Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
pertemuan pertama


__ADS_3

Pagi ini, setelah Gilvan mengantar Givi berangkat ke sekolah, juga mengantar Vina ke kantor, Gilvan kembali ke restorannya. Sudah beberapa hari ini, Gilvan melupakan restorannya. Untungnya, dia sudah mempercayakan semuanya pada Fadli.


Suasana restoran Gilvan, makin hari makin ramai saja. Tak sia-sia perjuangannya dulu bekerja keras dan belajar di USA, akhirnya Gilvan bisa memetik hasilnya. Terlihat, Fadli sedang menulis di meja kasir.


"Fad, bagaimana kondisi restoran?" tanya Gilvan


"Wah, Pak Gilvan kemana aja sih? Sibuk banget. Bener-bener deh, Pak. Aku keteter. Akhir-akhir ini, restoran banyak banget pelanggan. Baik pas waktu sarapan, maupun makan siang. Dan malam pun juga ramai terus." jelas Fadli


"Wah, wah.. Aku melewatkan banyak hal. Sepertinya, aku harus mencari karyawan baru lagi untuk membantu kamu. Karena, sepertinya kedepannya aku akan kurang fokus pada restoran." jelas Gilvan


"Kok gitu sih Pak?" Fadli heran


"Aku akan menjadi Ayah. Jadi, tugasku sebagai pemilik restoran, akan terbagi dengan kewajiban ku mengurus anakku!" jawab Gilvan senang


"HAH? Serius, Pak? Wah, wah, wah.. Saya turut bahagia ya, Pak. Akhirnya, Bapak dan Mbak Vina bisa menemukan jalannya." Fadli ikut senang


"Terima kasih, Fad. Untuk itu, beberapa hari ini aku akan sibuk. Aku akan pergi menemui keluargaku di Jakarta. Aku akan mengenalkan Vina dan putriku pada mereka." ucap Gilvan


Fadli sedikit berpikir. Akankah keluarga Gilvan menyetujuinya, karena Fadli pun tahu hubungan Bosnya dengan Vina adalah hubungan terlarang.


"Tapi, bos? Apakah keluarga Bos sudah tahu mengenai Mbak Vina?" tanya Fadli pelan


"Mereka belum tahu. Biarkanlah saja. Yang penting aku akan meminta izin pada mereka. Setuju atau tidak, aku akan tetap menikahi Vina." ucap Gilvan


"Baik lah, Bos. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu. Semangat!"


"Terima kasih, Fad. Ayo, kembali bekerja."


"Baik, Pak.".


Fadli dan Gilvan mulai sibuk lagi di restoran. Karena sebentar lagi jadwal makan siang, Fadli menyuruh Ara untuk membersihkan meja dengan cepat. Karena, ketika jadwal makan siang tiba, kursi-kursi di restoran akan penuh dan susah untuk dibereskan.


Ara dengan cepat membersihkan meja-meja tamu. Ara sudah mulai terbiasa bekerja di restoran ini. Fadli membuatnya nyaman, dan Fadli juga selalu memberikan arahan yang baik pada Ara.


Pelanggan mulai berdatangan, dan beberapa meja tamu sudah terisi. Ara, dan dua pelayan lain melayani beberapa tamu, dengan sigap Ara menuliskan beberapa pesanan yang diinginkan para pelanggan.

__ADS_1


Fadli sibuk memberi tahu chef yang ada di dapur. Agar memperbanyak stok ayam, karena pelanggan pasti tak mau menunggu lama. Untungnya, Fadli orang yang pintar dan cekatan, ia bisa menyelesaikan masalah di restoran sendirian, meskipun tanpa Gilvan.


Tanpa Fadli sadari, Raina dan teman-temannya masuk kedalam restoran tersebut. Kuliah Raina hanya setengah hari, jadi Raina dan teman-temannya memutuskan untuk makan siang di Givi's Chicken.


Raina, wanita yang polos ini kini berubah menjadi wanita sosialita yang hits di kampusnya. Entah apa yang menyebabkan Raina jadi seperti ini, padahal Rama dan Papinya mendidik Raina dengan benar. Tapi, Raina malah seenaknya dan semau dirinya.


Ara mendekati meja Raina, dan mempersilahkan Raina beserta 4 temannya untuk memesan. Raina terlihat sombong sekali, ia menatap Ara dengan tatapan merendahkan. Ara tetap tersenyum dan terlihat ramah meskipun Raina seperti tak suka padanya.


Raina telah memesan makanan dan Ara pun telah pergi ke pantry untuk memberikan pesanan Raina pada Fadli. Raina menatap Ara dari belakang. Raina terlihat kesal melihat Ara.


"Pelayan cewek itu rupanya banyak gaya juga ya? Masa pelayan gayanya selangit gitu sih? Gak pantes deh menurut gue, kok ada ya pelayan gayanya terlalu mencolok kayak gitu!" protes Raina


"Bener banget tuh, Rai. Aneh deh, jadi pelayan aja banyak gaya. Gak pantes sama sekali dia dengan make up kayak gitu. Hahahaha." balas Diska, teman sebangku Raina saat SMA


"Jatohnya Norak! Ya nggak sih, gengs?" timpal Audrey


"Yoi, parah banget." jawab Raina


Semenjak keputusan Rama akan menjodohkannya dengan lelaki yang ada pada surat wasiat kakeknya, Raina jadi berubah. Raina menolak habis-habisan. Rama tak menggubrisnya, ia tetap pada pilihannya.


