Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Kita putus!


__ADS_3

KEESOKAN HARINYA.


Pagi ini, Fadli hanya akan bekerja setengah hari, karena Fadli akan membelikan oleh-oleh untuk paman dan bibinya di kampung. Hari ini Raina juga akan pergi ke kampus.


"Antar aku dulu." ucap Raina.


"Iya, Rai." jawab Fadli.


Fadli gelisah, bukan main, semalam ia menonton tutorial malam pertama yang diberikan Gilvan. Semalaman, Raina sibuk, ia hanya fokus pada laptopnya. Karena jenuh, Fadli membuka tutorial tersebut. Betapa gelisah nya Fadli saat itu, namun Raina tak memperhatikannya.


Fadli menyesal membukanya. Ternyata, video tersebut memberikan dampak yang membuat Fadli tak bisa tidur


semalaman. Fadli selalu terbayang-bayang akan video tersebut. Rasanya, melihat video tersebut benar-benar membuat pikirannya terpengaruh. Fadli harus protes pada Gilvan nanti.


Sampailah Raina di kampus. Fadli mengantarkannya seperti biasa.


"Rai, tunggu."


Raina membalikan tubuhnya, "Kenapa?"


"Aku nanti pulang siang, kamu pulang jam berapa? Biar nanti aku jemput." ucap Gilvan.


"Belum tahu, nanti aku kabarin kamu kalau aku pulang cepet." ucap Raina.


"Baiklah, hati-hati ya, semangat kuliahnya Raina." Fadli tersenyum.


Oh, tidak. Kenapa dengan jantungku? Kenapa aku berdebar begini mendengar ucapannya? Ada apa dengan diriku?Jangan, jangan sampai aku terlena oleh makhluk rese ini. Batin Raina.


"Eh? Ah, iya-iya. Makasih, Fad. Ya udah aku kuliah dulu ya, bye. Kamu juga hati-hati." Raina refleks menjawab ucapan Fadli.


Astaga! Kenapa aku malah bilang hati-hati sama dia? Aduh, kenapa aku malah terbawa suasana hangat ini sih? Aaarrgghh, aku benci suasana saat ini.


Raina keluar dari mobil Fadli. Fadli melambaikan tangannya pada Raina. Hatinya sangat bahagia, tak menyangka Raina juga bisa bersikap manis jika Fadli pun bersikap manis padanya.


Raina, sekarang sifat mu sedikit berubah. Jika aku hangat padamu, ternyata kamu juga bisa hangat juga padaku. Aku senang, kamu mulai ramah akhir-akhir ini. Kalau aku hangat, dan kamu juga membalas hangat padaku, apa jika aku ingin melakukan hal itu, kamu mau melakukannya juga? Aarrgghh, astaga! Pikiranku sudah kotor saat ini. Setelah menonton video itu, aku jadi selalu terbayang-bayang tubuh polos Raina. Benar-benar racun yang mematikan.


Tanpa terasa, Fadli telah sampai di restoran Gilvan. Ia mulai beraktifitas seperti biasanya. Ia mencoba melupakan bayang-bayang tubuh polos Raina yang selalu menggerayangi pikirannya. Tiba-tiba, Gilvan datang dan menyapanya.


"Pagi, Fad. Gimana? Sukses?" Gilvan terkekeh.


"Apaan sih, Pak. Ah, enggak kok." Gilvan malu.


"Udah dilihat belum tutorialnya?" tanya Gilvan berbisik.


"Ah, Bapak ini. Aku udah lihat, dan hasilnya sekarang pikiranku telah tercemar sama isi didalam videonya!" ucap Fadli.


"Ya terus, dapet ga perawan istrimu?" Gilvan tertawa.


"Enggak, Pak. Aku gak berani." jawab Fadli.


"Ya ampun, Fad. Terus ngapain kamu lihat tutorial itu, kalau ternyata kamu gak dapetin istri kamu!" ucap Gilvan garuk-garuk kepala.


