Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Gita dan Rama


__ADS_3

Kediaman Rama dan Gita.


Rama dan Gita sedang mengajak bermain Nayya dan Nakka di ruang keluarga. Seperti biasa, Nayya dan Nakka membuat rumah mereka seperti kapal pecah, apalagi ditambah dengan drama-drama kakak beradik yang membuat Gita pusing tujuh keliling dibuatnya.


"Mam, jadi benar, bahwa Gilvan sudah kembali?" tanya Gita


"Benar, Pap. Vina sampe nangis-nangis sama aku. Gak tega sih, tapi mau gimana lagi."


"Gilvan memang pekerja keras. Dia terlihat tak mau menyulitkan kita sebagai temannya. Padahal, aku bisa saja mempekerjakan dia di perusahaan, ketika dia kembali tanpa membawa apa-apa. Tapi, dia malah bersikeras bertahan hidup di USA, sampai bisa mendapatkan apa yang ia inginkan."


"Iya, dia memang tak pantang menyerah, tapi Vina terlalu lama menunggunya. Vina juga punya hati, ya aku dilema kalau harus memilih siapa yang salah dan siapa yang benar." ucap Gita


"Mereka berdua punya sisi salah dan benar dalam porsi yang berbeda. Kalau kita berpikir kritis, mereka tak ada yang salah, mereka hanya tak mengerti hati pasangan masing-masing. Mereka belum mengenal sifat dan watak satu sama lain."


"Benar, sayang. Aku menyesalkan hal ini terjadi. Apalagi, Vina malah ingin benar-benar berhubungan dengan Andra, sebagai bukti pembalasannya pada Gilvan. Entah mengapa, Vina keras kepala sekali." ucap Gita


"Harusnya Vina tak perlu seperti itu! Biarkan saja, jangan membalas Gilvan. Menurutku, Gilvan tak melakukan kejahatan. Bukan begitu, Mam?" tanya Rama


"Iya, susah sekali memberi tahu Vina yang keras kepala. Dia malah menyeret Andra dalam hubungannya dengan Gilvan, agar Gilvan sakit hati. Bukankah Vina malah menambah masalah baru?"


"Biar nanti aku yang bicara dengan Vina, sayangnya aku terlalu sibuk tadi, jadi aku gak bisa nemuin kalian."


Tak lama, Kanayya dan Kanakka datang menghampiri kedua orang tuanya.


"Papi........." rengek Nayya


"Apa, sayang?"


"Papi, Nayya berisik terus tuh, Pi." adu Nakka


"Kenapa memangnya? Kalian berantem?" tanya Rama


"Nggak, Pi. Nayya tuh pengen jalan-jalan sama Papi. Papi terlalu sibuk, katanya!" ucap Nakka


"Oh ya? Memangnya kalian mau kemana? Anak-anak Papi yang lucu ini?" tanya Rama


"Papi, coba Papi jangan terlalu sibuk! Nayya pengen makan ayam goreng ditempat yang Givi bilang tadi. Nayya kesel, Givi aja udah makan di sana, masa Nayya belum sih!" ucap Nayya


"Sayang, itu restorannya Gilvan! Tadi, Vina memberitahuku, ternyata restoran yang ingin Givi tuju itu adalah restoran Gilvan." jelas Gita


"Hah? Kenapa semua bisa kebetulan seperti ini?"


"Papi, jangan ngobrol sama Mami. Kapan ajak kita pergi ke sana? Kita juga ingin jalan-jalan sama Papi." jelas Nayya


"Iya, Pi. Kita udah lama banget gak eprgi bareng Papi, karena Papi gak pernah ada waktu buat kita. Bener gak Nay?" tanya Nakka


"Bener Nakk, aku kesel sama Papi."


"Sayang-sayangku, iya-iya! Maafkan Papi yang terlalu sibuk hingga melupakan kalian. Baiklah, besok Papi akan libur bekerja, dan mengajak kalian jalan-jalan. Bagaimana?" bujuk Rama


"Horeeeeeeee! Asyik, Nayy, kita jalan-jalan besok! Yeeeeee." seru Nakka

__ADS_1


"Asyikkkkkkk, makasih Papiku sayang. Papi memang terbaik!" ucap Nayya


"Yasudah, karena Papi akan mengajak kalian jalan-jalan, sekarang kalian tidur gih, gosok gigi dulu, minta antar Mbak Mia." ucap Gita


"Baik, Mami." ucap Nayya dan Nakka


Kedua anak Gita pun telah pergi ke kamarnya. Hanya tinggal Gita dan Rama yang masih duduk di ruangan tersebut.


"Apa benar kalau itu restoran Gilvan?"


"Iya, Vina sempat mengetik pesan padaku saat dia berada di sana. Dan ia beberapa kali bertatap muka dengan Gilvan."


"Aku jadi merindukan Gilvan. Besok aku akan mengunjunginya, aku akan membawa anak-anak. Pekerjaan aku serahkan padamu, oke sayang?" pinta Rama


"Baiklah, baiklah. Nikmati waktumu bersama Gilvan esok hari." ucap Gita


"Kamu nggak keberatan kan sayang, bekerja sendiri?" tanya Rama


"Nggak, kok! Kan ada Kak Dimas. Aku bisa meminta bantuannya."


