Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Kerumah Gita


__ADS_3

Cintamu padanya memang begitu kuat. Setegar karang dilautan, tak pernah padam meskipun dihujam ombak. Aku tahu, aku tak ada dihatimu. Aku mengerti, kau tak bisa mencintaiku karena hatimu telah berpijak pada orang lain. Tetapi, aku sudah berjanji pada hati dan keluargaku, bahwa aku akan membahagiakanmu, aku akan membuatmu cinta padaku. Apakah itu egois? Hatiku juga butuh kasih sayangmu, Anggita. Kumohon, tatap aku, lihat aku, sebentar saja! -Gilvan dalam hati-


"Kamu ingin kembali padanya?" Tanya Gilvan menguatkan diri


"Tidak, aku hanya merindukannya. Itu, saja!" Ucap Gita sambil menyeka air mata di pipinya.


"Kalau kau memang ingin kembali, katakan saja. Sebelum akad dimulai, kau bisa kembali pada Rama!" Gilvan terlihat sedih


"Aku tak mungkin kembali padanya, dia pasti sudah bersama Siska." Gita masih berurai air mata


"Apa benar itu terjadi? Kau kan tak berada di sana." Ujar Gilvan


"Itu pasti terjadi, karena kalau Siska hamil, Rama yang pasti dimintai tanggung jawab." Terang Gita


"Kemungkinan lain bisa saja terjadi, Git!" Ucap Gilvan


"Kemungkinan seperti apa?" Gita bingung


"Bisa saja mereka tak jadi menikah, atau sifat buruk tunangannya sudah ketahuan. Itu bisa saja terjadi kan?" Gilvan melirik Gita


"Tidak mungkin! Hatiku sudah tahu, kalau aku perfi mereka pasti bersama! Ucap Gita sedikit keras


"Lalu, kenapa kau biarkan hatimu menetap di sana?" Tanya Gilvan


"Maksudmu?" Tanya Gita juga


"Kalau kau tak mungkin kembali padanya, lantas kenapa hatimu tak kau ambil, kalau kau membawa hatimu, kau bisa berikan itu padaku! Agar kau bisa melirik aku, orang yang mencintaimu!" Gilvan serius


"Maafkan aku, Van. Kuharap kau tak marah. Aku memang belum bisa mencintaimu, tapi aku akan belajar mencintaimu. Sungguh, maafkan aku." Gita merasa bersalah


"Tidak apa-apa Gita, aku sudah bilang padamu kan? Kau tak harus mencintaiku, cukup kau berada di sisiku saja , agar masalahmu tak diketahui oleh orang lain." ucap Gilvan


"Apa kau tidak merasa sakit hati?" tanya Gita hati-hati


"Tidak, aku ikhlas menjalani ini semua. Cinta itu tak perlu balasan, sudah bisa merasakan jatuh cinta pun itu adalah anugerah untukku!" Gilvan tersenyum


"Kau memang lelaki berhati malaikat!" Gita memuji Gilvan


" Kau bisa saja, Git!" Gilvan malu.


***


-3 hari kemudian, Kantor Angkasa Putra-


Rama sedang sibuk. Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikannya. Akhir-akhir ini ia kurang fokus bekerja, karena menyelesaikan masalah Siska, si rubah jahat itu. Kalau bukan karena Siska, mungkin pekerjaannya tak akan terbengkalai seperti ini.


Ia banyak menandatangi proposal, dan meninjaunya lebih lanjut. Kepalanya sangat pusing, tak ada penyemangat yang bisa membuatnya tersenyum, dia hanya berkutat dengan proposal dan laporan, namun hatinya terasa kosong.


Rama dikagetkan dengan seseorang dari luar yang memaksa untuk masuk keruangan nya. Siapa lagi dia, pikirnya. Rama segera menelepon sekretarisnya yang sedang menahan orang itu masuk. Rama memang tak mengizinkan siapapun masuk, karena kali ini ia sangat sibuk.


