Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Menua bersamamu


__ADS_3

Persiapan resepsi pernikahan Gita dan Rama tinggal satu hari lagi. Semua sudah hampir selesai, persiapan sudah mencapai 90%. Keluarga Gita dan Rama benar-benar sibuk. Sanak saudara datang dari kampung halaman mereka masing-masing.


Gita benar-benar canggung dan belum siap mengahadapi hari pernikahannya. Hari ini, Dimas dan Intan mengunjungi rumah Rama. Mereka ingin bermain dan memberikan semangat untuk Gita dan Rama.


"Nanti, lo pasti jadi yang paling cantik, Git! Gue yakin banget." ujar Intan


"Ah, mbak Intan bisa aja. Aku udah pilihkan dresscode untuk mbak Intan dan Kak Dimas loh. Nih lihat!" Gita mengeluarkan box gaun cantik lengkap dengan jas nya.


"Waaaaaaaah.. Keren banget Git. Sumpah, ini cantik banget. Harusnya kita yang kasih kado buat kalian. Kok malah elu yang kasih kado buat kita sih." kata Intan


"Makasih banyak Git, Dan elu juga bos. Duitnya kan pasti dari elu. hehe" ujar Dimas


"Iya lah, siapa lagi. Lu berdua harus pakai gaun itu dihari pernikahan gue!" Perintah Rama


"Pastinya dong Bos! Gaunnya cakep banget. Gue jadi nggak sabar pengen pake bajunya." kata Intan


"Sebagai gantinya, kalian harus kasih kado ke aku dan Kak Rama." Ucap Gita


"Pasti dong, nanti gue kasih kado terbaik buat elu. Ntar gue namain deh, biar gak ketuker. Iya nggak tan?" tanya Dimas pada Intan


"Iya, Dim. Setuju gue!" Timpal Intan


"Bukan itu kado yang aku mau!" ucap Gita


"Apaan dong? Gak ngerti gue!" Intan bingung


"Kalian harus segera menyusul kita. Itu kado terindah buatku dan kak Rama." ucap Gita


"****** lu, Dim!!!" Rama terkekeh


"It's Ok, Git! Tunggu tanggal mainnya." jawab Dimas mantap


"Dimas mah bacot doang bisanya, Git!" sindir Intan


"Nah lu! Cowo kok mulutnya lambe doang isinya! hahahahah" Rama menertawakan Dimas


"Sialan lu, Ram!" Dimas menyenggol Rama


"Udah, udah. Semoga kalian juga bisa cepat nyusul aku ya." ucap Gita


"Coming soon, Git!" jawab Dimas


Dimas dan Intan memang sangat dekat dan akrab. Tetapi, sampai saat ini tak ada status diantara mereka. Hubungan mereka seperti hubungan pertemanan pada umumnya. Entah apa yang membuat Dimas tak mau segera menembak Intan, mengikat hubungan dengan Intan. Dimas pasti punya alasan untuk itu.


Intan masuk ke kamar Gita. Di sana, bayi Gita dan bayi mendiang Siska sedang terlelap tidur. Intan sangat gemas melihat mereka berdua.


"Git, gue belum tahu nama anaknya almarhum Siska. Siapa sih namanya?" Tanya Intan


"Namanya Kanakka Gitara. Aku akan jadikan dia saudara kembarnya Kanayya!" ucap Gita


"Jadi, Kanayya Ragita dan Kanakka Gitara. Nama yang bagus. Pinter juga lu cari nama buat bayi." puji Intan


"Itu perpaduan nama sama Kak Rama. Aku dan dia saling bertukar ide untuk nama bayi kita." jelas Gita


"Bahagianya jadi elu, Git!" ucap Intan


"Mbak, kenapa sih sampai saat ini masih gitu-gitu aja sama Kak Dimas? Gak ada niatan buat serius apa?" tanya Gita


"Gue bisa apa Git? Gue wanita, dia yang harus mastiin status hubungan kita. Tapi, dia diem aja. Kalau gue deket sama cowok lain, dia marah. Tapi, gue juga berasa digantung kalau kayak gini." Intan menjelaskan


"Kenapa gak mbak Intan aja yang ngutarain perasaan mbak Intan duluan?" tanya Gita


"Gue takut dia gak mau. Kalau dia serius sama hubungan kita, dia pasti mengutarakan semua ini duluan dong. Iya nggak?" tanya Intan


"Iya, sih. Tapi, apa salahnya mbak Intan jelaskan dulu perasaan mbak Intan yang sebenernya sama Kak Dimas." saran Gita