Raina berontak. Ia berubah, ia membuktikan pada Kakak dan Papinya, bahwa Raina juga bisa menjadi wanita pembangkang. la bukan wanita lemah lagi, ia juga bisa melawan keluarganya yang terus memaksanya.


Karena tangan Ara tak seimbang, tanpa sengaja Ara menumpahkan kola ke meja Raina, dan mengenai bajunya sedikit. Untung saya, cola-nya tidak tumpah semua, hanya sedikit dan mengenai baju Raina pun tak seberapa.


Namun, Raina benar-benar tak terima. Ia marah, ia kecewa dengan pelayanan di restoran ini.


"Eh, sial*n lo ya! Lo sengaja HAH numpahin cola ini ke gue? Lo benci sama gue, iya?" Raina marah


"Pelayan gak tahu diri lo! Seenaknya aja! Dasar per*k!" timpal Audrey


"Maaf, maaf Non. Saya bener-bener gak sengaja. Makanannya terlalu berat, jadi saya gak seimbang bawanya. Sumpah, deh.. Saya gak ada maksud apa-apa. Mohon maafkan kesalahan saya." Ara memohon-mohon pada Raina sambil mengelap baju Raina yang basah


"Alah, pelayan gak tahu diri lo! Bilang aja, itu cuka alasan lo aja kan? Lu tahu kan, tadi kita ngomongin lo, dan lo marah, lo gak terima, jasi lo seenaknya tumpahin cola ini ke gue. Gitu? Ngaku lo! Atau urusan lo sama gue bakal panjang!" ancam Raina


Fadli mendengar keributan di meja Raina. Dengan cepat, ia segera menuju meja tersebut. Fadli tak tahu, wajah Raina, Fadli tak mengenali bahwa Raina adalah adik Rama, karena sejak dulu Raina ada di luar negeri. Ketika kembali ke Indonesia pun, Raina tak pernah bersosialisasi dengan tetangga atau warga sekitar komplek. Pantas saja Fadli tak mengenali Raina.

__ADS_1


"Maaf, ada apa ini?" tanya Fadli


"Lo managernya? Atau ownernya? Nih, denger ya! Pelayan lo ini, numpahin cola ke baju gue. Gue tahu, dia gak suka sama gue. Jadi, dia seenaknya numpahin cola buat balas dendam sama gue. Ini gak bisa dibiarin ya!" Raina marah-marah


Fadli harus bisa mengambil sikap.


"Ara, apa benar begitu?" tanya Fadli


"Maaf, bukan seperti itu. Saya gak tahu apa-apa, ini hanya terlalu berat, jadi tangan saya tak seimbang membawa nampan ini, akhirnya colanya tumpah sedikit, dan mengenai baju Nona. Saya benar-benar mohon maaf." Ara kesal, namun apalah dayanya yang hanya sebagai pelayan


"Mungkin, pelayan saya salah, nona. Mohon dimaafkan, dia juga masih baru, dan saya rasa, bajunya juga tidak terlalu banyak tumpahan cola, semoga Nona bisa menikmati hidangan kami dengan nyaman. Mohon maaf atas kerusuhan yang telah terjadi. Lain kali, kami pasti akan memperbaikinya." Fadli tersenyum


"Enak aja! Gak bisa! Urusan kita belum selesai. Pelayan itu gak bisa dibiarin gitu aja! Gue mau, dia dipecat aja!!!" ucap Raina


"Loh, nona. Jangan seperti itu. Saya tidak sengaja, kenapa harus sampai memecat saya?" Ara mulai kesal


"Lo ngelawan gue? Eh, manager! Lihat kan? Betapa beraninya dia membantah gue? Pelayan kayak dia gak cocok kerja disini." ucap Raina


Gilvan terlihat turun dari tangga lantai dua, ia heran melihat Fadli dan Ara berada di meja pelanggan bersamaan, dengan pelanggan lain yang melihat kearah meja tersebut. Gilvan curiga, pasti ada hal yang terjadi antara mereka. Gilvan segera berjalan dengan cepat, mendekati sumber keributan.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" ucapan Gilvan mengagetkan semuanya


Raina, dan semuanya menoleh kearah Gilvan. Betapa kagetnya Raina, melihat sosok Gilvan berada didepan matanya.


"Kak Gilvan?" mata Raina melotot


"Raina?" Gilvan pun kaget.


Fadli melamun. Teringat ucapan Rama, tentang adiknya, yang bernama Raina.


"Raina?" Fadli menyebut nama Raina didalam hatinya


Mungkinkah Raina, adalah?


*Bersambung*

__ADS_1


Gantung ya?


Tunggu nanti malam, aku UP lagi. Asal kalian rajin like dan komentar juga ❤❤❤


__ADS_2