Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Pertemuan


__ADS_3

Givan merenung dilantai dua kamar ruko nya. Ia terlalu malu untuk menemui Vina. Niat dan ambisinya untuk bisa bersama Vina, hilang begitu saja, saat Gilvan melihat Vina bersama seorang laki-laki.


Gilvan membuka mobile banking di handphonenya. Gilvan mengirim sejumlah uang pada rekening Rama. Gilvan belum mau menemui Rama saat ini. Hati Gilvan masih kacau balau. Gilvan berniat, setelah bertemu Vina, barulah akan menemui Rama, namun semua sudah tak ada harapan lagi, untuk bertemu Rama pun Gilvan sangat malu.


Gilvan akan mencicil uang pada Rama, kali ini, dia mentransfer uang sebanyak 50 juta. Dengan harapan, restoran Gilvan akan berkembang pesat, agar Gilvan bisa segera melunasi hutang-hutangnya pada Rama.


Gilvan sadar diri, ia tak mungkin menemui Vina lagi, karena Gilvan tak mau mengganggu wanita yang telah bersuami. Gilvan tahu, cintanya memang harus serumit ini. Dirinya memang harus menjalani semua ini dengan ikhlas.


Gilvan akan mencoba melupakan Vina, kalau Vina memang sudah melupakannya. Sepertinya, tak ada harapan lagi untuk Gilvan bersama Vina. Semuanya hanya tinggal angan-angan semu.


Tapi, aku tak pernah memberikan ucapan terakhirku padanya. Walaupun dia telah berstatus, aku ingin mengucapkan salam perpisahan ku padanya, sekaligus memberikan selamat telah memiliki suami dan anak yang menyayanginya. Tapi, kapan aku bisa menemuinya? Aku tak ingin suaminya tahu kalau aku bertemu dengannya.


Gilvan mencoba mengecek kembali handphonenya, beberapa kali ia mencoba melihat-lihat nomor handphone Vina. Lalu, mencoba menghubunginya, namun tetap tak bisa.


Waktu telah berlalu 5 tahun semenjak kepergian Gilvan, dan Gilvan baru mengaktifkan kembali handphonenya setelah ia sampai di Indonesia. Namun, hasilnya nihil. Handphone Vina sudah tak aktif.


Gilvan bingung, harus kemana dan bagaimana ia agar bisa bertemu dengan Vina. Gilvan tak mau, meminta bantuan pada Rama dan Gita, Gilvan terlalu malu, jika mereka harus selalu dibawa-basa dalam masalah pribadi dirinya.


***


Pagi sekali, Gilvan memantau kembali rumah Vina. Gilvan berharap, Vina akan keluar rumahnya sendiri. Dua jam Gilvan menunggu, ternyata benar saja Vina keluar dari rumahnya, namun ia hanya sendiri. Vina naik ojek online, dan Gilvan terus mengikutinya.


Betapa kagetnya Gilvan, ternyata Vina berhenti di Angkasa Putra Group. Lalu, vina masuk kedalam perusahaan milik sahabatnya tersebut.


Sudah berapa banyak hal yang telah aku lewati. Kini, baru aku tahu ternyata Vina bekerja di perusahaan Rama. Gita, Rama, apa kabar kalian? Aku merindukan kalian. Semoga kalian tetap selalu sehat, dan bahagia. Terima kasih, telah menerima Vina, dan melindunginya selama ini. Batin Gilvan.


Gilvan tahu, bekerja di perusahaan Rama setidaknya menghabiskan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam. Akhirnya, Gilvan memutuskan untuk pulang dulu, ia akan membantu karyawannya menata restoran ayam goreng khas Amerikanya.


Sesampainya Gilvan di ruko, karyawan Gilvan mendatanginya.


"Pak, ada seseorang yang ingin melamar kerja di resto kita." ucap karyawati Gilvan


"Siapa? Apa kita kekurangan karyawan?" tanya Gilvan


"Sebenarnya, kita bertiga masih kewalahan Pak, apalagi promo masih berlangsung, pembeli kadang selalu antri di waktu jam makan siang dan malam." ucap karyawati itu


"Baiklah, dimana orangnya? Saya akan menemuinya." jawab Gilvan.


Gilvan masuk kedalam, ternyata ada seorang pemuda yang menunggunya.


"Selamat pagi, Pak Gilvan." pemuda itu menundukkan kepalanya


"Pagi, ada yang bisa saya bantu? Saya dengar, kamu ingin melamar pekerjaan disini? Iya?" tanya Gilvan

__ADS_1


"Iya, Pak. Saya ingin bekerja di resto ini, karena saya baru saja berhenti dari pekerjaan lama saya." jawabnya


"Kenapa? Oh iya, siapa namamu?" tanya Gilvan lagi


"Saya bekerja di sebuah rumah, namun pemilik rumah tersebut menjual rumahnya, jadi saya tak bisa bekerja lagi. Nama saya Fadli, Pak." jawab Fadli


"Kamu bekerja sebagai apa dulu?" tanya Gilvan lagi


"Saya sebagai cleaning service didalam dan diluar rumah, Pak. InsyaAllah, saya bisa membersihkan restoran ini juga, saya sudah berpengalaman." ucap Fadli


"Gak perlu, lebih baik kamu belajar meracik bumbu untuk ayam goreng kami, aku akan menerima mu, karena tiga karyawan ku kewalahan saat ini." ucap Gilvan seraya tersenyum pada Fadli


"Pak Gilvan serius? Alhamdulillah, terima kasih Pak, terima kasih banyak."


