Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Aku mencintaimu


__ADS_3

Gita termenung. Ia tak mungkin menerima hati Gilvan. Kalau Gilvan tahu kenyataan yang sebenarnya Gilvan pasti akan menjauhi Gita. Kenapa Gilvan harus menyukainya? Harusnya hubungan pertemanan ini berjalan dengan baik, jangan sampai tumbuh cinta disekelilingnya.


"Maaf, aku tak bisa menerimamu, Van! Tolong jangan tanya kenapa, aku tak bisa memberimu alasan, aku hanya tak bisa menyukaimu!" Gita bingung


"Apa yang membuatmu bingung? Biarkan aku menjadi solusi atas masalahmu, Git!" Jelas Gilvan


"Kamu nggak mungkin bisa. Sudah, Van. Cukup! Ini sudah malam, aku mau pulang." Gita berdiri, beranjak pergi.


Gilvan mengikuti Gita berdiri. Gilvan masih tak mengerti kenapa Gita tak menyukainya. Padahal, Gita bilang baru putus dengan kekasihnya. Selama ini, ia yang selalu setia mengantar Gita kemana-mana. Ia yang selalu ada untuk Gita, kapanpun dan dimana pun Gita berada.


"Kumohon, beri alasanmu kenapa kau tak menyukaiku?" Gilvan menahan Gita


"Lebih baik kau buang perasaanmu itu jauh-jauh. Sampai kapanpun aku takkan bisa membalas perasaanmu." Ucap Gita berapi-api


"Tapi, kenapa Git? Kumohon, semua ini pasti ada alasannya. Beri aku alasan, agar aku mengerti dan tak mengejarmu lagi." Gilvan serius


"Kau ingin tahu alasanku?" Gita bertanya


"Ya. Tentu." Jawab Gilvan


"Jangan tercengang. Aku bukan wanita yang sebaik kau kira. Aku tak pantas untukmu." Ucap Gita


"Mengapa kau berkata seperti itu? Kau adalah wanita yang baik, yang kukenal. Aku sudah mengenalmu hampir dua bulan. Aku tahu kamu baik Git." Jawab Gilvan


"Kamu belum mengenalku lebih. Kau tahu? Aku adalah wanita yang kotor. Aku wanita yang sudah tak suci lagi." Jawab Gita

__ADS_1


Gilvan terdiam. Dia kaget mendengar Gita mengucapkan hal itu.


"Kenapa? kau kaget kan? Aku sudah bilang padamu, aku tak akan membalas perasaanmu. Lebih baik kau buang jauh-jauh perasaanmu itu."


"Itu tidak masalah untukku. Semuanya sudah berakhir kan antara kau dan lelakimu?" Gilvan membalas.


"Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu. Aku bukan saja wanita yang kotor. Aku pun sedang hamil!!! Aku hamil diluar pernikahan. Kau puas HAH? Kau puas mendengarkan alasanku? Sudah! Buang perasaanmu dan jangan kau ungkit hal ini lagi. Aku tak mau mengingatnya lagi."


Gita pergi berlari meninggalkan Gilvan. Gilvan sangat shock, dia tak menyangka wanita yang ia sukai ternyata sedang hamil. Gilvan ingin mengejar Gita, tetapi hatinya hancur. Ia sungguh kaget dengan apa yang barusan Gita katakan. Gilvan menenangkan dirinya, ia mencoba tenang.


Mengapa? Mengapa kau mengatakan hal yang membuatku kaget? Mengapa kau bisa seperti itu? Kulihat kau wanita yang lugu dan polos. Tapi mengapa? Kau sedang hamil? Apa kau bercanda? Kalau memang kau hamil, kemana lelakimu? Kenapa dia tega membiarkanmu sendiri? Apa kau berbohong padaku, Gita? Tapi.... Kuingat saat aku mengajak kau pergi makan bakso, kau mual dan muntah, mungkinkah itu benar? Lalu, tadi kau sangat ingin sekali boneka stich, kuberi yang lain, kau tak mau. Benarkah kau sedang hamil?


Pantas saja kau menolak ku mentah-mentah. Ternyata itu sebabnya. Maafkan aku, yang harus memaksamu berkata jujur seperti itu. Pasti berat untukmu, sunguh.. Aku merasa bersalah padamu, maafkan aku Gita. Kemana perginya Gita? Aku melamun terlalu lama, aku lupa aku harus mengantarnya pulang kan? Gita... Dimana kau? -Gumam Gilvan dalam hati-


Ia putuskan untuk melewati jalan yang dilewati untuk menuju rumah sewaan Gita, ia berharap bisa bertemu Gita secepat mungkin.


Beberapa menit kemudian, Gilvan melihat Gita. Gita sedang duduk sendirian di halte busway. Gilvan segera menuju kearah Gita.


"Git, maafkan aku!" Gilvan turun dari motor dan duduk di samping Gita.


"Kenapa kau kemari lagi? Harusnya kau jauhi aku. Kau tak mau kan memiliki kekasih yang hina seperti aku? Sudah, lebih baik kau pergi, Gilvan!" Gita menangis.


