
Gita dan Rama telah tiba di Rumah sakit. Mereka heran, mengapa Mami dan Papinya bisa membawa Siska ke Rumah sakit. Rama sebenarnya tak ingin berurusan lagi dengan Siska, tetapi orang tuanya berkata kalau Siska tidak ditolong ia pasti akan kehilangan nyawanya.
Mereka menunggu sudah lebih dari tiga jam. Operasi sesar memang memakan waktu yang lama. Orang tua Rama sudah berkali-kali menelepon Siska, tetapi selalu tak terhubung. Mereka heran, kenapa Siska seperti dibuang, dia sedang hamil, tapi tidak ada dukungan keluarganya sama sekali.
"Mami ngapain kita harus repot-repot kesini sih? Keluarganya kan ada. Kenapa harus kita?" Rama sewot
"Jadi kita membawanya kesini, meskipun dia sudah mengecewakan kita, tapi dalam kondisinya yang seperti ini tentu kita harus menolongnya." Jelas Angga, Papi Rama
"Iya, Kak! Kita tetap harus menolongnya. Pengawal Rey, sudah cari informasi mengenai keluarga Siska?" Tanya Gita
"Sudah, Nona! Keluarga Nona Siska tidak ada dirumah. Mereka semua pergi berlibur ke Hawaii." Jawab Rey
"Sepertinya Siska benar-benar dibuang oleh keluarganya!" Ucap Ayah Rama
"Yasudah, mau bagaimana lagi. Kita harus menunggunya." Jawab Ibu Rama
"Aku tak sudi. Jangan biarkan dia masuk lagi ke keluarga kita melalui celah seperti ini. Ayo kita pulang saja!" Bentak Rama
"Kak, Siska tidak bermaksud jahat! Dia tidak meminta Ayah dan Ibumu untuk menolongnya kan? Kebetulan Ayah dan Ibu lewat, Siska tergeletak dipinggir jalan. Lagipula, kalau bukan kita siapa yang akan menolongnya." Gita tersenyum
"Baiklah, kalau itu menurutmu!" Rama pasrah
Kau sungguh wanita idamanku, kau tak pernah sekalipun menaruh dendam pada orang yang telah menghancurkan hubungan kita. Aku janji dengan hatiku, tak akan membiarkanmu pergi, aku akan selalu menjagamu disisiku. Aku sungguh mencintaimu. -Rama-
Operasi telah selesai. Mereka menunggu Siska siuman. Dokter berkata 1 hingga 2 jam lagi Siska akan sadar. Sebenarnya, mereka tak mau ikut campur lagi mengenai Siska. Tetapi, karena tak ada satupun dari keluarganya yang bisa dihubungi, terpaksa mereka harus menolong Siska.
Rama tak mau menunggu Siska di kamar, ia mengajak Rey pergi keluar untuk sekedar jalan-jalan disekitar koridor Rumah sakit.
"Rey, lo tahu kan Siska itu seperti apa?" Tanya Rama
"Tahu lah! Jangan sampai orang tua lo respect lagi sama dia. Itu bahaya Bro!" Rey memberitahu
Rey itu adalah anak buahnya dikantor. Ia sudah sangat dekat dengan Rey. Saat itu, Rama menyuruh Rey untuk mengontrol tugas Analys di perusahaannya. Rey sangat sibuk, tak ada waktu luang untuknya. Kini, Rama mengangkat Rey menjadi asisten pribadi Gita, karena Rey orang yang jujur dan dapat dipercaya. Tubuhnya juga atletis, ia sering berolahraga, ia pasti bisa melakukan apapun jika nyawa Gita terancam. Maka dari itu, ia memilih Rey untuk menjadi asisten atau pengawal calon istrinya.
"Nyokap gue malah kasihan terus sama dia, Eh si Gita juga sama aja kan? Cewek emang gitu kali ya?" Rama heran
"Kita lihat saja dulu! Setelah Siska sadar, suruh dia pulang aja kerumahnya Ram!" Usul Rey
"Bener juga! Nanti setelah dia sadar, lo antar dia pulang kerumahnya! Gue udah males berurusan lagi dengan wanita licik itu!" Ujar Rama
"Gue juga dulu denger kisah lo sama Nona Gita, hancur gara-gara Siska. Kenapa lo gak nelepon gue sih? Suruh gue lacak kek, atau gimana? Itukan udah jadi keahlian gue!" Ujar Rey
"Waktu itu perusahaan juga lagi kacau kan? Gue gak mungkin nyuruh lo buat jadi asisten gue kala itu. Tapi, kalau dulu lo udah jadi asisten gue, apa lo bisa nemuin Gita secepatnya?" Tanya Rama
"Ya, enggak juga sih. Cuma gue bisa lacak apapun dari server HP orang itu."
