istriku malah menangis dan menjerit? Apakah ini menyakitkan, Raina? Oh tidak, tunggu Raina. Kenapa rasanya, ada sesuatu yang ingin keluar dari milikku, Raina, ada apa dengan tubuhku? Kenapa rasanya begitu menegangkan? Ahh, tidak, aku harus benar-benar mempercepat ritme ini.
Fadli menghentakkan tubuhnya semakin cepat dan semakin kuat, ia benar-benar telah berada di puncak kenikmatan. Dengan cepat dan tak beraturan, Fadli telah selesai melakukan pelepasannya.
"Aahhh, aaaahhh. Raina, istriku. Arrgghhh" Fadli telah sampai pada puncaknya.
...***...
"Raina, maafkan aku, kamu jangan nangis terus."
Raina terduduk sambil memegangi lututnya. Raina kecewa, ia menangis tiada henti. Fadli benar-benar merenggut mahkotanya. Bercak merah di sprei hotel ini menjadi saksi, telah hilangnya kesucian Raina. Melihat Raina yang menangis tersedu-sedu, membuat Fadli merasa jadi lelaki yang kejam. Fadli seperti telah berbuat jahat. Bisa dibilang Fadli adalah lelaki yang memperk*sa istrinya.
"Rai, Raina. Apa itu sangat menyakitkan? Maafkan aku," Fadli merasa bersalah.
Raina tak bergeming. Ia tetap menangis. Entah apa yang ada dibenak Raina, perasaannya berkecamuk. Padahal, Fadli adalah suaminya, tapi entah kenapa rasanya hati Raina tak siap. Ia benar-benar menangisi kejadian ini. Padahal, Fadli pun tak lama bermain, ia hanya bermain sekali, karena ia sudah tak tahan, lalu ia mengeluarkannya.
Fadli perlahan memeluk Raina dengan hangat. Raina tak menolak pelukan yang diberikan Fadli. Ia tak mengerti, kenapa dirinya harus menangis. Semua itu karena Fadli, Fadli membuatnya kesakitan.
"Maaf, aku tak akan melakukannya lagi, kalau kamu benar-benar trauma akan hal itu. Maafkan aku, Rai. Aku salah, jangan menangis lagi. Aku sedih, kalau kamu seperti ini."
Raina menatap Fadli. Ia sendiri pun tak mengerti, kenapa ia harus menangis. Padahal, Fadli jelas-jelas suaminya. Sebagai istri, Raina memang harus memberikannya pada Fadli, apa mungkin karena Raina kaget?
"Rai, jawab aku. Sudah, jangan menangis terus. Kamu sakit? Apa itu sangat menyakitkan? Maafkan aku, aku tak akan melakukannya lagi, Rai. Aku terpancing ucapan mu, dan suasananya benar-benar membuatku ingin menyentuhmu. Maafkan aku," ucap Fadli terus-menerus memohon maaf.
"Sudah ku bilang sakit, ku bilang hentikan, kenapa kamu tak mendengarkannya HAH? Kenapa kamu tak menghentikannya? Kamu jahat! Kamu egois!" Raina membuka suaranya, namun ia tetap masih tetap menangis.
"Maafkan aku, aku benar-benar larut dalam kenikmatan. Aku lepas kendali, Raina. Ini kali pertama bagiku, maafkan aku yang tak tahu," Fadli mendekatkan wajahnya pada wajah Raina.
__ADS_1
"Kamu jahat!!!!!" Raina masih menangis.
"Raina, tenanglah. Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi padamu. Aku adalah suamimu, apa kamu tak mempercayai aku?" ucap Fadli.
Raina tak menjawab. Ia tetap menangis. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Fadli. Sedih, sangat sedih. Hancur, sangat hancur. Bagaimana tidak? Kesuciannya telah ia berikan pada Fadli, dan kini, ia telah tak suci lagi. Ia sudah bukan gadis lagi, ia sudah menjadi milik Fadli seutuhnya.
"Raina, aku janji. Aku tak akan meninggalkanmu, lupakan perjanjian enam bulan kita. Lupakan semuanya, jangan pernah menganggap perjanjian itu ada. Aku akan mencintaimu sepenuh hatiku. Aku akan menjagamu, dan melindungi mu. Yang terpenting, aku akan bertanggung jawab, jika sesuatu terjadi padamu." Fadli menenangkan Raina.
"Fadli.. Kenapa kamu harus melakukannya?" Raina masih menangis.
"Raina, kamu yang menantang ku. Aku tertantang karena ucapan mu. Aku memang tertarik pada tubuhmu. Aku pun laki-laki normal yang mempunyai hasrat. Maafkan aku, jika kamu belum siap melakukannya. Tapi, ini bukan aib, Raina. Ini adalah ibadah, kita telah SAH menikah, kamu memang harus memberikannya padaku, itu adalah hak-ku sebagai suami, Raina. Namun, jika kamu tak menginginkannya lagi, aku tak akan melakukannya. Maafkan aku, jangan marah padaku, Raina." ucap Fadli terus memohon maaf.
Yang Raina sesalkan, bukan karena memberikan mahkotanya pada Fadli, yang Raina sesalkan adalah cara Fadli memperlakukannya. Tak ada lembut-lembutnya sama sekali. Fadli kasar sekali, itu yang membuat Raina kesakitan. Ditambah, ini adalah pengalaman pertamanya melakukan itu, namun Fadli terus menghentak nya dengan keras dan cepat. Apa Fadli tak bisa, pelan-pelan?
"Rain, Raina.. Jangan marah terus, maafkan aku, sayang." Fadli terus membujuk Raina.
"Kamu tahu kan, ini kali pertama bagiku, dan tentunya ini sangat menyakitkan untukku. Sampai saat ini, daerah sensitif ku masih sangat sakit. Itu semua karena kamu!!!" Raina marah.
