Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Aku hanya iseng!


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Fadli.


"Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin kamu percaya saja, kalau aku telah memutuskannya." jawab Raina.


"Jangan sok kuat, aku tahu kamu mengatakan hal itu karena terpaksa!" jawab Fadli.


"Terpaksa apa?"


"Memangnya kamu tak takut, aku meniduri mu malam ini?" tanya Fadli.


"Tidak, siapa takut! Aku ingin kamu tau rasa saja, kalau aku memang sudah putus dengan Bayu dan mau merelakan semuanya untukmu!" ucap Raina.


"Really? Are u not afraid? Mengapa terkesan kamu seperti sedang menantang ku, Raina?" Fadli beranjak duduk.


"Coba saja kalau berani!" Raina kembali ke ranjangnya.


Fadli yang merasa tertantang segera berdiri dan mengikuti Raina menuju ranjangnya. Ingin rasanya memeluk tubuh mungil itu, namun tubuh Fadli pun bergetar hebat. Fadli benar-benar gugup.


Fadli memberanikan diri memeluk tubuh Raina dari belakang. Raina kaget, mendapat sentuhan dari Fadli. Raina kira, Fadli tak akan bereaksi seperti ini. Raina kira, Fadli akan takut dan tak siap jika harus melakukan hal itu sekarang.


Astaga! Dia memelukku dari belakang. Apa dia akan berani melakukan hal itu padaku? Oh, tidak. Jangan, Fad, jangan! Aku hanya iseng mengetes mu! Aku hanya ingin tahu respon mu, Fadli. Kenapa kamu malah menganggapnya serius? Bukankah harusnya kamu juga takut jika harus melakukan hal itu, hah?


"Mmh, Fad, kenapa kamu berani banget hah! Lepas, aku pengap." Raina ingin melepaskan pelukan Raina.


"Bukankah ini yang kamu inginkan, Raina?" tanya Fadli.


Bukan main, begini kah rasanya? Jantungku hampir mau copot saja rasanya. Ya ampun, aku tak sanggup meneruskan perbuatan ini. Kenapa melakukannya terasa sangat sulit? Kenapa di video itu, mereka mudah sekali melakukannya? Tapi, aku? Kenapa aku berdebar begini? Astaga, Raina, tubuhmu benar-benar hangat. Batin Fadli.


"A-aku, aku memang bilang begitu. Ta-tapi, aku masih tak tahu apakah aku sanggup atau tidak melakukannya." Raina benar-benar gugup.


Fadli benar-benar tak tahan, ia langsung memangku Raina. Raina kaget, dan meronta-ronta, tapi Fadli tetap tak mendengarnya. Fadli menjatuhkan Raina keatas ranjangnya. Hingga kini, mereka berbaring bersama didalam ranjang yang empuk itu.


"Fad, kenapa kamu..." Raina benar-benar kaget tak mengerti.


"Bukankah, ini yang kamu inginkan?" Fadli mencoba stay cool, meskipun dalam hatinya benar-benar berdebar tak karuan.


"A-aku, aku hanya bercanda, aku tak bermaksud serius, aku, Fad, aduh, aku benar-benar," Raina tak mampu berkata-kata.


Kamu gugup, istriku? Sama, aku pun! Jantungku rasanya mau meledak jika harus terus berdekatan denganmu seperti ini! Kenapa kamu berani-beraninya menantang ku? Aku jelas tertantang, tapi ternyata, melakukannya tak semudah melihat di video. Ini benar-benar pengalaman pertama bagiku. Rasanya, aku tak sanggup meneruskan hal ini. Ah, tidak, Raina. Aku tak berani menyentuh tubuhmu. Aku terlalu takut. Batin Fadli.


"Kenapa kamu jadi gugup begini? Bukankah kamu yang memintanya duluan?" tanya Fadli.

__ADS_1


"Ta-tapi, aku merasa, hatiku, aduh, Aarrrgghhh! Fadli. Aku tak tahan. Lepas, pergi sana!" Raina mendorong-dorong tubuh Fadli.


"Rai, kenapa kamu egois sekali? Kenapa kamu menantang ku kalau ternyata kamu sendiri takut!" gerutu Fadli.


