Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
New York hari 1


__ADS_3

Perjalanan di pesawat serta waktu transit hampir memakan waktu 30 jam lebih. Rama dan yang lainnya telah sampai di bandara John F. Kennedy, mereka beristirahat sebentar di kawasan sekitar bandara.


Rama telah memesan satu apartemen untuk mereka bersama. Sesegera mungkin, Rama memesan taksi untuk menuju apartemen yang dimaksud.


Tak memakan waktu lama, hanya sekitar lima belas menit, mereka telah sampai di apartemen. Rama dan Gita di satu apartemen yang sama, Gilvan dan Vina pun akan berada di satu apartemen yang sama.


Rama belum mempertemukan Gilvan dengan dokter Frank. Rama tak mau Gilvan kaget dan shock mendengar dia harus di therapy. Perlahan-lahan, Rama akan menjelaskan pada Gilvan.


Untuk saat ini, Gilvan harus bersenang-senang dahulu. Jangan memberi Gilvan beban pikiran yang banyak. Rama sudah memberi tahu Gita dan Vina untuk hal ini, agar tak menunjukkan hal aneh didepan Gilvan.


"Sayang, memangnya kapan kamu mau bawa Gilvan bertemu Dr. Frank?" tanya Gita


"Setelah Gilvan nyaman berada disini. Kita tak mungkin menunggunya. Biarkan dia berobat sendiri sampai ingatannya berhasil. Aku akan menemukan waktu yang pas. Untuk saat ini, kita harus bersenang-senang dahulu."


"Senang-senang gimana maksud kamu?" tanya Gita


"Kita jalan-jalan. Kita jadi wisatawan saat ini. Kita harus menjelajah New York sampai puas. Siang ini, kita berangkat ke central park saja. Di sana, banyak sekali view yang bagus, shooting film hollywood juga banyak adegan yang dilakukan di central park."


"Wah, menarik sekali. Aku ingin ke sana, sayang." ucap Gita


"Sekarang, kita istirahat dulu saja, ini masih pagi, ada waktu sekitar tujuh jam, baru kita berangkat ke sana." ucap Rama


"Tentu, sayang. Aku pun lelah sekali. Perjalanan Indonesia-USA itu benar-benar melelahkan."


Rama telah membuka pakaian formalnya. Hanya tersisa kaos oblong dan boxer yang menempel ditubuhnya. Rama menjatuhkan tubuhnya di kasur. Rama benar-benar lelah, ia butuh waktu untuk istirahat.


"Sayang, ganti bajumu. Kemari lah!" pinta Rama


Gita mulai khawatir. Rama sudah membuka baju seperti itu, dan ucapan nakal yang terdengar dari mulutnya, membuat Gita khawatir.


"Memangnya kamu nggak capek?" tanya Gita


"Justru, karena aku lelah sekali, ayo tidurlah bersamaku." jawab Rama

__ADS_1


"Aku tak mau! Katanya kamu lelah, tapi kenapa malah ingin tidur denganku?" Gita sedikit kesal


Rama tak kuasa menahan tawanya. Istrinya itu benar-benar menganggap kata "tidur" sebagai makna yang lain. Padahal, Rama tak ada maksud lain, hanya mengajak Gita untuk istirahat.


"Sayang, kenapa pikiranmu selalu saja negatif sih?“ tanya Rama


"Memang benar adanya kan! Kamu selalu saja tak pernah lelah, dan kepengen terus!!" protes Gita


"Aku gak sedikitpun berharap makna tidur yang lain, aku benar-benar ingin tidur, aku ingin tidur di ranjang empuk ini bersamamu! Makanya, aku menyuruhmu untuk kemari." jawab Rama


Gita menggigit bibirnya. Ia benar- benar mati kutu dihadapan suaminya. Wajah Gita memerah, ia benar-benar malu. Gita tak menyangka pikirannya jadi agresif begini. Ia takut, kalau Rama benar-benar akan menghantam dirinya.


"Maaf, kukira kamu bilang tidur itu..." Gita tak melanjutkan perkataannya


"Apa kamu sedang ingin? Baiklah, ayo kita pemanasan dulu. Sebelum tidur, mari kita berolahraga kalau begitu. Setelah selesai, tidur pun pasti nyenyak." Rama tersenyum nakal


Gita menyesal telah salah mengartikan perkataan Rama. Gita tahu, Rama pasti selalu saja menagih keinginannya. Gita kesal pada dirinya sendiri. Gita memutuskan untuk segera naik ke atas ranjang, ia mengambil selimut dan menutup penuh badannya dengan selimut. Rama tak bisa memegang tubuh indahnya.


