Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Istri Fadli kah?


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Raina sudah dua hari tak masuk kuliah, karena ia malas bertemu dengan Bayu dan juga Audrey. Selama dua hari kemarin, Raina hanya berdiam diri di rumah. Fadli pun sama, ia tak ada kegiatan apapun selain menemani Raina dan membantu asisten di rumahnya.


Fadli terkadang membantu memotong rumput, dan turut membantu pembantu lain di rumah Rama. Fadli memang giat dan rajin, ia tak pernah sama sekali mengeluh ataupun malas-malasan di rumah ini.


Raina kembali lagi pada sifat juteknya, ia sangat malu ketika dirinya memeluk Fadli saat itu. Selama dua hari ini, Raina tak banyak bicara pada Fadli, Raina terlalu malu untuk bicara pada Fadli. Fadli mengerti dan memakluminya, karena hati Raina pasti sangat berantakan.


Pagi ini, Fadli bersiap. Ia harus mulai bekerja lagi, karena cutinya telah habis. Raina yang melihat Fadli memakai pakaian rapi, seketika langsung bangun dari tidurnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Raina.


"Mau kerja, kan sekarang cuti ku sudah habis. Kamu mau kuliah? Biar aku antar dulu kalau begitu." jawab Fadli.


"Enggak. Aku mau di rumah aja. Ya sudah, kalau mau kerja, sana!" ucap Raina ketus.


"Iya, kamu mau sarapan di kamar apa di bawah? Kalau mau sarapan disini, biar aku yang ambilkan untuk kamu." Fadli menawarkan dirinya.


"Gak perlu, aku bisa sendiri." jawab Raina.


"Baiklah, karena sudah siang, aku berangkat dulu ya, kamu jaga diri di rumah, Assalamualaikum." ucap Fadli.


"Waalaikumsalam."


Fadli segera berangkat menuju restoran, ia pamit pada keluarga Rama, ia tak ikut sarapan, karena akan sarapan di restoran saja.


Hari-hari Fadli kembali seperti semula lagi. Lega rasanya, ketika kini Fadli mulai bekerja kembali. Ia akan bertemu dengan Gilvan dan Ara, orang-orang yang kini sudah seperti keluarganya sendiri.


Ketika Fadli sampai di restoran, ia melihat Ara belum datang, hanya ada Wildan yang selalu ceria dan caper. Gilvan mendekati Fadli yang baru saja sampai.


"Fadli, apa Ara mengabari mu?" tanya Gilvan.


"Enggak, Pak. Emangnya kenapa?" tanya Fadli juga.


"Kemarin Ara gak masuk, hari ini pun sepertinya dia gak masuk. Aku kira dia mengabari mu." ucap Gilvan.


"Loh, kemarin dia gak masuk Pak? Kenapa Bapak gak ngabarin saya? Tahu Ara gak masuk, saya bakal gantiin dia buat masuk." ucap Fadli.


"Tak apa, kemarin restoran bisa aku handle kok. Istriku juga membantu, karena ia kerja setengah hari. Oh iya, Fad, kalau tugasmu sudah selesai, apa kamu mau pergi ke kontrakan Ara? Kamu tahu kan tempatnya? Aku tadi telepon ke nomornya, tapi nomor Ara tidak aktif. Aku jadi khawatir." kata Gilvan.


"Baik, Pak. Saya akan menemuinya setelah selesai menulis laporan pengeluaran tiga hari kemarin." ucap Fadli.


"Baik, Fad. Terima kasih."


Fadli segera menyelesaikan tugasnya, ia harus cepat-cepat menemui Ara. Fadli pun khawatir, Ara tak biasanya seperti ini. Biasanya, jika ada suatu hal terjadi padanya, Ara tak akan segan-segan menghubunginya. Tapi, kini Ara malah tak menghubunginya, Ara pun tak bisa dihubungi.

__ADS_1


Pukul 10.00 WIB tugas Fadli selesai, pelanggan restoran pun hanya beberapa, akhirnya Fadli memutuskan untuk segera berangkat menuju rumah kontrakan Ara.


"Fad, Fadli!" sapa Wildan.


"Apa, Dan?"


"Aku ikut dong ke rumah Tuan puteri. Licik banget deh, kenapa cuma kamu aja yang disuruh sama Pak Bos? Aku juga ingin banget ikut ketemu Tuan Puteri, aku khawatir sekali padanya, Fad!" Wildan dengan gaya alaynya.