"A-aku, bukan maksudku menantang mu, aku hanya ingin tahu saja apa respon mu, bukan berarti kamu harus begini, Fad." Raina ketakutan.


Bukan berarti harus begini gimana? Aku kan hanya mempraktekkan apa yang aku lihat semalam. Ternyata, rasanya tak semudah melihatnya. Sekarang ini? Aku tak tahu, harus apa dan bagaimana. Mungkinkah aku harus mencium mu seperti yang ada di video itu? Aduh, aku benar-benar tak sanggup, Raina. Aku sangat malu..... Aku malu pada diriku, dan juga padamu. Aku belum pernah mengalami hal seperti ini. Batin Fadli.


"Ya sudah, aku akan mencobanya sekarang! Kamu yang menantang ku, kamu juga yang harus menerima konsekuensinya!"


Fadli berbicara sok berani, padahal ia sendiri pun benar-benar gugup dan takut. Fadli mengingat video semalam, dimana si laki-lakinya mendekat, dan mengarahkan bibirnya pada bibir sang wanita. Masih teringat jelas bayangan video itu dalam otak Fadli. Perlahan-lahan, Fadli mendekati Raina mencoba mendekati wajahnya dan juga bibirnya, meskipun dalam hatinya membuncah penuh rasa takut dan bimbang. Tapi, Fadli ingin mengetahui, seberapa beraninya ia berbuat sesuatu pada Raina.


"Eh, eh, Fad. Mau apa kamu? Duh, tunggu. Jangan seperti ini. Fad! Ish, kamu nih. Fadli, pergi!!!" Raina menolak saking takutnya.


Fadli menghentikan aksinya. Ia menatap Raina. Ia pun ternyata tak mampu meneruskannya. Tubuhnya kaku, benar-benar gugup, apakah ia bisa mencium Raina?


"Apa? Kenapa?" tanya Fadli.


"Fad, aku takut." ucap Raina.


Memangnya kamu saja yang takut, memangnya tubuhku ini tak bergetar apa? Aku pun jelas-jelas takut Raina! Siapa bilang aku berani meniduri mu? Raina, oh Raina, sepertinya aku harus menonton tutorial lagi, agar aku tak malu dan gugup. Batin Fadli.


"I-iya, tapi, Fad, ketika berdekatan begini, rasanya aku sangat takut dan tak siap. Aku hanya bisa bicara, tapi pada kenyataannya, ternyata aku sangat takut, Fadli. Ada apa denganku sih?" Raina menutup wajahnya, karena takut, Fadli terus mendekati wajahnya.


Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku lancang dan berani-beraninya berkata begitu pada Fadli? Aku hanya ingin membuktikan pada Fadli, kalau aku benar telah memutuskan Bayu. Kenapa kata-kata merenggut kesucian malah keluar dari mulutku? Aku benar-benar tak mengerti, kenapa mulutku selancang itu? Kenapa juga Fadli jadi berani begini? Kukira, kamu tak berani, Fad.


"Kamu yang meminta, kamu juga yang ketakutan. Kenapa kamu labil seperti ini sih, Rai? Kenapa tak kita coba saja dulu?" Fadli benar-benar terbawa suasana.


"Mmh, anu, Fad, aku, gimana ya, aku benar-benar takut, aku tak siap, ak,..." ucapan Raina terpotong.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kamar Raina dan Fadli ada yang mengetuk. Seketika itu pula, Fadli refleks melepaskan tangannya yang menempel di bahu Raina. Raina akhirnya bisa bernafas lega, setelah beberapa saat tadi rasanya ia kesulitan bernafas.


Hahhhh, Lega, benar-benar menegangkan. Aku benar-benar tak sanggup bernafas saat tubuhnya terus mendekati aku. Terima kasih, wahai engkau, malaikat yang berada di luar pintu kamarku. Batin Raina.


Aaah, lega. Inikah rasanya bercinta? Tapi, aku belum mendapatkannya. Aku merasa, belum siap. Aku harus bagaimana agar aku siap menghadapi Raina? Oh, tidak. Jantungku, kenapa debarannya semakin tak beraturan? Batin Fadli.