"Mulailah bekerja, semoga kamu bisa memuaskan saya."


"Tentu saja, Pak."


Gilvan mulai serius dengan restorannya. Restoran Gilvan cukup banyak peminatnya, karena selain tempatnya strategis, ayam goreng buatan Gilvan pun rasanya enak. Selama di USA, Gilvan benar-benar belajar membuat ayam goreng yang enak khas resto tempat ia bekerja.


***


Tiba saatnya Gilvan akan menemui Vina. Gilvan sedang menunggu kedatangan Vina diseberang jalan. Dengan sabar menanti, Gilvan berharap bisa menemui Vina. Meskipun Gilvan tahu, kemungkinan kecil untuk bisa menemuinya.


Ternyata, dewi fortuna berpihak pada Gilvan, Gilvan melihat Vina yang sedang berjalan menuju keluar gerbang perusahaan. Gilvan bahagia, sebentar lagi ia harus bisa bertemu Vina.


Vina naik taksi, Gilvan segera mengikutinya dari belakang. Dengan harapan, Vina tak akan bertemu siapapun. Jadi, Gilvan bisa leluasa bertemu dan berbicara dengannya.


Taksi pun turun disebuah supermarket. Ternyata, Vina akan berbelanja, pikir Gilvan. Gilvan segera memarkirkan mobilnya, dan tetap mengawasi Vina dari belakang.


Gilvan melihat, Vina semakin cantik dan dewasa. Penampilannya kini lebih memukau. Vina membeli kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan yang lainnya. Andai Gilvan yang menjadi suaminya, ia pasti selalu setia mengantar kemanapun Vina pergi.


Vina menuju kasir, ia membawa semua belanjaan kebutuhannya selama sebulan penuh.


"Berapa semuanya Mbak?" tanya Vina


"Semuanya 445.000 Mbak, ada kartu membernya?' tanya pelayan itu


"Ada, tunggu sebentar."


Vina memberikan uang sebanyak 450.000 kepada kasir supermarket tersebut.


"Mbak, apa uang lima ribunya boleh di donasikan?" tanya sang kasir dengan santainya

__ADS_1


"Boleh, ambil saja!" ucap Vina tak mau ribet


"Terima kasih, Mbak."


Vina telah selesai belanja, lalu Vina segera pergi keluar supermarket. Saat itulah, Gilvan bersiap. Gilvan akan segera menemui Vina, sebelum semuanya terlambat.


Kebetulan sekali, Vina keluar menuju pintu belakang supermarket. Tempatnya sepi, tanpa aba-aba, Gilvan segera berlari mendekati Vina.


Gilvan yang sudah takut kehilangan jejak Vina, terus berlari hingga sampai di belakang Vina. Ia segera memegang paksa tangan Vina. Betapa terkejutnya Vina, hingga plastik belanjaannya jatuh kelantai. Mata Vina tak berkedip, ia melotot tajam. Matanya fokus melihat lelaki yang menghentikannya.


"Tunggu sebentar!" ucap Gilvan


Lelaki yang beberapa tahun ini selalu menghantui pikirannya, lelaki yang selama ini ia rindukan. Lelaki yang telah menyakitinya, lelaki yang menghilang tanpa kabar. Lelaki yang membuat luka mendalam di hati Vina.


Untuk apalagi lelaki itu datang? Setelah semua luka menghujam tubuh dan hati Vina, kini ia datang tanpa dosa, menampakkan dirinya dihadapan Vina.


"Vina, aku merindukanmu. Maafkan aku!"


"GILVAN? Kau masih hidup? Untuk apa kau menemui ku lagi?" Vina kaget


"Aku ingin menjelaskan semuanya padamu, maafkan aku!"


"Untuk apa kamu menemui ku? Setelah sekian lama kamu menghilang tanpa jejak! Pergilah, aku sudah tak ada urusan lagi denganmu. Aku sudah menganggap kamu mati."


"Vina, jangan seperti ini. Aku ingin menjelaskan semuanya padamu."


"CUKUP! Aku akan pulang. Jangan ganggu aku dengan semua omong kosong mu."


Vina berlari meninggalkan Gilvan, namun Gilvan tak patah arang, ia mengejar Vina, Ia berlari sekuat tenaganya, agar bisa melampaui Vina. Akhirnya, Gilvan bisa memegang tangan Vina.


Dengan cepat Gilvan membalikkan tangan Vina agar berhadapan dengan Gilvan. Vina kaget, ia tak bisa melawan Gilvan. Tenaganya terlalu kuat, untuk seorang wanita lemah seperti Vina.


Gilvan memeluk Vina erat. Gilvan larut dalam kesedihan, ia benar-benar ingin memeluk Vina dalam-dalam. Kerinduannya tak bisa ditahan lagi, Gilvan hanya bisa menitikkan air mata ketika memeluk wanita yang selama ini ia sia-siakan.


Sebenarnya, Vina kaget. Vina tak siap dengan kehadiran Gilvan, Vina bingung dengan apa yang ia lihat. Vina masih tak percaya bahwa gilvan ada dihadapannya saat ini.


"Maafkan aku, kumohon dengarkan penjelasan ku. Jangan pergi dulu, izinkan aku memelukmu, aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Kumohon, jangan lepaskan pelukan kerinduan ku ini."


*Bersambung*


Halo, makasih udah menyempatkan membaca ya..


Jangan lupa like dan komen man teman.. Beri vote juga ya untuk ceritaku ini. Aku harap, kalian suka sama ceritanya. 💋🤗

__ADS_1


__ADS_2