
Cinta itu mudah. Hanya menyatukan genggaman tangan agar tetap erat. Sekeras apapun haluan mencoba memisahkannya, tetaplah erat, tetap genggam dan jangan pernah lepaskan. Cinta itu akan menguatkan dirinya sendiri. Yakinkan hati, tetapkan pada satu harapan. Indah, bahagia kan menanti suatu hari nanti.
Pernikahan Rama dan Gita tinggal menghitung hari. Seluruh undangan telah disebar. Gita tak lupa mengundang semua teman-temannya di masa sekolah, masa kuliah dan rekan kerjanya di perusahaan Rama. Sama hal nya dengan Rama, ia pun mengundang seluruh kerabatnya, bahkan koleganya di perusahaan pun tak lupa ia undang sebagai tamu VIP.
Gita teringat Gilvan. Lelaki yang telah menjadi mantan suaminya itu, apa kabarnya sekarang? Apakah Gilvan tahu bahwa Gita akan menikah? Tetapi, Gita harus mengabari Gilvan dengan cara apa? No handphone Gilvan tidak aktif lagi. Tetapi, Gita teringat ketika Gilvan memberikan kartu identitasnya, ada email Gilvan yang tertera. Mungkin saja, kalau email tak akan dia ganti.
Gita segera melihat kartu identitas Gilvan di dompetnya. Gita melihat alamat email Gilvan. Gita segera membuka laptopnya dan mengirim surel kepada Gilvan
kepada : Gilvanardian01@gmail.com
Dari : Anggitanindya.cans@gmail.com
Subjek : Undangan pernikahan
Dear, Gilvan
Ketika aku tahu kamu pergi begitu saja, hatiku sakit. Aku sedih kau meninggalkanku. Tetapi, aku berterimakasih padamu, karena semua ketulusan hatimu padaku. Aku sangat bersyukur bisa bersamamu meskipun hanya untuk waktu yang tak lama.
Aku mengirim surel ini padamu, ingin memberitahukan bahwa Kak Rama akan menikahi ku. Maafkan aku, kau pasti sakit hati. Tetapi, nyatanya Kak Rama memang ingin bertanggung jawab padaku dan anakku. Semoga kau mengerti, Van! Sungguh, maafkan aku. Aku harap kau bisa datang ke pernikahanku, Hari minggu tanggal 04 Oktober. Minggu ini, Van! Kuharap kau bisa datang. Aku bahagia kalau kau berkenan hadir di acara pernikahanku.
Best wishes,
Anggita Nindya,
Gita telah mengirimkan surel kepada Gilvan. Semoga saja pesannya sampai pada Gilvan. Gita memang berharap Gilvan akan datang ke pesta pernikahannya nanti, karena Gilvan adalah penyelamat hidupnya.
Gita tahu, Gilvan pasti sakit hati membaca surel darinya, tetapi kalau tak memberitahu pun Gita tak enak, mau bagaimanapun Gilvan harus mengetahui pernikahannya. Datang atau tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting Gita telah memberitahu Gilvan.
Laptop Gita berbunyi. Tanda ada pesan masuk. Gita langsung mengeceknya. Ternyata Gilvan membalasnya. Gita segera membacanya.
Kepada : Anggitanindya.cans@gmail.com
Dari : Gilvanardian01@gmail.com
Subjek : Undangan pernikahan
Dear Gita,
Wah, selamat ya. Akhirnya cintamu datang juga. Aku turut bahagia atas kebahagiaanmu dan Rama. Kalian memang berjodoh. Maafkan aku yang mengganggu kalian waktu itu ya, hehehe. Sepertinya aku sibuk minggu-minggu ini. Aku tak bisa datang. Maafkan aku. Nanti, aku akan mengunjungi kalian. Aku janji. Happy wedding. Nanti akan kukirim kado untukmu ya, Git! Bye
Best wishes,
Gilvan, mantanmu
Gita tersenyum membaca surel Gilvan. Dia masih saja bisa pura-pura tegar. Gita yakin, didalam hatinya, Gilvan merasa sakit membaca pesan Gita. Tetapi, Gilvan tetap sok kuat seperti itu. Biarlah kalau Gilvan tak bisa datang, yang penting Gita sudah memberitahunya.
