Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
malam kedua


__ADS_3

Gita tidak semangat beraktifitas. Ia kesakitan saat berjalan. Badannya serasa remuk. Selangk*ngannya sakit, semua karena ulah Rama semalam. Rama tak memberinya ampun, Rama terus menghujam Gita. Gita kewalahan, tetapi Rama terus saja. Seakan malam hanya milik Rama dan Gita.


Gita malu untuk keluar, tetapi ia tak mungkin hanya berdiam diri di kamar. Ia harus menemui anak-anaknya.


Gita sedang menyiapkan makanan untuk makan siang membantu asistennya. Tak lama, Ibunya Rama pun datang.


"Git, Rama menghabisi kamu ya semalam?" tanya Mami Rama


"Eh, nggak kok Mi." Gita bingung


"Mami juga pernah muda. Jujur aja sama mami, Rama pasti bikin kamu kewalahan ya semalem? Kamu sampai lelah gini, Git." Mami tesenyum kecil


Rama dan Rey datang. Rama mendengar Maminya menggoda Gita.


"Apaan sih mi? Gangguin Gita aja!" Rama mengangetkan semua orang


"Eh, kamu sudah pulang! Kamu tuh ya, jangan terlalu kasar. Pelan-pelan aja dong, lihat tuh istri kamu sampai kewalahan gitu, jalan aja dia kayak kesakitan." Mami Rama melirik kearah Gita


"Eh, Mami. Apaan sih! Siapa yang kasar, orang Rama mainnya penuh cinta gitu. Cuma, aku gak mau berhenti Mi, ketagihan terus."


Rama tak malu mengungkapkan masalah ranjangnya. Ia melihat kearah Gita yang kelihatannya seperti air yang sudah mendidih. Uhh, menyeramkan.


"Apaan sih, ngomongnya ngelantur banget! Jangan dengerin dia, Mi. Dia menyebalkan." Gita cemberut


"Tapi, Tuan Rama benar kok. Tadi dia bilang, semalam dia main sampai 7 ronde sama Nona Gita. Iyakan bos? Galak juga lu kalau dikasur!“ Rey seperti takjub


"Ya Ampun Rama.. Kamu gak kasihan apa sama istrimu? Dia itu baru selesai masa nifas, kamu jangan terlalu nafsu gitu dong!" Mami membela Gita


"Eh, eh. Rey, apaan sih kamu! Nggak gitu kok Mi, gak sebanyak itu. Ih, kenapa sih jadi bahas yang kayak gitu. Udah ah, lupain aja." muka Gita memerah


"Sayang, kamu itu bikin aku ketagihan tau gak. Kamu gak usah malu, Mami juga pernah muda. Iya kan Mi?" Rama mengedipkan matanya


"Ya tapi nggak terlalu sering juga, Ram!


" Hehehe."


Gita makan siang dengan cepat. Ia malu, ia kesal pada Rama, karena dengan santainya membeberkan masalah ranjangnya kepada semua orang. Rasanya Gita ingin menjewer kuping Rama saat ini juga.


Gita pergi menuju kamarnya. Rama mengikutinya dari belakang. Rama tahu, istrinya itu pasti kesal padanya. Tetapi, Rama suka sekali membuat Gita marah dan kesal. Kalau Gita cemberut, Gita terlihat sangat cantik.


"Kamu tuh, nyebelin banget tahu gak!" Gita duduk di ujung ranjangnya.


"Kenapa sih sayang?" Rama mendekat dan membelai rambut Gita


"Kenapa kamu seneng banget ngomongin masalah ranjang kita ke semua orang? Emangnya kamu gak punya malu apa?" tanya Gita


"Gak apa-apa dong sayang, itu tandanya kamu hebat." Rama tersenyum


"Hebat apanya sih?" Gita cemberut


"Kamu hebat, bisa memuaskan hasrat aku. Kamu bisa bikin aku puas, sayang." Rama mencium leher Gita

__ADS_1


"Apaan sih, Kak! Geli tahu. Kamu jangan pernah membicarakan masalah ranjang kita lagi kepada semua orang. Aku gak mau denger alasan apapun, titik." Gita terdengar mengancam


"Kok kamu gitu sih sayang."


"Kalau sampai aku dengar lagi kamu membeberkan masalah pribadi kita, aku tak akan memberi kamu jatah." Gita memalingkan wajahnya.


"Eh, sayang. Kok kamu gitu sih?" Rama mulai cemas


"Kamu yang mulai duluan! Awas aja kalau sampai mulut kamu kayak ember bocor lagi."


"Iya, iya. Maaf dong sayang. Aku janji, gak akan membicarakan masalah ranjang kita lagi. Sini dong." Rama mendekat pada Gita


"Iya, iya." Gita tersenyum kecut


Tak lama, Handphone Rama berdering. Nomer kontaknya tidak dikenal. Rama malas mengangkatnya.


"Angkat aja. Siapa tahu penting." saran Gita


"No tidak dikenal. Untuk apa!" ucap Rama


"Gak apa-apa. Angkat dulu, nanti kan kamu tahu." ucap Gita


Rama segera mengangkat teleponnya.