"Lain kali, gue pasti butuh elu Rey untuk melacak semua itu." Kata Rama
"Melacak apa?" Tanya Rey
"Nanti, belum saatnya!" Jawab Rama
Obrolan ringan itu terhenti ketika Gita menelepon memberi kabar bahwa Siska telah siuman. Mereka penasaran, mereka pun masuk ke ruang tempat Siska dirawat.
Siska terlihat menangis sesegukan, ia menahan sakit dan ia menyesal kenapa ia masih hidup? Harusnya ia sudah mati saja. Ia malah berada di Rumah sakit seperti ini.
"Kenapa aku ada disini HAH? Kalian membawaku ke Rumah sakit? Kenapa tak kalian biarkan aku mati saja? Aku tak ingin hidup, aku ingin mati saja. Aku ingin mati, aaaarrrggghhhhhh" Siska mengamuk
Siska tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bisa selamat dari maut. Ia tak menyangka keluarga Rama menyelamatkannya. Padahal, ketika ia meminta tolong tak ada satupun orang yang melihatnya. Dia kira, akan meninggal hari itu juga.
"Tenang, Siska! Kamu harus tenang. Jangan seperti ini. Nanti luka sayatan mu bisa melebar. Kamu baru selesai operasi sesar. Tenangkan dirimu!" Ucap Maya, Ibu Rama
"Kalian harusnya biarkan aku mati saja! Kalian hanya perlu melindungi anakku. Kenapa kalian harus membiarkan aku hidup HAH?" Siska menangis meronta-ronta di kasurnya
"Tenanglah, kau sedang dalam masa pemulihan. Pikirkan anakmu, dia sudah lahir ke dunia." Tambah Ayah Rama
Gita hanya berdiri dibelakang calon mertuanya. Ia tak mau terlibat dengan Siska, Gita takut Siska akan memaki-makinya karena telah merebut Rama. Siska melirik Gita dengan tatapan yang tak bisa dimengerti apa artinya. Gita semakin tak nyaman, dia ingin pulang saja.
Rama dan Rey masuk kedalam ruangan tersebut. Pandangan Rama sungguh menunjukan ketidaksukaannya kepada Siska. Rey mengamati wajah Siska, Rey merasa sedikit kasihan pada Siska.
"Mami, karena dia sudah siuman lebih baik kita pulang sekarang!" Ajak Rama
"Tunggu sebentar, Ram! Siska, kenapa kau bisa tak sadarkan diri di jalan seperti tadi?" Tanya Ibu Rama
"Aku meminta pertanggung jawaban dari lelaki yang menghamili ku, tapi dia marah! Dia menjatuhkan ku di jalanan. Perutku sakit, aku sungguh tak menyangka Jo akan seperti itu padaku." Siska menangis menutup matanya
"Keluargamu kemana?" tanya Ayah Rama
__ADS_1
"Mereka semua sudah tak peduli lagi padaku. Aku telah dibuang. Aku diminta pergi, tapi aku tidak membawa apapun. Untuk apa aku hidup? Lebih baik aku mati saja!" Siska mengamuk lagi
Hal yang membingungkan. Di satu sisi, Siska adalah ancaman bagi keluarga mereka, tapi dia juga manusia yang membutuhkan pertolongan. Kalau mereka menolong Siska, mereka takut Siska membuat ulah lagi. Tapi, kalau tidak ditolong, Siska akan bagaimana?
