
Fadli segera masuk kedalam rumahnya. Ia melihat, di ruang tamu tak ada siapa-siapa. Bibi dan Pamannya pun sepertinya sedang pergi ke sawah. Hanya terlihat anak-anak Bibinya yang sedang menonton televisi. Fadli memutuskan untuk masuk ke kamarnya, karena Raina sepertinya sudah berada di kamar.
Pintu dibuka, ternyata Raina terlelap. Entah Raina hanya pura-pura, entah memang ia sedang tidur siang. Fadli mendekatinya, dan duduk di ranjang, sebelah Raina berbaring.
"Raina, apa kamu tidur?" tanya Fadli.
Raina tak menjawab. Fadli melihat, bahwa mata Raina terpejam. Apa mungkin Raina benar-benar tidur? Pikir Fadli.
"Raina, apa kamu marah, karena aku memanggil temanku tadi? Aku refleks, Raina. Aku benar-benar kaget bisa melihat teman masa kecilku lagi, jadi aku lupa berbicara padamu."
Raina ternyata tak tidur, ia hanya pura-pura tidur. Ia tetap mendengarkan ucapan Fadli dengan mata terpejam.
"Aku tahu, kamu marah karena tak dianggap olehku, aku minta maaf, aku tak izin padamu akan menemui dia. Aku memang akan mengenalkan mu pada temanku, tapi kenapa kamu malah menghilang tadi? Apa kamu benar-benar cemburu, Raina?" Fadli berbicara sendiri.
Aku bukan cemburu! Jangan geer kamu, aku hanya kesal, kamu malu-maluin, masa ada laki-laki sumringah banget ketemu sama cewek! Idih, norak banget tahu gak kamu, Fad!!! Batin Raina menggerutu pada Fadli.
"Rai, sepertinya hubungan kita sudah mulai serius. Sepertinya, aku memang tertarik padamu. Aku kira, pernikahan ini tak akan indah, tapi ternyata aku bahagia. Terima kasih, telah menerimaku, padahal aku bukanlah orang yang berasal dari keluarga kaya sepertimu. Aku juga tak bisa memberimu apa-apa Raina. Aku hanya laki-laki biasa, yang beruntung mendapatkan dirimu. Untuk itu, apa boleh aku benar-benar jatuh cinta padamu?"
Fadli ikut berbaring di samping Raina. Perlahan, tangannya memeluk tubuh Raina yang sedang terlelap. Mendapat pelukan itu, Raina benar-benar jengah dan tak nyaman. Namun, Raina sudah berjanji pada dirinya, ia akan pura-pura tidur, dan tak ingin berbicara pada Fadli.
"Kamu memang tertidur Raina. Aku tahu, kamu lelah. Baiklah, aku pun akan tidur. Sore nanti, akan ku ajak kamu ke pantai untuk melihat sunset. Maafkan aku yang lancang memelukmu. Tubuhmu sangat nyaman untuk dipeluk, istriku."
Fadli mengecup kening Raina dengan lembut, dan segera ikut tertidur. Raina benar-benar kegerahan dengan perbuatan Fadli. Ternyata, salah jika Raina harus berpura-pura, Fadli benar-benar hangat, Raina tak menyangka jika Fadli bisa se-romantis itu. Ia gugup, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima pelukan dan kecupan yang Fadli berikan padanya. Perlahan, lamunannya pun buyar, ia ikut hanyut dalam pelukan Fadli, dan Raina pun tertidur, nyaman, sangat nyaman.
...☘☘☘...
Sore ini, sesuai janjinya, Fadli mengajak Raina menuju pantai pangandaran. Fadli mengemudikan mobilnya, karena jarak menuju pantai lumayan, Fadli tak mau jalan kaki.
"Kamu masih marah, Rai?" tanya Fadli dalam mobil.
"Enggak!" jawab Raina ketus.
"Kamu marah gara-gara aku tadi nemuin Asri ya?" Fadli menebak.
Raina menatap Fadli, "Aku gak marah. Aku gak suka, kamu malu-maluin banget kayak gitu sama cewek!" jawab Raina.
"Kamu cemburu?"
"ENGGAK! Jangan ngaco deh!" Raina mengelak.
