Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Keceplosan deh!


__ADS_3

Fadli masih belum benar-benar fit, tapi sudah terlihat baikan. Raina tetap setia di samping Fadli. Ia khawatir akan kondisi Fadli, semakin hari, perhatian dan kasih sayang Raina pada Fadli mulai terlihat.


"Aku udah mendingan kok, Rai. Kamu ke kampus aja, bentar lagi kamu kan wisuda." ucap Fadli.


"Gak apa-apa, skripsi-ku udah beres kok, udah ku revisi juga, aku tinggal jagain kamu sekarang." ucap Raina.


"Aku gak enak kalau kamu terus-terusan disini, aku ngerepotin kamu banget." jawab Fadli.


"Engga kok, tenang aja. Udah kewajiban aku merawat kamu sampai sembuh, Fad." ucap Raina.


"Maaf ya, aku malah sakit.."


"Kenapa minta maaf, sakit wajar kok, setiap orang pasti pernah jatuh sakit, gak ada salahnya menurut aku. Kamu jangan banyak pikiran, tenang aja ya." Raina refleks memegang tangan Fadli.


Tiba-tiba, handphone Raina berdering, Diska meneleponnya.


"Halo, Dis. Ada apa?" sapa Raina dalam teleponnya.


"Hari ini bisa ke kampus gak? Ada hal penting soal pemberitahuan wisuda. Kamu harus datang, Rai. Aku ini udah di kampus."


"Oh gitu ya, ya udah deh bentar lagi aku berangkat ke kampus. Tunggu ya!" ucap Raina.


"Oke, Rai. See u,"


"Too,"


Telepon tertutup. Raina menatap Fadli. Berat rasanya meninggalkan Fadli seorang diri. Namun, kuliahnya juga sangat penting.


"Kamu berangkat aja, aku udah baikan kok Rai." Fadli seakan mengerti tentang kegelisahan Raina.


"Bener kamu gak apa-apa?" tanya Raina.


"Enggak, di rumah ini kan banyak asisten rumah tangga, jadi kalau ada apa-apa, aku bisa minta bantuan mereka."


"Baiklah, aku akan menitipkan mu pada Kak Gita, biar Kak Gita yang nyuruh Bibi untuk bantuin kamu." jawab Raina.


"Tapi, kamu berangkat sama siapa?" tanya Fadli.


"Sama Kak Rey aja, dia jam segini pasti pulang jemput Nayya dan Nakka. Jadi, aku bisa berangkat sama dia."


"Baiklah, hati-hati dijalan ya Rai, hubungi aku kalau kamu sudah sampai di kampus."


"Baik. Bye, aku berangkat, Fad."


Ingin rasanya aku berkata, aku pergi dulu ya suamiku, tapi rasa malu ku benar-benar mengurungkan niatku untuk mengucapkannya. Aku malu, Fad. Batin Raina.


Raina berlalu dan segera turun ke ruang keluarga ketika melihat Nayya dan Nakka baru pulang. Kebetulan, pengawal Rey masih ada di sana.


"Kak Rey, tunggu!"


"Eh, iya Nona kecil. Ada apa?"


"Kamu kenapa Rai, lari-lari gitu?" tanya Gita.


"Antar aku ke kampus, ada yang harus aku urus di sana. Fadli lagi sakit, aku gak ada yang anterin." ucap Raina.


"Baiklah, aku akan mengantar nona kecil. Ayo, kita berangkat." jawab Rey.

__ADS_1


"Kak Gita, aku titip Fadli ya, bilang aja sama Bibi, sering-sering datang ke kamar Fadli, siapa tahu dia mau sesuatu." ucap Raina.


"Iya, tenang aja. Kakak yang akan jaga suami kamu. Kamu mulai perhatian nih sekarang sama Fadli, makanya, jangan gengsi-gengsi Rai, Fadli itu baik lho. Kakak kamu gak salah menjodohkan kamu!" ucap Gita.


"Tau ah, Kakak malah ceramah. Udah ya, aku berangkat dulu. Bye, Kak Gita."


...🍀🍀🍀...


Didalam mobil, Rey terlihat lesu dan gundah. Raina yang melihatnya penasaran dengan apa yang terjadi pada asisten Kakaknya ini.