"Kalo kamu ikut, yang lain pasti keteteran. Kasihan dong mereka."


"Ah, Fadli gak asik!" Wildan meninggalkan Fadli.


Fadli segera menuju lantai atas untuk pamit pada Gilvan. Gilvan mengiyakan, dan ia berpesan agar Fadli segera mengabarinya jika terjadi sesuatu pada Ara. Fadli segera bergegas menuju parkiran, dan mengemudikan mobilnya menuju kontrakan Ara.


Khawatir dan dan takut terjadi sesuatu pada Ara. Tak biasanya gadis itu tak mengabarinya. Apalagi, kemarin pun ia tak masuk. Kenapa tak memberi tahu Fadli sama sekali, kalau Ara mengabari Fadli, mungkin kemarin Fadli bekerja saja menggantikannya.


Setengah jam berlalu, akhirnya Fadli sampai di kontrakannya dahulu. Ketika Fadli bekerja di dekat Rumah Rama, dia pun mengontrak di tempat ini. Terdapat sepuluh rumah kontrakan yang saling berjejer dan berhadapan.


Fadli segera menuju kontrakan Ara, berada di posisi paling ujung nomor 4. Fadli mengetuk pintu rumah Ara. Namun, rumahnya sangat sepi. Gorden rumahnya ditutup, Fadli tak bisa melihat kedalam. Fadli terus memanggil Ara, namun tak ada yang menjawab.


Apa Ara gak ada di rumahnya? Kemana dia? Kenapa dia gak biasanya seperti ini? Juga, orang-orang disebelah kontrakan Ara terlihat sepi, tak ada yang bisa dimintai informasi oleh Fadli. Tapi, kalau pun Ara pulang kampung, kenapa tak mengabari dirinya ataupun Gilvan? Kemana Ara sebenarnya? Batin Fadli.


Fadli mencari-cari orang disekitar kontrakan, akhirnya ia bertemu dengan penghuni kontrakan nomor satu.


"Gak tahu ya, kayaknya ada didalam deh. Soalnya, waktu kemarin saya jemur baju di sana, terdengar beberapa kali suara gelas pecah ataupun suara plastik." jawab Ibu itu.


"Baik, Bu. Terima kasih kalau begitu. Saya coba ke rumahnya lagi."


"Iya, sama-sama."


Fadli kembali ke kontrakan Ara. Fadli yakin, kalau Ara ada didalam rumah. Beberapa kali Fadli menggedor pintu rumahnya, tetap tak ada respon. Hingga akhirnya, Fadli memutuskan untuk menemui pemilik kontrakan. Rumahnya tak terlalu jauh dari kontrakan ini.


Fadli mengenal pemilik kontrakan, lalu memohon untuk meminta kunci serep kamar nomor empat milik Ara. Untungnya, pemilik kontrakan masih mengingat Fadli, hingga dengan mudahnya pemilik kontrakan memberikan kunci serepnya pada Fadli.


Fadli segera berlari menuju kontrakan Ara. Dengan cepat, ia membuka pintu kontrakan Ara. Akhirnya, pintu terbuka. Fadli segera masuk kedalam dan betapa berantakannya rumah Ara.


Fadli masuk ke kamar Ara, dan benar saja dugaannya. Ara terbaring lemah, suhu tubuhnya sangat tinggi, wajahnya pucat pasih, tubuhnya lemah. Ara sakit, ia tak bergairah sama sekali, matanya terpejam namun terlihat menahan sakit.


"Ya ampun, Ra! Ara! Kamu kenapa? Kenapa tak mengabari ku? Kenapa kamu benar-benar ceroboh Hah? Ayo, ikut aku. Kita ke rumah sakit sekarang!" Fadli akan membopong Ara.


"Arrhh, Fadli, tak usah. A-aku, aku tak apa-apa. Hanya kondisi tubuhku saja sedang tidak fit, Fad." jawab Ara lemah.


"Tak apa-apa gimana! Kamu benar-benar lemas begini, kamu demam Ra, kamu juga kekurangan cairan. Lihat saja wajahmu, matamu, dan kulitmu tak sehat begini. Sudah, ayo aku akan memaksamu ke Rumah sakit. Aku tak ingin mendengar penolakan darimu!" ucap Fadli.


