
Dimas dan Intan sedang makan malam bersama di restoran mewah. Mereka sedang berkencan, menikmati suasana baru sebagai sepasang kekasih. Dimas menatap Intan dengan romantis. Ia tak menyangka bisa menjadi kekasih Intan, wanita pecicilan yang dulu menyukainya, kini ia balik menyukai Intan.
"Eh, Dimas. Ini lo kan?" tanya seorang wanita yang kebetulan lewat
"Iya, siapa ya? Eh, Mira. Bener kan? Lu Mira?" tanya Dimas kaget
Intan menghela nafas. Bau-bau pelakor sepertinya mulai meraja lela. Ia memberi tatapan sinis pada wanita tersebut.
"Iya, gue Mira! Udah lama banget gak ketemu ya. Apa kabar lo? Rama gimana? Lo masih deket sama dia?" tanya wanita yang bernama Mira itu
"Gue baik, Rama juga baik. Lo udah pulang ke Bandung ternyata! Kapan lo balik?" tanya Dimas
"Baru dua minggu kok. Rama baik-baik aja kan? Gue kangen banget sama dia!"
"Dia udah nikah, Mir!" jawab Dimas enteng
"What? Semenjak lulus SMA, gue lost contacts sama Rama! Emang sih gue pernah denger dia tunangan, pantesan aja sekarang udah married." ucap Mira
"Dia nikah bukan sama tunangannya. Tunangannya udah meninggal." ucap Dimas
"Wah, sepertinya Rama punya banyak kisah. Gue jadi pengen ketemu dia." ucap Mira
"Jangan berharap sama Rama. Dia udah punya istri. Ucap Dimas
" Ya nggak mungkin lah, Dim! Masa gue jadi pelakor sih. Meskipun kita udah putus, seenggaknya kita bisa berteman kan!" ucap
"Iya sih. Eh, Mir.. Kenalin, ini Intan. Cewek gue! Ini Mira, Ntan! Temen SMA aku sama Rama!" ucap Dimas
"Intan"
"Mira"
"Lusa Rama resepsi pernikahan yang kedua. Lo datang aja! Sekalian kita reuni." ajak Dimas
Intan menatap Dimas tak suka. Intan tak mau Dimas mengajak wanita itu. Penciuman Intan sangat tajam. Sepertinya wanita itu masih menyimpan rasa untuk Rama. Tetapi, Dimas tak menghiraukan tatapan sinis Intan.
"Oh ya? Ternyata Rama itu baru menikah ya! Gue pasti dateng! Alamatnya dimana, Dim?" tanya Mira
"Di Taman Cinta, resepsi outdoor." ucap Dimas
"Baiklah, terimakasih informasinya, Dim. Sampai jumpa nanti ya, Bye!" Mira berlalu
"Yoi, Mir!" jawab Dimas santai
Intan melotot pada Dimas. Intan tak suka dengan sikap Dimas kali ini.
"Lu kenapa sih malah ngasih tau cewek itu tentang resepsi Gita sama Rama?" tanya Intan kesal
"Emangnya kenapa beib? Gak apa-apa dong, dia kan temen SMA gue sama Rama."
"Tapi, wanita itu kan mantannya Rama! Gimana kalau dia mengganggu hubungan Gita sama Rama? Lu harus tanggung jawab!!!“ Intan emosi
" Sayang, lu tenang aja kenapa! Gue juga tahu kok. Dulu, si Mira itu playgirl. Banyak cowoknya, dia maenin semua cowok, termasuk Rama. Mira gak pernah serius sama cowok, dia gak cinta sama si Rama, cuma buat koleksi aja. Malahan si Rama yang dulu bucin sama si Mira. Tenang aja, hal yang lu takutkan gak akan terjadi, sayang! Apalagi sekarang Rama udah punya Gita! Gak ada yang perlu kita khawatirkan. Oke?" Dimas menjelaskan
"Awas aja kalau sampe temen lu yang tadi buat masalah, gue gorok lehernya!" Intan memperagakan
__ADS_1
" Widih, serem banget. Kalau gue yang deket sama cewek lain, lu mau gimanain tuh cewek?" tanya Dimas
"Gue mau telanjangin lu berdua, gue arak keliling kota Bandung, biar tau rasa, setelah itu gue ikat di rel kereta biar ****** sekalian. Selingkuh itu adalah hal yang gak bisa gue maafkan sama sekali. Mau lo?" Ancan Intan
"Enggak dong sayang, aku gak mungkin gitu!"
***
Gita dan Rama telah sampai dirumahnya. Semua telah kembali dari hotel tadi siang. Begitupun keluarga Gita, mereka pun telah pulang.
Gita melihat bayi-bayi kecilnya sedang tidur nyenyak. Ia kembali ke kamarnya. Kamar Rama kini menjadi kamar Gita. Hari ini, Gita lelah sekali. badannya terasa remuk. Setelah resepsi kemarin, ia kelelahan, tadi pun ia masih bepergian. Tangan dan kakinya terasa pegal sekali. Ia segera membersihkan diri.
Gita telah selesai, ia duduk selonjoran di ranjang Rama. Gita memijat-mijat kecil tangan kakinya karena terasa amat sakit.
Rama memasuki kamarnya. Ia melihat Gita seperti sedang merasa kesakitan. Rama mendekati Gita. Duduk disampingnya, dan tersenyum padanya.
