
Besok adalah hari yang dinantikan oleh Rama. Besok mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan yang kedua. Memang, acaranya tak sesibuk pada saat resepsi utama yang mana semua bangsawan-bangsawan serta kolega perusahaan mereka semua hadir. Besok, hanya rekan dan sahabat saja yang di undang.
Setelah selesai makan malam, mereka duduk santai dan mengobrol ringan.
"Kak, besok aku mau bawa temenku, boleh ya?" tanya Raina
"Bawa aja." jawab Rama santai
"Serius kak?" tanya Raina tak percaya
"Serius. Bawa se RT juga boleh!"
"Kak, serius dooooong!"
"Boleh Rai, boleh! Suka-suka lu mau bawa siapa kek. Yang penting kalian semua bahagia dihari pernikahan gue." ucap Rama
"Asyik, kakakku emang paling the best deh!" Raina mengacungkan jempolnya
"Rai, kamu dandan yang cantik ya, biar seperti kak Gita." ucap Mami
"Rai udah cantik dari dulu mih, tanpa make up juga sudah sangat cantik kok!" Raina pecicilan
Gita hanya tersenyum menanggapinya. Gita mulai enjoy berbicara bersama keluarga Rama. Sudah tak ada kecanggungan diantara mereka.
"Ram, kakek besok tak ikut. Badan kakek tak enak, lagi pula itu acara anak muda, kakek malu harus ikut campur tentang anak muda." ucap kakek Prima
"Baik kek, aku memahaminya!"
"Ayah kok gak kesana sih, kan seru! Angga sama Maya akan hadir. Kita ingin seperti ABG lagi. Iya nggak mih?" ucap Papi Rama
"Kalian sudah tua tak tahu malu! Sudah, aku mau istirahat dulu." Kakek Prima berlalu diantar asistennya
Semua kembali ke kamarnya. Gita seperti biasa, sebelum masuk ke kamar Rama, ia pasti melihat anak-anaknya dulu. Memastikan mereka sudah tidur apa belum, kalau belum tidur Gita pasti mengajaknya bermain terlebih dahulu.
Ternyata, anak-anak Gita sudah terlelap. Bayi mungil itu sudah berusia hampir dua bulan. Nayya, tak akan diragukan lagi masa depannya, karena ia adalah anak kandung Gita, darah daging Rama sendiri. Tetapi, bagaimana dengan Nakka? Gita tak mau orang lain tahu bahwa Nakka bukan anak kandungnya. Gita ingin menganggapnya sebagai anak kandung Gita sendiri.
Gita takut, suatu hari nanti Nakka akan pergi meninggalkannya kalau ia tahu Gita bukan Ibu kandungnya. Gita sangat menyayangi Nakka, seperti ia menyayangi Nayya. Gita tak mau kehilangan anak-anaknya.
__ADS_1
"Mi, aku tak mau Nakka tahu bahwa aku bukan Ibu kandungnya. Kumohon, jaga rahasia ini rapat-rapat." ucap Gita
"Tentu, nona! Kami tak akan pernah membocorkan apapun yang terjadi di rumah ini. Lagipula, kami berdua pun sangat menyayangi Den Nakka." ucap Mia
"Aku membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa Ibu, kalau ia bisa merasakan, hatinya pasti sakit sekali. Bayi mungil ini, korban dari keegoisan Siska, kalau saja dulu Siska tak serakah seperti itu, mungkin dia tak akan terlahir seperti ini, tanpa Ibu dan Ayah." Gita menitikkan air matanya
"Nona, jangan menangis! Kami tahu perasaan nona. Biarkan semuanya berlalu. Nona adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk Den Nakka, Den Nakka pasti bahagia memiliki Ibu seperti nona, Ibu yang sangat penyayang." Mia menyemangati Gita
"Aku sedih, aku kasihan dengan hidupnya. Kalau dulu aku tak merawatnya, akan bagaimana nasibnya nanti?" Gita menangis
"Untuk itulah nona hadir, semua ini sudah menjadi takdirNya. Nona tak boleh bersedih, besok nona akan melangsungkan resepsi yang kedua, nona harus segera beristirahat, biar kami yang menjaga Nayya dan Nakka." ucap babby sitter Naka
"Baiklah, aku percaya kepada kalian. Terimakasih telah merawat anak-anakku dengan tulus. Aku permisi dulu!"
"Baik, nona muda." mereka berdua menundukan kepalanya sebagai tanda hormat
Nakka, anakku.. Hiduplah dengan baik. Tumbuhlah dengan bahagia bersamaku, meskipun kau bukan darah dagingku, tapi aku tetap menyayangimu. Seandainya nanti kelak engkau tahu bahwa aku bukanlah Ibumu, akan bagaimanakah dirimu? Akankah kau tetap menyayangiku? Ataukah kau akan membenciku? Aku tak ingin hal buruk itu terjadi. -Gita dalam hati-
Gita masuk ke kamar Rama dalam keadaan mata yang sembab habis menangis. Rama kaget, melihat wajah istrinya seperti habis menangis.
"Aku tidak apa-apa sayang." Gita enggan bicara
"Kenapa? Katakanlah padaku. Aku ini lelakimu, aku harus tahu apapun yang membuatmu sedih."
