
Malam hari di kediaman Rama dan Gita,
Raina pulang ke rumah dengan kekesalan yang memuncak. Raina menemui Gita yang sedang menemani Nayya dan Nakka bermain. Gita sedang duduk di sofa, kemudian Raina mendekatinya.
"Kak.." ucap Raina
"Apa Rai?" jawab Gita
"Kakak tahu gak, kalau kak Gilvan punya restoran disini?"
"Oh, Gilvan? Tentu saja tahu, Kakak sudah pernah mengunjungi restorannya. Makanannya enak-enak kan? Kapan kamu ke sana?" tanya Gita
"Tadi siang. Iya sih, makanannya enak-enak. Tapi, pelayannya nyebelin banget. Ada pelayan cewek sama cowok yang buat aku bener-bener kesal."
"Kamu jangan gampang marah Rai, emangnya kenapa?" tanya Gita
Pelayan cowok? Apa mungkin Fadli? DEG. Gita mulai teringat surat wasiat kakeknya.
"Makanannya sih enak-enak, tapi pelayan ceweknya ngeselin banget. Tuh pelayan numpahin cola ke baju aku! Udah gitu, dibelain lagi sama pelayan yang cowok. Untungnya, Kak Gilvan belain aku, kalo enggak aku bisa marah besar di sana."
"Rai, kamu tuh sekarang pemarah banget tahu gak? Jangan mudah marah, kamu gak boleh emosian gitu. Mungkin aja pelayan itu gak sengaja, bisa jadi kan?" Gita menyadarkan Raina
"Tuh kan! Kak Gita juga sama aj! Malah ngebelain pelayan itu!!"
"Loh, Raina sayang, Kak Gita gak maksud buat belain pelayan itu. Cuma, kita gak boleh berprasangka buruk sama orang. Kalaupun dia sengaja menumpahkan cola sampe kena bajumu, kalo kita tetap berbaik sangka padanya, kan dosa juga dia yang nanggung. Kalo kita malah emosi, kita sama aja dong kayak dia. Keep calm, sayang."
"Tau ah, Kak Gita juga nyebelin banget!"
Raina pergi meninggalkan Gita. Gita heran dengan tingkah Raina yang jadi pemarah seperti ini. Gita tak mengerti, penyebab Raina seperti ini. Tak lama, Rama datang mendekati Gita.
"Kenapa tuh anak?" tanya Rama
"Gak tahu, Pi. Dia marah-marah gak jelas, kayaknya dia kesel. Eh tahu gak, dia habis dari restorannya Gilvan tahu."
__ADS_1
"Hah? Serius? Trus Raina ketemu sama Fadli dong?" tanya Rama
"Ya iya lah, Pi. Mana mungkin gak ketemu, dia kesal, karena ada pelayan yang gak sengaja numpahin cola ke bajunya. Dia marah-marah gak jelas barusan. Heran aku, Raina jadi pemarah seperti itu. Apa mungkin semua ini karena perjodohan itu?" tanya Gita
"Sepertinya begitu. Dia jadi menyebalkan begitu. Tahukah kamu? Papi dan Mami bilang, kalau kita harus segera menjodohkan Raina dengan Fadli, karena apa? Mami dan Papi akan menetap di Moskow. Mami ingin mengurus rumah keluarga besarnya yang terbengkalai di sana. Karena itu, perjodohan itu harus sesegera mungkin dilaksanakan, agar ada yang menjaga Raina nanti. Setelah itu, Mami dan Papi akan terbang ke Moskow."
"Apa mungkin dia mau menerima perjodohan ini? Jelas-jelas dia menolak, dan jadi pembangkang seperti ini, karena tahu akan dijodohkan, bukan?" tanya Gita
"Tapi, kalau dia tak segera aku jodohkan, aku takut dia akan seenaknya. Tahukah kamu? Raina sekarang berteman dengan anak-anak yang nakal. Beberapa kali ku pantau, dia pergi minum-minum ke diskotik. Aku sangat menyesalkan hal itu. Namun, karena minggu-minggu ini aku sibuk, aku masih belum sempat menemui Fadli lagi. Aku ingin perjodohan ini segera dilakukan." jelas Rama
"Memangnya Fadli akan setuju?" tanya Gita
"Akan ku lakukan apapun dan bagaimanapun caranya, agar Fadli mau menerima perjodohan itu. Karena, aku yakin dan sangat yakin, Fadli adalah lelaki yang baik dan jujur. Gilvan pun memberi tahuku, bahwa Fadli anak yang baik dan tekun. Aku tak akan salah menjodohkan seorang pasangan untuk adikku. Aku tahu yang terbaik. Dan Kakek, tak salah memilih." ucap Rama
"Aku pun berharap begitu. Rasanya, tak selamanya perjodohan itu dengan orang yang salah. Aku pun tahu, Fadli orang yang baik."
"Doakan saja, semoga hati Fadli luluh."
...______________...
Gilvan sengaja menyerahkan restoran pada Fadli, karena Gilvan dan Vina akan pergi ke Jakarta bersama Givia. Gilvan akan mengenalkan Vina pada orang tuanya.
[Skip dulu Gilvan dan Vina, nanti di episode berikutnya akan diceritakan]
Fadli bersama Ara yang mengurus restoran. Stok ayam dan bumbu sudah sangat siap, karena mengantisipasi jika pelanggan ramai. Fadli sudah bisa mengatur dan mengurus restoran sendiri. Gilvan mengajari Fadli, dan Fadli anaknya sangat pintar, sehingga beberapa kali diajarkan pun ia sudah paham dan mengerti.