"Halo?" ucap Rama


"Ini Rama kan?" tanya wanita di seberang sana


"Gue Mira, Ram! Lo gak lupa kan sama gue?" tanya Mira


"Mira? Alumni anak XII Ipa 3, iya?" tanya Ram


Rama tahu, bahwa Mira adalah mantannya. Tetapi, Rama tak mungkin mengatakan Mira mantannya didepan Gita.


"Iya, itu lu tahu. Gue dapet kartu nama lu dari bokap gue. Gue pengen cari rumah yang bagus dong di kawasan ellite. Lu Direkturnya kan?" tanya Mira


"Kalau lu mau cari rumah, lu hubungi pemasarannya. Jangan hubungi gue. Gue nggak tahu masalah itu." jawab Rama simpel


"Tapi, lu kan bos nya. Lagian, gue juga pengen unit yang bagus. Lu pasti tahu dong unit yang bagus." Mira tetap memaksa


"Lu salah kalau nelepon gue. Nanti gue kirim kontak marketing perumahan." ucap Rama


"Lu sombong bener deh sekarang, Ram! Beda banget, gak kayak dulu." ucap Mira


Rama ingin menyudahi teleponnya segera. Rama tak enak pada istrinya kalau ia telponan dengan wanita lain didepan istrinya.


"Bukan gitu, ya emang lu salah kalau nanya sama gue. Percuma aja, gue gak tahu." ucap Rama meninggi


"Ram, aku boleh ya ketemu kamu di perusahaan nanti, aku serius mau cari rumah!" Mira memaksa


Tutt..tut..tut..

__ADS_1


Rama mematikan telepon Mira. Mira sepertinya belum bisa move on dari Rama. Rama tak mau hubungannya dengan Gita ada yang mengganggu. Rama melihat Gita, Gita tak menunjukan ekspresi apapun.


"Kamu gak marah?" tanya Rama


"Kenapa harus marah?" Gita bertanya balik


"Tadi, ada cewek nelepon aku. Kamu gak cemburu?"


"Aku gak akan cemburu atau pun sedih. Aku ini istri SAH kamu, aku yang memilikimu. Kalau ada wanita yang ingin mendekati, terserah padanya. Yang penting kamu tidak tergoda dan tetap menyayangiku. Tapi..." Gita berpikir


"Tapi apa?" Rama cemas


"Kalau suamiku yang tergoda dengan wanita yang menggodanya, akan ku buat peringatan pertama dan terakhir. Aku tak akan menjadi wanita yang lemah. Biarpun aku terlihat polos, tetapi kalau sudah menyangkut masalah harga diriku yang di injak-injak, aku tak akan tinggal diam." Gita tegas


"Kamu wanita yang hebat sayang. Aku tak akan tertarik dengan siapapun lagi selain dirimu!" ucap Rama


"Aku tak peduli jika ada wanita ataupun mantanmu yang mengejar mu, aku tak peduli jika mereka memaksa ingin bertemu denganmu ataupun mengajakmu pergi. Aku hanya percaya pada suamiku, kamu takkan mengecewakan diriku." Gita tersenyum


"Kamu sungguh? Kamu percaya padaku, sayang?" tanya Rama


"Aku sangat percaya padamu. Aku mengingat perjuangan cinta kita. Aku yakin, kamu tak mungkin bermain-main dengan cinta kita. Jadi, aku minta padamu, kumohon jaga kepercayaan yang telah aku beri padamu. Jangan sampai kamu mengkhianatinya." ucap Gita


"Aku bahagia memiliki istri sepertimu. Aku janji, aku tak akan pernah tergoda oleh siapapun lagi. Aku hanya milikmu, aku hanya untukmu. Kamu bisa pegang janjiku, hanya kamu dan anak kita yang akan aku perjuangkan mati-matian." Rama memegang lembut bahu Gita


"Terima kasih kamu telah menguatkan hatiku. Aku menyayangimu, ku harap kamu pun memiliki perasaan yang sama denganku. Jangan sampai buat aku kecewa." Gita memeluk Rama.


"Tentu, sayangku. Kamu tak perlu khawatir. Cinta ini hanya untukmu."


"Terimakasih."


"Bolehkah aku meminta lagi?" Rama tersenyum


"Meminta apa?" Gita tak mengerti


"Aku ingin bertemu little Gita mu." Rama tersenyum jahil


"Ish kamu. Semalam apa tidak puas?" Gita cemberut


"Tentu saja tidak. Little Gita mu selalu saja membuat aku ketagihan." Rama membelai Gita


"Ih, geli tahu kak!" Gita menggeliat


"Ayo dong sayaaaaaaang!" Rama mencium tengkuk Gita


"Kak.....!" Gita malu


"Ayo, tutup semuanya. Biar yang baca gak bisa lihat kita."


*Bersambung*


Maaf ya, Gita sama Rama lagi malam kedua 🤣😆

__ADS_1


__ADS_2