Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
pembantu


__ADS_3

Pagi hari ini, Rama kembali ke perusahaan. Gita menemaninya. Karena, Gita akan belajar mengurus perusahaan Rama. Hari ini, waktu mereka sedikit lenggang. Rama menyempatkan datang ke perusahaan.


"Yang, kamu sibuk ya hari ini?" tanya Gita


"Iya, mungkin aku akan pulang malam. Kamu tak mungkin kan seharian disini?" tanya Rama


"Siang juga aku pulang, setelah melihat proposal yang kemarin Andin kirimkan." ucap Gita


"Baiklah, kamu mau menemui Vina?" tanya Rama


"Iya, nanti siang. Yang, kamu ke ruangan duluan aja ya. Aku mau menemui Kak Intan dan yang lainnya." ucap Gita


"Baiklah." Rama pergi berlalu


Sudah lama Gita tak berbincang santai dengan teman kerjanya. Ia langsung segera menuju ruangan staff accounting.


"Mbak Rani, aku kangen banget!" Gita memeluk Rani


"Gita! Gue juga kangen banget sama lo!" ucap Rani


"Git, lo kemana aja sih? Sombong banget, gak pernah hubungi gue." ucap Intan


"Beda nih, mentang-mentang udah jadi istrinya Bos!" ucap Ajeng


"Eh, nggak gitu lho sebenernya. Aku memang lagi banyak urusan kak!" jawab Gita


"Kita hangout dong sekali-kali." ajak Intan


"Boleh, boleh." ucap Rani dan Ajeng


"Kak Intan gimana sama kak Dimas?" tanya Intan


"Gue sama Dimas, ya seperti yang lo tahu! Gak ada perubahan buat hubungan kita." ucap Intan


"Cuma mereka sebentar lagi mau nikah Git!" Rani tertawa


"Wah, selamat kak Intan. Akhirnya, jadi juga sama Kak Dim!" ucap Gita


"Tapi, Dimas jadi cuek sama gue akhir-akhir ini. Gue kok kesel ya?" ujar Intan


"Godaan mau nikah ya emang begitu, Tan! Lu musti kuat, sabar juga." jawab Rani


"Entar kalau nikah undang aku ya, dari jauh-jauh hari lho, jangan ngedadak kayak tahu bulat!" ucap Gita


"Siap, Git. Eh, lu kok gak pernah ajak gue sama Dimas ketemuan sih? Lu lupa ya sama kita berdua?" tanya Intan


"Maaf Kak, aku kemarin sibuk ngurusin Gilvan." ucap Gita


"Hah? Gilvan mantan lo itu?" ucap Intan


"Iya, Kak. Dia amnesia." ucap Gita


"What? Amnesia?" jawab mereka serentak


"Iya, dia kecelakaan. Dan kalian tahu nggak, yang dia ingat itu cuma aku! Dia mengira aku masih Istrinya." ucap Gita


"Gila, perang dunia dong lu sama Pak Rama?" tanya Mbak Rani


"Tapi, bagusnya Kak Rama sadar. Dia gak marah sedikitpun. Dia malah berniat membantu Gilvan memulihkan ingatannya. Dia akan membawa Gilvan ke New York untuk berobat intensif di sana." Gita menjelaskan


"Wah, Pak Rama berubah sekarang. Dia memang sayang sama kamu, Git. Dia tak menggunakan emosi." ujar Ajeng

__ADS_1


"Bukannya gue denger waktu itu Gilvan lagi deket sama teman lu itu? Siapa namanya? Vina ya kalo enggak salah?" tanya Intan


"Dia kecelakaan memang saat akan bertemu Vina. Tetapi, Gilvan tak mengingat Vina. Ia hanya ingat kalau Gilvan adalah sahabatku.Ini jelas masalah besar untukku." ucap Gita sambil menghela nafas


"Semoga lu bisa lewatin semua ini bareng Pak Rama. Lu yang kuat ya, hati lu dan Pak Rama itu bener-bener mulia, Git." ucap Mbak Rani


"Thanks ya, Kak. Aku seneng kalian care sama aku!" jawab Gita


"Kita kan sahabat!" mereka berpelukan


Mereka tak menyadari kehadiran Rama yang sudah ada dibelakangnya.


"Ekhhmmmmm!" Rama berdehem


Mereka berlima menoleh ke sumber suara. Betapa kagetnya mereka melihat Bosnya sedang berada dibelakangnya. Rani, Ajeng dan Intan menundukkan kepala sambil mengucap kata maaf pelan-pelan, lalu kembali ke komputernya masing-masing.


"Lagi pada ngapain ini? Bukannya kerja, malah ngegosip. Pasti kamu ya penyebabnya!" Rama menuduh Gita


"Ya gak apa-apa dong! Lagian, ini kan cuma sekali. Aku nggak sering ngobrol sama mereka!" Gita melawan


"Tapi, kalau mereka membuang waktu seperti itu, berapa juta kerugian perusahaan coba? Kamu harus mengerti, ini bukan di Mall, sayang." ucap Rama tetap lembut


"Iya deh, maaf, maaf!" ucap Gita


"Nanti, setelah kita pulang dari New York, bawalah semua temanmu ini ke rumah kita. Kita makan-makan bersama."


Ucapan Rama mengagetkan semua teman Gita. Mereka berbalik menoleh Rama.