Gilvan tersenyum, merapikan rambut Gita yang berantakan.


"Aku harus mengantarmu pulang. Aku tak akan menjauhi mu, sedikitpun!" Ucap Gilvan.

__ADS_1


"Kau hanya sedang menghiburku kan? Aku tak perlu diantar olehmu, aku bisa pulang sendiri." Ucap Gita


Gilvan menghela nafas panjang, ia mulai berbicata serius.


"Mungkin aku memang tak tahu alasanmu bisa hamil, mungkin aku tak tahu penyebab mengapa kekasihmu tak bertanggung jawab padamu, mungkin itu bukan batasan ku untuk mengetahuinya. Aku tak perlu tahu alasannya. Yang kutahu saat ini, kau adalah wanita yang baik, yang bisa menarik hatiku. Aku tak masalah dengan dirimu, kalaupun lelakimu tak bertanggung jawab akan perlakuannya, aku siap dengan segala konsekuensinya, aku akan bertanggung jawab penuh denganmu dan bayi yang kau kandung. Aku tahu, kau sangat terluka. Bagilah luka itu padaku, kita lalui bersama. Aku akan menyayangi anak itu, seperti anakku sendiri. Kau bisa mempercayaiku, aku sungguh-sungguh dengan perkataan ku." Gilvan tersenyum sambil memegang tangan Gita.


Gita tak bergeming, ia tak berani menjawab apa yang dikatakan Gilvan. Ia sungguh takut berhubungan dengan laki-laki lagi. Ia takut akhirnya akan berpisah seperti kisahnya dan Rama. Sejujurnya ia senang ada lelaki yang mau bertanggung jawab atas dirinya dan bayi yang dikandungnya, tetapi ia sangat takut hal yang lalu terulang kembali. Rasa trauma itu memang ada dan takkan hilang dengan mudah.


"Kau tak perlu khawatir, aku ingin menjadi ayah dari bayi yang kau kandung. Aku tak akan menyakitimu dan bayimu. Aku hanya tak ingin ada wanita hamil apalagi dirimu, wanita yang kusukai berdiri sendiri dengan kehamilan itu. Aku akan menjadi solusi atas semua ini, aku akan bertanggung jawab pada Orang tuamu, kau tak perlu khawatir. Aku akan melakukannya dengan ikhlas sepenuh hatiku, semua ini kulakukan karena aku mencintaimu, aku serius dengan cintaku. Aku menerima mu apa adanya, tak terkecuali bayi itu, aku akan menyayanginya." Gilvan memeluk Gita


Gita tak tahan mendengar ucapan Gilvan yang sangat menyayat hati. Gita menangis dipangkuan Gilvan. Ia enggan menjawab perkataan Gilvan, ia sangat bingung harus berkata apa. Ia serasa mimpi bertemu dengan lelaki berhati malaikat seperti Gilvan.


Apakah yang dikatakannya benar adanya? Apa ia akan menyayangiku dan bayi ini? Aku sungguh tak percaya kepada laki-laki. Aku sudah tak sudi menerima lelaki didalam hidupku. Tapi, ia berkata akan bertanggung jawab? Bahkan ia akan bertanggung jawab kepada orang tuaku? Apakah perkataannya bisa dipercaya? Ya Tuhan.. Aku harus bagaimana? Aku tak mencintai Gilvan, aku hanya mencintai Rama. Tapi, untuk menggapai Rama rasanya hatiku tak akan mungkin bisa, Tetapi ada Gilvan disini, yang siap menerima semua kekuranganku dan bertanggung jawab dengan apa yang tidak ia lakukan. Haruskah aku mencobanya? -Gita dalam hati-


Gita pun membuka suara,


"Aku takut. Aku tak mau berhubungan dengan lelaki lagi. Aku sudah bertekad sekuat hatiku, akan mengurus diriku dan bayi ini sendiri." Ucap Gita.


"Apa yang akan kau katakan pada orang tuamu kalau kau hidup sendiri memikul beban itu? Aku akan bertanggung jawab. Percayalah padaku! Aku siap dicaci maki oleh ibumu, asal kau mau menerimaku. Bagi bebanmu padaku, aku tak tega melihat orang yang kusayangi memikul beban berat seperti itu. Kumohon, beri aku kesempatan.." Gilvan menatap Gita penuh pengharapan.


*Haruskah aku menerimanya? Bagaimana dengan hatiku yang tak bisa mencintainya? Aku dilema. Satu sisi aku sangat bahagia, tapi disisi lain aku sangat rapuh. Aku harus menjawab apa pada Gilvan?


Gilvan, kau lelaki berhati malaikat yang pernah aku temukan. Kau selalu tersenyum, kau tak pernah marah, kau selalu mengerti diriku. Tapi, aku tak mencintai dirimu sedikitpun. Bagaimana aku bisa menerimaku kalau cintaku sudah mati seperti ini? -Gita dalam hati*-


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2