Fadli segera membawa Ara keluar dari kontrakannya. Walaupun susah payah, Fadli mengunci pintu rumah Ara dan segera menuju mobilnya. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Ara.

__ADS_1


Fadli segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ara harus segera dibawa ke UGD, karena benar-benar terlihat lemas. Ara dehidrasi, Fadli harus segera membawanya ke Rumah sakit dengan segera.


Akhirnya, Ara mendapatkan pertolongan dari pihak Rumah sakit. Fadli sedikit lega. Fadli akhirnya tenang. Ia segera menghubungi Gilvan perihal kejadian yang menimpa Ara. Gilvan mengerti, dan Gilvan meminta Fadli untuk tetap menunggu Ara, sampai kondisinya membaik.


Ternyata, Diska dan Ibunya sedang berada di Rumah sakit yang sama dengan Fadli dan Ara. Diska sedang mengantar Ibunya untuk menjenguk pamannya yang sakit. Diska melihat Fadli dan Ara, ketika Fadli sedang memangku Ara keluar dari mobil, dan membawa Ara bersama petugas Rumah sakit menuju UGD.


Diska teringat wajah itu. Diska ingat, bahwa itu adalah supir pribadinya Raina.


Itukan supir nya si Raina? Dia bawa istrinya kali ya ke Rumah sakit? Oooh, aku mengerti. Pantas saja, beberapa hari ini, Raina tidak masuk kuliah. Ternyata, supirnya sedang tak bekerja. Hmm, aku harus menelepon Raina sekarang. Biar aku saja yang menjemput dia kuliah, karena supirnya pasti tak akan bisa bekerja lagi karena istrinya sedang sakit. Batin Diska.


Diska segera menghubungi Raina, lama sekali tak diangkat, tetapi Akhirnya Raina mengangkat juga telepon dari Diska.


[Halo, Rai. Pantas saja kamu tak kuliah beberapa hari ini. Besok, biar aku yang jemput kamu ya?]


[Kamu tahu apa hah?]


[Jangan ngegas gitu, aku tahu kok alasan kamu gak kuliah. Supir pribadi kamu gak masuk kerja kan? Aku lihat dia di Rumah sakit, sedang membawa istrinya menuju IGD, sepertinya istrinya sedang sakit, jadi dia tak bisa mengantarmu. Kalau besok supir mu tak bisa bekerja lagi, biar aku saja yang menjemput kamu. Oke?]


[APA KAMU BILANG? SUPIRKU MEMBAWA ISTRINYA KE RUMAH SAKIT?]


[Iya, aku ingat wajahnya. Dia membawa istrinya yang terbaring lemah. Memangnya, kenapa? Kok kamu kaget gitu sih Rai?]


[Rumah sakit mana?]


[Rumah Sakit Citra Medika, Rai. Kamu kok kaget gitu sih? Emang supir kamu gak bilang kalau dia gak masuk kerja?]


[Enggak, udah dulu ya. Aku ada urusan. Besok, aku kabari kamu lagi.]


[Oke, bye.]


Panas, panas, panas. Raina kepanasan. Diska tak mungkin berbohong. Alasan Raina tak kuliah karena muak dengan Bayu dan Audrey, bukan karena supirnya tak bekerja.


Supirnya dimata Diska kan Fadli, sedangkan Fadli adalah suaminya, dan Raina pastilah istrinya. Kenapa Diska bisa bilang kalau Fadli membawa istrinya ke Rumah sakit? Fadli tak mungkin membawa saudaranya, karena disini Fadli tak punya siapa-siapa. Ia hanya seorang diri.


Aku harus segera memastikannya. Aku harus mencari tahu keberadaannya. Bisa-bisanya dia tak mengabari ku. Aku benar-benar marah dan kesal, kenapa Fadli bisa bersama seorang wanita. Apa mungkin sebenarnya dia sudah punya istri dibelakang ku? Oh, dasar biadab! Aku harus segera pergi ke Rumah sakit sekarang. Batin Raina.


*Bersambung*


Selamat pagi..


Jangan lupa like dan komentarnya ya..


Beri vote juga kalau kalian suka ceritanya..


LOVE U GUYS 😘

__ADS_1


__ADS_2