
Gilvan terdiam. Perkataan Gita barusan membuatnya berpikir keras. Apa maksudnya Gita dan Rama mengajaknya liburan ke New York? Apalagi membawa temannya itu.
"Apa kalian akan menjodohkan ku dengan wanita itu?" Gilvan curiga
"Eh, kamu jangan salah sangka begitu Van. Aku tidak menjodohkan mu dengannya. Apa perlu aku jelaskan padamu?" ucap Gita
"Perlu! Aku ingin mendengar penjelasan mu." ucap Gilvan
"Jadi gini, Vina itu sedang menganggur. Dia butuh pekerjaan! Nah, karena kita akan berlibur ke New York, maka aku mempekerjakannya untukmu! Dia akan membantu semuanya." ucap Gita berbohong
"Jadi dia itu pembantu, begitu?" ucap Gilvan
Lah, kenapa malah jadi rumit begini? Aku tak mengerti, kenapa jalan pikiran orang yang amnesia benar-benar sulit. Mengapa? Gilvan, kembalilah dirimu yang dulu, jan**gan membuat Vina marah karena ocehan mu itu. Batin Gita dalam hati.
"Ya bisa dikatakan seperti itu, Van. Vina asisten mu, jangan bilang dia pembantu, bilang saja asisten. Ya?"
"Baiklah. Kapan akan berangkat?" tanyanya lagi
"Kita berangkat sekitar 5 hari lagi. Sambil memulihkan kondisi badanmu, juga mempersiapkan semuanya." jawab Rama
"Baiklah. Aku besok akan pulang."
Kamu tak perlu pulang, ke rumahmu. Tinggal di apartemenku saja. Ibu dan kakakmu juga tinggal di sana." ucap Rama
"Benarkah? Selama ini mereka tak pernah membicarakannya padaku." ucap Gilvan.
"Mereka tak mau kamu terlalu banyak pikiran. Besok akan ku suruh Rey untuk mengantar Ibumu pulang, dan Rey akan membawa beberapa bajumu untuk keberangkatan kita."
"Terserah kau saja, aku lelah. Aku ingin istirahat!" ucap Gilvan
"Baiklah, Van. Kami akan pergi. Jaga dirimu baik-baik ya!" ucap Gita
Gita dan Rama meninggalkan Gilvan. Di koridor rumah sakit, mereka bertemu dengan Ibu Gilvan. Rupanya, Ibu dan kakaknya baru datang.
"Bagaimana?" tanya Kakak Gilvan
"Dia mau, tetapi saya hanya mengajaknya berlibur saja! Jangan katakan padanya mengenai terapi itu ya, Kak?" pinta Rama
"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak atas kepedulian kalian pada Gilvan." ucap Kaka Gilvan
"Iya, Kak. Sudah seharusnya kami membalas kebaikan Gilvan yang dulu telah ia lakukan pada kami." ucap Rama
"Ya sudah, kami mau melihat Gilvan dulu. Kami permisi." ucap Kakak Gilvan
"Iya, Kak, Bu. Hati-hati."
Rey sudah menunggu didalam mobil. Rama dan Gita segera masuk kedalam mobil. Mereka akan segera pulang.
"Kamu sudah bicara pada Vina?" tanya Rama
"Tentang apa?"
"Dia kan berarti harus ikut ke New York!" ucap Rama
"Oh, iya. Aku lupa, aku belum bicara padanya."
"Dia memang hamil?" tanya Rama
"Aku belum tahu, dokter pun masih ragu. Harus menunggu dua minggu lagi untuk tahu pasti kebenarannya." ucap Gita
__ADS_1
"Rey, hati lu gak apa-apa?" tanya Rama pada Rey
"Memang kenapa bos?"
"Untung aja lu gak jadi sama Vina. Kalau terbukti dia hamil anak Gilvan, mau gimana lu? Takdir benar kan? Lu harus lepas dari dia." ucap Rama
"Bener, Bos. Gue bersyukur juga. Gue sadar, ternyata bukan Vina orangnya." ucap Rey
"Dia bersyukur karena Mia orangnya. Iya kan Rey?" goda Gita
"Eh, Nona. Saya gak maksud bilang gitu kok." ucap Rey malu-malu
"Oh, Baby sitter janda itu? Ya sudah, segera nikah lu! Biar ada yang jagain."
"Sayang, kalo Rey nikah sama Mia, siapa yang jagain Nayya?" Gita protes
"Oh, benar juga. Ya sudah, lu jangan dulu nikah sampai anak gue berusia 2 tahun!" perintah Rama
"Apa gak kelamaan itu?" Rey sedikit tak setuju
"Hahahaha! Rey, lu udah gak tahan ya?" goda Rama
"Idih, Bos apaan sih! Ngaco aja lu ngomongnya." ucap Rey
"Ngomong-ngomong, kita udah berapa hari gak bertemu sayang?" tanya Rama pada Gita
"Gak bertemu apaan sih? Kita selalu barengan gini juga, kamu ngaco!" ucap Gita
"Rey, tutup telinga dan mulut lo!" ucap Rama
"Siap, Bos!"