"Siapa itu?" Ucap Rama memegang telepon


"Dimas??? Biarkan dia masuk!!!" Perintah Rama pada sekretarisnya


Kenapa Dimas memaksa untuk masuk kesini? Dia kan bisa meneleponku kalau ada hal penting.


Dimas mengetuk pintu, lalu ia membukanya.

__ADS_1


" Ram, Ram!" Dia sangat kegirangan


"Kenapa lo? Kayak orang kesetanan aja. Duduk dulu sini!" Ucap Rama


"Lo masih ingat gak temen si Gita dulu? Yang suka barengan sama Dia?" Tanya Dimas


"Gue ingat sih wajahnya, tapi namanya gue lupa. Kenapa emang Dim?" tanya Rama heran


"Dia orang yang paling dekat dengan Gita! Dia pasti masih berhubungan sama Gita.!" Ucap Dimas


"Kata siapa lo?" Tanya Rama lagi


"Kata anak-anak basket, waktu dia masih kerja disini dia suka keliatan jalan bareng. Sekarang pun sepertinya masih masih saling berhubungan! Lo kok gak mikir kesitu sih?" Ucap Dimas


"Bener juga lo! Tapi, dimana rumahnya si Vina?" Tanya Rama


"Dia kerja di Cafe. Gua tau tempat kerjanya dimana! Nanti kita kesana aja. Gimana?" Ajak Dimas


"Kenapa harus nanti?" Tanya Rama


"Gue masih banyak kerjaan, Bos. Udah istirahat deh kita kesana!" Ujar Dimas


"SEKARANG! Lo tinggalin pekerjaan lo! Ini demi masa depan gue!" Ucap Rama keras


"Baiklah, Bos! Aku akan menurut padamu!" Ucap Dimas bercanda.


Mereka pun berangkat menuju Cafe yang dituju. Perjalanannya tak terlalu jauh, hanya setengah jam dari perusahaan Angkasa Putra. Rama mengemudikan mobilnya dengan cepat. Rama berharap ia bisa menemukan informasi tentang keberadaan Gita segera.


Rama telah memarkirkan mobilnya di Cafe tersebut. Dengan cepatnya mereka masuk dan duduk di kursi pengunjung. Pelayan pun datang menghampiri mereka, ini pasti temannya pikir Dimas.


"Selamat siang, Pak. Ini menunya, silahkan!" Ucap pelayan wanita itu


"Oh, Kak Vina. Ada, Pak! Tetapi, kebetulan hari ini dia sedang cuti." Ujar pelayan itu


"Cuti? Kemana ya?" Tanya Rama khawatir


"Katanya dia mau berlibur ke Kuala lumpur." ucap pelayan itu


"Sama siapa?" Tanya Rama lagi


"Dia bilang sih sendiri, disana ada temannya orang kuala lumpur." Jawab pelayan itu


"Saya boleh minta kontaknya gak?" Tanya Rama


"Eh, ta..tapi Pak" Pelayan itu sedikit takut


"Kamu gak perlu takut, kita gak jahat kok. Nih" Ucap Rama sambil mengeluarkan uang sepuluh lembar pecahan seratus ribu.


"Eh, i..iya pak! Ini no handphone nya." Ucap pelayan itu.


Dimas dan Rama pun pergi meninggalkan cafe tersebut. Mereka tak jadi makan, mereka memutuskan untuk pergi.


-Didalam mobil-


"Ram, trus gimana sekarang? No teleponnya gak bisa dihubungi. Mungkin dia benar, si Vina sedang pergi ke Malaysia." Ucap Dimas


"Apa mungkin dia pergi ke Malaysia sama Gita Dim?" Tanya Rama

__ADS_1


"Masa sih, pelayan tadi bilang kan si Vina sendiri." Ucap Dimas


"Pelayan tadi mana tau, mungkin dia hanya tahu sekilas aja. Apa kita pergi ke Kuala lumpur aja?" Ucap Rama


"Ah, gila lo. Kayaknya kejauhan deh kalo Gita harus pergi ke Malaysia. Menurut gue, si Vina emang cuma liburan biasa aja deh kayaknya!" Sanggah Dimas