"Hey, Ara! Hari ini aku adalah Bos mu! Kamu harus patuh sama aku." ucap Fadli
"Hah? Bos? Mimpi kamu, Fad! Wajah kamu itu gak cocok untuk jadi Bos. Jangan mimpi deh!" celetuk Ara
"Kamu gak sadar apa, kalau pakaian aku udah keren kayak gini, cocok banget kan kalau aku jadi Bos kamu?" Fadli tetap percaya diri
"Iyalah, sekarepmu aja, Fad! Yang penting kamu bahagia dah." Ara meninggalkan Fadli
__ADS_1
Fadli sedang bersantai, karena pagi ini restoran masih sepi, hanya terlihat beberapa pelanggan yang sedang sarapan. Tanpa Fadli sadari, Rama dan Gita datang bersamaan. Rama mendekati Fadli yang sedang melamun.
"Selamat pagi, Fad." sapa Rama
Fadli yang melamun, seketika kaget karena mendengar suara yang menyebut namanya.
"Eh, Pak Rama. Maaf, Pak. Pak Gilvan sedang pergi. Dia akan ke Jakarta pagi ini." ucap Fadli sopan
"Aku sudah tahu, Fad. Aku ingin bertemu denganmu, bukan dengan Gilvan lagi." ucap Rama
"Dengan saya, Pak? Ada apa lagi?" Fadli sedikit khawatir
Fadli jelas tak mau jika Rama akan terus membahas masalah perjodohan tersebut. Fadli rasanya ingin lari dari jeratan perjodohan antara dirinya dan adiknya Rama.
"Kamu pasti tahu, tujuanku datang kemari. Aku akan tetap pada keputusanku. Aku ingin menjodohkanmu dengan adikku. Buatlah adikku berubah, aku yakin kamu lelaki yang pantas mendampingi adikku. Aku yakin, kamu bisa membahagiakan adikku. Aku mohon, terima keinginan keluargaku, aku percaya padamu, Fadli. Kamu orang yang baik, aku tak mungkin semudah ini untuk menentukan pilihan. Kumohon.."
"Tapi, Pak.. Maaf sekali, saya benar-benar tak bisa. Saya tak mau melakukannya karena keterpaksaan. Cinta tak bisa dipaksakan. Saya tak mencintai adik Pak Rama, saya juga sudah tahu, adik Pak Rama itu seperti apa. Jadi, daripada saya terlanjur berhubungan dengannya, lebih baik saya putuskan untuk tidak menerima perjodohan ini, karena saya tak suka pada adik Pak Rama. Saya mohon, Bapak mengerti kenapa saya menolak." jelas Fadli
Rama terdiam. Mungkin tak ada lagi cara, yang bisa membuat Fadli luluh hatinya, selain cara memalukan yang satu ini. Rama menurunkan tubuhnya. Ia bersimpuh di hadapan Fadli, ia memohon pada Fadli. Fadli benar-benar kaget, Fadli tak percaya bahwa seorang CEO perusahaan mau bersimpuh seperti ini.
"Sayang, kamu ngapain?" Gita benar-benar tak menyangka Rama akan seperti ini.
"Fadli, dengarkan aku. Aku ingin kamu menerima perjodohan ini. Aku ingin kamu segera menikah dengan adikku. Karena apa? Aku butuh bantuan mu, aku butuh kamu untuk merubah sifat adikku. Adikku bukanlah wanita yang lugu lagi, dia sudah berubah semenjak kuliah dan bergaul dengan teman-teman barunya disini. Ketika kuberi tahu perjodohan ini pun padanya, dia malah makin menjadi, dia malah makin membangkang padaku. Aku ingin sekali, ada seorang laki-laki yang mendidiknya menuju jalan yang benar, Fadli. Dan aku yakin, kamu bisa merubah adikku. Aku mohon, bisakah kamu menerimanya? Jangan menolaknya, aku benar-benar berharap padamu, aku benar-benar yakin pada pilihanku untuk adikku. Kamu lah orang itu, Fadli. Please, beri adikku kebahagiaan. Kamu lah yang bisa membuatnya berubah dan bahagia. Aku sangat percaya padamu." Rama memohon
Fadli benar-benar bingung. Ia tak mengerti kenapa Rama harus seperti ini. Fadli tak bisa menolak, namun Fadli juga tak bisa menjawab iya. Ini benar-benar membingungkan untuk Fadli. Apakah mungkin Fadli akan menerimanya?
"Pak, saya benar-benar keberatan dengan permintaan Pak Rama ini. Tapi, saya juga bingung harus menolak bagaimana lagi, jika Bapak terus memaksa seperti ini. Bagaimana kalau saya ambil jalan tengahnya? Saya akan menerima perjodohan ini. Tapi, jika dalam kurun waktu yang ditentukan adik Pak Rama tak berubah, izinkan saya pergi meninggalkannya. Selama perjodohan itu, saya tak akan pernah menyentuhnya. Saya hanya akan fokus membuatnya berubah. Bagaimana? Apa Pak Rama keberatan?" ucapan Fadli membuat Rama berpikir
"Baiklah, asalkan kamu tetap menerima perjodohan ini. Aku harap, kalian tak akan berpisah, aku harap, cinta akan menemukan jalannya untuk kalian berdua. Terima kasih, Fadli. Kamu telah menyetujui perjodohan ini. Sesegera mungkin, aku akan segera mengurusnya."
*Bersambung*
Halo.. Jangan lupa like dan komentar. Jika berkenan, boleh vote juga..
__ADS_1
Di akhir cerita nanti, akan dipilih vote terbanyak, komentar terbaik dan yang paling rajin komentar untuk ikut give away 😘😍