"Aku salah mengartikan, sayang. Pokoknya, tak ada main-main atau pemanasan, kita tidur saja. Aku sudah benar-benar lelah, aku ingin kita tidur saja. Semalam badanku sakit tidur di pesawat. Kali ini, kamu jangan menggangguku." perintah Gita


"Kamu yang salah, kamu yang marah. Kamu yang membangunkan juniorku, kamu juga yang mematikannya. Mau mu apa sih sayang?" tanya Rama kesal


"Mau ku, adalah tidur bersama denganmu. Agar nanti, aku tak ngantuk ketika kamu mengajakku jalan-jalan.


"Baiklah, ayo kita tidur. Malam panjang kita akan aku lakukan malam nanti ya." Rama memeluk Gita dari belakang


"Dasar lelaki!!!“


***


Gilvan dan Vina telah berada di ranjang yang sama. Apartemen ini hanya memiliki satu kamar saja. Vina dan Gilvan bingung harus tidur bagaimana.


Vina pasti yang mengalah, karena dia pembantu disini, ia harus tahu diri. Vina beranjak dari ranjangnya,

__ADS_1


"Tuan, saya permisi. Saya mau istirahat dulu di sofa. Saya mau tidur dulu." ucap Vina


"Kenapa harus di sofa?" tanya Gilvan


"Memangnya dimana lagi, Tuan? Kasur apartemen ini hanya satu, aku tak bisa tidur bersama Tuan. Itu sangat lancang sekali bagi saya." jawab Vina


"Kemarin saja kita tidur berdua kan?" selidik Gilvan


"Itu hanya ketika Tuan sedang pusing dan sedang tidak enak badan, jadi saya memakluminya." jelas Vina


"Jadi, lu gak mau tidur satu ranjang sama gue?" tanya Gilvan


"Saya tidak apa-apa kok Tuan, saya akan tidur di sofa aja." ucap Vina


"Lu keras kepala juga. Baguslah, kalau lu sadar diri. Ya sudah, sana tidur. Aku juga lelah, aku pun akan istirahat." ucap Gilvan


"Baik, Tuan. Selamat istirahat." ucap Vina


Vina berdiri dan pindah ke sofa yang empuk tempat menonton televisi. Vina merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Sehari semalam full didalam pesawat, benar-benar membuat Vina kurang tidur.


Tak terasa, matanya mudah sekali terlelap dan terpejam. Mungkin, Vina benar-benar kelelahan, apalagi ini kali pertamanya naik pesawat sampai berpuluh-puluh jam, Vina tak pernah berpengalaman naik pesawat se-lama itu.


Gilvan melihat Vina yang sudah terlelap, Vina memang cantik. Saat matanya terpejam pun, kecantikannya tetap membuat Gilvan terpesona. Tanpa sadar, Gilvan terus menatap wajah cantik Vina, hingga ia tersenyum bahagia.


Gilvan tak bisa tidur, entah apa yang membuatnya tak bisa terlelap. Gilvan bingung, apa ini semua karena Vina? Apa Gilvan tak bisa tidur karena Vina tak berada disisinya?


Apa aku harus memindahkan dia ke ranjang ini? Kenapa rasanya aku ingin sekali tidur bersamanya. Dia hanya pembantu, tetapi kenapa terasa spesial sekali untukku? Apa yang membuat hatiku tertarik padanya? Kenapa secepat ini dia membuatku tertarik padanya?


Gilvan akhirnya memindahkan Vina ke ranjangnya. Vina tetap terlelap, saking lelahnya ia selama perjalanan di udara. Gilvan mulai merasa lega. Gilvan tidur disampingnya, tersenyum pada Vina. Satu tangannya memeluk Vina. Hangat, hangat yang ia rasakan ketika dekat bersama pembantunya itu.


"Aku bisa terlelap kalau kau ada disini bersamaku, kamu memang berarti untukku. Siapa kamu sebenarnya? Kenapa aku merasa telah sangat lama mengenalmu?" tanya Gilvan pada Vina yang sedang terlelap


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2