"Iya, berikan saja tugasku padanya. Kamu jangan terlalu lelah." ucap Rama


"Iya sayang. Oh iya, kamu tahu nggak? Nama restoran Gilvan itu apa?" tanya Gita


"Nggak, sayang. Emangnya apa?"


"Nama Anak mereka. Givi's Chicken!"


"Apa? Kenapa bisa kebetulan begitu?" tanya Rama


"Sepertinya mereka jodoh,"


"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Gita


"Mereka selalu dipertemukan dan didekatkan. Hanya waktu yang akan menyatukan mereka kembali. Aku berharap, Vina bisa sedikit menurunkan egonya dan memaafkan kesalahan Gilvan."


"Semoga saja, aku pun berharap begitu. Oh iya, kamu jangan menyinggung Givia didepan Gilvan ya?" ucap Gita.


"Maksud kamu?"


"Vina gak mau kalau Gilvan tahu, bahwa Givia itu anaknya Gilvan." ucap Gita


"Loh kok? Kenapa Vina malah seperti itu?"


"Aku pun tak mengerti. Vina keras kepala sekali, aku sudah mencoba menyadarkannya, tapi Vina selalu saja berkata jangan sampai Gilvan tahu. Menurutmu, bagaimana?" tanya Gita


"Kita ikuti saja dulu permainan Vina, katakan apa saja yang ia larang, aku akan menurutinya. Jika saatnya sudah tepat, aku akan membongkar semuanya dan memberi tahu Gilvan."


"Kamu yakin?" tanya Gita


"Tentu saja. Aku yakin! Padamu saja, aku sangat yakin, sampai kita bisa mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh lika-liku ini."

__ADS_1


"Mulai deh kamu!" ucap Gita


"Hehehe, sudah lama kita tidak romantis sayang!"


"Ke kamar yuk?"


"Ngapain?" tanya Gita pura-pura


"Sudah lama, tak menghabiskan malam panjang kita! Aku rindu little Gita."


"Sshhhtt! Pelan-pelan kalau ngomong. Jangan berisik. Malu kalau kedengeran yang lain."


"Biarin aja, toh gak ada yang larang kita kan?" ucap Rama


"Kamu jangan lama-lama, aku gak boleh kecapean, kan aku harus kerja besok!" ucap Gita


"Siap sayang, Ayok. Aku sudah rindu ingin segera bertemu."


Rama memangku Gita yang sedang duduk di kursi. Gita kaget, Rama membawa dan mengangkatnya. Ia malu, takut ketahuan mertua dan adik iparnya.


"Aaaahhh, jangan bawa aku seperti ini. Aku bisa berjalan, kamu malu-maluin. Turunin aku sekarang juga! Pap, jangan begini. Malu dilihat anak-anak." Gita menggoyang-goyangkan kakinya


"Kalau kamu jalan, kamu banyak alasan! Kalau gini kan, situasi aman terkendali, kamu pasti langsung masuk kamar kita. Gak ada alasan masuk ke kamar anak-anak dulu. Aku sudah tahu, akal bulus mu, sayang." Rama tersenyum senang


"Eh, eh! Turunin aku Pap, kamu gak berat apa!!!"


"Nggak, demi cinta kita, aku akan kuat membawamu sampai kamar kita. Yang berat itu rindu, aku gak tahan. Gak tahan kalau lama-lama gak bertemu dengan little Gita-ku!"


"Aargghh, kamu mulai deh!"


***


Keesokan harinya.


Rama dan anak-anak berangkat menuju Restoran Gilvan. Rama diantar oleh Rey dan Mia, agar mereka bisa menjaga Nayya dan Nakka ketika nanti di restoran Gilvan.


Rama telah sampai di restoran milik Gilvan. Restorannya memang tidak terlalu besar, tapi untuk ukuran pemula, ini sudah sangat baik. Rama melihat sekeliling restoran, ternyata Gilvan sedang mengelap kaca.


Gilvan benar-benar tangguh. Ia tak malu walaupun harus mengelap meja, padahal dirinya adalah owner restoran ini. Rama masuk kedalam restoran itu, Gilvan tak menyadari keberadaan Rama. Rama segera menghampiri Gilvan yang sedang sibuk.


"Selamat pagi, Van.. Apa kabar?" sapa Rama


Gilvan menoleh, ia samar-samar mengingat suara yang menyapanya. Matanya terbelalak, melihat sosok Rama berdiri dibelakangnya.


"RAMA?"


*Bersambung*


Halo, malam..


Siapa yang rindu Rama dan Gita nih? Aku beri sequel mereka dulu ya kali ini, hehe

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote juga, sebagai dukungan buat aku, agar aku tambah semangat menulis.


Makasih udah meluangkan waktunya untuk membaca ceritaku ini ya, terus tunggu kelanjutannya 😘


__ADS_2