Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
4. Siapa itu?


__ADS_3

5 Tahun Kemudian


"Bundaaaaaaaaaaa!" seru anak kecil yang sedang berdiri di depan pintu sekolah menunggu Ibunya yang telah tiba


"Sayaaaang, sudah selesai belajarnya? Ayo, kita pulang." ajak Vina


"Udah, Bunda." ucap Givia


Ya, itu adalah anak Vina, Givia. Sekarang, Givia sudah sekolah. Setiap hari, Givia diantar jemput oleh Neneknya. Namun, karena hari ini Vina cuti, Vina yang menjemput Givia ke sekolahnya.


Meskipun Vina hanya seorang Ibu tunggal, Vina harus tetap semangat demi putri semata wayangnya. Givia selalu ceria dihadapan Vina, Vina tak boleh terlihat sedih dimata Givia.


Vina sudah memiliki mobil. Lebih tepatnya, mobil cicilan, karena dahulu Vina menolak pemberian Rama, ia harus mampu bangkit sendiri. Ia tak boleh menyusahkan kedua sahabatnya itu.


"Bunda, jangan pulang dulu ya? Aku mau jalan-jalan sama Bunda." ajak Givia didalam mobil


"Boleh, sayang. Givi mau kemana?" tanya Vina


"Aku mau ke timezone aja Bunda. Terus, aku juga mau mandi bola, pokoknya banyak deh!" ucap Givia semangat


"Boleh sayang, hari ini Bunda libur kok. Ayo, kita jalan-jalan sepuasnya!" seru Vina


"Horeeeeee! Bunda baik banget. Givi sayang banget sama bunda."


Anak kecil itu tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Dia sangat cantik dan manis, kulitnya putih bersih, perpaduan antara Vina dan Gilvan. Cantiknya jelas seperti Vina.


***


-Flash Back ON dua tahun yang lalu-


Vina menerima tawaran Rama untuk bekerja menjadi team di angkasa Putra. Namun, Vina menolak tinggal di apartemen. Vina tetap pulang ke rumah Ibunya, karena anak Vina diurus oleh Ibunya.


Vina tak mempedulikan lagi cibiran tetangga mengenai dirinya, ia hanya fokus mencari kerja untuk anaknya. Bayi Vina kini sudah berusia hampir 2 tahun. Namanya adalah Givia, Givia Putri Melania.


Givia, Gi diambil dari nama Ayahnya, Gilvan, Via diambil dari nama Vina, yaitu Davina Melania.Givia adalah Gilvan dan Vina. Vina sengaja memberi nama anaknya seperti itu, agar Vina selalu mengingat nama Gilvan.


Vina sudah bekerja di Angkasa Putra. Sampai hapir dua tahun usia bayi Vina, Gilvan tetap tak kunjung datang. Vina benar-benar sedih, marah dan kecewa. Vina mencoba melupakan semuanya.


Gita tetap ada disisi Vina, Gita merangkul Vina, agar Vina tetap kuat. Vina terus menanyakan keberadaan Gilvan pada Gita dan Rama. Gita sudah tak mampu menahan rasa amarah dan kecewa pada Gilvan.


"Vin, lupakan saja Gilvan." ucap Gita tiba-tiba

__ADS_1


"Kenapa aku harus melupakannya? Kamu bilang, dia akan kembali setelah dua tahun, tapi sampai sekarang, kemana perginya Gilvan? Kenapa dia tak kunjung datang padaku?" Vina menangis


"Vina, aku tak tahu apa yang ada dipikiran Gilvan. Aku hanya menyesalkan perlakuannya yang acuh seperti ini. Maafkan aku, yang terlambat menangani Gilvan. Aku tak mengerti, mengapa Gilvan seperti ini." ucap Gita


"Aku yakin Gilvan sudah sembuh. Gilvan sudah mengingatku kan? Kenapa dia belum juga kembali? Apa dia lupa padaku, Git? Apa ia memang tak ingin melanjutkan kisahnya denganku? Kenapa Gilvan jahat sekali?" pertanyaaan-pertanyaan selalu Vina lontarkan pada Gita


Rama melihat raut wajah kesedihan penuh luka mendalam di diri Vina. Rama pun kesal, Gilvan bukan hanya tak mengabari Vina. Namun, pada Ibu dan Kakaknya pun, Gilvan tak memberi kabar.


Ibu dan Kakak Gilvan berkali-kali menanyakan terus keadaan Gilvan kepada Rama. Rama tak tahu, dimana Gilvan. Rama mencoba menanyakan pada Dr. Frank pun, Gilvan tak pernah kembali ke rumah Dr. Frank, setelah Gilvan bilang akan pulang ke Indonesia.


Rama telah mengerahkan anak buah Rey untuk mencari Gilvan dengan meminta data dari berbagai bandara mengenai kedatangan atas nama Gilvan, namun hasilnya nihil. Semua bandara tak ada kedatangan yang bernama Gilvan dalam dua tahun ini.


Lalu, Gilvan kemana?


