
Suasana praktek bidan desa dikampung sangat sepi. Malam menjelang subuh, masih terdengar suara jangkrik dan sebagainya. Mereka semua harap-harap cemas menunggu kelahiran bayi Vina
Vina melahirkan seorang bayi perempuan yang putih dan cantik. Meskipun bayi ini lahir tanpa diinginkan, namun ketika bayi itu telah hadir di dunia ini, semuanya sangat senang dan bahagia.
"Alhamdulillah.. Akhirnya!" Gita menghela nafas lega
"Syukurlah, kamu selamat, Nak." ucap Mama Vina
"Terima kasih, Tuhan." ucap Papa Vina
Vina masih lemas, dan belum bisa bicara banyak. Ia hanya tersenyum lega, telah melahirkan bayinya dengan selamat. Gita dan Rama bahagia, bayi Vina lahir dengan selamat.
Ada satu hal yang membuat mereka bersedih. Yaitu, kehadiran Gilvan yang mereka tunggu-tunggu, namun tak kunjung tiba. Ketika kontraksi, Vina sempat menanyakan kondisi Gilvan, apa sudah membaik, apa masih dalam tahap pengobatan.
Gita terpaksa berbohong, Gita berbohong pada Vina bahwa Gilvan masih dalam pengobatan, dan Gilvan juga tak bisa diganggu. Akhirnya, Vina mengerti dan dirinya fokus pada bayinya.
Pagi ini, Bayi Vina dibawa oleh tante Sinta dan Om Dani pergi ke rumah kakeknya lebih dulu diantar Rama. Nanti, giliran Vina dan Gita dijemput lagi oleh Rama.
Gita sedang menyuapi Vina sarapan pagi. Kondisi Vina mulai membaik. Walaupun tanpa sang Ayah dari bayinya, Vina tetap melahirkan dengan baik dan selamat. Vina tak memikirkan apapun selain bayinya.
"Git, kenapa lu harus repot-repot datang kesini sih? Kan lu harus ke kantor hari ini?" ucap Vina
"Lu lebih penting dari semua itu. Gue udah ada sekretaris sekarang." jawab Gita
"Serius lu?" tanya Vina
"Suami gue itu emang penyayang dan perhatian banget sama gue. Sekretaris Andin jadi sekretaris gue sekarang, dia bakal nyari sekretaris baru, katanya."
"Udah ketemu?" tanya Vina
"Belum, sementara yang gantiin Rey dulu." jawab Gita
"Baguslah kalau begitu. Oh iya, gimana kata Dr. Frank? Apa Gilvan sudah mulai ingat kembali? Gue rasa, ini sudah tujuh bulan Gilvan berada di USA."
DEG. Gita bingung dan kaget. Vina menanyakan keberadaan Gilvan lagi. Gita tak mungkin memberi tahu Vina keadaan yang sebenarnya. Ia baru saja melahirkan, jika ia mendengar kabar buruk, apalagi itu Ayah sang bayi, Vina takutnya mengalami depresi.
Vina, aku harus menjawab apa? Aku tak mungkin jujur sama kamu! Aku tak mungkin beritahu kamu yang sebenarnya terjadi pada Gilvan. Maafkan aku jika aku harus terus-terusan membohongimu. Batin Gita dalam hati.
"Mm, i-itu Vin, Gilvan mengalami pendarahan yang cukup parah, sehingga penyembuhannya pasti akan sangat lama. Kalau Dr. Frank memaksakannya, akan terjadi kerusakan otak yang parah pada diri Gilvan. Dan kemungkinan untuk sembuh sangatlah lama." jawab Gita berbohong
__ADS_1
"Lalu, kapan perkiraan Dr. Frank Git?" tanya Vina lagi
"Sekitar 1 sampai 2 tahun, Vina. Karena, otakm adalah bagian sensitif dalam tubuh kita. Tak bisa semudah itu menyembuhkan bagian yang luka. Kita harus benar-benar bersabar." ucap Gita
"Tak apa-apa. Aku rela menunggunya. Aku sudah tak sabar, ingin segera dia pulih, aku ingin menunjukkan anaknya yang cantik padanya. Dia pasti bahagia sekali, Git." Vina tersenyum penuh arti.
*Ya ampun, Vina. Sungguh, aku nggak bermaksud bohongin kamu. Aku bener-bener gak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu, kenapa Gilvan harus pergi dan tak kembali kesini.
Aku sengaja mengatakan waktunya 1 sampai 2 tahun, mengantisipasi tak ada kabar dari Gilvan selama itu. Tetapi, semoga saja, secepatnya Gilvan akan segera kembali padamu, Vina. Semoga, sebelum waktu yang ditentukan, Gilvan telah kembali. Batin Gita*.
"Iya, Vin. Gilvan pasti bahagia. Kita doakan saja yang terbaik untuknya. Semoga dia segera pulih." jawab Gita
"Amin, Git. Tentu saja."
Gita dan Vina saling berpelukan. Gita merasa dirinya adalah sahabat yang kejam, karena membohongi Vina tentang keberadaan Gilvan. Tapi, kalau pun Vina harus tahu, ini bukan saatnya untuk memberi tahu Vina.
Rama telah menjemput Vina dan Gita. Gita membantu Vina berjalan sampai menuju mobil. Dengan perasaan bersalah karena telah membohonginya, Gita pura-pura seakan-akan tak ada masalah yang terjadi.