"Aku cuma penasaran lihat sebentar, Pak." ucap Fadli.


"Berapa menit?"


"Kalau gak salah, 38 menit." jawab Fadli santai.


"Itu bukan sebentar maemunah! Ngelucu aja lu ah, itu kamu tonton full 1 ronde. Gimana sih! Pantes aja otak kamu udah tercemar. Harusnya, setelah kamu tonton, kamu langsung praktekkan sama istri kamu." ucap Gilvan.


"Gimana mau prakteknya Pak? Mulainya gimana? Semalem, Raina sibuk ngerjain skripsi. Aku juga gak pernah deket-deket sama dia! Ah, udahlah. Malam pertama bagiku hanya mimpi saja." Fadli menyerah.


"Belum waktunya kali. Besok ajak aja si Raina ke Pangandaran, siapa tahu kalian bisa deket-deket kan."


"Aku gak enak ngajak nya, takut ditolak, Pak." ucap Fadli.


"Ah, kamu ini. Banyakan takutnya. Udah, kerja lagi aja sekarang. Kamu harus pulang kan siang ini." tambah Gilvan.


"Lebih tepatnya belum siap, bukan takut. Hehe. Oke siap, Pak."


Fadli kembali bekerja. Ia benar-benar fokus bekerja, hingga waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Fadli pamit pada Ara dan Wildan, mereka meminta oleh-oleh khas Pangandaran dari Fadli. Dan Fadli pun menyetujuinya. Ia juga pamit pada Gilvan, karena tiga hari ini ia tak akan mengurus restoran.


Fadli menelepon Raina, karena saat ini ia akan berbelanja untuk keluarganya. Takutnya, Raina ingin segera di jemput.


Telepon tersambung,

__ADS_1


[Halo, Fad. Ada apa?]


[Rai, aku udah pulang, sekarang aku mau beli oleh-oleh untuk besok. Kamu pulang kapan? Biar aku jemput.]


[Mm, Eh, Eh Fad! Aku lagi ada urusan nih. Kamu pulang aja nanti. Aku gak usah di jemput.]


[Oh, baiklah kalau begitu.]


Ada sedikit rasa kecewa ketika Raina tak mau pulang bersama Fadli. Tapi, mau bagaimana lagi. Fadli melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan. Ia harus membelikan oleh-oleh untuk keluarganya.


***


Kampus Raina.


Satu jam sebelum Fadli menelepon.


"Rai, sayang! Kenapa sih? Beberapa hari ini kamu menghindar terus dari aku. Ada apa sih?" Bayu mengejar Raina.


"Aku lagi sibuk, please kamu gak usah ganggu aku!"


"Raina, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu melupakan aku gini?" tanya Bayu.


"Kamu yang ada apa? Beberapa hari ini, gak pernah ngabarin aku, gak pernah nelepon aku, sekalinya kamu butuh aku, baru kamu cari aku. Dasar kamu gak tau diri, Bay!"


"Aku kan lagi sibuk, Raina. Sekarang waktuku udah santai ini. Ayo, kita jalan. Aku kangen sama kamu." Bayu merayu.


"Enggak. Aku sibuk."


"Raina, please. Aku pengen jalan sama kamu hari ini. Aku kangen sama kamu."


Aku lupa. Aku dan Bayu masih terikat sebuah hubungan. Tapi, beberapa hari ini, dia bahkan tak pernah mengabari ku. Mungkin saja, dia sibuk dengan Audrey tak tahu diri itu. Tapi, kenapa rasanya aku ingin segera memutuskan Bayu? Aku merasa tak enak pada Fadli, jika aku seperti ini terus. Mungkinkah aku mulai ingin menjalani pernikahan ini dengan serius? Fadli, ada apa dengan hatiku? Batin Raina.


"Ya sudah. Mau kemana kita?' tanya Raina.