Rama menatap Gita. Memegang pundaknya dan tersenyum manis pada istrinya.
"Ini kita sedang bertemu kan? Ini kita sedang berdua kan?" Gita tak mau kalah
"Kamu jangan pura-pura polos deh!" Rama tersenyum nakal
"Apaan? Memangnya kamu ngomong apa sih? Maksud dari pembicaraan kamu itu apa?" Gita heran
"Mau tahu?" tanya Rama
"Apa?" jawab Gita
"Kita sudah beberapa hari tidak bertemu. Rama junior dan Little Gita sudah lama tak dipertemukan! Ayo, kita pertemukan mereka malam nanti. Aku sudah rindu!" ucap Rama
Gita melotot kesal pada Rama yang dengan santainya mengatakan hal-hal seperti itu. Padahal, jelas-jelas, Rey ada dihadapannya.
"Kamu kalau ngomong itu harus tahu tempat! Kan ada Rey, kamu gak malu apa HAH?" ucap Gita
"Rey, lu nggak denger kan?"
"Nggak, Bos!" Rey fokus menyetir
"Itu dia denger! Berarti tadi dia juga denger dong!" protes Gita
"Nggak, Nona! Saya enggak denger." Rey pura-pura
"Alah, kalian berdua sama saja! Sudah, jangan bicara padaku. Aku akan tidur!"
__ADS_1
Gita memejamkan matanya. Rama tersenyum senang melihat istrinya kesal lagi. Itu sangat lucu dan menggemaskan. Rama mendekatkan kepalanya ke pundak Gita. Kepalanya bersandar di bahu Gita. Hangat sekali.
***
Rama dan Gita sudah berada di rumahnya. Mereka makan malam bersama keluarga besarnya. Kakeknya telah lebih dulu duduk di meja makan. Rama dan Gita kemudian menyusul. Sudah hadir, Mami dan Papi Rama, serta Raina juga.
"Bagaimana? Kamu sudah mengajaknya?" tanya kakek Prima
"Sudah, Kek. Dia mau ikut." ucap Rama
"Semudah itukah?" Kakek Rama tanya lagi
"Dia mengajaknya berlibur, Kek! Bukan mengajaknya pergi terapi." Gita menambahkan
"Hahahaha" Kakek Prima tertawa, "Yang penting bawa saja dulu dia ke New York. Nanti kalian atur lagi." ucap kakek Prima
"Baik, kek." ucap Rama
"Kak, Rai ikut dong ke New York!" pinta Raina
"Kamu gak usah ikut-ikutan Rai." ucap Mami
"Lagipula, kakakmu pergi ke sana bukan untuk berlibur." tambah Papinya
"Yah, menyebalkan. Karena kak Rama juga kan? Aku jadi kuliah disini, tak bisa ke luar negeri lagi." ucap Raina
"Ini demi kebaikan kamu Rai. Mana tahu kita kamu di sana ngapain aja? Sama siapa aja? Contoh aja, kakakmu! Dia tinggal di rumah pun bisa menghamili Gita saat itu. Mama gak mau, hal yang sama terulang padamu."
"Kami khawatir. Lebih baik kamu tinggal disini bersama kita. Itu lebih aman, Rai." ucap Papi
Tiba-tiba Rama sewot dan membalas perkataan kedua orang tuanya.
"Mami sama Papi jangan nyalahin Rama gitu kenapa? Rama begitu karena ulah kalian juga kan! Kalau saja dulu tak ada perjodohan memuakkan itu, Rama pasti tak akan bertindak sejauh itu pada Gita." Rama berapi-api
"Kamu itu kalo jawab paling bisa deh Ram!" ucap Mami
Mereka kemudian makan malam dengan hening. Tak ada satu suara pun yang terdengar ketika mereka makan.
Rama sudah tak fokus dengan makanannya. Ia ingin segera membawa Gita ke kamarnya. Ia ingin melahap Gita habis-habisan.
Beberapa hari ini mereka sangat sibuk, hingga kalau sudah menempel dengan kasur yang empuk, jangankan untuk bercinta, mengobrol ringan pun sudah tak bisa, mata selalu mudah terpejam karena rasa lelah.
"Rama dan Gita sudah selesai makan. Kita akan kembali ke kamar!" ucap Rama
"Kamu mau ngapain? Jam segini udah mau kembali ke kamar." goda Mami Rama
"Mami mau tahu aja sih!" ucap Rama
"Ya mami harus tahu dong. Pasti kalian mau sesuatu ya?" Mami tertawa kecil
"Iya, Mi. Rama sudah rindu pada Gita. Rama ingin bermain dengan Gita. Kalian jangan ganggu ya!" Rama memegang tangan Gita dan membawanya pergi
"Kamu malu-maluin aja!" Gita mendengus kesal
"Ram, jangan terlalu keras, santai aja. Kasihan istrimu! Hahahahaa." Papi Rama tertawa
"Siap, Pi. Rama akan pelan-pelan, biar lama." Rama tertawa
*Bersambung*
__ADS_1
Biarkan Gita dan Rama menikmati malam panjangnya ya 😂😂😂
Happy reading ya.. Jangan lupa like setelah membaca ya ❤