"Tenangkan dirimu, Siska! Kau harus melihat bayimu! Dia sedang diruang bayi sekarang." Ujar Ibu Rama
"Apakah dia baik-baik saja? Aku melupakannya. Maafkan aku, Nak. aku tak pantas menjadi Ibumu." Siska menangis sesegukan
"Dia keracunan air ketuban. Kini, ia sedang dirawat. Lambungnya sedang dibersihkan dengan alat. Kau tenang saja. Anakmu pasti baik-baik saja." Jelas Ibu Rama
"Mi, sudah! Ayo kita pulang." Rama memaksa
"Tapi Siska bagaimana, Ram?" Tanya Ibunya
"Biarkan saja dia. Kenapa kita harus repot-repot mengurusnya sementara keluarganya saja sudah tak memperdulikannya?" Ujar Rama
"Tante, kalian pulang saja. Aku tidak apa-apa. Maafkan aku membuat kalian bersusah payah seperti ini." Siska merasa bersalah
"Mami, anakku butuh Ayah dan Ibunya. Kalau kau tak mau pulang, terserah kau saja! Aku dan Gita akan tetap pulang sekarang!" Ucap Rama
"Baiklah, aku akan pulang. Siska, kau bisa sendiri kan? Nanti kalau butuh apa-apa, kau pencet bel ini saja. Besok aku akan kembali kesini." Ibu Rama tak tega
"Mami, kenapa?" Ayah Rama pun heran dengan tingkah Istrinya
"Kasihanilah dia. Mungkin, dulu dia melakukan kesalahan kepada keluarga kita. Tapi, apa kita tak bisa memaafkannya? Dia sendirian. Kasihan anaknya!" Tegas Mami
"Jadi, apa yang akan mami lakukan?" Tanya Ayah Rama lagi
"Siska, tinggal saja di rumah kami. Kasihan bayimu!" Ucap Ibu Rama.
"MAMI !!! Apa maksudmu? Aku tak setuju !!!" Rama emosi
Semua mata terbelalak dengan ucapan Ibunya Rama. Mereka tak mengerti kenapa Ibunya Rama bisa terhipnotis seperti itu? Ayah Rama melihat tak suka, tapi istrinya juga begitu keras kepala. Gita, bagaimana dengan perasaannya? Hatinya seperti ditusuk. Ia shock mendengar calon mertuanya menyuruh mantan calon suaminya untuk tinggal dirumahnya. Itu berarti, mereka semua akan satu rumah, begitu?
Gita tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa ini tak adil baginya. Kenapa Ibunya Rama dengan mudah mengajak Siska tinggal dirumahnya? Sakit rasanya hati Gita saat ini. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Pernikahan mereka saja belum dipersiapkan, Ibunya Rama sudah mulai menambah masalah baru. Semoga Gita bisa melawan kekhawatirannya terhadap Siska. Gita harus kuat, tak boleh kalah. Gita harus buktikan bahwa Rama adalah miliknya.
Gita dan Rama telah tiba di Rumah sakit. Mereka heran, mengapa Mami dan Papinya bisa membawa Siska ke Rumah sakit. Rama sebenarnya tak ingin berurusan lagi dengan Siska, tetapi orang tuanya berkata kalau Siska tidak ditolong ia pasti akan kehilangan nyawanya.
Mereka menunggu sudah lebih dari tiga jam. Operasi sesar memang memakan waktu yang lama. Orang tua Rama sudah berkali-kali menelepon Siska, tetapi selalu tak terhubung. Mereka heran, kenapa Siska seperti dibuang, dia sedang hamil, tapi tidak ada dukungan keluarganya sama sekali.
"Mami ngapain kita harus repot-repot kesini sih? Keluarganya kan ada. Kenapa harus kita?" Rama sewot
"Jadi kita membawanya kesini, meskipun dia sudah mengecewakan kita, tapi dalam kondisinya yang seperti ini tentu kita harus menolongnya." Jelas Angga, Papi Rama
"Iya, Kak! Kita tetap harus menolongnya. Pengawal Rey, sudah cari informasi mengenai keluarga Siska?" Tanya Gita
"Sudah, Nona! Keluarga Nona Siska tidak ada dirumah. Mereka semua pergi berlibur ke Hawaii." Jawab Rey
"Sepertinya Siska benar-benar dibuang oleh keluarganya!" Ucap Ayah Rama
"Yasudah, mau bagaimana lagi. Kita harus menunggunya." Jawab Ibu Rama
"Aku tak sudi. Jangan biarkan dia masuk lagi ke keluarga kita melalui celah seperti ini. Ayo kita pulang saja!" Bentak Rama
"Kak, Siska tidak bermaksud jahat! Dia tidak meminta Ayah dan Ibumu untuk menolongnya kan? Kebetulan Ayah dan Ibu lewat, Siska tergeletak dipinggir jalan. Lagipula, kalau bukan kita siapa yang akan menolongnya." Gita tersenyum
"Baiklah, kalau itu menurutmu!" Rama pasrah
Kau sungguh wanita idamanku, kau tak pernah sekalipun menaruh dendam pada orang yang telah menghancurkan hubungan kita. Aku janji dengan hatiku, tak akan membiarkanmu pergi, aku akan selalu menjagamu disisiku. Aku sungguh mencintaimu. -Rama-
Operasi telah selesai. Mereka menunggu Siska siuman. Dokter berkata 1 hingga 2 jam lagi Siska akan sadar. Sebenarnya, mereka tak mau ikut campur lagi mengenai Siska. Tetapi, karena tak ada satupun dari keluarganya yang bisa dihubungi, terpaksa mereka harus menolong Siska.
