
Satu minggu lagi, pernikahan Gilvan dan Vina akan digelar. Semua persiapan tengah di rampungkan. Gilvan akan melangsungkan pernikahan di gedung serbaguna milik Rama. Karena, Rama tetap memaksa, ingin turut andil dalam acara pernikahan Vina dan Gilvan.
Tak main-main, Rama membantu memberikan biaya yang cukup fantastis untuk Gilvan dan Vina. Rama ingin, membalas kebaikan Gilvan pada dirinya dan juga Gita. Kebaikan Gilvan akan terus teringat di hati Rama dan Gita.
Karena ini hari libur, Vina, Gilvan dan Givia sedang berada di tempat Wedding Organizer, yang akan mengurus semua perlengkapan pernikahan mereka. Vina dan Gilvan memilih konsep glamour dengan warna rose gold dan putih tulang.
Vina memilih beberapa gaun dan setelan Jas yang akan ia kenakan di hari pernikahan mereka nanti. Dengan anggun, ia keluar dari fitting room dan memperlihatkannya pada Gilvan.
"Bagaimana?" tanya Vina seraya tersenyum kearah Givia dan Gilvan.
"You're so beautiful, Darling!" Gilvan benar-benar terpana melihat calon istrinya mengenakan gaun mewah warna keemasan.
"So thank u, so much!" Vina melayangkan senyumannya lagi.
Kenapa kamu semanis itu ketika tersenyum, sayang? Kamu wanita cantik dan menggemaskan, sungguh aku ingin segera cepat-cepat menikahi kamu, istriku.
Kini, giliran Givia yang memakai salah satu gaun yang diinginkannya. Givia menginginkan gaun, seperti gaun yang dipakai oleh princess Elsa, dalam film Frozen. Givia keluar dari ruang fitting dengan sangat lucu dan menggemaskan. Ia melambaikan tangannya kearah Gilvan.
"Ayah, Givi bagaimana? Bagus gak?" Givia terlihat sumringah.
"Wah, bagus sekali, sayang. Givi sangat cantik. Cantiknya Givi mengalahkan Bunda lho!" Rayu Gilvan.
"Ayah bisa aja, deh. Makasih, Ayah." Givia senang.
Gaun-gaun untuk keluarga dan kerabat juga sudah Vina pesankan pada sang desainer. Sesuai catatan ukuran tubuh yang telah Vina berikan. Persiapan tinggal untuk cathering makanan dan jamuan saja.
Akhirnya, Vina memutuskan untuk pergi ke Restoran Gilvan dahulu, Vina ingin melihat-lihat koki Gilvan di dapur. Vina mempunyai ide, akan memberikan paket box chicken dan hadiah unik untuk anak-anak. Givia pasti akan menyukainya.
"Apa tidak akan terlambat?" tanya Vina
"Sepertinya tidak, tempatku membuat merchandise saat itu sangat cepat mengerjakannya, biar aku telepon segera. Kamu ingin membuat apa?" tanya Gilvan
"Aku buat gantungan yang lucu juga, dengan gambar dan bentuk yang unik. Untuk anak-anak. Mereka pasti suka. Pernikahan kita, bukan hanya kita yang merayakannya. Tapi, anak kita juga. Jadi, aku ingin, anak-anak yang hadir juga mendapatkan hadiah dari Givia." jelas Vina
"Tentu saja, aku menyetujuinya. Biar aku bilang pada koki ku, agar mereka mau mengolah ayam untuk resepsi pernikahanku." jelas Gilvan
"Makanya, aku ingin pergi ke restoran mu, aku akan memohon pada koki mu untuk menyiapkan hadiah box ayam pada anak-anak."
"Tak perlu kamu yang memohon, mereka akan tak enak padamu, biar aku saja. Mereka pasti menyetujuinya, tenang saja." jawab Gilvan
__ADS_1
Vina tersenyum melirik kearah Gilvan, "Terima kasih, sayang."
Sesampainya di restoran, Gilvan melihat Fadli dan Ara sedang santai. Karena, kebetulan restoran tak begitu ramai, hanya beberapa pengunjung saja, dan masih banyak juga kursi yang kosong.
Gilvan melihat, ketika Fadli sedang berbicara dengan Ara, tatapan Fadli pada Ara seperti orang yang bahagia, dan begitu memperhatikan. Fadli seperti menyukai Ara, dari cara menatap Ara dan cara bicaranya pada Ara.
Gilvan sedikit khawatir, karena Gilvan sendiri sudah tahu, bahwa Fadli akan segera dijodohkan dengan Raina. Tapi, bagaimana mereka akan menikah, kalau Raina saja tak mau, dan Fadli juga menyukai wanita lain?
Fad, tatapan mu pada Ara tak bisa berbohong. Kamu sepertinya tertarik pada Ara. Bagaimana kamu akan menjalani pernikahanmu dengan Raina? Kenapa kamu malah membiarkan hatimu jatuh cinta pada wanita lain? Bagaimana kalau kamu nantinya menyakiti salah seorang diantara kedua wanita itu? Aku tahu, Rama tak mungkin membatalkan perjodohan ini. Tapi, memaksakan menikah juga menurutku memang salah.
