
"VINA?"
Gilvan memicingkan matanya kembali. Ia yang tengah setengah mabuk, tapi mampu mengenali Vina dan lelaki yang disampingnya. Lelaki itu adalah?
ANDRA?
...Apa benar itu Vina dan Andra? Kenapa Andra seenaknya saja memainkan tubuh Vina didepan semua orang. Aku tak percaya, Vina ada disini. Batin Gilvan...
Andra sepertinya akan membawa Vina menuju ke suatu tempat. Gilvan segera beranjak dari duduknya, ia mencari-cari keberadaan Vina dan Andra.
Gilvan menelusuri lorong-lorong diskotik, mencari jejak Vina dan Andra. Berharap Vina masih bisa Gilvan selamatkan sebelum sampai Andra berbuat senonoh padanya.
Gilvan melihat, Vina sedang menggelayut di bahu Andra. Andra terus menciuminya secara brutal. Andra terus memegang bagian vital tubuh Vina, sepertinya Andra memang akan berbuat hal gila kepada Vina, beberapa kali, leher dan dada Vina diciumi oleh Andra. Gilvan tak tinggal diam, Gilvan berlari sekuat tenaganya. Semoga Andra bisa melepaskan Vina.
Gilvan menendang Andra dari belakang, hingga Andra tersungkur kehilangan keseimbangannya. Gilvan segera menangkap tubuh Vina yang sempoyongan. Gilvan merebahkan tubuh Vina dibelakangnya.
Gilvan menghajar Andra habis-habisan. Memukulnya, menendangnya dan menonjok muka Andra beberapa kali tanpa ampun. Sepertinya, Andra dalam keadaan mabuk juga. Gilvan benar-benar kehilangan kendali, Gilvan benar-benar tak suka jika Vina harus dipermainkan oleh Andra.
Andra membalas Gilvan. Ia tak terima dipukuli dan ditindas oleh Gilvan. Andra bangun dan menghantam tubuh Gilvan beberapa kali. Kadar alkohol yang Gilvan teguk ternyata telah bereaksi. Gilvan tak mampu membalasnya, Gilvan dihajar balik oleh Andra.
Andra tak memberi ampun pada Gilvan. Andra terus menghantam Gilvan dengan sekuat tenaganya. Gilvan benar-benar kewalahan, ia sudah tak bisa memukul Andra, tubuhnya terlalu berat dan kepalanya sempoyongan.
Sampai ada beberapa orang yang melerai perkelahian mereka. Gilvan sudah tak sadarkan diri, karena mabuk berat. Ia tak bisa membalas perlakuan Andra. Hingga darah terlihat mengalir dari wajah Gilvan. Tubuhnya yang memar dan luka.
Orang-orang yang melihat kejadian tersebut, segera membawa Gilvan pergi ke rumah sakit. Sementara Vina, dibawa oleh beberapa staf diskotik untuk diantarkan pulang ke rumahnya.
Andra yang takut, segera kabur dan berlari entah kemana. Luka Andra tak separah luka yang didapat oleh Gilvan. Gilvan memukul Andra hanya beberapa kali, sedangkan Andra membalas Gilvan dengan pukulan bertubi-tubi hingga Gilvan tak sadarkan diri.
***
Andra yang takut segera pergi melarikan diri. Ia bingung harus kemana. Ia segera mengeluarkan handphone nya, dan menelepon Evelyn, sang tunangannya.
Andra memutuskan untuk pergi ke apartemen Evelyn, karena di sana pasti aman dan tak akan ada yang menemukannya. Andra membawa mobil dengan keadaan mabuk, beberapa kali, ia hampir mencelakakan pengendara lainnya.
Beruntungnya, ia bisa sampai di basement apartemen Evelyn dengan selamat. Andra segera naik lift untuk menemui Evelyn.
Betapa kagetnya Evelyn, melihat Andra luka-luka dan memar di sekujur wajah dan tubuhnya.
"Ndra, kamu kenapa? Kok bisa gini sih? Andra!!!" Evelyn benar-benar khawatir
Andra masuk, Evelyn mengobatinya dengan peralatan seadanya. Evelyn tak menyangka, Andra datang ke apartemennya dengan keadaan penuh luka memar di tubuhnya.
"Sakit?" tanya Evelyn
__ADS_1
"Sedikit." jawab Andra
"Ini, minum obat penghilang rasa mabuk. Kenapa kamu harus terluka sambil mabuk sih? Ada masalah apa kamu? Kenapa pergi ke diskotik nggak ajak aku?" pertanyaan terus keluar dari mulut Evelyn
"Berisik! Aku pusing. Aku kesini untuk menuntaskan hasrat ku. Kemari lah, aku ingin bercinta malam ini." ucap Andra
Andra mendekati Evelyn. Ia mulai bergerilya di tubuh mungil Evelyn. Mereka memang sering melakukan hal ini, sebagai antisipasi, Evelyn selalu minum pil KB agar dirinya tidak hamil.