"Maaf, Raina. Harus berapa kali aku minta maaf sama kamu? Semua sudah terjadi. Aku harus bagaimana, Raina? Kesucian mu tak akan bisa kembali lagi. Aku menyesali itu." Fadli melepaskan pelukannya pada Raina.
Fadli merasa sangat bersalah sekali. Ia tak menyangka Raina akan marah dan kesakitan sampai sekarang ini.
"Apa Rai? Aku tak mengerti. Kenapa tak kamu coba jelaskan?" Fadli memegang tangan Raina.
Raina melihat Fadli dengan tatapan tajam. Raina sedikit kesal, namun ia bingung harus menjelaskannya bagaimana. Malam ini, ia benar-benar kesal pada Fadli.
"Kamu itu entah polos apa emang terlalu bodoh sih! Aku bener-bener gak ngerti." ucap Raina.
"Maksud kamu apa? Coba jelaskan lebih rinci lagi, aku gak paham apa yang kamu bicarakan!" ucap Fadli.
"Aku tak keberatan kamu melakukannya. Apa saat pertama tadi, aku menolak habis-habisan? Aku tetap mencoba juga kan? Aku akan pasrah memberikannya padamu! Tapi, kenapa kamu?" ucapan Raina terpotong.
"Tapi, kenapa apa Rai?" Fadli masih tak paham.
"Tapi, kenapa kamu melakukannya sangat kencang dan cepat? Kenapa kamu tak bisa pelan-pelan? Kenapa ritmenya malah semakin cepat setelah kamu berhasil masuk? Kenapa tak pelan-pelan saja hah? Itu yang membuatku teramat kesakitan, FADLI." Raina menjelaskan dengan sedikit rasa malu.
"Apa aku terlalu cepat, Rai?" Fadli menggaruk-garuk kepalanya.
"Kamu harusnya tahu ritmenya! Ada saatnya kamu pelan-pelan, ada saatnya kamu percepat gerakannya! Kenapa dari awal sampai akhir kamu selalu cepat hah? Ini kali pertama untukku, aku kesakitan, karena selaput ku sobek, dan aku lebih kesakitan karena kamu memainkannya terlalu cepat! Oh my God, entah kamu ini polos apa benar-benar bodoh!" Raina kesal.
__ADS_1
Fadli tertegun. Ia termangu mendengarkan penjelasan Raina. Fadli tak berpikir kearah sana. Ia benar-benar gugup dan nervous, maka dari itu, ia tak memperhatikan gerakan lambat dan cepatnya. Yang ia pikirkan adalah melakukan gerakan itu seperti yang ada pada video yang diberikan Gilvan.
"Apa aku memang melakukannya sangat cepat, Raina? Apa dengan pelan-pelan juga bisa?" tanya Fadli seperti orang kikuk
"Ya bisa lah! Kalau kamu pelan, mungkin rasa sakitnya tak akan seperti ini. Aarrgghh, aku benci kamu, Fadli!"
"Raina, maafkan aku. Aku terlalu gugup. Aku pun baru pertama kali melakukannya. Aku begitu, karena melihat contoh." Fadli mencoba jujur.
"Contoh? Contoh apa maksudmu, hah?" Raina tak paham.
"Contoh, karena aku telah melihat anu, Rai,"
"Anu, anu apa maksudmu?" Raina terlihat melotot.
"Anu, video yang Pak Gilvan berikan. Aku mencontohnya, dan gerakannya seperti itu. Maafkan aku," Fadli menunduk.
"Astaga, Fadli! Kamu ini benar-benar mesum sekali ya! Masa kamu lihat video seperti itu sih? Dan parahnya, kamu mengikuti apa yang ada didalam video itu! Mereka itu bukan amatiran seperti kita, Fadli! Mereka bintang film, mereka pasti lihai melakukannya. Kenapa kamu harus menyamakan dirimu dengan bintang p*rno, HAH? aku benar-benar tak mengerti padamu! Aku tak habis pikir, Fad." Raina geleng-geleng kepala.
"Oh, aku baru tahu darimu, Raina. Maafkan aku, kamu pasti kesakitan sekali ya?" Fadli gugup.
"Jangan tanya! Jelas ini sangat menyakitkan, tahu!" Raina kesal.
"Kalau mengulangnya, akan sakit tidak?" Fadli mengigit bibirnya, ia ragu mengucapkannya.
"APA MAKSUDMU?" Raina sudah mulai bertanduk.
"Ya, aku ingin mencoba mengulangnya. Tapi, dengan ritme yang diatur dan pelan-pelan. Apa bisa kita mencobanya kembali?" ucap Fadli pelan-pelan.
"DASAR OMES kamu ya! Aku kesakitan begini, masih saja minta mengulanginya lagi. Bener-bener gak ada akhlak kamu, FADLI!" Raina marah.
"Bukan begitu maksudku, aku penasaran, apa kamu akan menangis lagi, apa justru malah merasakan keenakan, Rai?" ucap Fadli polos.
"ASTAGA! Sejak kapan kamu jadi mesum begini, Fadli? Cepat pergi dan ganti pakaian mu. Ganti juga sprei ini. Kalau kamu masih bicara lagi, aku bisa pastikan, burung mu akan ku potong sampai habis!" ancam Raina.
"Ampun, Raina. Jangan, dong. Kenapa kamu jadi galak gini sih? Kalau burungku habis, gimana nanti aku mau nyoba melakukannya pelan-pelan?" Fadli masih saja banyak bicara.
"Aaarrrgghhhh, FADLI! PERGI!" Raina benar-benar kesal dengan tingkah Fadli.
*Bersambung*
__ADS_1