
"Aku harus bagaimana Ram?" tanya Gilvan lewat teleponnya
"Besok kamu bawa 150 box nasi lengkap dengan ayam dan sambal geprek, untuk semua staff-ku, dan 50 box yang lebih banyak dan menunya lengkap ntuk para petinggi perusahaaan. Saat itu juga, kamu bisa datang ke perusahaan ku, dan kamu bisa berbincang bersama Vina. Aku akan mempertemukan kamu dengannya."
"Apa cara itu akan berhasil? Bukankah laki-laki itu bekerja se-ruangan dengan Vina? Bagaimana kalau mereka terus bersama?" tanya Gilvan
"Gita akan membawa Vina ke ruangannya. Kamu bisa berbicara dengan tenang di sana. Aku sudah berbincang dengan Gita masalah ini. Tenanglah, kamu berusaha saja, soal hasilnya, serahkan pada yang di atas." saran Rama
"Kamu benar, Ram. Terima kasih banyak. Tapi, apa kamu benar akan memesan nasi box sebanyak 100 porsi?" tanya Gilvan lagi
"Tentu saja, karena aku akan membuat kejutan untuk semua karyawan ku. Dan aku juga membantu mengembangkan usahamu. Bukankah ayam racikan mu memang sangat enak? Karyawan dan staff-ku pasti akan menyukainya." ucap Rama
"Terima kasih sekali, Ram. Kamu memang benar-benar teman yang baik."
"Sudah seharusnya aku begini, Van."
***
Keesokan harinya, Gilvan menyuruh semua pekerjanya untuk datang pagi-pagi sekali, karena hari ini ada pesanan catering 200 box nasi ke perusahaan Rama.
Gilvan meminta Fadli dan Ara untuk ikut Gilvan ke perusahaan Rama, agar mereka berdua yang mengatur dan membagikan pada semua karyawan.
Ara tentu senang sekali, karena dirinya memang senang melihat cowok-cowok ganteng karyawan perusahaan.
"Makasih ya Pak Gilvan, udah ajak Ara ikut ke Angkasa Putra Grup."
"Kenapa sumringah banget kamu?" tanya Gilvan
"Dia itu emang ganjen, Pak. Dia suka lihat cowok-cowok ganteng, apalagi cowok yang kerjanya di perusahaan. Matre dia!" ucap Fadli meledek Ara
"Pantas saja, si Ara kemaren merhatiin Rama sampe fokus banget. Emang seleranya dia tinggi. Bagus itu, lanjutkan Ra! Tapi, ingat! Jangan pernah merebut sesuatu yang sudah jadi hak orang lain." ucap Gilvan
"Lah, kok Pak Gilvan malah nyemangatin si Ara sih?" Fadli heran
"Cewek kayak Ara itu tipe pemilih, dia sepertinya gak mudah jatuh cinta pada sembarang orang. Levelnya tinggi, seleranya gak cuma itu-itu aja. Cari cowok yang mapan dan sholeh ya Ra! Itu pesanku." ucap Gilvan
"Waaah, Pak Gilvan tahu aja kalau aku ini emang pinter nyari cowok! Thanks banget dukungannya Pak! Aku padamu deh." Ara cengengesan
"Eh, Ra! Kalau kamu pinter nyari cowok, sekarang juga kamu pasti sudah punya pacar. Minimal ada cowok yang suka sama kamu gitu! Tapi, nyatanya enggak kan? Hahaha!" Fadli puas
"Fadli, kurang ajar!!!" Ara kesal
"Sudah, sudah. Ayo, packing nasi box nya. Segera masukan ke mobil pick up ya. Karena mobilku akan membawa pesanan vip."
"Baik, Pak." sahut Ara dan Fadli bersamaan
__ADS_1
Mereka telah mempersiapkan pesanan cathering untuk perusahaan Rama. Rama memang pintar, dia bisa membuat keuntungan dua kali lipat untuk Gilvan atas perbuatannya. Gilvan mendapat orderan banyak, dan Gilvan juga bisa mempunyai kesempatan untuk bertemu Vina.
Gilvan naik mobilnya sendiri, sementara Fadli dan Ara naik mobil pick up bersama. Mereka tiba di perusahaan sekitar pukul 10.30 WIB. Mereka harus menyiapkan daftar nama-nama untuk semua karyawan, agar dibagikan dengan teratur.
Gilvan masuk kedalam perusahaan. Security mengantarnya menuju tempat kerja Rama. Gilvan baru tahu, perusahaan Rama ini begitu luas dan besar. Ini hanya kantornya saja yang sudah luas, bagaimana dengan tempat produksinya, pasti lebih luas dari ini.
Tok.. Tok.. Tok...
"Siang, Ram." sapa Gilvan
"Wah, udah dateng aja nih. Udah lengkap Van?" tanya Rama
"Udah, Ram. Fadli yang mengatur semuanya." ucap Gilvan
"Semuanya berapa, Van?" tanya Rama
"Untuk yang 150 porsi harga satuannya 30 ribu, Ram. Jadi, 4,5 juta. Untuk yang VIP, 50 ribu. VIP 50ribu kali 50 box jadi 2,5 juta. Semuanya 7 juta Ram." jawab Gilvan
Rama mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas kerjanya.
