Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
BUKTI


__ADS_3

Vina benar-benar canggung berada di restoran Gilvan. Apalagi, Rama mengajak Vina dan Andra untuk duduk bersama. Gilvan? Jangan ditanya bagaimana hatinya saat ini, yang jelas melihat Vina duduk bersama lelaki lain benar-benar membuat dirinya terluka.


Namun, cinta tak perlu rapuh. Gilvan harus kuat, Gilvan yakin, ada saatnya nanti Vina merasa menyesal telah salah memilih Andra. Karena Gilvan tahu, Andra itu orang yang seperti apa.


Gilvan tak menampakkan dirinya didepan Mereka berempat. Gilvan menyuruh Fadli yang melayani mereka. Gilvan hanya terdiam didalam kamarnya. Ia tak siap, untuk bertemu Vina lagi. Sakit sekali rasanya, melihat sang pujaan hati datang bersama orang lain. Seperti inikah rasanya cinta yang tak berbalas?


Gita dan Rama terlihat biasa saja. Mereka akan melihat Vina, akan bertahan sejauh mana hubungannya dengan Andra. Karena, dalam waktu dua menit, Rama bisa menemukan semua informasi tentang Andra. Dan Rama tahu, Andra ini orang yang seperti apa.


"Santai aja ya, jangan anggap gue Bos lu kalau di luar. Kita tetap teman." ucap Rama


"Baik, Pak." jawab Andra santai


"Sayang, aku ke toilet dulu sebentar ya, sambil nunggu pesanan datang." ucap Rama


"Iya, Pap. Jangan lama-lama." jawab Gita


Rama beranjak pergi dari mereka. Rama bukan malah ke toilet, melainkan ia pergi ke lantai dua. Ia ingin menemui Gilvan. Rama tahu, Gilvan mengurung dirinya di kamar. Gilvan tak mau keluar melihat Vina dengan lelakinya.


"Van, buka." Rama mengetuk pintu


Gilvan keluar, ia membuka pintunya. Ia memperlihatkan dirinya yang kuat, namun Rama bisa melihat, bahwa Gilvan hanya pura-pura tegar saja.


"Kenapa kamu disini Ram?" tanya Gilvan


"Aku ingin memberi tahu kamu sesuatu."


"Apa itu? Masuklah!"


Gilvan mengajak Rama masuk ke kamarnya. Rama dan Gilvan duduk di meja kerja Gilvan.


"Apa Ram? Kenapa kami disini? Mereka dibawah bagaimana?"


"Aku sudah mendapatkan informasi mengenai lelaki yang bersama Vina. Rey bilang, dia sesama staff marketing di perusahaan, dan dia anak buah Dimas, temen gue Van. Andra ini berusaha merebut jabatan Dimas, namun sangat sulit, karena Dimas dekat sama gue."


"Lalu?" tanya Gilvan penasaran


"Dia mendekati Vina, memang karena sifat buayanya. Namun, ia kaget ketika tahu bahwa Vina adalah sahabat Gita. Kesempatannya pun serasa diberi lampu hijau. Ia mendekati Vina, agar memudahkannya untuk naik jabatan. Padahal, dia sudah memiliki tunangan." jelas Rama


"Aku tahu itu, kemarin dia ada di restoran ini bersama wanita lain. Aku sudah memberi tahu Vina, *** dia tak percaya. Tadinya, aku juga ingin memberi tahu padamu, namun aku terlalu sibuk, hingga lupa." ucap Gilvan


"HAH? Dia kemari bersama wanita? Dia memang tak sadar, kalau kamu mempunyai ikatan dengan Vina. Pantas saja sekarang Vina mengajaknya kesini. Mungkin saja, dia ingin membuktikan padamu, bahwa Andra tak takut sama sekali. Vina memang telah buta karena cintanya."


"Sebenarnya bukan cinta Ram, dia dibutakan oleh ego-nya. Aku tahu, dia masih mencintaiku, namun dia ingin menyiksaku dengan cara seperti ini."


"Lalu, perasaanmu sekarang bagaimana?" tanya Rama


"Aku akan mengikuti kehendaknya, namun yang aku takutkan, dia malah akan benar-benar jatuh pada Andra, dan dia tersakiti nantinya. Aku tak mau itu terjadi pada Vina." jelas Gilvan

__ADS_1


"Apa perlu, aku membeberkan semua bukti ini pada Vina?"


"Jangan, Ram. Biarkan saja. Aku ingin tahu, sejauh mana dia bertindak. Aku tak ingin dia marah lagi. Ada satu hal yang perlu aku telusuri." ucap Gilvan


"Apa itu?" Rama heran


"Anak Vina, aku merasa bahwa dia adalah anakku."


DEG. Gilvan mulai menyadarinya. Rama tahu semuanya, tapi Rama sudah berjanji pada Vina, tak akan memberi tahu Gilvan. Tapi, jika tidak diberi tahu, kasihan Gilvan. Rama dilema, ia bingung harus menentukan sikap bagaimana agar semua masalah ini cepat selesai.


"Van, kenapa kamu yakin anak itu adalah anakmu?" tanya Rama


"Vina jujur, bahwa Andra bukanlah suaminya. Lalu, dia bisa punya anak dari mana? Dia berkata padaku, bahwa dia menjadi pelac*r. Tapi, aku tak mempercayainya. Dia sepertinya berbohong. Dan juga, sepertinya ada satu hal yang aku lupakan saat aku amnesia. Aku harus mencari tahu kebenaran semua ini."