Tanpa Gita sadari, Rama masuk tanpa permisi, karena Rama khawatir Gita sebenarnya sedang apa, anak-anaknya berada diluar, tetapi ia malah di kamarnya sendirian. Rama masuk tanpa sepengetahuan Gita. Melihat Gita dari belakang.
"Apaan itu? Gilvan, mantanmu. Berani sekali dia ya?" Rama mengagetkan Gita
Gita terperanjat. Gita benar-benar kaget mendengar suara Rama dibelakangnya. Gita tak menyangka Rama bisa ada dibelakangnya seperti ini. Ia ketahuan chatting dengan mantan suaminya. Apakah akan seperti di sinetron sinetron itu? Calon suaminya cemburu buta, eaaaakkkkk.
"Ng.. Kamu ngagetin ajasih, Kak! Aku cuma ngasih tau Gilvan tentang pernikahan kita kok!" Jawab Gita
"Tapi, aku gak suka ya dia bilang Gilvan, mantanmu. Apa-apaan itu. Menyebalkan sekali. Beraninya dia!" Rama jealous
__ADS_1
"Kamu cemburu?" Tanya Rama
"Aku tidak cemburu. Untuk apa!" Jawab Rama cuek
"Tapi kamu terlihat sekali cemburu padaku. Jujur sajalah, tak usah jual mahal seperti itu. Aku bisa lihat dari matamu!" Gita menebak
"Sudah kubilang, aku tidak cemburu sedikitpun!" Suara Rama mengeras
"Baiklah, baiklah. Kau memang tidak cemburu!" Gita mengalah
"Nah, gitu dong. Lagian kamu, ngapain ngundang si Gilvan sih, jadi dia kegatelan deh!" Rama sewot
"Tuh kan, kakak sewot terus!" Gita terkekeh
"Siapa yang sewot sih!" Rama terlihat kesal
"Kakak! Kak Rama sewot banget! Lagian, Gilvan juga gak akan datang kok!" Ucap Gita
"Baguslah, biar nanti saja kita yang menemuinya." Jawab Rama
"Kita akan ke Johor lagi?" Tanya Gita
"Aku masih punya hutang sama dia." Ujar Rama
"Hutang apa kak?" Tanya Gita
"KEPO!!!β Rama menjulurkan lidahnya
" Idih, nyebelin banget sih! Udah sana, keluar. Ngapain lama-lama disini." Gita kesal
"Kak, kok dikunci sih?" Gita mulai khawatir
"Kamu yang memancingku untuk mengunci pintu ini." Rama mendekat kearah Gita.
"Kak, jangan nakut-nakutin terus dong! Gak lucu tau!" Gita yang duduk di ranjang bergeser, karena Rama semakin mendekat.
Rama naik ke atas kasur Gita. Dia mendekat kearah Gita. Gita mulai khawatir. Gita menutup muka dengan tangannya. Tapi, Rama membuka perlahan tangan Gita dengan lembut. Gita menutup matanya, Rama mendekatkan wajahnya ke wajah Gita. Rama memegang wajah Gita.
"Kamu jangan membuatku cemburu terus! Itu membuatku semakin ingin memakan mu. Wajahmu, kamu cantik sekali malam ini. Kamu membuatku tergoda. Maafkan aku, izinkan aku sekali ini saja....." Rama mendekatkan bibirnya ke bibir Gita.
Mereka berc*uman. Bibir mereka berpagutan. Gita membalasnya. Tetapi, masih malu-malu. Rama menikmati setiap saat sentuhannya. Sungguh, hanya Gita yang membuatnya bisa bernafsu seperti ini. Wajah cantiknya, dan suaranya membuat Rama tak tahan.
