
Part of RAMA and GITA.
Kisah cinta yang kita perjuangkan, akan selalu tertancap didalam hati. Masa-masa saling merebut hati, dan meyakinkan diri, bahwa kita pasti bisa bersama mengarungi hidup yang indah ini.
"Apakah kamu tahu, apa yang aku lakukan ketika kamu pergi?" tanya Rama didalam kamarnya.
"Tentu saja kamu bersedih, aku sudah bisa pastikan." jawab Gita.
"Aku sudah akan menghubungi orang-orang ku untuk menemukanmu, aku merasa pasrah dan menyerah. Pikiranku, akan ku pastikan, orang-orang suruhan itu, akan menyeret paksa dirimu untuk berhadapan denganmu. Sudah ku pikirkan cara kasar seperti itu, namun rasanya hatiku tak mau, aku tak sanggup jika mereka menyakitimu. Aku ingin dengan tenagaku sendiri mengejar kamu, dan menemukanmu. Hingga Tuhan memberiku jalan dan aku meyakinkan diriku, untuk menemukanmu dengan ragaku sendiri." ucap Rama.
"Aku tahu, maafkan aku, kalau saja dulu aku tahu kekuasaan mu sebesar ini, mungkin aku tak berani melakukan hal itu." ucap Gita.
"Aku beruntung, dengan perjuanganku bisa mendapatkan kamu, kamu yang terindah. Hingga aku tak bisa sedikitpun berpaling dari dirimu, Anggita. Wanita manapun, tak akan bisa merubah cintaku padamu," jawab Rama.
"Gombal, laki-laki memang selalu saja berkata begini. Kalau sudah melihat yang lebih bening saja dari istrinya, langsung deh matanya jelalatan!" umpat Gita.
"Kamu jangan samakan aku dengan laki-laki lain, aku tak seperti mereka. Hanya kamu satu, di hatiku. Kumohon, kamu percayalah, aku tak sudi disamakan dengan laki-laki hidung belang!" balas Rama.
"Bisa aja kamu kalau udah ngerayu," jawab Gita.
"Sayang, aku ingin mengunjungi Mami dan Papi." ucap Rama tiba-tiba.
"Kamu pasti sangat merindukannya," ucap Gita.
"Tentu saja, aku ingin bertemu mereka. Apa kita pergi berlibur saja ke Moskow? Sekalian mengunjungi Papi dan Mami," ajak Rama.
"Anak-anak pasti senang bisa berlibur keluar negeri." ucap Gita.
"Kita ajak saja Gilvan dan Raina." tambah Rama.
"Tentu saja, mereka pengantin baru, pasti akan senang jika kita ajak berlibur. Tapi, kandungan Raina kan baru saja tiga bulan, apa tidak sebaiknya kita tunggu dulu sampai kandungannya sekitar lima sampai enam bulan?" ucap Gita.
"Kurasa, kehamilan Raina baik-baik saja, Raina tak terlihat ngidam yang parah. Dia malah hanya banyak maunya saja, makannya pun tambah banyak. Coba kita tanya mereka," ucap Rama.
"Apa kita pergi ke kamar mereka sekarang?" tanya Gita.
"Mereka sedang keluar, kudengar mereka sedang malam mingguan, sayang." ucap Rama.
"Ya sudah, nanti kita telepon saja mereka." saran Gita.
"Biar author saja yang mencari mereka, Kita akan sibuk malam ini. Kita harus menikmati malam panjang kita, biarkan author yang ngintip Raina dan Fadli." ucap Rama.
__ADS_1
"Bisa saja kamu!"
Author POV : Enak aja si Rama nyuruh-nyuruh. Berani gaji gue berapa dia? 😂😂😂
...❤❤❤...
Part Of RAINA and FADLI.
Raina mengajak Fadli mencari makanan khas betawi. Raina benar-benar ngebet ingin makan ketoprak dan kerak telor. Ini memang malam minggu, tapi yang jualan ketoprak di malam hari, ada dimana? Kalau kerak telur, akhirnya Fadli bisa mendapatkannya di pasar malam rakyat. Fadli benar-benar menjelajah kota Bandung, demi memuaskan keinginan Raina untuk memakan makanan betawi.