"Gue gak berani. Hubungan kita yang kayak gini aja udah buat gue nyaman sama Dimas. Gue gak mau berharap lebih." tegas Intan


"Semoga kalian gak akan sama-sama gengsi lagi, semoga kak Dimas secepatnya mengutarakan isi hatinya sama mbak Intan." ucap Gita


"Amin, Git. Thanks doanya!" ucap Intan


***


Dikamar Rama


"Lo gak ada niatan serius gitu sama si Intan?" tanya Rama


"Gue serius kok sama dia!" jawab Dimas


"Tapi kenapa sampai saat ini hubungan lu sama dia masih abu-abu aja?" tanya Rama

__ADS_1


"Gue udah terlanjur nyaman sama hubungan seperti ini. Gue takut kalau gue nyatain perasaan gue ke dia, dia malah jadi menjauh dari hidup gue." ujar Dimas


"Itukan cuma perasaan lu aja. Siapa tahu sebenernya si Intan juga suka sama elu!" ucap Rama


"Gue gak yakin, Ram!" Dimas takut


"Lo coba dulu napa!!!" Rama memaksa


"Gue takut kecewa." sanggah Dimas


"Lo itu cowok, Dim! Lo harus gentle. Sepait apapun, lo harus siap. Tapi gue rasa, Intan juga pasti suka sama lo!" Rama meyakinkan


"Apa gue minta bantuan Gita aja kali ya?" tanya Dimas


"Jangan, dong! Lu harus usaha sendiri. Lu gak boleh ngandelin cewek gue!" bantah Rama


"Baiklah, akan gue coba." ucap Dimas


"Nah, gitu dong!"


Apakah ini memang cinta? Ataukah hanya pertemanan yang berlebihan? Aku takut terluka karena mencintaimu. Aku takut cinta tak berpihak pada kita. Aku sudah nyaman seperti ini. Tetapi, mau sampai kapan kita akan seperti sekarang ini? Akakah kita bisa saling mencintai setelah sekian lama kita berteman? -Intan & Dimas-


Hari sudah sore. Intan dan Dimas pamit pulang. Mereka dengan senang hati menerima hadiah yang Gita berikan. Tetapi, mereka juga harus memberikan hadiah pada Gita dan Rama. Hadiah yang menyulitkan bagi mereka berdua.


"Tan?" tanya Dimas


"Apa Dim?" jawabnya


"Nongki dulu yuk!" ajak Dimas


"Kemana?" tanya Intan


"Cafe depan sana aja! View-nya bagus banget."


"Boleh." jawab Intan


Entah kenapa perasaan mereka berdua jadi sama-sama canggung. Dimas merasa gugup dekat dengan Intan. Intan pun sama halnya dengan Dimas, perasaannya jadi tak menentu setelah pembicaraannya dengan Gita tadi.


Dimas dan Intan menikmati makanan ala eropa di cafe tersebut. Makanannya ramah dikantong tetapi rasanya enak. Mereka menikmati makanannya tanpa berbicara sedikitpun. Setelah selesai makan, Dimas memberanikan diri.


"Tan,"


"Dim"


"Lu duluan aja, Tan!" ucap Dimas


"Lu aja Dim, gue lupa mau ngomong apa!" Intan gugup


"Mm, gini.. Gue sebenernya mau ngomong sama lu." ucap Dimas


"ngomong apa?"


"Sebenernya perasaan lu ke gue gimana sih?" tanya Dimas


"Gimana apanya?" Intan pura-pura tak mengerti


"Lu suka gak sama gue?" tanya Dimas to the point


"Menurut lo?" Intan melemparkan pertanyaan


"Menurut gue, lu suka sama gue." jawab Dimas


"Yaudah, berarti iya." jawab Intan


"Kok simpel sih?" tanya Dimas


"Cinta udah terlambat buat kita. Kita udah gak perlu bucin-bucinan lagi. Kalau lo emang mau serius sama gue, ayo! Gue juga bisa serius sama lu!" ucap Intan jujur


"Lo mau jalanin hubungan sama gue? Gue sayang sama lo!" Dimas jujur


"Gue juga sayang sama lo. Hanya saja gue terlalu menikmati hubungan kita yang seperti ini. Gue lupa, ternyata dihati gue ada cinta buat lo." jawab Intan jujur


"Gue sependapat sama lo. Gue juga begitu. Tapi, hati ini nggak bisa bohong. Gue sayang sama lu. Gue pengen lu bisa jadi wanita yang terbaik dihati gue." kata Dimas


"I will try, Dim! Believe me, I just want to be with you!" Intan tersenyum


(Aku akan mencoba, Dim! Aku hanya ingin denganmu)


"Thanks, for this love. I will protect this love. Just with you, cause I love you!" Dimas memeluk Intan


(Terimakasih atas cinta ini. Aku akan menjaga cinta ini. Hanya untukmu, karena aku mencintaimu)

__ADS_1


***


Gita diajak Rama masuk ke kamarnya. Gita enggan, tetapi Rama memaksanya. Mau tak mau, Gita menuruti kemauan calon suaminya itu.


