Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Anak itu..


__ADS_3

"VINA?"


"Maaf mengganggu tidurmu!" ucap Vina


Gilvan terperanjat kaget. Ia segera bangun dari tidurnya, lalu duduk di ranjang kecilnya, dengan perasaan bingung dan campur aduk.


"Aku kira aku bermimpi." ucap Gilvan


"Aku akan to the point padamu. Aku ingin meminta kembali amplop yang kuberikan padamu kemarin." ucap Vina


"Amplop uang itu, maksudmu?" tanya Gilvan


Sepertinya, Gilvan belum membuka isi dalam amplop itu. Ekspresinya terlihat biasa saja. Syukurlah, semoga saja aku bisa segera mengambilnya. Batin Vina.


"Iya, bolehkah aku memintanya lagi?"


"Tentu saja, aku minta rekening mu. Aku akan mengirimkannya padamu."


"Kenapa harus mengirim lewat rekening? Aku ingin uang dalam amplop itu."


"Uang dalam amplop itu sudah ku berikan pada yayasan, untuk diberikan pada anak yatim piatu di panti asuhan."


"HAH? Kenapa kamu harus memberikannya?" Vina kaget


"Untuk apa aku memakainya, uang itu bukan hak ku, jadi lebih baik aku memberikannya pada yang membutuhkan."


"Aaarrgghhh, dasar! Aku hanya membuang-buang waktuku disini." umpat Vina


Tapi, biarlah amplop itu menghilang. Aku lega. Aku tak perlu lagi ketakutan kalau Gilvan akan tahu bahwa Givia adalah anaknya.


"Kalau kau butuh uang, aku akan segera mengirimnya padamu, Vin." ucap Gilvan


"Aku tak butuh uangmu. Sudah, aku pergi."


Vina berdiri, ia berjalan akan pergi. Namun, Gilvan segera mengejarnya. Gilvan menahan Vina, hinggan dia bersandar di tembok.

__ADS_1


"Ada apa sih? Kenapa seperti ini?"


"Awas, aku mau pergi. Jangan menghalangiku!"


"Vin, jujur sama aku! Ada apa? Kenapa kamu seperti ini?" ucap Gilvan


"Aku gak kenapa-napa. Udah, lepas! Aku mau pergi."


"Apa se-hina itu aku di matamu? Sampai kamu, membenciku seperti ini?" tanya Gilvan


"Apa sih kamu? Ngaco aja!" ucap Vina


"Ya sudah, kenapa kamu harus seperti ini? Bersifat lah seperti aku ini temanmu, jangan membenciku seperti ini. Aku sedih, Vin. Asal kamu tahu, aku membangun susah payah restoran ini. Kuberi nama "GIVI" yang berarti Gilvan dan Vina. Ini restoran yang akan ku hadiahkan padamu, ketika aku pulang ke sini, aku ingin kamu mengelola restoran ini, aku ingin kita bahagia. Tapi, kamu ternyata sudah bahagia lebih dulu. Aku bisa terima itu. Namun, kenapa kau harus tetap membenciku? Tak bisakah kau sedikit ramah padaku?" ucap Gilvan sedih


Vina tak menjawab. Ia sedih, mendengar ucapan Gilvan. Ia memang sangat mencintai Gilvan, bahkan sampai saat ini. Namun, hatinya sangat ingin membalas perlakuan Gilvan. Ia ingin memuaskan hasrat dan amarah yang selama ini terpendam.


"Kenapa tak menjawab? Aku sudah menjelaskan padamu, aku juga sudah bilang kan, kalau aku memang menyesal. Aku tahu, aku salah. Aku menerima, kisah kita tak bisa berakhir bahagia. Aku sadar, kamu tak mungkin menungguku terlalu lama! Tapi harus kau tahu satu hal, semua ini hanya untuk kamu. Aku bekerja siang malam, sampai lupa waktu, ini untuk kamu. Kuberi nama GIVI pada restoran ku, agar aku selalu mengenang mu. Apa kamu harus begitu membenciku? Bertemanlah denganku, agar hatiku sedikit lebih tenang, Vin. Jangan terlalu membenciku, aku ingin kamu tetap bahagia bersamaku, walaupun kota hanya sebatas teman. Aku senang!"


Tak terasa, mendengar ucapan Gilvan yang begitu menyayat hati, membuat air mata Vina mengalir. Ia sedih, hatinya sakit mendengar ucapan Gilvan. Vina sangat menjaga gengsinya, ia malu kalau harus bersama Gilvan lagi. Vina lebih egois dari Gilvan, Vina terlalu gengsi untuk kembali padanya.


Dengan malu dan perasaan sedih, Vina memberanikan diri untuk memeluk Gilvan. Vina merindukan Gilvan, lelaki yang selama ini ia rindukan dsn ia cintai. Tanpa basa-basi, Vina memeluk Gilvan sambil menangis tersedu-sedu.