"Enak gak kerak telornya?" tanya Fadli pada Raina yang sedang duduk di kursi taman pasar malam.
"Enak, tapi sayangnya ketemunya harus di pasar malam kayak gini, kan becek hubby!" keluh Raina.
"Setiap pasar malam itu tradisi dari nenek moyangnya begitu, sayang. Musim hujan seperti ini, banyak banget pasar malam rakyat, memang tempatnya identik dengan tanah yang becek. Gak kotor kan kaki kamu, kamu kan pake sepatu?" ucap Fadli.
"Kakiku gak kotor, tapi harga diri sepatu limited edition-ku benar-benar jatuh dipakai becek-becekan seperti ini. Lihat saja, kotor kan dia, kasihan sekali." ucap Raina.
"Kan kamu bisa beli sepatu yang lain lagi, kita juga gak tahu, kenapa harus nyampe ke pasar malam hanya untuk menemukan kerak telor yang kamu inginkan." jawab Fadli.
"Baiklah, aku membiarkan sepatu mahal ini kotor. Satu lagi yang harus kita cari. Ketoprak hubby! Aku sangat menginginkannya." rengek Raina.
"Sayangku, ini udah malem. Ketoprak kan biasanya untuk sarapan, kalau malem gini udah pada tutup mereka, walaupun di Bandung juga kalo pagi tukang ketoprak banyak kok. Besok aja ya?" rayu Fadli.
"Kita harus cari kemana tukang ketoprak?" Fadli menggaruk-garuk kepala.
"Kan tadi lewat handphone kamu berhasil nemuin kang kerak telor, ya lewat handphone juga dong! Siapa tahu kamu berhasil nemuin kang ketoprak juga." Raina bawel.
Astaga.... Ngidam memang luar biasa. Bayiku, kenapa kamu mau makan ketoprak? Sejak kapan bayi ingin ketoprak ya? Aku bingung, mana ada tukang ketoprak jualan di malam hari. Batin Fadli sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Fadli terus mencari di internet dan google maps penjual ketoprak yang ready dimalam hari. Namun, hasilnya tetap nihil. Tak ada penjual ketoprak yang buka, semuanya tutup dan akan buka lagi pada esok hari.'
"Sayang, gak ada. Gimana dong?" tanya Fadli.
"Gak mau tahu hubby, aku maunya sekarang. Kamu gak kasihan apa sama calon baby kita? Dia sangat menginginkannya! Berusaha lebih keras lagi, ya ya?" Raina tetap bersikukuh.
Fadli terdiam. Ia berpikir keras, bagaimana caranya agar istrinya bisa mendapatkan makanan yang ia inginkan. Ngidam Raina sebetulnya tidak aneh, hanya saja waktunya yang tidak tepat. Kenapa harus menginginkan ketoprak dimalam hari? Tentu saja Fadli bingung, karena tak ada yang menjual ketoprak dimalam hari, kecuali di Jakarta, mungkin saja ada.
"Apa kita pergi ke Jakarta sekarang?" Fadli sudah tak bisa berpikir lagi.
"Ngapain ke Jakarta?" tanya Raina.
__ADS_1
"Ya membeli ketoprak, sayang. Ketoprak kan khas betawi, mungkin saja kalau di Jakarta, banyak penjual ketoprak yang masih buka dimalam hari." jawab Fadli.
"Ah, kamu! Gitu aja nyerah, gimana sih!" Raina kesal.
"Nyerah? Nyerah gimana sih Rai? Aku kan akan mewujudkan keinginan kamu, aku bukan nyerah, aku gak ada lagi pilihan lain, selain kita pergi ke tempat makanan itu berasal!" Fadli sedikit meninggikan suaranya.
Raina menggigit bibirnya. Ia berkaca-kaca, ia benar-benar sedih, dengan ucapan Fadli yang meninggi. Fadli sepertinya marah padanya, hingga Raina mulai menangis. Raina menitikkan air matanya berkali-kali, tangisannya tak bisa ditahan, ia benar-benar sedih karena Fadli sedikit membentaknya.