"Itu tandanya kamu cemburu, Raina." Fadli tersenyum.
"Geer kamu, Fad!"
"Sayang, bukan Fadli." Fadli tersenyum senang.
"Ngarep banget deh!!!" Raina mendelik kan matanya.
Perjalanan tak memakan waktu lama, kini mereka telah sampai di pantai. Fadli mengajak Raina untuk duduk dipinggiran pantai. Suasana pantai benar-benar menyejukkan. Angin semilir membuat suasana tambah sangat romantis.
"Suka nggak, Rai?" tanya Fadli.
"Suka, aku udah lama banget gak main ke pantai." jawab Raina sambil menghirup udara segar.
"Waktu kecil, aku sama Bapakku tiap pagi suka kesini. Sekedar mencari ikan laut untuk kami semua makan.
"Enak banget tiap hari bisa ngunjungin pantai." ucap Raina.
"Aku malah bosen, setiap pagi, denger gemuruh ombak lagi, setiap sore jalan-jalan lagi ke pantai. Rasanya, aku ingin ke kota, jadi anak kota, merantau, eh akhirnya tercapai. Aku juga mendapatkan istri orang kota! Hehehee." Fadli tersenyum.
__ADS_1
"Bisa aja kamu!"
Sunset mulai terlihat. Perlahan-lahan, matahari mulai tenggelam bersama indahnya panorama senja. Suasana itu, menambah kehangatan antara Fadli dan Raina.
"Kamu itu ibarat matahari terbenam, Raina." ucap Fadli.
"Maksud kamu?" Raina tak mengerti.
"Hadirnya penuh arti, kedatangannya ditunggu-tunggu, dan kepergiannya selalu dirindukan kembali. Itulah kamu, berarti dalam hidupku, dan ketika kamu pergi, aku berharap kamu cepat kembali datang lagi." ucap Fadli.
Raina melirik Fadli. Ia tak menyangka, kata-kata puitis itu keluar dari mulut Fadli yang polos. Raina tersentuh dengan ucapan Fadli, ia tersenyum.
"Kamu, bagaikan senja yang aku tunggu. Aku berharap, dan selalu menanti saat indah itu tiba. Walaupun aku harus melewati pagi hingga sore yang panjang. Keindahan mu, sama seperti senja dengan matahari tenggelam, yang selalu membuatku bersyukur, betapa indahnya hari, bisa melihatmu dan memilikimu sepanjang hidupku." ucap Fadli lagi.
"Fadli, kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini.." Raina tak mengerti.
"Raina, apa kamu tak sadar? Selama ini, tak pernah ada ungkapan cinta diantara kita. Aku sadar, aku memang belum mengatakan bahwa aku cinta padamu, tapi kurasa, setelah hubungan kita dimalam itu, aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja." ucap Fadli.
"Memangnya, kamu mau meninggalkan aku?" tanya Raina.
"Tergantung bagaimana perasaanmu padaku, Raina." jawab Fadli.
"Kok aku, sih?"
"Kalau aku serius, tapi kamu tidak, untuk apa? Aku ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya, Raina. Aku tak pernah tahu, bagaimana perasaanmu padaku." jawab Fadli.
Raina terdiam. Rasanya, sulit sekali mengatakan cinta pada Fadli. Gengsinya masih menyelimuti dirinya. Raina malu, dan tak percaya diri mengatakannya pada Fadli.
"Sama sepertimu," jawab Raina simpel.
"Bagaimana?" tanya Fadli.
"Begitu bagaimana? Yang jelas, Rai."
"Ya, aku mencintaimu!" jawab Raina datar.
"Kok terpaksa gitu, sih?"
"Aku gak kepaksa, Fadli. Aku tulus!" jawab Raina.
Fadli tersenyum. Raina adalah wanita pertama yang ia bawa menuju kampung halamannya. Mungkin, cinta tak mudah tumbuh, tapi perasaan memiliki tetap Fadli dan Raina rasakan. Entah kapan, cinta itu akan sepenuhnya hadir untuk Raina. Yang jelas, Fadli bahagia, memiliki Raina di setiap hari-harinya.
