Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Mengungkap Fakta


__ADS_3

"Apa kamu sudah siap?" tanya Rama


"Aku sudah siap, tapi hatiku tidak." jawab Gita


"Sudah, tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja."


"Tapi, aku tak yakin kalau Gilvan akan baik-baik saja."


"Aku akan menghubungi Dr. Frank untuk mengetahui kabar Gilvan."


"Apa kamu yakin Gilvan akan baik-baik saja?" tanya Gita lagi


"Aku yakin, kita sudah jauh-jauh kemari, untuk apa kalau Gilvan ikut pulang lagi?" tanya Rama


"Iya sih, tapi rasanya aku gak tega meninggalkan dia sendirian, dengan ingatan yang terbatas." jelas Gita


"Semoga saja waktu penyembuhannya akan semakin cepat." jelas Rama


"Aku berharap begitu, sayang."


***


"Kita mau kemana sih, Vin?" tanya Gilvan yang sedang merapikan bajunya


"Saya kurang tahu, Rama yang mengajak saja untuk ikut dengan mereka."


"Kenapa aku pun harus ikut?" tanya Gilvan


"Ya mungkin biar seru, berangkat bersama-sama." jawab Vina asal


"Emang lu gak tahu sama sekali apa?" tanya Gilvan


"Enggak, mereka nggak ngasih tahu saya, Tuan."


"Sebenarnya, gue males ikut, tapi kalau nggak ikut kayaknya gue juga bete diem sendirian."


"Tuan Gilvan tentunya harus ikut."


"Kenapa maksa?"


"Untuk apa kita pergi ke sana kalau Tuan Gilvan tak ikut." Vina keceplosan


Vina menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Vina lupa, kalau Gilvan tak boleh curiga mengenai keberangkatannya saat ini.


"Kenapa semua harus gue?" Gilvan curiga


"Kalau gak ada Tuan Gilvan gak seru." jelas Vina


"Bisa saja kamu!“

__ADS_1


Ini adalah hari terakhir mereka bersama Gilvan. Gilvan akan ditinggalkan sendiri di New York. Gita dan Rama akan menjelaskan perlahan sekali pada Gilvan, agar Gilvan memahaminya.


Perasaan Vina sangat tak karuan. Vina takut Gilvan akan marah besar padanya. Sebenarnya, Vina tak tega meninggalkan Gilvan sendirian. Tetapi, Vina pun tak mungkin terus-terusan berada di sini.


Perjalanan menuju rumah Dr. Frank lumayan jauh. Didalam mobil, perasaan Gita dan Vina tak karuan. Masih menjadi pikiran dibenak mereka, akan bagaimana reaksi Gilvan nantinya.


Gita memejamkan matanya perlahan, Gita berharap Gilvan akan menerima semuanya dan mengerti dengan kondisi yang ia alami. Semoga Vina bisa kuat berjauham dengan Gilvan.


Mereka telah sampai di rumah Dr. Frank. Rumahnya sangat klasik, didesain dengan gaya queen anne yang sangat populer di Amerika.


Desain rumahnya sangat unik, warnanya hijau tosca cukup cerah, berbentuk asimetris, serta memiliki atap yang bentuknya menyerupai benteng atau kastil.


Gilvan terkagum-kagum melihat bangunan rumah Dr. Frank. Dr. Frank masih berada di rumah sakit, ia belum pulang kerumahnya. Perawat dan asisten menyuruh mereka untuk menunggu sebentar.


"Sebenarnya kita mau ngapain sih kesini?" tanya Gilvan


"Kita mau melakukan pengobatan, Van." jawab Rama


"Memangnya siapa yang sakit?" tanya Gilvan lagi


"Emangnya lu nggak ngerasa kalau lu sakit?" tanya Rama


"Gue? Gue kan udah sembuh, Ram." ucap Gilvan


"Siapa bilang? Elu belum sepenuhnya sembuh Van." jawab Rama santai


"Maksud lu?" tanya Gilvan


"Lu ngomongin apa sih? Gue nggak ngerti sama sekali." Gilvan menggaruk kepalanya.


Rama terdiam. Sebenarnya, Rama pun juga takut menghadapi ekspresi Gilvan, namun Rama mencoba tetap stay cool, agar Gilvan tak curiga sedikitpun padanya.


Tiba-tiba, Dr. Frank datang. Sang dokter menyapa mereka, dan seketika melihat kearah Gilvan yang bingung dengan keadaan ini. Dr. Frank mempersilahkan Rama untuk berbincang-bincang dahulu. Ia akan masuk kedalam rumahnya.


Dr. Frank memerintahkan asisten dan perawatnya untuk memata-matai mereka, kalau sampai Gilvan emosi atau pun mengamuk, Dr. Frank terpaksa memberinya obat penenang. Untuk itu, ada beberapa asisten yang sedang memperhatikan mereka dari jauh.


"Ram, itu siapa?" tanya Gilvan lagi


"Itu Dokter spesialis saraf." jawab Rama lagi


"Ngapain lu ketemu sama Dokter saraf? Emang siapa yang gila?"


"Nggak ada yang gila, hanya ada yang amnesia." jawab Rama


"Siapa yang amnesia?" tanya Gilvan


Mereka semua terdiam. Haruskah saat ini juga Rama mengatakan bahwa Gilvan lah yang amnesia. Rama tak siap, Rama tak tega memberi tahu Gilvan keadaan yang sesungguhnya.


"Van, apa lu ingat dulu pernah ngajak Gita nikah?" tanya Rama

__ADS_1


"Ingat lah, gue kan memang menikah sama Gita."