"Makan siang aja di Mall dekat sini yuk, aku laper. Pengen kangen-kangenan juga sama kamu, sayang." Bayu mulai gombal.


See? Buaya ini gak tahu malu. Aku benar-benar tak paham dengan maunya. Baiklah, Bayu. Aku akan mengakhiri semua ini sekarang. Aku sudah punya bukti, fotomu dan Audrey. Malam itu Fadli langsung memberikannya padaku. Rasanya, aku sudah muak dengan kalian. Ini yang terakhir untuk kita. Silahkan saja kamu bersama temanku, aku sudah mempunyai suami yang lebih segalanya dari kamu, Bay! Eh, apa-apaan ini? Hatiku, kamu benar-benar menginginkan Fadli kah? Kenapa selalu saja dia yang aku ucapkan. Fadli, oh Fadli. Aaarrghh!


Raina dan Bayu naik motor bersama. Bayu sedang tak akur dengan Audrey, karena Bayu ketahuan chattingan dengan anak baru di kampusnya. Kini, Raina lah yang bisa ia jadikan batu loncatan, karena ia sedang kesepian. Dasar laki-laki gak tahu diri.


Fadli telah selesai belanja membeli perlengkapan untuk dibawanya esok hari. Ia dalam perjalanan menuju rumahnya, namun Fadli terjebak lampu merah yang lumayan lama, karena ada rombongan yang sedang jalan santai, seketika itu, motor bayu juga berada di lampu merah yang sama, motornya maju, dan kini berada disebelah Fadli. Mata Fadli terbelalak, ia kaget, ternyata Raina sedang berduaan bersama Bayu. Apalagi, motor Bayu yang tempat duduknya ditinggikan, membuat Raina memeluk pinggangnya.


Raina? Itu kamu kan? Kamu ternyata masih bersamanya. Kamu memang mencintai Bayu, iyakan? Kamu terlihat mesra dengannya. Pantas saja, kamu bilang tak ingin aku jemput. Ternyata kamu memang sedang bersama pacarmu. Ah, sudahlah. Ternyata, Raina memang bebal, ia masih saja mau bersama Bayu, padahal ia telah melihat bahwa Bayu bermain api bersama temannya sendiri. Mungkin, aku memang tak pantas untuknya. Aku sadar diri saja, aku akan pergi setelah enam bulan pernikahan kita. Raina memang bukan wanita yang pantas untukku.


Fadli telah selesai belanja membeli perlengkapan untuk dibawanya esok hari. Ia dalam perjalanan menuju rumahnya, namun Fadli terjebak lampu merah yang lumayan lama, karena ada rombongan yang sedang jalan santai, seketika itu, motor bayu juga berada di lampu merah yang sama, motornya maju, dan kini berada disebelah Fadli. Mata Fadli terbelalak, ia kaget, ternyata Raina sedang berduaan bersama Bayu. Apalagi, motor Bayu yang tempat duduknya ditinggikan, membuat Raina memeluk pinggangnya.


Raina? Itu kamu kan? Kamu ternyata masih bersamanya. Kamu memang mencintai Bayu, iyakan? Kamu terlihat mesra dengannya. Pantas saja, kamu bilang tak ingin aku jemput. Ternyata kamu memang sedang bersama pacarmu. Ah, sudahlah. Ternyata, Raina memang bebal, ia masih saja mau bersama Bayu, padahal ia telah melihat bahwa Bayu bermain api bersama temannya sendiri. Mungkin, aku memang tak pantas untuknya. Aku sadar diri saja, aku akan pergi setelah enam bulan pernikahan kita. Raina memang bukan wanita yang pantas untukku.


Fadli kecewa. Ia tak menyangka Raina akan kembali pada Bayu. Yang menyakitkan adalah, ketika Raina dan Bayu bersama, apalagi Raina memeluk pinggang Bayu. Fadli ternyata menaruh rasa untuk Raina, sakit sekali rasanya.