"Vin, maafkan kita. Kita nggak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Gue gak antisipasi dari awal. Gue kira Gilvan akan benar-benar kembali sama lu. Maaf! Gue akan berusaha cari dia secepatnya." ucap Rama


"Ini bukan salah kalian. Mungkin, Gilvan memang sengaja ingin pergi dari aku. Tapi, jujur aku bilang sama kalian, aku lebih bahagia begini, asalkan Gilvan tetap hidup, aku takut terjadi sesuatu sama dia." ucap Vina


"Itu yang kita takutkan juga, Vin. Lu yang sabar ya, Givia ajak aja ke rumah gue, main sama Nayya sama Nakka. Jangan biarkan anak lu terbawa masalah ini. Lu harus tetep kuat buat anak lu. Saran gue, lu cari pengganti Gilvan di hati lo. Jangan berlarut-larut." ucap Rama


"Iya, Vin. Lebih baik, kamu buka hati kamu untuk yang lain. Kalau Gilvan sudah tak bisa diharapkan, untuk apa kamu menunggunya? Kamu cantik, masih muda, carilah sosok Ayah yang bisa menyayangi Givia. Kasihan dia, dia pasti butuh sosok Ayah juga." ucap Gita menambahkan


"Siapa bilang begitu? Hidup lu jelas bahagia, karena ada Givia yang menghiasi hari-hari lo. Jangan pernah berpikir kalau kita menyedihkan. Kita hanya kurang bersyukur. Bersyukurlah, maka hidup lu akan tenang, Vin. Lu punya putri cantik yang pintar, apa orang lain bisa punya anak kayak anak lu? Ada yang sulit hamil, Vin. Mereka hanya hidup berdua, elu juga, ada anak di kehidupan lu, namun gak ada lakinya. Semuanya sudah sesuai porsi kalian masing-masing. Intinya, bersyukur dengan apa yang kita miliki, Vin." jelas Gita


"Makasih, kalian udah setua nemenin gue sampai gue bisa kuat seperti ini. Tanpa kebaikan kalian, entah akan seperti apa diri gue sekarang." ucap Vina


"Kita terus saja berdoa, kalau Gilvan jodoh lu, percayalah, lu akan bertemu lagi dengannya tanpa lu menyadarinya. Kalau Gilvan bukan jodoh lu, lu harus bisa buka hati lu buat yang kain, Vin. Jangan menutup diri, lu harus punya masa depan yang cerah." saran Rama


"Makasih, kalian emang bener-bener baik hati. Gue sayang sama kalian, makasih banyak udah anggap gue, udah nerima gue, udah perhatiin gue. Maaf, belum bisa balas kebaikan kalian. Gue masih banyak kekurangan." ucap Vina


"Udah, jangan dipikirin. Eh, ke ruangan yuk. Bentar lagi masuk jam kerja." ajak Gita


"Yuk."


Flashback OFF.


***


Givia bermain-main dengan Vina. Anaknya itu sangat periang dan ceria. Vina senang, Givia sangat ceria, ia terus bermain wahana sesuka hatinya. Vina hanya bisa menemani Givia bermain ketika cuti dan hari libur saja.


Anak Vina kini sudah pintar bicara. Givia memang anak yang periang, bawel dan menggemaskan. Vina sangat menyayanginya, walaupun sakit hati dengan Ayah Givia, Vina tak pernah menunjukkan kekesalannya pada anaknya.

__ADS_1


"Bunda, Givi lapar. Givi mau makan." ucap Givia


"Boleh, kamu mau makan apa sayang?" tanya Vina


"Aku mau makan ayam goreng sama jus mangga." jawab Givia


"Baiklah, mari kita cari restoran ayam goreng yang enak di Mall ini."


"Oke, Bundaku sayang." ucap Givia


Vina dan Givia mencari restoran ayam goreng. Dari jauh, ada seorang lelaki yang sedang memperhatikan Vina dan Givia. Vina dan Givia tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.


Vina masuk kedalam restoran ayam goreng kremes yang diinginkan Givia. Givia memesan beberapa menu makanan yang disukainya. Vina pun mengikuti pesanan yang diinginkan oleh anak semata wayangnya tersebut.


"Givi pesan banyak Bunda! Bunda marah gak?" tanya Givia


"Nggak dong, sayang. Bunda seneng malah kalau Givia banyak makan." ucap Vina


"Makasih Bunda, Givi sayang banget sama bunda." ucap Givia


Givia melihat seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Sejak di timezone, Givia beberapa kali melihat seseorang yang seperti sedang memperhatikannya, namun Givia tak menghiraukannya.


Kali ini, Givia merasa aneh. Orang itu memang melihat Givia dari jauh. Givia yakin, orang itu menatap ke meja ini, kearah Bundanya dan Givia.


"Bunda?" tanya Givia


"Iya, sayang. Apa?" tanya Vina tersenyum ramah


"Itu siapa sih?" tanya Givia lagi


"Siapa apanya? Maksud kamu apa, sayang?" tanya Vina tak mengerti


"Di ujung restoran itu tuh! Ada yang lihatin kita bunda." tunjuk Givia pada ujung restoran


"Mana sayang? Bunda gak lihat apa-apa. Mungkin perasaan kamu aja, mungkin orang lewat, bukan orang yang memperhatikan kita!" jelas Vina


"Oh, gitu ya bunda. Baiklah, mungkin Givi memang salah melihat."


*Bersambung*


Halo.. Makasih yang sudah membaca. Jangan lupa dukungannya ya, dengan beri Like, Comment dan Votenya. Aku ucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia mendukung cerita receh ini..

__ADS_1


__ADS_2