"Lalu, kenapa lu bisa putus sama Gita?" tanya Rama


"Bukannya elu ya yang bawa Gita ke rumah sakit, dan saat itu juga elu rebut Gita dari gue." jelas Gilvan


"Kayaknya nggak gitu deh, Van. Elu salah, elu lupa ya?"


"Gue nggak lupa, seingat gue Gita masih istri gue. Dan Gita sedang hamil anak lu. Saat gue mau liat dia lahiran, tiba-tiba keadaan terbalik kan, malah gue yang terbaring di rumah sakit." Gilvan tak mengerti


"Menurut lu itu aneh gak?" tanya Rama


"Aneh sih, gue gak ngerti kenapa jadi kebalik, dan katanya Gita sudah lama melahirkan. Gue bingung, Ram."


"Itulah, hal yang harus lu ingat-ingat lagi, Van. Apa lu ingat dulu pernah mau donor kan jantung untuk Gita?" tanya Rama terus


"Nggak, gue gak pernah ngomong gitu." tegas Gilvan


"Gue tanya lagi, apa lu ingat pernah berhubungan badan dengan Vina?"


Gilvan melotot. Gilvan jelas ingat sekali saat ia berhubungan badan dengan Vina. Yang Gilvan ingat adalah ketika Gilvan dan Vina berada di apartemen Rama, sehari sebelum keberangkatan mereka ke New York. Vina dan Gilvan sempat berhubungan badan lagi.


"Lu tahu dari mana?" Gilvan tak percaya


Vina malu. Vina yakin, yang Gilvan tahu adalah hubungan badan mereka yang kedua kalinya. Vina harus segera meluruskan hal ini.


"Jadi lu ingat Van?" tanya Rama


"Tentu, saja. Gue ingat. Kenapa lu tahu? Apa Vina memberi tahu kalian?" Gilvan kesal


"Sorry, sorry. Kayaknya ada yang harus gue luruskan. Kak Rama, Gita.. Gue belum ngasih tahu ke kalian berdua, kalau kemarin kita sempat berhubungan lagi untuk yang kedua kalinya. Dan itu benar-benar diluar kendali kita, untuk itu wajar saja Gilvan pasti mengingatnya. Dia tak akan ingat dengan hubungan badan pertama kita." Vina menjelaskan


"Kedua? Memang, kapan gue pernah berhubungan sama elu sebelum kemarin? Gue berhubungan sama elu itu baru sekali. Jangan ngaku-ngaku deh, Vinn." ucap Gilvan


"Baiklah, akan ku beritahu kamu mengenai hal ini. Gilvan, dengarkan aku. Kamu memang pernah menjadi suami Gita, tetapi ketika Gita akan melahirkan, kamu menyerahkannya pada Rama. Kamu mundur dari hubunganmu dan Gita, kamu berniat mengakhiri hidupmu untuk memberi jantung pada Gita, karena pada saat itu Gita mengalami gagal jantung. Mamu berniat menyusul HAFIZA. Apa kamu ingat nama itu? Wanita yang dulu menemanimu. Ingatlah, nama HAFIZA dalam hatimu." tegas Vina


"Aku tak tahu siapa HAFIZA. Apa maksudmu memberi tahu hal tak masuk akal ini?" tanya Gilvan


"Ketika kamu akan menyerahkan jantungmu untuk Gita, aku menahan mu, aku tak ingin kamu mati konyol untuk wanita yang tak mencintaimu. Aku ingin kamu melihatku, wanita yang benar-benar mencintaimu, Van. Aku menaruh rasa padamu sejak kau menikah dengan Gita. Aku menjuluki diriku sebagai wanita gila yang mencintai sahabatnya sendiri."


Semua terdiam. Gilvan pun terdiam, Gilvan tak mengerti maksud dari ucapan Vina. Tetapi, Gilvan yakin, Vina tak mungkin berbohong. Air mata Vina mulai jatuh, hatinya sakit jika mengingat kisahnya dengan Gilvan.


"Kamu mulai tertarik padaku, saat itulah aku bahagia, kamu membalas cintaku. Tetapi, kamu malah menyakitiku, kamu merenggut kesucian ku, kamu mengambilnya, lalu kamu pergi meninggalkanku begitu saja! Kamu tak ingat kan? Jawab Van! Kamu pasti tak ingat."


"Saat itu kamu kabur, meninggalkan aku sendirian, aku terpuruk. Aku tersiksa, aku bodoh mempercayai lelaki sepertimu. Hingga saatnya kamu tiba, kamu menyesal dan ingin menemui ku, ternyata takdir berkata lain, kamu malah kecelakaan hingga tak sadarkan diri sebelum sampai kita bertemu."


Vina terisak, ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hati Vina benar-benar hancur, Vina tak kuasa menahan sakitnya selama ini bersama Gilvan.


"Aku, wanita yang menjadi saksi atas perjuangan hidupmu kembali. Aku yang menantimu dengan segenap harapan. Aku membencimu, tetapi ketika aku mendengar kamu terluka, aku pun tak sanggup. Hatiku seperti dicabik-cabik belati. Kau tau sekarang? Kau telah kehilangan ingatanmu dulu saat bersamaku, Van. Sakit hatiku menerima keadaan ini."

__ADS_1


"Gilvan ku, lelaki yang aku cintai, hanya kamu yang membuat hatiku terombang-ambing seperti ini. Aku mohon, terima lah tawaran Rama untuk mengobati mu. Rama ingin kamu sembuh, Rama berjuang semuanya untuk kamu, untuk cinta kita. Ingatlah aku, kembalilah menjadi Gilvan yang dulu. Aku mohon..."


*Bersambung*


__ADS_2