Vina memang kurang ajar. Berani-beraninya dia berkata bahwa Givia adalah anak dari hasil melac*r. Padahal, Ayah biologisnya jelas-jelas ada didepan matanya. Tapi, kenapa? Dia ini selalu saja membuat masalah. Egois Vina benar-benar seperti Gita dahulu, mereka tak pernah bisa berpikir jernih. Aku harus segera memberi tahu Gilvan, kenyataan yang sesungguhnya.


"Van, sebenarnya, ada hal yang harus kamu ketahui." ucap Rama


"Apa Ram?" Gilvan mendengarkan


"Asal kamu tahu, bahwa sebenarnya Vina it.." ucapan Rama terpotong


"Sayang, kenapa malah disini?" Guta datang mengagetkan Rama


Rama shock. Rama akan mengatakan yang sejujurnya pada Gilvan, namun Gita malah tiba-tiba datang mengagetkan Rama.


"Eh, kamu ngapain kesini?" Rama gugup


"Eh, Van, nanti deh kita teruskan bicaranya. Gue turun dulu ya Van."


"Van, sorry ya. Aku gak tahu kalau Vina malah membawa lelaki itu kesini. Kita gak nyangka dia bisa begitu." ucap Gita


"Iya, gak apa-apa. Kalian turun aja, maaf aku gak bisa ikut turun. Aku gak mau buat Vina gak nyaman kalo aku ada dibawah." ucap Gilvan


"Iya, Van. Maafin gue ya. Nanti, gue lanjutin perbincangan kita tadi." Rama berlalu


"Ya, Ram. Aku mengerti."


Gita mengganggu Rama dan Gilvan yang sedang berbincang, hingga inti dari pembicaraan Rama belum tersampaikan pada Gilvan. Rama akan mengatur waktunya kembali agar bisa bertemu dengan Gilvan untuk memberi tahu semuanya.


Makan bersama pun telah selesai, Rama dan Gita pamit pulang. Andra dan Vina pun pamit. Mereka naik mobil bersama pasangan masing-masing.


Gilvan melihat dari jendela lantai atas kamarnya. Betapa bahagianya Vina mengurai senyumnya pada Andra yang bersedia membukakan pintu mobil untuknya. Memang, Gilvan menguatkan dirinya untuk tidak rapuh, tapi jika sedang sendiri seperti ini, hatinya jelas-jelas hancur berkeping-keping.


...Lebih baik diam...


...Dan menghapus dendam...

__ADS_1


...Tak lagi bicara...


...Agar tak makin terluka...


...Cinta punya batas...


...Tak harus saling keras...


...Tak bisa dipaksa...


...Lelah ku menangis...


...Terluka karena mu...


...Ini kekalahan ku...


...Pergi lupakanlah aku...


...Biar aku yang bertahan...


Gilvan sadar, dirinya kalah, ia memang tak layak bersanding dengan Vina. Namun, Gilvan pun tak rela jika dirinya harus jatuh dalam jeratan Andra. Gilvan akan tetap mempertahankan cintanya.


Ia lebih baik istirahat, memejamkan matanya dan melupakan semua yang telah terjadi. Ia tak ingin mengingat kembali Vina dan Andra yang memberikan goresan luka dihatinya.


***


Waktu baru menunjukkan pukul 20.00 WIB, namun stok ayam dan yang lainnya telah habis. Fadli menyuruh karyawan lain untuk menutup restoran, dan membersihkan dahulu restoran sebelum kemudian ditutup.


"Selamat, malam." ucap seorang Ibu berusia 30 tahunan datang menyapa Fadli


"Selamat malam, Bu. Maaf, restoran sudah tutup. Stok ayam alhamdulillah telah habis." jawab Fadli sopan


"Saya tidak akan memesan, namun saya hanya ingin menitipkan surat ini pada Pak Gilvan. Sepertinya, surat ini tertinggal pada amplop yang diberikan Pak Gilvan pada yayasan kami minggu lalu. Namun, saya baru sempat mengantarkannya. Ada pengajian di Masjid sebelah sana, jadi saya putuskan untuk mengantar kesini, karena jaraknya dekat." jawab Ibu itu


"Oh, ini untuk Pak Gilvan? Baiklah, akan saya sampaikan padanya, Bu. Terima kasih, Bu."


"Saya yang harusnya berterima kasih, makasih atas bantuannya. Namun, suratnya masih tertata rapi, kami tak berani membukanya. Kalau begitu, saya pamit dulu ya. Permisi, Dek."


"Iya, Bu. Terima kasih."


Fadli segera naik ke lantai atas kamar Gilvan. Fadli mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Pintunya tak dikunci, Fadli mencoba membuka pintunya perlahan.


"Ternyata Pak Gilvan sudah terlelap. Dia pasti sakit hati melihat Mbak Vina bersama lelaki mata keranjang itu. Ya sudah, lebih baik aku simpan saja surat ini dimeja kerjanya."


Fadli menyimpan suratnya dimeja kerja Gilvan, dan ia segera berlalu untuk melanjutkan menutup restoran.


*Bersambung*

__ADS_1


Pagi.. Dukung cerita ini terus ya, jangan diam membisu dong hehehe


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk aku, aku tunggu jejak kalian dari pembaca setiaku ya 😘😘😘


__ADS_2