
Hari sudah gelap. Hati Rama dirundung pilu lagi. Dia mulai teringat kembali akan sosok Gita yang menghilang meninggalkannya. Perasaan sedih itu kembali muncul, Rama menitikkan air matanya, mengenang betapa teganya Gita pergi tanpa perpisahan padanya.
Rasa rindu itu hadir lagi. Membuat suasana hati Rama amatlah kacau. Dia tak fokus akan pekerjaannya. Pekerjaannya terbengkalai, ia sangat hancur. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Gita pergi meninggalkannya.
"Dimas, lo antar gue sekarang." suara Rama didalam telepon
"Baik. tunggu sebentar. Gue kesana sekarang!" Dimas mengerti
Dimas mengerti suasana hati Rama sedang kacau lagi. Dimas tahu apa yang harus dia lakukan. Sebisa mungkin dia harus berada disisi Rama, dia tak boleh meninggalkan sahabatnya itu. Ketika hatinya sedang carut marut seperti ini, ia selalu mengajak Dimas ke diskotik. Ia sekarang sering meminum-minuman keras. Dimas sudah melarangnya, tetapi Rama tetap bersikeras ingin meminum-minuman haram itu.
"Dim, Dimaaaaaaaaas!!! Dengarkan gue. Kenapa Gita tega meninggalkan gue seperti itu?" Rama mulai mabuk
"Dia tak ada pilihan lain, Ram! Gue yakin dia pasti kembali ke pelukan lo!" Dimas menenangkan
"Gita hamil kan? Dia ngidam kan saat itu? Gue tahu dia hamil anak gue kan? Jelasin ke gue, Dim! Gita hamil anak gue kan? HAH? Jawab, Dim!" Rama tak sadar
"Iya, dia hamil anak lo Ram! Dia nanti pasti kembali kesini, lo harus tenangin diri lo." Dimas memegang pundak Rama
"Sekarang dia sedang apa?" tanya Rama lagi
"Dia sedang mikirin elo disana. Lo jangan seperti ini. Gita pasti gak suka lihat lo mabuk-mabukan kayak gini." Terang Dimas
"KALAU GITA GAK SUKA GUE MINUM, GUE JUGA GAK SUKA DIA PERGI NINGGALIN GUE. HARUSNYA DIA ADA DISISI GUE SEKARANG, DIM!" Rama marah, suaranya meninggi
"Iya, iya. Tenang dulu Ram! Kita bisa cari Gita sampai ketemu, lo jangan seperti ini terus. Gue kasian sama lo." Dimas bingung sahabatnya tak pernah seperti ini
Rama pun tepar. Entah sudah berapa botol Vodka yang Rama habiskan. Dimas membawa Rama pulang kerumahnya. Rama tak sadarkan diri. Dimas menyayangkan sikap Gita yang mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat sahabat-sahabatnya.
Seandainya saja Gita meminta pendapat dirinya ataupun Intan, mungkin mereka akan mencari jalan keluar bersama, hal seperti ini tidak akan terjadi.
Dimas melajukan mobilnya dengan cepat. Hari sudah sangat malam sekali. Dia takut mengganggu waktu istirahat keluarga Rama. Bukannya ia tak ingin membawa Rama kerumahnya, tetapi ia takut Ibunya mengira hal yang tidak-tidak. Lebih baik Rama pulang kerumahnya saja, ia akan banyak yang mengurus.
Sesampainya dirumah Rama, satpam membukakan gerbang rumahnya dan segera mengantar Rama masuk kedalam rumah. Dimas mengantar Rama sampai kamarnya. Rumahnya sudah sepi, yang lain pasti sedang tidur.
__ADS_1
Setelah sampai dikamar Rama, Dimas kaget melihat Siska sedang tidur si sofabed kamar Rama.
"Pak, wanita itu kenapa bisa ada disini?" Tanya Dimas heran
"Tuan muda yang menyuruhnya tidur disini." ucap satpam itu.
"Baiklah, biarkan mereka. Kita kembali keluar." Ujar Dimas
"Baik, Tuan!"
*Ada yang aneh, kenapa Rama malah membiarkan Siska tidur sekamar dengannya? Ini tak bisa dibiarkan. Bisa-bisa Rama terjebak lagi dengan kebusukan Siska. Siska memang wanita jahat yang akan mengahalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Git, Kamu sekarang dimana? Kuharap kau segera kembali lagi. Aku sungguh tak tega melihat Rama sehancur ini. Apa kau benar-benar sudah melupakan Rama? Ini sudah dua bulan tak ada kabar darimu. Harusnya kau tak bertindak gegabah seperti ini. Aku harus bisa menemukanmu, agar sahabatku tak terluka seperti ini. -Dimas dalam hati*-
Rama bangun dari tidurnya. Ia antara sadar dan tidak sadar, ia berjalan sempoyongan. Melihat kearah Siska. Ia tersenyum jahat kepada Siska, tak lama ia mendekat kearah Siska.
"Bangun kau, bangunlah wanita ******! HAHAHAHAHAAHHAA" Rama seperti kesetanan
Siska amat kaget melihat Rama berada diatas tubuhnya. Siska mencium bau minuman keras.
"Awww..aww sakit, Ram!!! Sadar kamu!!! Kau sedang mabuk, jangan sakiti aku. Kumohon." Siska memohon ampun.