"Kak Rey, kenapa sih? Kok kayak sedih gitu?" tanya Raina.


"Enggak kok, aku gak apa-apa." jawab Rey.


"Bohong! Semua pasti gara-gara Mbak Mia yang gak pulang lagi ke rumah kita ya? Mbak Mia sebenernya pulang kampung itu untuk berhenti bekerja kan?" tanya Raina.


"Sepertinya begitu. Aku kira, Mia pulang hanya sekedar pulang, dan aku akan menjemputnya lagi, tapi ternyata dia mallah memutuskan untuk resign. Bahkan, tak membawa semua bajunya. Entah apa yang menyebabkan dia berubah seperti itu." ucap Rey.


"Kak Rey pasti sedih. Apa sudah hubungi Mbak Mia?" tanya Raina.


"Sudah, tapi kini nomornya tak aktif lagi. Mungkin sia ganti nomor."


"Apa Kak Gita tahu, tentang hal ini?" tanya Raina.


"Karena Nona Gita telah resign bekerja di perusahaan Bos Rama, dia tak keberatan jika Mia tak kembali. Juga, Mia pernah mengirim pesan, untuk Nona Gita, bahwa ia tak bisa kembali, dan Nona memakluminya." jelas Rey.


"Pantas saja Kak Rey sedih. Kenapa gak datangin lagi aja Mbak Mia nya?"


"Enggak ah, kalau dia menghindar, itu pertanda kalau dia sudah tak mau diganggu, Non. Biarkan saja, dia memilih jalannya seperti itu." ucap Rey.


"Terima kasih Nona. Malah saya rasanya ingin seperti Nona kecil saja, dijodohkan dan akhirnya bisa saling jatuh cinta. Daripada saya harus sulit mencari pasangan sendiri, hingga akhirnya saya malah sakit hati seperti sekarang ini." ucap Rey tiba-tiba.


"Kok malah nyamain sama aku sih! Namanya dijodohkan itu gak enak Kak, aku aja sebenarnya gak mau dijodohin, tapi tahu sendiri lah, Kak Rama itu lebih keras kepala daripada Papi. Malas aku sama dia!" ucap Raina.


"Tapi, apa Nona ingin melepaskan Tuan Fadli sekarang? Tidak, kan? Dijodohkan itu tak selamanya salah, ternyata cinta bisa muncul dengan sendirinya, Non." ucap Rey.


"Bisa aja deh Kak Rey. Jadi, Kak Rey mau dijodohkan? Apa Kak Rey mau dijodohkan sama temen aku? Hahaha. Eh, tapi, tapi, temen aku gak ada yang jomblo sih, mereka udah punya pacar semua. Hmm, yang sabar ya Kak Rey, nanti aku carikan jodoh deh, nanti aku bilang sama Kak Rama, kalau Kak Rey juga ingin dijodohkan!" Raina tertawa.


"Eh, Nona kecil sembarangan aja! Gak seperti itu maksud saya, itu hanya perumpamaan. Masa gitu aja dianggap serius sih! Kan gak enak nanti kalo Bos tahu," ucap Rey.


"Iya, iya Kak Rey. Aku bercanda aja kok."


Setengah jam kemudian, Raina telah sampai di kampus. Ia pamit pada Rey, dan Rey pun segera berlalu. Raina segera menemui Diska di taman kampus. Diska terlihat sedang duduk di bawah pohon Rindang, Raina segera menghampirinya.


"Hai, Diska! Udah lama nunggu?" tanya Raina.


"Enggak kok, sini, sini." Diska mengajak Raina untuk duduk.


Raina heran, Diska terlihat sedikit gugup ketika bertemu dengannya. Raina bisa menilai dari sikap dan gerak-gerik Diska yang tak seperti biasanya.


"Ada informasi penting apa tentang wisuda?" tanya Raina.


"Enggak ada kok, gue cuma mau tanya dan mastiin sesuatu saka lo." ucap Diska.


"Loh, maksud lo?" Raina tak mengerti.


"Lu sama Bayu lagi ada masalah?" tanya Diska tiba-tiba.

__ADS_1


"Enggak, gue udah putus sama dia. Emangnya kenapa?" jawab Raina.


"Putus? Kapan? Kok gak ngasih tahu gue sih?" tanya Diska.