Gilvan mendekati Fadli dan Ara yang sedang berbincang bersama. Gilvan tersenyum, seperti biasa ia selalu ramah pada semua karyawannya.
"Seru banget. Lagi ngomongin apa sih kalian?" sapa Gilvan
"Eh, Pak Bos. Biasa, nih si Ara! Ngomongin hal-hal konyol aja bisanya." jawab Fadli
"Eh, kamu! Malah nyalahin, jelas-jelas kamu Fad yang konyol. Wle!" Ara tak mau kalah
"Eh kalian ini, sudah-sudah. Kembali bekerja, jangan bercanda terus." perintah Gilvan
"Baik, Pak." jawab Ara dan Fadli
"Eh, Fad. Nanti ke ruangan ya, ada yang ingin aku bicarakan. Dan juga, kamu persiapkan persiapan untuk resepsi ku nanti. Aku ingin anak-anak di resesi pernikahanku mendapatkan nasi box beserta chicken dan juga hadiah lucu. Tolong urus semuanya. Tapi, kamu bisa membuat planningnya dulu. Sekarang, temui aku di atas." pinta Gilvan
Vina berada di dapur bersama koki-koki Gilvan. Vina belajar sedikit demi sedikit mengenai bumbu racikan chicken khas restoran Gilvan. Vina teringat, jika Gilvan akan memberinya satu buah restoran untuk Vina kelola, maka dari itu, Vina harus mulai belajar untuk bisa mengolahnya.
Tak lama, Fadli segera menyusul Gilvan ke ruangannya di lantai dua. Fadli tak tahu, apa yang ingin Gilvan bicarakan dengannya. Sepertinya hal penting, karena tak mungkin tidak penting jika membicarakannya saja harus di ruangannya.
Givia sedang bermain bersama Ara, sambil memakan ayam yang telah disediakan oleh Ara.
"Onty, Givi mau makan di atas." ucap Givia. tiba-tiba
"Kenapa harus di atas Givi?" tanya Ara.
"Karena, Givi ingin makan di teras yang di atas itu, kan bagus Onty pemandangannya." jelas Givia.
"Baik, sayang. Ayo, kita ke atas. Biar Onty yang membawakan makanan Givi." Ara tersenyum pada Givia.
Ara dan Givia naik ke lantai atas ruangan Gilvan. Sesampainya di atas, Ara menghentikan Givia, dan mendengarkan percakapan Bos nya dengan Fadli.
__ADS_1
"Fad, kamu harus jaga jarak dengan siapapun. Bukankah kamu tahu, perjodohan itu sebentar lagi akan segera dilangsungkan, dan mungkin juga kamu dan Raina akan segera menikah. Hentikan, jika kamu tak mau ada seseorang yang sakit hati nantinya." ucap Gilvan.
"Saya tidak merasa dekat dengan siapapun, Pak. Saya juga tidak mempunyai pacar." ucap Fadli.
"Fad, maafkan aku, jika aku ikut campur urusan mu, namun maksudku baik. Aku tak ingin, kamu nantinya dilema dalam memilih hatimu." ucap Gilvan.
"Maksud bapak? Memilih bagaimana? Saya tak mengerti." ucap Fadli.
Gilvan tersenyum seraya menepuk-nepuk pundak Fadli. Ia berkata, "Fad, aku tahu, kamu tertarik pada Ara. Aku bisa melihatnya dari pandangan matamu ketika menatap Ara. Jika kamu akan menikah dengan Raina, hentikan ketertarikan mu pada Ara, agar ia tak sakit hati ketika kamu nanti bersama Raina."
"Pak, aku tak.." Fadli tertahan
"Kamu tak bisa membohongi perasaanmu sendiri, aku tahu, karena aku juga pernah merasakannya ketika menjadi kamu." jelas Gilvan
Ara yang mendengar ucapan Fadli dan Bosnya, merasa sedih. Entah kenapa, perasaan sedih itu muncul ketika Gilvan mengucapkan kata 'perjodohan' pada Fadli. Padahal, Ara tahu batasannya. Namun, entah kenapa perasaan itu malah muncul tiba-tiba.
"Onty, kenapa?" tanya Givia
"Ah, iya. Enggak kok, enggak apa-apa Givi. Ayo, kita ke depan."
Cinta, kenapa cinta sangat rumit?
Kenapa cinta membutuhkan pengorbanan?
Adakah cinta yang mudah digapai?
Ataukah cinta benar-benar diperuntukkan
Bagi orang-orang yang ingin berjuang?
Aku, akan kalah jika berjuang.
Jika cinta tak berhak untukku,
Bisakah aku berjuang,
Dan mendapatkan cinta itu?
*Bersambung*
__ADS_1
Selamat membaca..
Jangan lupa LIKE DAN KOMENTAR. Dukung aku hanya dengan itu saja. Tidak sulit kan😘