"Jangan harap kau akan terbebas dariku! Kau sangat menginginkan aku menyetubuhimu kan? Mari, akan kulakukan untukmu. PLAKKKK!!" Rama menjambak sekaligus menampar Rama.
Siska menangis menjerit meminta tolong, tetapi tak ada yang menolongnya, karena ini sudah malam dan kamar Rama kedap suara. Pasti tak akan ada siapapun yang mendengarnya. Siska menangis menahan sakit.
Rama menampar dan memukul Siska berkali-kali. Kekesalannya tak tertahan, dalam keadaan mabuk terlihat sekali bahwa Rama memang depresi. Semua ini jelas karena ulah Siska, Rama tak mungkin akan sejahat ini padanya kalau Siska tak sejauh itu menghancurkan hubungannya dengan Gita.
Rama mencium Siska dengan brutal. Siska kesulitan bernafas. Rama terus membuat Siska menangis, menciumnya sambil terus menjambak rambut Siska. Siska tak kuasa menahan tangis, betapa ia tak menyangka ternyata Rama seperti ini.
Rama membuka paksa piyama Siska, merobaknya dan menjatuhkannya dilantai. Dia memang tak sadar melakukan ini. Tapi tubuhnya sangat bereaksi dengan ganasnya.
"Lihatlah ini. Tubuh murahan mu kau jual berapa kepada mereka? Aku tak sudi menjamah mu sedikitpun! Kau sudah terlalu banyak tidur dengan laki-laki lain. Kenapa kau menangis HAH? Harusnya kau lakukan cara busuk mu seperti kemarin yang membuat aku terlihat seperti orang bodoh!!!" Rama membentak Siska sambil
__ADS_1
"Rama, CUKUP!!! Kumohon hentikan kegilaanmu ini. Kau keterlaluan. Aku ini sedang hamil Rama!!!" Siska menjerit kesakitan
"Peduli setan dengan kehamilanmu!!! Apa aku bunuh saja bayi sialan ini HAH? Bayi yang kau buat dengan lelaki biadabmu!!!" Rama sungguh tersulut emosi
"Jangan, kumohon!!! Kau jangan seperti ini padaku, Rama! Kumohon lepaskan aku. Kumohon maafkan kesalahanku." Siska menangis
Rama tetap menjambak rambut Siska, dia sudah melepas semua baju yang menempel pada tubuh Siska, namun sedikitpun Rama tak ingin menyentuhnya. Ia tak tertarik dengan Siska, benar-benar tak ada gairah kepada Siska
"Kau lihat tubuh kotormu ini kan? Aku tidak bernafsu sedikitpun denganmu. Aku tak ingin menyetubuhimu. Begitupun dulu ketika kau menjebakku, aku tak bergairah sama sekali denganmu. Tetapi, kau bilang aku menyetubuhimu? HAHAHAHAH dasar wanita gila!!! Tak mungkin aku melakukan itu." Rama sangat puas bisa menyiksa Siska seperti ini.
"Rama, kumohon hentikan sikap gilamu ini. Kumohon kau berhenti menyiksaku. " Siska meraung kesakitan.
"Aku belum puas. Kekesalanku tak tertahankan padamu selama ini. Kau tahu? Betapa hancurnya hatiku melihat wanita yang paling kucintai pergi. Kau dengan gampangnya membuat dia pergi. Semua ini karena kau, wanita licik!!! Kau tak ingin aku mencintai wanita lain bukan? Tapi mengapa kau sendiri malah bermain-main dengan lelaki lain? Aku dulu menyayangimu, tetapi kau permainkan rasa cintaku. Sekarang, ketika aku sudah menemukan cintaku, kau malah seenaknya mengusirnya. Ini karma untukmu ********!!!" Rama berapi-api.
"Hentikan!!!!!!! Sudahi perkataan gilamu yang selalu memojokkan ku. Hentikan Rama, kumohon hentikan. Maafkan aku." Siska menutup kupingnya dan memohon pada Rama.
"Kau ingin aku berhenti HAH? Baiklah,aku akan berhenti. Jawab pertanyaanku, bayi yang ada di rahimmu itu anak siapa HAH? Kau harus jujur padaku!!!" Tegas Rama
"Ini jelas-jelas anakmu, Rama!!!" Siska berbohong.
Rama membuka sabuk celananya. Emosinya sudah tak tertahankan. Ia mencambuk punggung Siska dengan keras. Siska menjerit kesakitan.
"Aku akan terus melakukan ini sampai kau mengaku padaku. Katakan sekali lagi dengan jujur. Bayi yang ada di rahimmu itu anak siapa HAH? Jawab dengan jujur atau sabuk ini akan selalu menghujam tubuhmu. Aku tak main-main dengan perkataanku." Rama terlihat bengis sekali
"Rama, kumohon maafkan aku. Aku sangat mencintaimu" Siska tak ingin menjawab
Rama mencambuknya lagi.
"Arghhhh, awww. sakit Rama, kumohon hentikan. Tolong maafkan aku. Baik, aku akan jujur padamu."
Rama membuka handphone nya. Segera membuka fitur kamera di HPnya. Ia akan merekamnya.
"JAWAB sekarang juga!!!!!!!" Rama emosi
__ADS_1
"Sebenarnya, anak didalam perutku ini adalah anaknya ....................."
*Bersambung*