Rama tak mau menunggu Siska di kamar, ia mengajak Rey pergi keluar untuk sekedar jalan-jalan disekitar koridor Rumah sakit.
"Rey, lo tahu kan Siska itu seperti apa?" Tanya Rama
"Tahu lah! Jangan sampai orang tua lo respect lagi sama dia. Itu bahaya Bro!" Rey memberitahu
Rey itu adalah anak buahnya dikantor. Ia sudah sangat dekat dengan Rey. Saat itu, Rama menyuruh Rey untuk mengontrol tugas Analys di perusahaannya. Rey sangat sibuk, tak ada waktu luang untuknya. Kini, Rama mengangkat Rey menjadi asisten pribadi Gita, karena Rey orang yang jujur dan dapat dipercaya. Tubuhnya juga atletis, ia sering berolahraga, ia pasti bisa melakukan apapun jika nyawa Gita terancam. Maka dari itu, ia memilih Rey untuk menjadi asisten atau pengawal calon istrinya.
"Nyokap gue malah kasihan terus sama dia, Eh si Gita juga sama aja kan? Cewek emang gitu kali ya?" Rama heran
"Kita lihat saja dulu! Setelah Siska sadar, suruh dia pulang aja kerumahnya Ram!" Usul Rey
"Bener juga! Nanti setelah dia sadar, lo antar dia pulang kerumahnya! Gue udah males berurusan lagi dengan wanita licik itu!" Ujar Rama
__ADS_1
"Gue juga dulu denger kisah lo sama Nona Gita, hancur gara-gara Siska. Kenapa lo gak nelepon gue sih? Suruh gue lacak kek, atau gimana? Itukan udah jadi keahlian gue!" Ujar Rey
"Waktu itu perusahaan juga lagi kacau kan? Gue gak mungkin nyuruh lo buat jadi asisten gue kala itu. Tapi, kalau dulu lo udah jadi asisten gue, apa lo bisa nemuin Gita secepatnya?" Tanya Rama
"Ya, enggak juga sih. Cuma gue bisa lacak apapun dari server HP orang itu."
"Lain kali, gue pasti butuh elu Rey untuk melacak semua itu." Kata Rama
"Melacak apa?" Tanya Rey
"Nanti, belum saatnya!" Jawab Rama
Obrolan ringan itu terhenti ketika Gita menelepon memberi kabar bahwa Siska telah siuman. Mereka penasaran, mereka pun masuk ke ruang tempat Siska dirawat.
Siska terlihat menangis sesegukan, ia menahan sakit dan ia menyesal kenapa ia masih hidup? Harusnya ia sudah mati saja. Ia malah berada di Rumah sakit seperti ini.
"Kenapa aku ada disini HAH? Kalian membawaku ke Rumah sakit? Kenapa tak kalian biarkan aku mati saja? Aku tak ingin hidup, aku ingin mati saja. Aku ingin mati, aaaarrrggghhhhhh" Siska mengamuk
Siska tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bisa selamat dari maut. Ia tak menyangka keluarga Rama menyelamatkannya. Padahal, ketika ia meminta tolong tak ada satupun orang yang melihatnya. Dia kira, akan meninggal hari itu juga.
"Tenang, Siska! Kamu harus tenang. Jangan seperti ini. Nanti luka sayatan mu bisa melebar. Kamu baru selesai operasi sesar. Tenangkan dirimu!" Ucap Maya, Ibu Rama
"Kalian harusnya biarkan aku mati saja! Kalian hanya perlu melindungi anakku. Kenapa kalian harus membiarkan aku hidup HAH?" Siska menangis meronta-ronta di kasurnya
"Tenanglah, kau sedang dalam masa pemulihan. Pikirkan anakmu, dia sudah lahir ke dunia." Tambah Ayah Rama
Gita hanya berdiri dibelakang calon mertuanya. Ia tak mau terlibat dengan Siska, Gita takut Siska akan memaki-makinya karena telah merebut Rama. Siska melirik Gita dengan tatapan yang tak bisa dimengerti apa artinya. Gita semakin tak nyaman, dia ingin pulang saja.