Gita tak menjawab. Ia memeluk Rama dengan erat. Hangat tubuh Rama mampu meredakan kesedihan Gita. Gita sungguh wanita perasa, ia akan sedih dengan hal yang sepele. Hati Gita sangat lembut.
"Kenapa kamu seperti ini? Apa kakek memarahi mu? Apa Ibu membencimu? Katakan padaku, jangan kau sembunyikan apapun dariku!" ucap Rama
"Tidak, bukan seperti itu. Kakek dan Ibumu adalah orang yang baik." Gita jujur
"Lantas apa yang membuatmu bersedih?" tanya Rama
"Aku memikirkan nasib Nakka, aku memikirkan masa depannya akan seperti apa." Gita sedih lagi
"Kamu tak perlu khawatir, bukankah kita semua sudah menerima kehadirannya? Bukankah dia adalah kembaran Nayya? Kita punya anak kembar, Nakka tak akan mengetahui asal usulnya. Tenanglah." Rama menenangkan Gita
"Iya, tapi aku tetap saja khawatir! Aku takut nanti dia tahu kalau aku bukan Ibu kandungnya dan dia akan pergi meninggalkanku." Gita menangis
__ADS_1
"Tidak akan seperti itu sayang. Ketika nanti Nakka sudah besar, dia pasti sangat menyayangimu, percayalah padaku!" Rama mengusap lembut punggung Gita
"Kenapa nasib Nakka harus seperti ini? Sudah tak di akui oleh ayah kandungnya, tak di anggap oleh keluarga besarnya, bahkan ia pun ditinggalkan oleh Ibu kandungnya. Kasihan sekali anakku ini, kak!" Gita menangis
Rama heran. Entah mengapa Gita tiba-tiba mengingat masa depan Nakka, Gita memang wanita yang lembut, sifatnya sangat keibuan meskipun ia masih sangat polos.
"Sayang, dengarkan aku. Nakka tidak bernasib buruk. Nakka bertemu denganmu, Ibu sambungnya. Kamu menyayangi Nakka seperti anakmu sendiri, kamu tak membeda-bedakan Nakka dengan Nayya anak kita, Kamu menyayangi Nakka sepenuh hati. Nakka sangat beruntung sayang! Nakka beruntung memiliki Ibu sepertimu. Percayalah padaku, dia pasti sangat bahagia ketika nanti sudah besar." Rama mengecup kening Gita
"Benarkah? Apa Nakka bahagia memiliki Ibu sepertiku?"
"Tentu saja! Kelak nanti, Nakka pasti menyayangimu sepenuh hatinya, karena kau adalah Ibu yang baik." Rama tersenyum
"Tapi, rasa takut tetap ada di hatiku. Aku takut, aku harus bagaimana?" Gita cemas
"Sayangku, kita lihat saja nanti. Nakka sekarang belum mengerti apa-apa. Ia masih kecil, tenanglah.. Semua menunggu waktu, biarkan saja mengalir seperti air yang tenang!" Rama memberi saran
"Terimakasih, aku bahagia memilikimu. Kamu adalah lelaki yang hebat, suamiku!" Gita tersenyum
"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Rama
"Kamu orang yang baik. Kamu mau mendengarkan keluh kesah ku, kamu mau mendengarkan obrolanku, kamu mau memberi saran dan jawaban ketika aku sedih seperti ini. Terimakasih kamu telah mendengarkan." ucap Gira
"Kamu istriku, kamu tanggung jawabku. Apapun yang kamu lakukan, akan tetap ada dalam pengawasanku. Apapun yang kamu katakan, akan aku dengarkan dengan setia. Kapanpun kamu memintaku memberi saran padamu, akan ku lakukan! Semua ku lakukan hanya demi engkau, Cintaku yang aku perjuangkan mati-matian!" Rama mengusap rambut halus Gita
"Aku sangat bahagia memiliki dirimu! Terimakasih telah menjadi suami yang pengertian untukku!" Gita memeluk Rama lagi
"Tentu, sayangku! Aku pun begitu, kamu adalah wanita yang baik, wanita yang cantik. Aku beruntung memiliki dirimu. Apalagi, kamu berhati seperti malaikat. Kamu tetap memperhatikan Nakka meskipun ia bukanlah anak dirimu!" ucap Rama
"Karena aku tak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Nakka kalau ia tahu Ibunya telah tiada dam keluarganya tak menganggapnya." ucap Gita
"Nakka memiliki kita, orang tua yang menyayanginya. Tenanglah, kamu tidak perlu banyak pikiran. Sekarang, waktunya kamu tidur. Besok, kita pasti sibuk." ucap Rama
"Baiklah, aku akan tidur. Terima kasih sayang atas semua perhatianmu!" ucap Gita
"Tidurlah yang nyenyak. Aku akan datang ke mimpimu!" ucap Rama
Aku beruntung memiliki wanita berhati malaikat sepertimu! Kamu, memang pantas untuk aku cintai. Kamu, memang layak untuk di perjuangkan. Kamu, memang harus aku pertahankan. Wanita yang polos namun penuh dengan ketulusan. Semoga kamu bahagia hidup bersamaku. Rama dalam hati.
__ADS_1