"Kamu disini dulu aja. Aku kesepian!" ucap Rama


"Mulai deh!" Gita duduk di ranjang.


"Gak apa-apa dong Git, kamu kan calon istri aku. Sudah seharusnya kamu menemaniku!" Rama tak mau kalah


"Iya, iya. Aku disini kok!" Gita tersenyum


"Kamu cantik kalau senyum seperti ini." Rama mendekat kearah Gita


"Makasih kak."


"Aku beruntung memiliki kamu. Terimakasih kamu telah bersedia menjadi istriku!" ucap Rama


"Semua ini karena kekuatan cinta. Tak mungkin aku bisa berada disini kalau cintaku sudah menyerah untukmu. Cintaku tetap ada, bahkan ketika aku masih menjadi milik orang lain!" Gita tersenyum


"Kamu wanita terhebat yang pernah aku temukan. Seumur hidupku, hanya kamu wanita yang membuatku berjuang mati-matian agar mendapatkan cintamu." Rama memegang pinggang Gita


"Aku percaya itu." Gita melingkarkan tangannya dileher Rama.


"Sepercaya itukah kau padaku?" tanya Rama


"Aku percaya! Bolehkah kulihat dompetmu?" pinta Gita


"Tentu saja. Tapi, untuk apa?" ucap Rama.


Rama mengeluarkan dompet dari sakunya. Gita mengambilnya, lalu membukanya. Di tempat paling belakang, ternyata benar perkataan Siska. Ada sebuah foto usang. Foto Gita dan Vina.


"Lihat ini. Kau dulu mencintaiku bukan?" tanya Gita


"Kau tahu darimana aku menyimpan foto ini?" Rama gugup


"Mendiang Siska yang mengatakannya padaku. Dia benar, kau memang menyimpannya." Gita tersenyum penuh ketulusan


"Aku memang mencintaimu sejak dulu. Tapi aku tak punya keberanian. Aku malu pada Dimas yang begitu dekat denganmu." Rama jujur


"Tahukah kau? kau adalah cinta pertamaku. Kau orang pertama yang membuatku merasakan apa itu artinya cinta. Kau juga lah orang yang membuatku merasakan sakit hati yang teramat dalam. Lika-liku cintaku padamu memang sangat berat. Tapi, aku bisa mematahkan penilaian orang lain, cinta pertama tidak akan selalu gagal. Aku, contohnya! Wanita yang berjuang mempertahankan cinta pertamaku!" Gita memeluk Rama


"Kau sungguh? Apa aku adalah cinta pertamamu? Akupun begitu, kamu adalah cinta pertamaku, yang dulu aku cintai, tetapi tak bisa aku mengatakannya. Aku yakin, cinta pertamaku adalah cinta terakhirku, yaitu kamu." Rama melepaskan pelukan Gita, ia memegang lembut wajah Gita


"Akupun berharap begitu!"


"Besok, adalah hari bersejarah yang paling membahagiakan untuk kita. Semoga tidak ada lagi halangan untuk kita berdua saling mencintai." Rama mengecup halus kening Gita


"Aku menantikan hari esok. Hari dimana aku dan kamu bersanding di pelaminan dengan kebahagiaan dan penuh cinta."


"Tetaplah dengan cinta kita."


"Sure! I will survive with this love."


"I love you more, baby." Rama mencium bibir manis Gita


"I love you most, hunny." Gita membalas ciuman hangat Rama.


Mereka saling menumpahkan rasa rindu yang tertahan selama ini. Perjuangan cinta yang tak sia-sia, berakhir indah di hari esok.


*🎵🎵Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan


'Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu.


Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan


'Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu🎵🎵*


Lagu yang sangat tepat untuk Gita dan Rama. Lagu yang sederhana tapi mampu membuat hati bergetar. Lagu yang menjadi kisah perjuangan cinta mereka berdua, menua bersamamu.


*Bersambung*


Happy reading all..


Terimakasih telah setia membaca..


Jangan lupa Like, Comment, dan Vote yaaa 💋🤗

__ADS_1


Terus nantikan kisah selanjutnya antara Gita dan Rama. Jangan bosen-bosen yaaaa🥰🥰🥰


__ADS_2