Rama dan Rey masuk kedalam ruangan tersebut. Pandangan Rama sungguh menunjukan ketidaksukaannya kepada Siska. Rey mengamati wajah Siska, Rey merasa sedikit kasihan pada Siska.
"Mami, karena dia sudah siuman lebih baik kita pulang sekarang!" Ajak Rama
"Tunggu sebentar, Ram! Siska, kenapa kau bisa tak sadarkan diri di jalan seperti tadi?" Tanya Ibu Rama
"Aku meminta pertanggung jawaban dari lelaki yang menghamili ku, tapi dia marah! Dia menjatuhkan ku di jalanan. Perutku sakit, aku sungguh tak menyangka Jo akan seperti itu padaku." Siska menangis menutup matanya
"Keluargamu kemana?" tanya Ayah Rama
"Mereka semua sudah tak peduli lagi padaku. Aku telah dibuang. Aku diminta pergi, tapi aku tidak membawa apapun. Untuk apa aku hidup? Lebih baik aku mati saja!" Siska mengamuk lagi
Hal yang membingungkan. Di satu sisi, Siska adalah ancaman bagi keluarga mereka, tapi dia juga manusia yang membutuhkan pertolongan. Kalau mereka menolong Siska, mereka takut Siska membuat ulah lagi. Tapi, kalau tidak ditolong, Siska akan bagaimana?
"Tenangkan dirimu, Siska! Kau harus melihat bayimu! Dia sedang diruang bayi sekarang." Ujar Ibu Rama
"Apakah dia baik-baik saja? Aku melupakannya. Maafkan aku, Nak. aku tak pantas menjadi Ibumu." Siska menangis sesegukan
"Dia keracunan air ketuban. Kini, ia sedang dirawat. Lambungnya sedang dibersihkan dengan alat. Kau tenang saja. Anakmu pasti baik-baik saja." Jelas Ibu Rama
"Mi, sudah! Ayo kita pulang." Rama memaksa
"Tapi Siska bagaimana, Ram?" Tanya Ibunya
"Biarkan saja dia. Kenapa kita harus repot-repot mengurusnya sementara keluarganya saja sudah tak memperdulikannya?" Ujar Rama
"Tante, kalian pulang saja. Aku tidak apa-apa. Maafkan aku membuat kalian bersusah payah seperti ini." Siska merasa bersalah
"Mami, anakku butuh Ayah dan Ibunya. Kalau kau tak mau pulang, terserah kau saja! Aku dan Gita akan tetap pulang sekarang!" Ucap Rama
"Baiklah, aku akan pulang. Siska, kau bisa sendiri kan? Nanti kalau butuh apa-apa, kau pencet bel ini saja. Besok aku akan kembali kesini." Ibu Rama tak tega
"Mami, kenapa?" Ayah Rama pun heran dengan tingkah Istrinya
"Kasihanilah dia. Mungkin, dulu dia melakukan kesalahan kepada keluarga kita. Tapi, apa kita tak bisa memaafkannya? Dia sendirian. Kasihan anaknya!" Tegas Mami
"Jadi, apa yang akan mami lakukan?" Tanya Ayah Rama lagi
"Siska, tinggal saja di rumah kami. Kasihan bayimu!" Ucap Ibu Rama.
"MAMI !!! Apa maksudmu? Aku tak setuju !!!" Rama emosi
Semua mata terbelalak dengan ucapan Ibunya Rama. Mereka tak mengerti kenapa Ibunya Rama bisa terhipnotis seperti itu? Ayah Rama melihat tak suka, tapi istrinya juga begitu keras kepala. Gita, bagaimana dengan perasaannya? Hatinya seperti ditusuk. Ia shock mendengar calon mertuanya menyuruh mantan calon suaminya untuk tinggal dirumahnya. Itu berarti, mereka semua akan satu rumah, begitu?
Gita tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa ini tak adil baginya. Kenapa Ibunya Rama dengan mudah mengajak Siska tinggal dirumahnya? Sakit rasanya hati Gita saat ini. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Pernikahan mereka saja belum dipersiapkan, Ibunya Rama sudah mulai menambah masalah baru. Semoga Gita bisa melawan kekhawatirannya terhadap Siska. Gita harus kuat, tak boleh kalah. Gita harus buktikan bahwa Rama adalah miliknya.
*Bersambung*
__ADS_1