Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Rahasia Vina


__ADS_3

Gita telah membersihkan badannya. Ia merasa lelah sekali. Baru dua hari saja, entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Rama memang haus, haus akan kenikmatan yang telah lama ia pendam saat Gita belum hamil.


Gita merebahkan tubuhnya di kasur. Rama keluar dari kamar mandi dengan dada telanjang. Rama mendekati Gita, duduk di ranjang samping Gita.


"Pake baju dulu sana!" ucap Gita


"Sabar dong sayang, kenapa sih buru-buru amat? Kamu gak tahan ya liat badanku, takut kepengen lagi, iya? Hihihi" Rama tertawa


"Sembarangan kalo ngomong. Kita itu udah gak kehitung ya berapa kali melakukannya dalam dua malam. Udah, puas kan kamu? Besok kamu akan sibuk. Besok kamu akan pergi ke Surabaya."


"Berarti jatahku masih ada, malem sekali lagi. Ya hunny? Please?" goda Rama


"Nggak, cape!" Gita melengos keluar kamar


"Dosa lho, menolak berhubungan dengan suami. Mau kamu jadi istri durhaka?" Rama seperti mengancam


"Bawa-bawa dosa. Tau lah! Gimana nanti aja." Gita menutup pintu.


Istriku, kamu sangat menggemaskan. Aku suka saat-saat kamu menolak dan mendelik kesal ke arahku. Aku suka, cara bicaramu. Mulutmu yang manis selalu membuatku bergairah. Ketika kamu berbicara, yang merespon bukan hanya mulut dan otakku. Tapi, juniorku pun ikut merespon. Bagaimana ini? Kamu sungguh menggoda. Rama dalam hati.


Gita pergi keluar dari kamar. Ia melihat ke kamar anak-anaknya, ternyata mereka sedang terlelap. Gita keluar lagi, tak mau mengganggu anak-anaknya.


Lelaki, seneng banget. Gak bosen-bosen apa? Sabar Git, sabar. Besok suami lu pergi ke Surabaya. Lu bakalan tenang selama seminggu. Hari merdeka gue. Bagusnya adain acara sesama cewek bareng Vina bareng mbak Intan dan yang lainnya. Ide bagus. Gita menyeringai.


Gita berjalan ke taman belakang rumah ini. Gita melihat Rey sedang duduk di ayunan taman tersebut. Gita mendekatinya.


"Rey, kamu sedang apa?" Gita mengagetkan lamunan Rey


"Eh, nona! Ini, saya sedang melihat air kolam renang. Nyaman, tenang dan indah dipandang." ucap Rey


"Kayak cewek dong kalo gitu. Nyaman, tenang dan indah dipandang. Lu lagi jatuh cinta ya Rey?" tanya Gita


"Eh, eng, nggak kok! Saya hanya sedang melihat air." Rey gelagapan


"Kamu lagi jatuh cinta sama siapa? Mata kamu gak bisa bohong, Rey!"


"Bener Nona, saya tidak bohong." Rey gagap


"Kamu suka sama temenku?" tanya Gita serius


"Nona kenapa bisa berbicara seperti itu?" tanya Rey


"Aku tahu, kamu membelikannya handphone kan? Kamu membawa dia bertemu suamiku tadi pagi. Iyakan? Kamu begitu perhatian padanya. Kamu tak usah menyembunyikan perasaanmu. Jujur aja sama gue, gue peka terhadap perasaan lu, Rey!"


"Eh, tidak seperti itu, nona! Maafkan kelancangan saya ini." jawab Rey


"Jangan gugup Rey. Uang kamu habis berapa tadi? Biar aku yang ganti." ucap Gita


"Gak usah, nona. Saya ikhlas membelikan handphone baru untuk teman baik nona!" jawab Rey sopan


"Tidak apa-apa. Nanti biar suamiku yang mentransfernya padamu. Kamu, mulai sekarang tak perlu berbohong padaku mengenai perasaanmu!" ucap Gita


"Tapi, rasanya aku tak mungkin bisa mendapatkannya." ucap Rey

__ADS_1


"Why, Rey?" tanya Gita


"Sepertinya teman baik nona sudah menyukai seseorang. Saya bisa mengetahuinya." jelas Rey


"Kamu tahu darimana Rey?" tanya Gita lagi


"Dia seperti wanita yang telah di selingkuhi, dia berantakan sekali ketika aku menemukannya." jawab Rey


"Dia tertutup sama gue, harusnya Vina lebih terbuka, tapi dia sulit sekali untuk bicara. Akan ku cari tahu penyebabnya, Rey!" Gita tersenyum


"Oh, tidak nona. Itu tidak perlu. Biarkan saja mengalir seperti air kolam yang tenang ini." ucap Rey


"Tuh kan, emang lu dari tadi mikirin Vina kan? Ngaku Rey, gak bisa bohong lu sama gue!" ucap Gita


"Nggak, nona. Serius deh, bukan seperti itu maksud saya!" ucap Rey


Rama melihat Rey sedang berbincang dengan istrinya. Rama mendekati mereka berdua.


"Rey, lu ngapain istri gue? Awas aja kalo lu berani macem-macem. Gue pecat secara tidak hormat lu!" Rama mengancam


"Eh, kagak gitu bos! Nona muda desek gue terus, bingung kan gue jadinya." jawab Rey


"Kamu ngapain Rey sih, sayang?" taya Rama


"Dia tuh suka sama si Vina, tapi dia gak jujur. Tetep aja kan, akhirnya ketahuan! Sayang, gantiin uang dia yang udah dipake beli handphone baru untuk Vina." ucap Gita


"Gue juga berpikir begitu, Rey. Ternyata memang lu suka ya sama dia? Berapa harga handphone baru si Vina?" tanya Rama


Rama membuka mobile bankingnya, ia mengetik nominal jumlah uang yang akan di transfer kepada rekening atas nama Reynand.