Lampu merah telah berganti hijau, ingin rasanya Fadli mengikuti Raina dari belakang, namun hati kecilnya berkata, percuma mengikuti Raina, untuk apa tak ada gunanya. Akhirnya, Fadli membelokkan mobilnya, ia memilih untuk pulang saja, tak ingin ikut campur urusan Raina.


***


"Bayu, aku udah lama mau ngomong ini sama kamu. Tapi, aku sibuk. Mungkin, ini saat yang tepat untuk aku bilang sama kamu." tiba-tiba Raina membuka suara setelah mereka selesai makan.


"Apa sayang?" Bayu terlihat sok romantis.


"Aku tahu, kamu berhubungan dengan Audrey. Aku tahu, kamu sudah lama berpacaran dengannya. Namun, aku tetap membiarkan kamu, sesuka hatimu. Aku ingin tahu, sejauh mana kamu akan bertindak."


"Raina, tapi.."


"Bay, tolong jangan berbicara, sampai aku selesai bicara. Aku tahu, kamu sering jalan sama Udey, menghabiskan waktu bersamanya. Entah apa yang telah kalian lakukan, aku tak tahu. Karena itu, lebih baik kamu terus bersamanya. Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku sudah tak mempunyai rasa apa-apa padamu. Jangan seperti ini terus, kamu laki-laki. Apa tak cukup satu wanita saja, Bay?" ucap Raina tegas.


"Kamu tahu darimana hah? Itu fitnah. Kamu jangan dengarkan orang bicara. Hanya kamu yang aku sayang, Raina. Please, percayalah padaku!" Bayu memohon.


Raina mengeluarkan handphone dari tas nya. Ia membuka foto Bayu bersama Audrey yang saat itu dikirimkan oleh Fadli ke handphonenya.


"Aku melihatmu, bersama Udey malam itu. Ini bukti yang cukup kuat. Bahkan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Please, kamu mengerti kan? Kamu harus bersama Audrey. Tak ada wanita yang mau dimadu. Tak ada wanita yang ingin berbagi. Aku sudah tak mencintai kamu, kejarlah Audrey. Jaga dia, sayangi dia. Jangan kau buat dia seperti aku, diselingkuhi lagi dan lagi. Oke? And, our relationship is over! Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Tolong, jangan ganggu aku lagi, kita S E L E S A I. Bye, aku pergi."


Raina berdiri, ia beranjak pergi dari duduknya. Tak lupa, oa mengeluarkan uang pecahan seratus ribu, 5 lembar. Ia tak mau, pemberian Bayu padanya selama ini akan jadi hutangnya.


"Ini, kurasa kamu hanya mengeluarkan uang untukku sebanyak ini, tak lebih, kebanyakan aku kan yang selalu membayarkan kamu? Uang ini, sebagai pengganti apapun yang telah kamu berikan padaku." Raina berlalu meninggalkan Bayu.


"Raina, Raina tunggu!!! Aku benar-benar tak mengerti dengan ucapan mu. Jangan putus, aku gak bisa putus dari kamu, Rai, please! Comeback to me!" Bayu terus memohon, namun Raina tak mendengarkan Bayu.

__ADS_1


***


Raina telah sampai di rumahnya. Ia menyesal membiarkan Fadli tak menjemputnya, hingga akhirnya ia harus naik taksi. Raina sudah berada di dalam kamarnya, namun Fadli tak ada. Tas dan jaketnya memang ada, tapi orangnya tak ada. Raina mencari-cari Fadli, tapi tak ada.


"Bi, lihat Fadli gak?" tanya Raina pada pembantunya.


"Tadi lagi potong rumput di halaman belakang, Nona. Coba lihat saja dulu." jawab pembantunya.


"Terima kasih, Bi."