"Ini, 10 juta. Lebihnya buat kamu, Van." ucap Rama
"Ram, tak perlu. Aku hanya butuh pokoknya saja." jawab Gilvan sungkan
"Baik, Ram. Terima kasih."
Gilvan mulai membagikan satu per satu nasi box pada semua karyawan. Tiba-tiba, Gilvan mendapat pesan dari Rama, agar segera menuju ruang kerja Gita. Gilvan di instruksikan untuk pura-pura mengantar nasi box Gita, namun di sana sudah ada Vina, Gita akan pergi keruangan Rama. Agar Vina dan Gilvan leluasa berbicara.
Gilvan mengerti. Dia mengantar satu nasi box ke ruang kerja Gita. Gilvan gugup, ia merasa siap tak siap harus mengatakannya pada Vina. Gilvan memang tahu, Vina pasti menolaknya jika Gilvan meminta untuk kembali padanya. Namun, Gilvan pun ingin bertemu anaknya.
Gilvan ingin mencium Givia. Gilvan ingin memeluknya, meluapkan rasa rindu yang selama ini terbengkalai. Gilvan ingin meminta maaf pada putri semata wayangnya, karena telah mengabaikannya. Gilvan benar-benar menyesal atas perbuatan egoisnya dahulu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Selamat siang, Git. Ini nasi box mu." ucap Gilvan pura-pura
Vina yang sedang duduk di sofa, seketika berbalik mendengar asal suara. Vina tahu, suara itu.
"Gilvan? Ngapain kamu kesini?" Vina kaget
"Eh, Vina. Aku akan mengantar nasi box untuk Gita. Gita mana? Kebetulan sekali kita bertemu disini." ucap Gilvan
Vina berdiri, melihat Gilvan. Ia canggung sekaligus tak nyaman, ketika di ruangan Gita harus bertemu dengan Gilvan
"Gita sedang pergi ke toilet. Oh, jadi kamu yang cathering semua pesanan karyawan. Yasudah, aku akan pergi sekarang. Simpan saja nasi box itu di meja kera Gita."
__ADS_1
Vina beranjak pergi, lagi-lagi Gilvan menahannya. Gilvan mencengkeram tangan Vina dengan erat. Vina meronta, namun Gilvan tetap tak melepaskannya.
"LEPAS! Aarrggghh."
"Vina, jangan menghindari ku terus. Aku ingin bicara padamu." ucap Gilvan
Gilvan menutup pintu ruang kerja Gita. Gilvan tak ingin orang lain tahu, bahwa dirinya sedang berbicara dengan Vina.
"Buka pintunya!!!" bentak Vina
"Vin, dengarkan aku. Ada satu hal yang membuatku kecewa padamu. Aku ingin kamu berkata jujur." ucap Gilvan
"Apa maksudmu? Aku tak merasa mengecewakanmu!" bantah Vina
"Aku benar-benar kesal padamu. Kenapa dirimu ini benar-benar egois Vin?" tanya Gilvan
"Maksudmu, aku egois? Apa pertanyaan mu itu tak terbalik Van? Harusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa dulu kamu begitu egois hingga mementingkan dirimu sendiri daripada aku? HAHHHH?" tanya Vina
"Kamu lebih egois, Vin. Kamu tega-teganya menyembunyikan anakku dari Ayahnya sendiri. Kenapa kamu sejahat ini HAHH?"
BBRAKKKKKKK, Gilvan menggebrak meja membuat Vina terperanjat kaget. Gilvan benar-benar marah dan kecewa atas perbuatan Vina.
"Gi-Gilvan, ka-kamu tahu apa? Kenapa kamu berkata begini?" tanya Vina gugup
Gilvan melempar surat lusuh yang pernah Vina tulis, Gilvan melemparkannya tepat pada Wajah Vina. Vina mengambil surat itu. Lalu, ia melihatnya. Vina menitikkan air mata..
"Kenapa surat ini bisa ada di tanganmu lagi? Bukankah?" ucapan Vin terpotong
"Apa aku terlihat begitu bodoh di matamu?" tanya Gilvan
"Tidak, tidak. Bukan maksudku begitu. Ke-kenapa surat itu bisa berada di tanganmu lagi?" Vina benar-benar mati kutu
"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kamu lakukan. Bawa aku bertemu dengan darah daging ku sendiri."
"Itu tidak akan pernah terjadi, Van!" Vin tetap keras kepala.
*Bersambung*
Halo..
Maaf ya aku kalo gantung. karena aku senang yang menggantung, 😂 kalian juga jadi akan terus teringat sama akhirnya, jd gak lupa dengan cerita sebelumnya. seperti biasa, kalau ingin cepat up jgn pelit jempol dan komentar hehehee
Jangan lupa like dan komentarnya ya say.. selalu aku tunggu respon kalian😗😘
Jangan lupa vote juga, karena vote untuk cerita ini sudah makin berkurang. Makasih atas dukungannya yaaa ❤❤❤
__ADS_1