"Mungkin suatu hari nanti, kamu bisa mencintai aku, Raina." ucap Fadli.
"Hah? Ah, iya, Fad." Raina gugup.
"Raina, lihat mereka! Terlihat bahagia sekali, bukan?" ucap Fadli.
Fadli menunjuk sebuah keluarga yang sedang tersenyum bahagia bersama kedua anaknya.
"Memangnya, kenapa mereka?" tanya Raina.
"Keluarga yang bahagia, dengan anak-anak. Aku tak pernah merasakan kebahagiaan yang sangat istimewa dari kedua orang tuaku. Kebahagiaanku hanya sebentar. Ingin rasanya aku seperti mereka." Fadli tersenyum sambil menatap mereka.
"Kamu jangan bersedih. Itu sudah berlalu, kamu harus menerima takdir. Sekarang, kamu sudah layak menjadi ayah, bukan anak-anak lagi." ucap Raina tiba-tiba.
"Apa? Menjadi Ayah? Berarti, kamu mengizinkan aku membuat anak lagi denganmu kalau gitu? Aku senang sekali mendengarnya Raina." ucap Fadli.
"Eh, dasar otak mesum kamu ya! Dihibur, malah ada aja kesempatan.
__ADS_1
"Setidaknya, kamu membolehkan aku memproduksi anak lagi denganmu. Aku sudah tak sabar menantinya, Raina." Fadli tersenyum nakal.
"Oh, Tuhan. Aku menyesal mengatakan ini padamu, Fadli!!!"
"Pulang yuk?" ajak Fadli.
"Kok pulang sih?" tanya Raina.
"Rasanya, aku semakin bersemangat ingin segera memproduksi anak kita Rai." jawab Fadli.
"Aarrgghhhh, Fadli. Disaat-saat romantis seperti ini, kamu malah membuat suasananya hancur. Otakmu benar-benar sudah terkontaminasi, Fad! Aku tak habis pikir," Raina geleng-geleng kepala.
"Kamu yang memulai, malah aku yang disalahkan!"
"Kamu yang salah mengartikan!" Raina cemberut.
"Eh, Rai. Kok cemberut sih? Jangan marah dong." Fadli merayu.
"Au ah gelap!"
"Kalau cemberut gitu, nanti aku cium lho!"
"Sembarangan aja kamu, Fad!"
"Makanya, senyum dong sayang." Fadli tersenyum mencontohkan pada Raina.
"Nih, nih, aku senyum! Puas kamu!" Raina tersenyum tapi terpaksa.
"Raina, Raina.. Kamu sangat menggemaskan." ucap Fadli pelan.
"Kamu sangat menyebalkan!" jawab Raina.
"Kamu sangat cantik!" ucap Fadli.
"Kamu sangat tampan!" jawab Raina salah bicara.
"Waah, kamu mengakui kalau aku ini tampan ya?" Fadli terkekeh.
"Eh, astaga! Aku keceplosan. Maksudku, kamu sangat jelek! Puas kamu!" Raina malu.
"Bilang aja kalau kamu terpesona akan ketampanan ku, Raina. Aku tahu kok, jujur aja." Fadli tertawa.
"Kamu seneng banget ya ngisengin aku! Mau kamu apa sih?" tanya Raina kesal.
"Mau aku, kamu jujur atas perasaanmu padaku, jangan menghindar terus, aku jadi semakin suka menggoda mu."
"Apa? Jujur? Aku sudah jujur!" Raina tak mau kalah.
"Ya sudah, tak apa. Aku tahu, kamu masih malu. Aku akan tetap menunggu sampai kamu siap mengatakan bahwa kamu mencintaiku."
"Fadli, narsis mu sungguh luar biasa sekali ya!" Raina geleng-geleng kepala.
"Yang luar biasa itu bukan aku, tapi gengsi mu, Raina." jawab Fadli tak mau kalah.
Raina mencubit pipi Fadli sangat keras. Raina kesal, Fadli selalu saja menggodanya.
"Aarrggghhh, sakit, sakit. Raina, lepas! Sakit tahu, aduuuuuh!" Fadli mengaduh kesakitan karena Raina terus daja mencubit pipinya.
*Bersambung*
__ADS_1