***
Keesokan harinya.
Makan pagi khas sunda. Nasi uduk campur dengan sambal dan lalapan. Gita teringat saat berolahraga pagi, lalu dirinya bertemu Rama. Mereka berdua makan nasi uduk. Sungguh indah jika mengenang masa-masa itu.
Acara makan pagi pun telah selesai. Sepertinya, Papa Vina akan membicarakan sesuatu. Beliau menyuruh semuanya untuk tetap duduk diruang makan.
"Rama dan Gita, aku harap kalian mendengar juga ucapan ku ini." ucap Papa Vina
"Ucapan apa Pa?" Vina sedikit khawatir
"Kamu harus segera menikah. Cari lelaki yang mau menerima kamu dan anakmu. Papa tak bisa menghidupi kamu dan anakmu. Dagangan Papa tidak seramai dulu, saingan semakin berat. Keadaan Papa saat ini amat sulit." ucap Papa Vina
Semuanya terdiam. Vina tak mungkin menikah sekarang. Jelas-jelas, Vina menunggu kehadiran Gilvan yang sedang dalam masa pengobatan. Vina tetap menaruh harapan untuk Gilvan.
"Vina akan menunggu kehadiran Ayah dari bayi ini, Pa. Vina akan menikah dengannya." ucap Vina
"Dia tak akan kembali. Papa tak akan merestuinya. Carilah lelaki yang mau bertanggung jawab padamu. Atau, haruskah aku yang akan mencarikan suami untukmu?" ucap Papa Vina.
"Vin, kamu harus mempunyai suami. Menunggu Ayah dari bayimu itu sangat kecil kemungkinan. Hal itu belum pasti. Bagaimana kalau dia tak kembali? Menikahlah dengan lelaki lain. Itu pasti yang terbaik untukmu." ujar Mama Vina
__ADS_1
Rama sedikit terganggu dengan ucapan Papa Vina yang menyuruh Vina menikah lagi. Rama takut, kalau Gilvan akan datang suatu hari nanti. Rama menawari beberapa hak pada keluarga Vina.
"Om, dan Tante. Mohon maaf jika saya lancang kepada kalian berdua. Namun, menurut saya, biarlah Vina sendiri dulu. Jika semua ini karena uang, biarkan Vina bekerja di perusahaanku. Aku yang akan menggaji Vina, akan kuberi tunjangan pada Vina berupa mobil dan apartemen. Sehingga, Vina tak akan menyusahkan kalian. Ketika Vina sudah mapan, baru Vina memikirkan untuk menikah. Itu menurut saya, maaf kalau saya ikut campur." jelas Rama
"Iya, Om, Tante. Lebih baik, Vina bekerja bersama kita. Kalau untuk anak Vina, biarkan baby sitter keluarga kami yang menjaga bayi Vina. Aku yang akan mencarikan baby sitter untuknya nanti." Gita menambahkan
Mama dan Papa Vina terdiam. Mereka benar-benar bingung dengan pilihan yang Rama berikan. Di satu sisi, mereka bahagia Rama mau mempekerjakan Vina di kantornya, di sisi yang lain, mereka malu jika harus merepotkan Vina.
Memang, menikah bukan jalan keluar terbaik bagi Vina. Papa dan Mama Vina malu jika sampai di Bandung, semua orang tahu bahwa Vina sudah punya anak, namun tak bersuami.
"Nak Rama, kenapa repot-repot sekali? Tak perlu seperti ini, kami bisa menyelesaikan permasalahan Vina sendiri." ujar Mama Vina
"Tak apa, Tante. Justru, di kantor Rama sedang kekurangan staf marketing." jelas Rama
"Kalian terlalu baik pada keluarga saya. Saya tak mau merepotkan kalian." ucap Papa Vina
"Tak apa, om. Menurut saya, izinkanlah Vina bekerja di perusahaan kami. Berikan semua keputusan pada Vina. Biarkan dia memilih akan bagaimana." jelas Rama
"Aku bingung harus bagaimana." ucap Vina
"Apa yang buat kamu bingung, Vin?" tanya Gita
"Apa aku harus menerima tawaran kalian untuk bekerja di perusahaan?"
"Tentu saja, itu akan meringankan beban mu, Vin." ucap Gita
"Ada satu hal yang memberatkan ku, Git." jawab Vina
"Apa itu?" tanya Gita lagi
"Anakku.. Aku tak mau meninggalkannya. Aku ingin suamiku yang mencari kerja, aku dan anakku hanya di rumah, menunggunya pulang. Aku ingin hidupku bahagia seperti itu, Git." ucap Vina
"Vin, jangan mimpi. Lihatlah ke depan, Gilvan pun entah akan kembali atau tidak. Kamu harus melanjutkan hidupmu, Vin. Jangan terlalu berharap." Gita keceplosan
"Maksud kamu? Gilvan entah kembali atau tidak? Apa kamu tahu sesuatu tentang Gilvan? Iya?" Vina menyelidik Gita
*Bersambung*
Halo say.. Jangan lupa like dan komennya ya😘 Aku udah ngantuk, cape banget nih. Kadang, ngetik aja sambil mata merem-merem, entar bangun lagi. Saking ngantuk nya, sampe lupa kalau lagi nulis 😂
__ADS_1
Semua untuk kalian pembaca setiaku.. Semoga kalian suka ya cerita di season 2 ini 😘