Benar saja, Fadli sedang memangkas tanaman bersama pembantu yang lain. Raina kagum, Fadli tak pernah malu ataupun malas untuk membantu pekerjaan orang lain. Raina membiarkannya, ia akan mandi dan mengganti pakaiannya.


.


.


.


Malam pun telah tiba, Fadli dan Raina sudah berada didalam kamar. Mereka belum terlibat pembicaraan sejak Fadli masuk kamar. Fadli terdiam, tak menyapa ataupun bertanya pada Raina. Raina heran, dengan tingkah Fadli saat ini. Raina tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Fadli.


Fadli sedang membereskan perlengkapannya untuk besok. Fadli sibuk, ia tak mempedulikan kehadiran Raina. Hatinya sedang sakit, melihat Raina bersama kekasihnya. Entah kenapa, Fadli merasa cemburu sekali.


"Mau aku bantu gak?" tiba-tiba Raina membuka percakapannya.


"Enggak usah, aku bisa sendiri." jawab Fadli datar.


"Kok kamu jutekin aku sih? Apa salah aku?" Raina tak mengerti.


"Kamu enggak salah." jawabnya.


"Fad, kamu gak biasanya kayak gini. Yang biasa kayak gini tuh aku! Bukan kamu!" Raina mulai kesal.


"Kerasa kan Rai? Diginiin tuh gak enak!" Fadli semakin berani.


"Ya, maaf! Jelasin dong! Kenapa kamu kayak gini sama aku? Aku ada salah apa sama kamu?" tanya Raina.


"Sudah kubilang, kamu gak salah."


Raina mendekati Fadli, "Fad, tatap aku dulu! Biarkan semua barang-barangmu itu!" Raina memegang bahu Fadli.


"Apa?" Fadli menatap Raina.


"Kamu kenapa? Jawab!" Raina menaikkan nada suaranya.


Fadli menghela nafas, "Baiklah, aku akan menjawab. Aku sadar diri aku siapa, aku akan pergi setelah perjanjian kita selesai." ucap Fadli membuat Raina kaget.


"Maksud kamu apa, Fadli?" Raina kesal.


"Aku melihat kamu, bersama pacarmu. Aku tahu, kamu memang mencintai dia. Aku tak layak bersamamu. Aku malu padamu. Aku harus sadar aku siapa, maka dari itu, aku harus melepas mu, agar kamu dan lelakimu bahagia." jawab Fadli.


"Hey! Kamu melihat aku bersama Bayu? Kamu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Fad! Aku bisa jelaskan, jika kamu cemburu padaku!" jelas Raina.


"Aku tak butuh penjelasan mu, karena aku sudah melihat dengan jelas. Kamu bahagia bersamanya. Aku mengerti, Raina." jawab Fadli.


"Aku memutuskan Bayu, Fadli! Aku telah putus dengannya, kamu tak tahu yang sebenarnya!"


Fadli tak menjawab. Ia sudah malas berbicara dengan Raina. Ingin rasanya, segera pergi ke kampung Bibinya dan melupakan Raina sejenak.


"Kamu gak percaya sama aku hah?" bentak Raina.


"Sudah, tak perlu dibahas." jawab Fadli.


"Akan ku buktikan, kalau aku sudah putus dengannya. Mari, kita lakukan pernikahan ini dengan semestinya, agar kamu percaya, kalau aku memang serius padamu. Silahkan, tiduri aku, dan renggut kesucian ku malam ini, agar kamu percaya padaku, kalau aku akan serius menjalani pernikahan ini dengan kamu, Fad!" ucap Raina, dengan tangan dan kaki yang bergetar.


"Raina?" mata Fadli melotot tak percaya dengan apa yang Raina katakan.


*Bersambung*


Pagi..


Selamat membaca, dan jangan lupa LIKE nya ya..


Vote dan Komentar kalau kalian sayang sama aku wkwk


Selamat hari Ibu teman-teman semuanya 🥰😍

__ADS_1


__ADS_2