Rama melepaskan ciumannya. Gita terlihat kaget. Ia malu, wajahnya merah padam. Rama sukses membuatnya gelisah. Gita menikmati c*uman yang diberikan oleh Rama.
"Kak...." Gita malu.
"Maafkan aku, bibirmu selalu saja menggodaku!" Ucap Rama
"Kenapa kau selalu saja menyalahkan ku?" Gita cemberut
"Kau terlalu cantik hingga membuatku tak tahan akan lembutnya bibir manis mu!" Jawab Rama
"Apaan sih, Kak Rama! Aku malu." Gita malu, wajahnya sudah seperti udang rebus
"Kau tak perlu malu, sebentar lagi kau akan menjadi istriku. Biasakanlah melakukan hal itu. Agar kau tak canggung dimalam pertama kita nanti." Rama tertawa kecil
__ADS_1
"Malam kedua, bukan malam pertama!" Gita memperjelas
"Malam pertama dong sayang! Waktu itu kan karena keterpaksaan! Kali ini lain lagi, kau pasti sangat menikmatinya." Rama jahil
"Kak Rama kenapa sih obrolan mu seputar itu-itu saja? Aku sungguh tak nyaman!" Gita mengalihkan pembicaraan
"Kita kan calon pengantin baru! Apa salahnya membahas masalah ranjang. Bukan begitu?" Rama terkekeh
"Nanti juga akan mengalaminya. Tak perlu dibahas segala!" Gita kesal
"Tapi aku senang membahasnya. Membuatku tambah bersemangat!" Rama senang
"Sudah, lupakan!" Gita malas membahasnya
"Kenapa sih? Kamu sensitif sekali?" Tanya Rama
"Obrolan mu membuatku kesal, tahu!!!β Jawab Gita
" Tapi enak kan? hihihi" Rama membuat Gita kesal
"Aku tak mau kalau kita terus membahas masalah ranjang. Takutnya kamu tak bisa menahan." Gita sedikit Ragu
"Tak bisa menahan kenapa? Kalau aku tak tahan, kenapa tidak? Mari kita lakukan sekarang! Toh, kita akan segera menikah kan? Apa salahnya?" Rama terkekeh.
"KAK RAMA!!!!!!!!!" Gita kesal
"Kenapa? Kau ingin sekarang?" Tanya Rama jahil
βTidak! Sama sekali tidak!" Jawab Gita mantap
"Kamu pura-pura. jangan malu-malu di depanku!" Rama melihat Gita
"Aku tidak pura-pura! Aku serius!" Jawab Gita
"Aku juga serius. Aku serius ingin tidur denganmu!" Rama gombal lagi
"TIDAK, SEKALI TIDAK TETAP TIDAK!" Tolak Gita
Rama mendekat kearah Gita. Rama berada di atas Gita, Gita tak bisa berbuat apa-apa.
"Semakin kau menolak, semakin hasrat ku ingin tidur bersamamu! Sekarang ya, Git?" Rama memohon
"Jangan kak, aku belum siap." Pinta Gita
"Tapi, Git. Juniorku sudah bangun. Kau membangunkannya barusan!" Rama mengelak
Gita mendorong Rama, membalikan badannya dan segera bangun lalu berdiri.
"Itu bukan urusanku! Aargghhh. Berat sekali kau! Sudah, jangan ganggu aku. Aku akan pergi menemui anak-anak. Bye!" Gita pergi
"Gitaaaaaaaaaaaa!!! Awas kamu ya!!!!!!β Rama kesal
*Bersambung*
Happy reading ya readers.. yang hanya membaca sesekali kasih komentarnya dong.. Aku pengen lihat siapa aja yang baca. Kalian semua dari daerah mana aja sih? Salam kenal ya dari aku, Irna mahda Rianti. Aku penulis asal Cianjur, JawaBarat. Kalau dekat siapa tahu kita bisa bertemu hihihi
__ADS_1
Jangan lupa, like komen dan komentarnya ya ππ€