"Raina, sayang? Kenapa kamu menangis? Ya ampun, apa ada yang salah dengan ucapan ku? Maafkan aku, jika aku salah, jangan menangis sayang, kumohon..." Fadli menyeka air mata pada pipi Raina.
Raina tetap menangis, ia tersedu-sedu, "Kamu jahat, Fad! Apa salahku sih? Aku hanya ingin makan ketoprak! Dan ini juga bukan kemauanku, ini kemauan baby kita! Kenapa kamu malah membentak aku? Kamu tahu gak sih, aku ini sedang dalam masa-masa ngidam, kenapa kesannya aku ini salah di matamu? Jahat kamu, Fad!" Raina menutup wajahnya sambil menangis.
Fadli merasa bersalah. Ia tak mengerti, padahal dirinya tak merasa membentak Raina, apalagi marah padanya. Fadli saking pusingnya, jadi ia mau saja pergi ke Jakarta, demi mendapat ketoprak yang diinginkan Raina.
Fadli memeluk Raina, "Maaf, aku salah. Bukan maksudku membentak mu sayang, aku hanya bingung, dan tak ada pilihan lain. Maaf, kalau kamu kecewa dengan ucapan ku. Tentu saja aku tahu, ini keinginan bayi kita. Aku mengajakmu pergi ke Jakarta tulus, aku ingin mewujudkan keinginanmu, istriku." Fadli mengusap rambut Raina.
"Gak segitunya juga! Gak harus juga kita pergi ke Jakarta untuk mendapatkan ketoprak! Cara lain kan bisa. Ini hanya karena kamu memang gak kreatif, Fad!" Raina mulai marah.
"Iya, iya. Maafkan aku. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Katakan saja, aku akan melakukan apapun untukmu dan bayi kita." jawab Fadli.
"Kamu kan bisa, buat ketoprak sendiri, dibantuin sama bibik di rumah! Kenapa harus jauh-jauh ke Jakarta! Memang dasar kamu gak peka!!!!!"
Astaga.... Kukira, kamu tak mau kalau ketoprak buatan rumahan. Aku kira, kamu ingin membelinya. Ya ampun, istriku, ngidam itu benar-benar membingungkan, tapi aku harus kuat, aku harus siap, karena semuanya untuk bayi kita. Batin Fadli.
"Aku gak kepikiran kesitu sayang, maafkan aku. Kukira kamu tak mau kalau ketopraknya membuat di rumah. Baiklah, ayo kita ke supermarket, mencari bahan-bahan ketoprak." ajak Fadli.
"Nah, gitu dong sayang! Aku seneng dengernya. Ayo, kita belanja. Buatkan ketoprak yang enak ya buat aku, resepnya cari yang terbaik di cookpad!" saran Raina sembari tersenyum.
"Sure, baby. Aku akan memberikan yang terbaik untukmu." Fadli membalas senyuman Raina.
Ya ampun, ngidam itu aneh! Tadi, dia menangis. Sekarang, dia tersenyum sumringah, apa memang mood wanita hamil itu berubah-ubah ya? Kalau begini, aku harus waspada. Siapa tahu, nanti ada serangan fajar! Yang asalnya baik, tiba-tiba jadi marah-marah lagi. Ah, istriku, kamu memang unik. Batin Fadli.
Fadli dan Raina pun keluar dari pasar malam dan menuju parkiran mobil. Mereka akan pergi membeli bahan-bahan ketoprak sesuai keinginan Raina. Fadli pun lega, ia mencoba tetap sabar demi istri tercintanya. Cinta itu unik, selalu ada saja caranya agar ia selalu bahagia.
.......
Bonus chapter 2 sudah ya..
Tinggal 1 chapter terakhir, akan selesai sudah.
Untuk yang menunggu ceritaku selanjutnya, akan ku buat dengan judul Kanayya & Kannaka. Tapi, masih nanti ya, aku buat plot dan alurnya dulu.
__ADS_1
Untuk yang belum baca cerita keduaku, bisa klik profil aku, ada cerita kedua judulnya TERJERAT CINTA SANG PEMBANTU. Selagi nunggu kisah Nayya dan Nakka, kalian baca itu dulu ya ❤