"Hiks.. Hiks.." Vina tetap berurai air mata.


"Jangan menangis, aku tak mau kamu menangis."


"Kenapa hatiku sangat sakit mendengar ucapan mu?" tanya Vina


"Tenanglah, jangan menangis. Aku tak ingin kamu sedih."


"Aku merindukanmu, tapi aku tak mau hidup bersamamu. Terlalu banyak luka yang kurasakan jika terus hidup denganmu. Kamu memang akan menjadi lelaki yang ku kenang dalam hidupku, maafkan aku yang egois. Kau adalah luka yang ku rindu."


"Aku menerima apapun keputusanmu, kalau itu membuatmu bahagia, kenapa tidak? Aku tak masalah, jika tak bisa hidup bersamamu. Namun, aku minta satu hal padamu, jangan membenciku. Aku tak bisa, jika kamu membenciku. Anggaplah aku temanmu, kumohon." ucap Gilvan


"Akan ku upayakan. Maaf, aku harus pergi. Maafkan aku telah mengganggumu."

__ADS_1


Vina melepaskan pelukannya pada Gilvan. Vina berlari menuruni anak tangga. Ia menyenggol Fadli yang tengah melihat mereka berpelukan. Fadli kaget, namun Vina tak menghiraukannya.


Gilvan terduduk lemas setelah Vina meninggalkannya. Gilvan pun menitikkan air matanya. Ia menguatkan dirinya sendiri ketika dihadapan Vina. Padahal, sebenarnya, Gilvan sangat terpuruk dan sakit hati dengan apa yang ia ucapkan.


Fadli mendekati Gilvan. Perlahan, ia jongkok dihadapan Gilvan. Melihat hati Bosnya yang sedang kacau dan berantakan. Fadli memang tak pernah jatuh cinta, Fadli tak tahu bagaimana rasanya, namun melihat Gilvan terpuruk seperti ini, Fadli tahu, bahwa jatuh cinta itu tak mudah.


"Pak, sudah. Jangan bersedih." bujuk Fadli


Gilvan mengusap air matanya yang keluar. Ia tersenyum sendu, melihat Fadli yang membujuknya.


"Kamu tahu kan wanita itu?"


"Iya, Pak. Wanita yang tadi siang Bapak perhatikan. Dan saya kaget, melihatnya memeluk Bapak." Fadli mengiyakan


"Dia adalah wanita yang membuat aku jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya. Dia yang paling tersakiti. Aku mencintainya, lebih dari dua wanita sebelumnya." terang Gilvan


"Bapak pasti sangat mencintainya." ucap Fadli


"Aku mencintainya lebih dari apapun. Dia adalah wanita yang menyelamatkan hidupku. Aku yang bodoh, terlalu mengabaikannya, sehingga dia malah menyerah dengan cintanya padaku." ucap Gilvan


"Masalah apa yang bapak hadapi? Apa dia meninggalkan bapak? Lalu menikah dengan lelaki lain?" tanya Fadli penasaran


"Kisahnya sangat panjang. Kamu tak mungkin mengerti. Aku dan dia menjalani kisah yang rumit. Tentunya, aku yang menyakiti hatinya, setelah dia terlalu sabar menunggu kedatanganku." jelas Gilvan


"Tapi, dia sudah menikah dan mempunyai anak. Bukankah dia yang meninggalkan Bapak? Anehnya, anak itu malah terlihat mirip dengan Pak Gilvan. Saya kira, hanya perasaan saya saja yang salah melihat, tapi rekan kerja yang lain pun berkata begitu, Pak. Saat anak wanita tadi memaksa ingin merchandise kita, pelayan Nita dan pelayan Ina, bilang kalau anak tadi persis sekali mirip dengan Pak Gilvan."


"Kenapa kalian berkata begitu? Apa kalian mengira, bahwa itu adalah anakku?"


"Maaf, Pak, jika saya lancang. Tapi, anak itu memang tak ada mirip-miripnya dengan lelaki tadi. Apa salah, jika kita berkata bahwa itu adalah anak Bapak? Karena, kalian sangat mirip sekali. Apalagi, wanita yang menjadi Ibunya, adalah wanita ketiga yang Bapak cintai. Mungkinkah Pak, bahwa anak itu?"


"......"


*Bersambung*


Halo, selamat siang.

__ADS_1


Maaf, jika update ku telat ya. Aku tadi lagi datang sifat males nya. Heheh


Ada yang mau crazy up? Kalo komentar nya sudah 50, akan ku lanjutkan hari ini juga. Yang semangat like dan membacanya ya. Jangan lupa komentar, lebih dari 50 komentar aku langsung up ❤


__ADS_2