"Yang benar, Pak?" tanya Rani


"Benar! Kalian adalah sahabat istriku. Ketika pernikahanku, kalian aku lupakan. Hanya Intan yang aku ingat, karena dia kekasih sahabatku." ucap Rama


"Wah, terima kasih Pak Rama. Bapak Baik sekali." ucap Ajeng


"Kak, aku pergi dulu ya! Nanti, aku kabarin kalian. Bye!" Gita melambaikan tangannya.


Gita diajak Rama untuk makan siang di ruangan kerjanya. Gita memang sudah lapar, untungnya Rama mengajaknya makan.


"Proposal dari Andin sudah aku lihat, sudah aku tandatangani juga. Kerjaan mu selesai, pergilah ke rumah Vina setelah makan siang nanti. Rey akan mengantarmu! ucap Rama


"Padahal kakak tak perlu repot-repot. Kakan kan banyak kerjaan, berikan saja padaku pekerjaan yang menurutmu ringan." saran Gita


"Ya, makan dulu saja. Nanti, kita bahas lagi proposal nya." ucap Rama


***


Gita dan Rey berangkat menemui rumah Vina. Kini, sudah tak ada kecanggungan antara Rey dan Vina. Rey sudah bisa menganggap Vina sebagai temannya.


Rey menunggu didalam mobil, Gita keluar sendiri dan segera masuk menemui Vina. Di rumahnya, sedang tak ada siapa-siapa. Hanya Vina saja. Karena itu, Gita meminta Rey untuk ikut masuk kedalam saja. Akhirnya, Rey setuju.


"Gilvan gimana sekarang? Gue sibuk di cafe! Belum bisa jenguk Gilvan lagi. Ini aja jam 4 gue harus segera berangkat kerja." ucap Vina


"Kondisinya membaik, cuma ingatannya masih belum ada perubahan. Sepertinya kemungkinan kecil untuk dia sembuh, Vin." ucap Gita


"Itu berarti, dia gak akan mengingat gue, iya?" Vina terlihat sedih


"Sabar Vin, banyak berdoa. Semoga Gilvan segera membaik." Rey bersuara


"Tapi, rasanya pengorbanan gue selama ini sama dia itu terasa sia-sia saja. Gue merasa percuma melakukan semua ini untuk dia, kalau ingatannya gak bisa kembali." Vina menitikkan air mata.


"Gue yakin, cepat atau lambat, Gilvan pasti mengingat lu, Vin." ucap Gita

__ADS_1


"Tapi, itu sulit rasanya."


"Percuma gue melakukan semua ini untuk dia!" Vina emosi sekaligus sedih


"Nggak, nggak gitu. Justru, kita sedang berusaha, agar Gilvan segera pulih." ucap Gita


"Tapi, gimana caranya?" tanya Vina


"Aku dan Rama akan membawa Gilvan terapi di dokter saraf kenalannya kakek Prima." ucap Gita


"Dimana itu dokter? Biar gue memohon agar segera menyembuhkan Gilvan." ucap Vina tak sabar


"Dokter itu di New York." jawab Gita


"HAH? New York? Gak salah lu?" Vina kaget


"Enggak, kita udah sepakat bawa Gilvan ke sana. Keluarganya pun telah setuju." ucap Gita


"Sayang sekali, gue ingin selalu disisinya, menemaninya hingga ingatannya kembali, tapi gue gak bisa." ucap Gita


"Itulah tujuan gue datang kemari, Vin." ucap Gita


"Maksudnya gimana?" Vina tak mengerti


"Aku, dan kak Rama akan pergi ke New York mengantar Gilvan. Aku ingin kamu ikut pergi ke sana, agar Gilvan ada yang menjaga." ucap Gita


"Sayangnya, kalau di luar negeri, gue gak bisa ikut, Git. Gue duit darimana buat bertahan hidup di sana." ucap Vina


"Lu gak usah pikirin biaya dan segala macemnya, Biaya pengobatan Gilvan pun yang menanggung keluarga kak Rama." ucap Gita


"Serius, lu?" Vina hera


"Serius, makanya lu harus ikut!" ucap Gita


"Tapi, sepertinya ada satu kendala lagi, Git." Vina ragu


"Apa, Vin?" tanya Gita


"Gimana gue bisa ikut ke sana? Gilvan aja melihat gue seperti malas begitu! Mana mungkin gue bisa jagain dia di sana." Vina kecewa


"Gilvan tahu kok lu mau ikut, dan dia gak keberatan." ucap Gita


"Wah, beneran lu? Emang lu ngomong apa ke dia? Kok sampai dia gak keberatan gue ikut?" Vina penasaran


"Jangan marah ya, gue bilang lu lagi nganggur, dan lu pengangguran. Gue bilang lagi, Vina butuh kerjaan, dan dia siap membantu kamu, Van. Gitu!" jelas Gita


"Terus, dia bilang apa?" tanya Vina lagi


"Tapi, lu jangan marah?" ucap Gita


"Emangnya kenapa sih?" Vina tak mengerti


"Dia bilang gini, jadi dia itu pembantu?"


Gita menggigit bibirnya, takut sahabatnya itu akan marah.


"Hahahahaha, kenapa dia lucu sekali, Git?" Vina tertawa


"Lu gak marah?" tanya Gita


"Gue malah seneng, dia mulai menganggap gue, meskipun gue hanya dianggap pembantunya!" Vina tersenyum

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2