"Kamu darimana?" tanya Gita
"Kakek memanggilku untuk urusan pekerjaan sayang. Kakimu kenapa?" ucap Rama
"Aku pegal-pegal. Sepertinya aku kelelahan. Aku juga dari pagi bepergian terus. Akhirnya kakiku sakit seperti ini." ucap Gita
"Mau ku pijat?" tawar Rama
"Tidak usah sayang, aku bisa sendiri kok." jawab Gita
"Kamu tak perlu sungkan, aku ini suamimu. Sudah selayaknya aku membantumu. Sini, aku bantu." ucap Rama
Rama memijat-mijat lembut kaki Gita. Gita merasa darahnya mengalir lebih cepat. Sentuhan Rama membuat Gita terangsang. Ada perasaan aneh muncul didalam dadanya. Gita tak tahu kenapa. Gita menikmati setiap sentuhan Rama di kakinya.
"Sayang, cukup. Hentikan!" ucap Gita
"Kenapa? Pijitan ku gak enak ya?" tanya Rama
"Bukan begitu!" ucap Gita malu
"Terus kenapa?" tanya Rama
"Aku.. Aku geli sayang!" Gita menunduk malu
Rama tak kuat ingin tertawa, tapi ia menahannya, karena takut Gita marah
"Aku mijit kamu, bukan gelitikin kamu!" Rama sungguh ingin tertawa
"Tapi pijitan kamu malah buat aku geli." ucap Gita
"Kamu geli kenapa? Kamu terangsang oleh sentuhan ku, iya?" Rama menahan tawa
"Apaan sih kamu, enggak kok!" Gita kesal
"Bilang aja kalau kamu terangsang! Kamu kapan sih berhenti menstruasi? Kamu juga gak tahan kan? Jujur aja sama aku!" Rama mencolek Gita
"Apasih kak! Nggak kok! Ah, tau lah! Kamu nyebelin banget malam ini. Pokoknya, malam ini aku gak mau tidur sama kamu. Udah, aku mau pergi ke kamar anak-anak aja!" Gita berdiri, beranjak pergi
Rama dengan tangkas menahan tangan Gita, dan segera membalikan badan Gita, hingga badan mereka saking berhadapan. Gita kesal, Rama selalu saja menjahilinya, ia melepaskan tangannya dari Rama, tetapi tak bisa. Rama mendekatkan tubuhnya ke tubuh Gita, lalu ia memegang pipi Gita.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Rama mencium Gita dengan hangat. Gita kaget, ia tak siap dengan ciuman Rama. Rama terus saja membuat jantung Gita berdebar lebih cepat. Ciumannya sangat romantis, sepertu di film-film korea.
"Kamu jangan marah-marah seperti itu. Aku akan sabar menantinya!" ucap Rama
"Tapi kamu nyebelin!" Gita cemberut
"Iya, maaf. Aku gak tahan denger kamu bilang geli. Kamu itu polos banget tau gak sih!" Rama terkekeh
"Aku kan jujur. Memang aku geli dipijat olehmu!" jawab Gita
"Iya, aku mengerti. Kalau kamu geli aku pijat, berarti kamu terangsang oleh sentuhan ku! Aku tidak salah bicara, memang seperti itu." jelas Rama
"Kalau aku terangsang memang kenapa?" Gita tak mengerti
"Kamu terangsang, itu artinya kamu ingin bermain denganku. Masa kamu nggak ngerti sih, sayang?" Ucap Rama dengan lembut
"Main apa memangnya?" Gita sungguh tak paham
"Ya ampun, istriku ini memang wanita yang masih suci. Badan kamu merespon sentuhan ku, tetapi pikiranmu masih belum sampai ke sana." Rama menjelaskan tetapi Gita masih tak mengerti
"Aku nggak ngerti. Udah ah, pusing." Gita bingung
"Masa aku harus ngomong secara vulgar?"
"Ya udah ngomong aja. Biar aku ngerti." pinta Gita
"Kalau kamu sudah terangsang oleh sentuhan ku, artinya tubuh kamu itu pengen di jamah sama aku! Kamu ingin making love bersamaku." Rama berkata pelan-pelan
"Hah? Enak aja! Sembarangan kakak kalau ngomong. Aku gak semurah itu loh ya! Gampangan banget dong aku kalau gitu." Gita kesal
"Kamu gak perlu malu-malu dong sayang! Lagian, kita ini sudah SAH. Aku udah bayar kamu kan pas kita akad nikah?" terang Rama
"Diri aku itu mahal harganya. Gak bisa sembarangan kamu beli. Kamu cuma beli aku dengan 500gr emas, mobil, sama rumah. Aku murahan banget dong bisa dibeli pakai uang!" Gita meracau
"Sayang, kenapa sih omongan kamu kemana-mana? Nggak gitu maksud aku! Udah ah, makin lama kamu makin ngaco. Pokoknya kalau menstruasi mu sudah selesai, bilang padaku! Aku akan segera mengajak juniorku bertemu little Gita mu!" ucap Rama
"Ih, omongan kakak itu gak pernah jauh dari hal-hal yang berbau s*ksual ya!"
"Wajar dong sayang! Kamu kan istri aku. Sudah sewajarnya aku mencicipi milikmu!" Rama membuat Gita geli
"Emangnya aku makanan bisa kamu cicipi! Huh, menyebalkan!" Gita kesal
"Aku sangat suka menggoda mu, kalau kamu marah, kamu menggemaskan sekali." Rama memeluk Gita lagi
"Lihat saja nanti. Aku tak akan memberikannya padamu kalau kamu selalu saja menjahili ku seperti ini." ucap Gita
"Biarlah, itu yang aku suka." Rama tersenyum licik
"Maksudmu apa?"
"Biar kita seperti main drama, kamu menolak aku yang memaksa. Seperti yang kita lakukan dulu. Sensasinya sangat menegangkan." ucap Rama
"KAK RAMAAAAAAAAAAAAAA!" Gita memukuli badan Rama.
*Bersambung*
__ADS_1