Malam panjang yang akan Andra lakukan dengan Vina, digagalkan oleh Gilvan. Sebagai gantinya, Andra meminta Evelyn melayaninya. Evelyn bersedia, karena ia tak tahu masalah sebenarnya yang menimpa Andra. Evelyn sudah benar-benar jatuh cinta pada Andra.
***
.
.
.
Pagi hari di kediaman Vina.
Vina bangun dengan kepala pengar dan berat. Vina membuka matanya perlahan-lahan, di sampingnya sudah ada Mama dan Anaknya yang menunggu.
"Ma, kenapa kepala Vina berat sekali? Auwhh," Vina memegangi kepalanya
"Givi, kamu lihat kucingmu gih! Takut dia keluar. Jagain dulu si mimi sana. Bunda kamu nggak apa-apa kok, bunda cuma sakit kepala." ucap Mama Vina
"Iya, Givi. Bunda cuma sakit kepala aja, nih. Bentar lagi juga sembuh kok!" ucap Vina menenangkan anaknya
"Ya sudah, Givi menemani dulu si mimi yah, takut dia kabur." ucap Givia
"Iya sayang."
Mama Vina menutup pintu kamar Vina. Beliau ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi diantara Vina dan Andra.
"Kamu ini kenapa?" tanya Mama Vina
"Vina gak tahu, Ma. Kepala Vina berat banget. Vina nggak inget apa-apa."
"Kamu gak ingat? Semalam kamu mabuk, Vin! Kamu juga diantar oleh petugas diskotik, karena kamu terlibat pertengkaran dengan dua orang pria. Mama yang harusnya minta penjelasan sama kamu. Kamu jangan terus-terusan buat malu keluarga kita, Vina!" Mama Vina terlihat marah
"2 PRIA? Maksud Mama apa? Aku hanya pergi jalan bersama Andra, seingat ku hanya itu." ucap Vina
"Juga, kemana si Andra itu? Dia meminta izin membawa mu pergi, tapi dia tak terlihat mengantarmu pulang. Mama bingung sama kamu, Vina. Mau sampai kapan kamu bikin malu keluarga kita?"
__ADS_1
"Vina bersumpah, gak ada maksud buat bikin malu Mama. Vina lupa, Vina benar-benar nggak ingat apa yang terjadi. Kenapa Vina harus berada di rumah dalam keadaan tak sadar?"
"Itu semua karena kamu mabuk, Vina. Apa Andra membuatmu mabuk? Lelaki brengs*k itu. Kemana dia?" Mama Vina benar-benar marah
"Sudah, lupakan dulu hal itu. Kamu harus menyembuhkan dirimu, ketika badanmu sedikit enakan, ingat-ingatlah apa yang terjadi. Mama akan menemui Givi dulu."
"Iya, Ma. Maafkan Vina." Vina tertunduk malu
Vina berpikir keras. Apa yang menyebabkan dirinya mabuk, hingga ia diantarkan oleh petugas diskotik. Andra kemana? Vina benar-benar penasaran dengan keberadaan Andra.
Vina mengambil handphonenya. Andra tak mengangkatnya. Beberapa kali, Vina mencoba menelepon Andra, namun hasilnya nihil. Handphone Andra dialihkan, tak bisa dihubungi.
Aku terlibat pertengkaran dengan dua pria? Siapa pria yang bertengkar dengan Andra? Kenapa aku begitu mabuk, hingga aku lupa tak sadarkan diri. Andra, kenapa dia tak bisa dihubungi sama sekali. Kemana dia? Andra, jangan membuatku khawatir. Batin Vina dalam hati.
Ketika Vina sedang sibuk dengan handphonenya, Gita datang membuka pintu kamar Vina tanpa permisi. Gita datang dengan wajah terlihat khawatir.
"Gita?" Vina kaget
"Kamu gak apa-apa?" tanya Gita
Gita menghampiri Vina, lalu duduk di ranjang sebelah Vina. Gita melihat-lihat wajah Vina, merabanya, dan memperhatikan takut ada luna memar atau lebam.
"Aku gak apa-apa, kok. Aku hanya pusing. Aku baik-baik aja, kok." ucap Vina
"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Setelah menjenguk Gilvan, aku segera ke rumahku, karena aku juga sangat khawatir denganmu." jawab Gita
"Menjenguk Gilvan? Memangnya Gilvan kenapa?" tanya Vina
"Kamu gak tahu?" Gita bingung
"Nggak, emang Gilvan kenapa?" tanya Vina heran
"Gilvan di rawat di rumah sakit, setelah menolong kamu dari Andra."
"APA?"
Ada apa semua ini? Kenapa aku tak tahu, apa yang terjadi?
*Bersambung*
Selamat siang..
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya..
__ADS_1
Aku tunggu ❤