"Buat apa, hal gak penting gitu. Emang kenapa sih?"


Diska menarik nafas, ia harus memberi tahu Raina kejadian yang sebenarnya antara Raina dan Bayu.


"Syukurlah kalau lu putus sama Bayu." ucap Diska.


"Emang kenapa? Apa yang lu tahu dari Bayu?" tanya Raina.


"Gue mergokin Bayu lagi pelukan sama anak baru di kampus ini. Prita namanya, gue juga ada fotonya Rai. Bayu benar-benar brengsek." ucap Diska.


"Dimana lo lihat Bayu?" tanya Raina.


"Di taman kota, lagi asyik aja tu kadal berdua. Parah banget emang mantan lo." jawab Diska.


Raina malah tak ingin tahu tentang Prita, anak baru itu. Yang Raina ingin tahu tentu saja keberadaan Audrey, karena Audrey-lah penyebab hubungan dirinya dan Bayu putus begitu saja.


"Audrey kemana?" tanya Raina.


"Dia sakit, udah seminggu gak ngampus. Kalo lu gak ngampus malah holiday, Udey sakit, ya gue sendirian dah!" jawab Diska.


"Gue gak peduli Prita itu siapa, dan gue cuma mau ngasih tahu sama lo. Bayu itu lebih brengs*k dari yang lu kira, Dis!"


"Maksud lo? Ada lagi kelakuan gila Bayu gitu?" Diska mengernyitkan dahinya.


"Tentu saja! Lu gak tahu kan, kalo Udey sama Bayu ada main dibelakang gue? Dan itu terjadi ketika Bayu masih sama gue! Ketika Udey bilang bahwa dia juga punya pacar, asal lu tahu, pacarnya itu adalah Bayu! Bayangin aja sama lu, parahnya tu belang kayak gimana." ucap Raina.


"HAH? Serius kamu Rai? Astaga! Bener-bener gak nyangka gue. Kenapa Udey juga mau sama si Bayu? Gila bener, gak beres tuh mereka! Pasti lo sakit hati banget kak Rai? Kenapa lo gak cerita sama gue sih? Kenapa lo tega, ngebiarin hati lo terluka kayak gitu. Udey sama Bayu kelewatan! Bayu lebih parah lagi, masih juga dia main api sama anak baru. Euh, geram banget gue ini, Rai. Pengen gue timpuk rasanya tuh palanya si Bayu." ucap Diska.


"Enggak kok, gue gak sedih dan gak sakit hati seperti apa yang lo bayangkan. Gue malah bahagia sekarang." Raina tersenyum.


Diska heran, Raina entah kerasukan apa, wanita mana yang disakiti dan diselingkuhi bisa bahagia dan tersenyum senang seperti Raina.


"Kok aneh sih lu! Kemasukan apa lu? Kok nggak sedih sedikitpun tahu kalau Bayu itu benar-benar playboy cap buaya?" tanya Diska.


"Buat apa gue mikirin Bayu, buat apa gue nangisin dia. Toh, gue udah punya suami yang bisa bikin hidup gue lebih bahagia sekarang." ucap Raina.


"RAINA? SUAMI KATA LU? SEJAK KAPAN LU PUNYA SUAMI? EMANGNYA LO UDAH NIKAH?" Diska kaget.


Astaga, keceplosan. Aku lupa, gak ada satu pun dari temanku yang tahu aku sudah menikah. Kenapa aku harus bilang suami lagi? Parah banget ini mulut. Apa Fadli emang buat aku bahagia, sampe aku berani bilang seperti itu. Aduh, aku bingung. Udah gini, sekarang aku harus gimana? Apa jujur aja sama Diska? Tapi, aku malu. Batin Raina.


*Bersambung*


Siang..


Aku beresin satu-satu masalah mereka ya, biar semua clear.


Makasih yang udah setia.


Yang baik hati, setelah membaca jangan lupa tekan like nya ya.. Yang malas komen bisa klik jempolnya aja, plis, jangan jadi silent reader, sedih aku tuh huhu..


Yang bersedia meluangkan waktunya untuk mengetik komentar dan memberikan Vote, aku ucapkan terima kasih banyak sama kalian..


Love u all, ❤

__ADS_1


__ADS_2