"Menurut ko Gita ada dimana sekarang?" Tanya Rama


"Gue rasa, dia ada ditempat terpencil, jauh dari penduduk. Kayak daerah pesisir pantai gitu, Ram!" Ucap Dimas


"Tapi kok gue gak yakin ya? Gue ngerasa Gita ikut sama Vina ke Malaysia." Ucap Rama


"Kalau gitu, apa kita pergi ke Malaysia aja?" Tanya Dimas


"Nanti kita pikirkan lagi. Sekarang kita pergi kerumah Gita yang kosong!" Ajak Rama


"Baik, Bos!" Dimas selalu siap


Feeling Rama amatlah kuat. Hatinya mengatakan Gita pergi ke Malaysia. Tetapi, ia pun takut kalau memaksakan kesana, akhirnya hasilnya nihil. Kuala lumpur luas, ia mau cari kemana kalau tak ada petunjuk tentang Gita.


Sesampainya dirumah Gita, Rama dan Dinas melihat sekitar. Tampak sekali rumah itu kosong tak terisi. Hanya ada Bapak tua yang sedang membersihkan taman dirumahnya.


"Selamat siang, Pak!" Ucap Rama


"Siang, Den. Ada yang bisa bapak bantu?" Tanya Bapak itu


"Bapak tahu gak kemana perginya yang punya rumah ini?" Tanya Dimas


"Oh, Bapak kurang tahu Den! Soalnya ketika bapak disuruh menjaga rumah ini, Nona yang memberikan kunci rumahnya terlihat pergi buru-buru." Ucap Bapak tersebut.


"Saya mohon maaf Pak sebelumnya, saya kesini mau mengambil sesuatu dirumah ini." Ucap Rama


"Maaf sekali Den, tidak bisa. Ini perintah langsung dari Nona yang punya rumah" Ucap bapak dengan sopan


Rama berpikir. Ia harus masuk kerumah Gita, siapa tahu didalam rumahnya ada petunjuk. Ia harus bisa membujuk Bapak penjaga rumah ini.


"Pak, lihat foto di Handphone saya ini.. Ini adalah foto saya bersama Nona, kan? Saya adalah kerabat dekatnya. Barang saya ada yang tertinggal dirumah ini. Tolong izinkan saya masuk, saya janji tak akan mengambil apapun!" Ucap Rama


"Oh, baiklah. Tetapi, jangan sampai ada yang hilang ha Den, Nanti saya harus tanggung jawab." Ucap bapak itu


"Tenang saja Pak, Ini uang terimakasih untuk bapak." Rama mengeluarkan uang seperti tadi yang ia berikan pada pelayan Cafe.


"Terimakasih banyak, Den. Terimakasih. Ini, kuncinya!"


Rama menjentikkan jarinya pada Dimas. Rama penasaran, kemana Gita pergi? Dia harus menemukan informasi didalam rumahnya. Siapa tahu ada suatu petunjuk dirumahnya.


Dimas melihat-lihat didalam ruang tamu dan ruang keluarga, sedangkan Rama masuk kedalam kamar Gita. Rana membuka semua lemari, kasur, dan meja kerja Gita. Dia mencari apakah ada sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk untuk menemukan Gita. I membuka laci Gita satu persatu. Ia tak menemukan apapun. Tetapi, ketika ia membuka laci paling bawah, ia sangat kaget dan khawatir. Ia melihat sesuatu yang sangat tak terduga. Ia sangat marah sekali.


"Aaarrghhhhhhh!!!“ Rama kesal


Dimas yang mendengar suara Rama marah segera datang kekamar Gita.


" Kenapa Ram? Ada apa?" Tanya Dimas khawatir


Rama menitikkan air mata, perasaannya sungguh campur aduk, ada sedih, marah dan bahagia. Tetapi, Rama sungguh marah pada Gita.


"Ram, ada apa?" Dimas mendekat

__ADS_1


Dimas melihat Rama memegang testpack dengan garis dua. Dimas pun kaget. Ia sangat shock melihat testpack garis dua tersebut. Mungkinkah Gita sebenarnya hamil?


*Bersambung*


__ADS_2