"Ok! Sudah gue transfer, Rey! Gue tambahin, gue transfer 15 juta ke rekening lu. Lu harus jujur aja sama istri gue. Gak usah bohong segala." ucap Rama


"Ba..baik, Bos! Terima kasih atas kebesaran hati kalian sama gue." ucap Rey


"Sayang, saat malam resepsi kedua kita, apa kamu melihat Gilvan hadir ditengah-tengah kita?" tanya Rama


"Tidak, aku tidak melihatnya. Tapi, Ibu sempat bilang rasanya ia seperti melihat Gilvan lewat di belakang. Tapi, kata ibu itu cuma firasatnya aja." jawab Gita


"Gilvan memang datang ke acara kita, sayang! Jelasin aja Rey, istri gue harus tahu." jelas Rama


"Sepertinya, Gilvan memang hadir nona! Dan, saya yakin ini ada hubungannya dengan teman baik nona." jawab Rey


"Maksudmu, Vina?" Gita heran


"Iya, nona. Malam itu, saya mencari keberadaan teman baik nona, tapi tak ada. Saya ke belakang, mencoba mencarinya. Ternyata, saya lihat Vina sedang dirangkul oleh Gilvan. Saya juga kaget saat itu." jelas Rey


"Serius kamu? Berarti Gilvan memang datang. Tapi, kenapa dia tak menemui kita?" tanya Gita


"Yang bisa menjawabnya hanyalah Vina. Tapi, kamu tak perlu mendesak Vina dulu. Dengarkan keluh kesahnya, kalau dia tak mau bicara, jangan paksa dia. Kita temui saja Gilvan di Malaysia nanti, ketika kita berbulan madu." ucap Rama


"Aku masih gak ngerti sama semua ini. Vina yang tahu, kita harus segera menemui Vina." kata Gita


"Mungkin saja, penyebab handphone Vina rusak itu karena Gilvan. Bisa jadi menurutku." terang Rama

__ADS_1


"Iya, saya juga berpikir seperti itu Bos. Apa sebaiknya kita cari tahu?" tanya Rey


"Biar aku yang mancing Vina, kalau nggak berhasil, tunggu saja ketika nanti di Malaysia. Aku tahu rumah Gilvan. Kita bisa mengunjunginya." jelas Gita


"Baik, sayang. Aku cuma kasihan ini sama pengawal mu!" ucap Rama tertawa


"Emang kenapa sayang?" tanya Gita


"Baru saja jatuh cinta, sudah di hadapkan dengan masalah yang rumit. Bisa jadi cintanya bertepuk sebelah tangan dong!" ucap Rama tertawa


"Ish, kamu jahat banget sama asisten sendiri. Gak boleh gitu, kasihan Rey!" ucap Gita


"Tau nih, si Bos! Bisanya bikin gue down mulu." Rey kesal


"Sayang, apa maksudmu kasihan pada Rey? Kamu menyukainya? Kamu berani sekali mengatakan kasihan padanya di hadapanku? Keterlaluan sekali kamu sayang!" Rama kesal


"Sayang, apaan sih. Bukan gitu maksud aku. Aku hanya tak mau dia menderita karena cinta. Dia harus memperjuangkan cintanya pada Vina. terlepas dari pilihannya nanti, apakah akan memilih dirinya atau memilih Gilvan. Kita tetap harus menyemangati Rey, bukan begitu?" ucap Gita halus, sambil memegang tangan Rama


"Jadi, kamu cemburu kalau Vina memilih Gilvan? Sehingga kamu membela Rey, agar Vina memilih Rey, begitu?" Rama sensitif


"Apaan sih kamu, bukan gitu maksud aku! Apa salahnya kita memberi semangat pada Rey! Kalaupun Vina memang jadian dengan Gilvan, aku tidak masalah, toh aku tidak mencintai dia." jelas Gita


"Kamu selalu saja membuatku kesal. Aku tak suka kamu menyebut nama Gilvan." ucap Rama


"Lalu, aku harus sebut dia dengan nama apa?" Gita menantang


"Ya tidak usah sebut namanya. Itu sangat tak penting. Sebut saja namaku sampai kau lelah. Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara, Rama Hanggara! Begitu, sayang!" Rama terkekeh


"Terserah kau saja! Dasar menyebalkan." Gita meninggalkan Rama dan Rey


"Eh sayang! Kamu mau kemana? Kamu mau bersiap diri ya? Malam nanti kan, kita akan melakukan malam ketiga yang panjang. Iyakan? Kamu harus tampil cantik dan menggoda. Oke sayang?" Rama berteriak


"Jangan harap!" Gita menjawabnya dengan berteriak


"Awas saja kalau kau menolak, aku akan memaksamu seperti waktu itu!"


"Coba saja kalau bisa!" Gita membalas


Rey bingung melihat sepasang suami dan istri ini. Hal sepele bisa membuat mereka bertengkar kecil seperti ini. Sungguh, jatuh cinta itu indah, membuat hati penuh sesak dengan kisah-kisahnya. Sungguh indah.


"Kalian memang pasangan yang bisa membuat semua orang iri. Termasuk yang nulis sama yang baca."



Di atas Visual Reynad ya.. Vina, cocok sama Gilvan apa sama Rey nih? 😁😁


*Bersambung*


Berasa hidup lagi hatiku ini 😍😍😍


Happy reading, jangan lupa like dan komentar ya setelah membaca, jadi readers yang bisa bikin senang author. oke? hehe (Maksa ya)


Terimakasih selalu setia menunggu Gita dan Rama.

__ADS_1


__ADS_2