Raina segera bangun dari tidurnya. Fadli pun kembali duduk di sofa. Raina segera membuka pintu kamarnya. Ternyata, Gita yang mengetuk pintu kamar Raina dan Fadli.


"Hai, adikku sayang. Kamu tidur belum? Aku ganggu gak nih?" tanya Gita ramah.

__ADS_1


"Eh, kakak. Enggak kok, kak. Ada apa?" Raina gugup.


"Ke taman belakang yuk? Ada Dimas dan Intan, mereka ngajak kita BBQ-an. Tapi, gak rame rasanya kalau gak ngajakin pengantin baru. Ikutan yuk Rai? Ajak Fadli juga, Kak Rama udah buatkan kita tenda kecil-kecilan setelah BBQ-an nantia. Itung-itung camping dadakan!" ajak Gita sumringah.


"Mmh, oh oke, kak. Baiklah, aku dan Fadli akan menyusul nanti." jawab Raina.


"Oke, sayang. Kita tunggu dibawah ya!" Gita berlalu.


Malam pertama, yang gagal. Sepertinya, Raina dan Fadli tak bisa melanjutkannya, karena mereka harus berpartisipasi mengikuti acara Kakaknya.


"Mmh, Fad, ki-kita, disuruh Kakak kebawah, mereka mau BBQ-an. Kebawah sekarang aja, yuk." ajak Raina.


Fadli menahan tangan Raina,


"Tunggu!" ucap Fadli.


"A-apa, Fad?" Raina mulai kesulitan bernafas lagi.


Fadli mendekat. Ia memaksakan dirinya mendekati bibir manis Raina. Fadli mengecupnya, Raina kaget, ia tak bisa berbuat apa-apa, Fadli terus mencium Raina, perlahan ia mulai memainkan lidahnya di rongga mulut Raina. Ia terus memainkannya, hingga terdengar lenguhan manja dari Raina.


Ciuman itu berlangsung sekitar 3 menit. Fadli menikmati sensasi ciumannya. Ia memberanikan diri memainkan lidahnya di mulut Raina. Raina gugup, dengan perasaan takut, ia sedikit demi sedikit membalas lidah Fadli yang bermain di bibirnya. Hingga akhirnya Fadli melepaskan ciuman itu dengan lembut. Ternyata, jika dilakukan dengan cinta, tak akan semenakutkan yang dibayangkan Fadli.


"Akhirnya, aku bisa mencium mu, Raina. Maafkan aku, aku benar-benar gugup. Aku harap, besok kamu mau ikut dengan ku pulang ke rumah Bibiku. Jika kamu ikut, aku percaya bahwa kamu telah putus dengan Bayu. Dan, jika kamu ikut, akan ku anggap hari esok adalah honeymoon kita. Aku tentunya akan menagih ucapan mu untuk merenggut kesucian mu. Aku memang belum siap, tapi aku akan mencobanya nanti. Aku akan menguatkan diriku untuk melakukan hal itu. Kuharap, kamu tak mengecewakan aku, istriku." Fadli berjalan lebih dulu meninggalkan Raina.


"Hah? Kenapa kamu jadi agresif begini?" Raina bengong, ternyata, perlahan tapi pasti, kesuciannya itu pasti akan hilang direnggut Fadli.


Esok, Aku harus ikut? Mungkinkah? Honeymoon? Melakukan hal itu? Aaah, aku menyesal berkata padanya mengizinkan ia merenggut mahkotaku! Ternyata, ia menganggapnya serius. Aku harus bagaimana? Apa besok aku pura-pura sakit saja?


*Bersambung*


Hai..


Selamat malam..


Gagal ya percobaan pertama. Geli-geli gimana gitu sih πŸ˜†πŸ˜‚


Semoga, nanti pas honeymoon mereka, gak gagal lagi. Aku takut ditimpuk kelean kalo malam pertamanya gagal terus wkwk


Aku usahakan gol secepatnya πŸ˜‚


Jgn lupa LIKE ya guys, KOMENTAR dan VOTE itu penting untuk dukungan kalian pada cerita ini😍πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2