Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Akhir sebuah kisah.


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Setelah wisuda, kondisi Raina memburuk. Ia lemas, dan sakit-sakitan. Raina tak mau ke dokter, walaupun Fadli telah memaksa, alasannya Raina rasanya tak ingin bertemu dokter. Rama kesal, hingga akhirnya hari ini ia secara sembunyi-sembunyi mendatangkan dokter keluarganya.


Tok, tok, tok.


Fadli membuka pintu, terlihat Raina yang sedang terbaring di tempat tidur. Dokter pun masuk bersama Rama dan Gita. Raina terlihat kesal, namun jika sang Dokter telah berada di kamarnya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kenapa kalian menyuruh Dokter kesini? Sudah kubilang, aku tak apa-apa. Aku hanya lelah dan lemas!" jawab Raina.


"Ini tak akan lama, Dokter hanya sebentar memeriksa mu, Raina." ucap Gita.


Dokter mulai mendekati Raina. Ia memeriksa tubuh Raina, dan juga mengecek darahnya. Dokter berpikir, dan seketika itu pula, dokter wanita pilihan keluarga Rama itu, meminta Raina untuk ke kamar kecil.


"Nona Gita, tolong antar Nona Raina ke kamar kecil, dan tolong masukan urine nya kedalam wadah kecil ini. Tuan Rama dan suami Nona Raina dimohon untuk keluar dahulu, setelah selesai nanti saya panggil kembali." ucap sang dokter.


"Baik Dokter. Ayo, Fad." Rama mengajak Fadli keluar.


Fadli bingung. Ia tak mengerti apa yang terjadi pada Raina. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Rama melihat Fadli sangat pucat dan gugup. Rama menertawai Fadli,


"Kak, kok ketawa sih?" tanya Fadli.


"Kamu, kenapa?" tanya Rama.


"Kenapa Raina harus cek urine? Apa dia mengalami penyakit serius? Aku takut, Kak." ucap Fadli.


"Memangnya, yang kamu tahu tentang tes urine itu apa?" tanya Rama.


"Yang kutahu, ketika kita melakukan tes urine, apa ada penyakit seperti infeksi saluran kemih, diabetes, ataupun ginjal kak, bukankah itu perlu tes urine? Ya Tuhan, ada apa dengan istriku? Aku takut sekali, Kak." Fadli benar-benar khawatir.


Rama tak kuat menahan tawa. Fadli sama sekali tak menyadarinya. Fadli memang benar, tes urine untuk pengecekan berbagai macam penyakit, namun tes urine juga diperlukan untuk mengecek kehamilan.


"Memangnya tes urine hanya untuk mengetahui jenis penyakit? Bagaimana kalau tes urine juga untuk mengetahui Raina, hamil atau tidaknya?" Rama tersenyum pada Fadli.


"Hah? Apa kak? Ah, iya juga. Apakah memang?"


Tiba-tiba, Gita keluar, "Masuk, Dokter mengizinkan kalian masuk kembali."


Dengan perasaan gugup tak menentu, Fadli masuk kedalam. Rama yang sudah tahu akan hal ini terlihat tak kuat menahan tawa melihat ekspresi Fadli yang benar-benar gugup dan ketakutan.


"Tuan Fadli, anda suami Nona Raina ya? Nona Raina tak mengalami penyakit apapun, dia hanya kelelahan dan fisiknya sangat drop. Selamat, karena sebentar lagi Tuan Fadli akan menjadi seorang Ayah. Istri anda, Nona Raina dinyatakan positif hamil." ucap Dokter tersebut.


"Hah? Apa, Dok? Benarkah? Alhamdulillah, yaAllah..."


Fadli segera memeluk Raina yang terduduk di ranjang. Raina menangis bahagia. Kehidupannya kini akan lebih sempurna, karena kehadiran buah hati di rahimnya. Sakitnya selama ini, karena kehadiran buah hatinya dengan Fadli. Ia bahagia, ia membalas pelukan hangat Fadli.


"Kalau begitu, saya permisi. Saya sudah meresepkan obat dan vitamin untuk Nona Raina, obatnya di meja ini. Diminum dengan teratur ya,. Terima kasih, permisi." Dokter berlalu.


"Baik, Dok. Terima kasih." ucap semuanya.


Pembantu Rama mengantar sang dokter pergi keluar. Di kamar itu, mereka semua sangat bahagia. Kedua anak Rama dan Gita pun ikut masuk, karena sang dokter telah keluar dari kamar aunty-nya.


"Selamat ya Fad, Rai. Kalian akan menjadi orang tua. Dijaga baik-baik kehamilannya ya! Aku senang, sebentar lagi aku akan menjadi aunty." ucap Gita.


"Wah, Fadli hebat. Kamu hebat sama sepertiku, Fad." Rama bangga.


Papi, Mami, onty Raina kenapa?" tanya Nayya.


"Onty sebentar lagi punya adik bayi untuk kalian berdua." jawab Gita.


"Apa? Kita punya adik dari onty? Horeeeeeee!" jawab Nakka.


"Kalian main dulu gih, jangan ganggu Onty, kasihan onty-nya belum sembuh betul, onty perlu istirahat." ucap Gita.


"Baiklah, aku dan Nakka akan bermain di taman. Kita main ayunan yuk Nakka!" ajak Nayya.


"Ayok, ajak Bibik narti agar kita ada temannya."


Nayya dan Nakka berlalu. Gita tak ingin anak-anaknya mendengar ucapan orang dewasa. Lebih baik, mereka pergi bermain.


"Rai, kamu harus makan, sebentar lagi minum obat. Jaga kesehatan. Fadli, kamu harus siaga ya, istrimu sedang hamil, kamu harus ada disisinya. Kamu harus tahu, wanita hamil itu sensitif." ucap Gita.


"Sayang, saat kamu hamil, aku tak tahu dan tak bisa bersamamu! Semua ini karena keegoisan mu, sayang. Ayo, lepas KB-mu, dan ikuti jejak Raina. Aku juga ingin menjadi suami siaga seperti Fadli." ucap Rama.


"Aku sudah tak menggunakan KB selama tiga bulan ini, karena KB nya berpengaruh pada tubuhku." jawab Gita.

__ADS_1


"Apa? Berarti, ada kemungkinan kalau kamu juga hamil? Ah, sayang, ayo kita tespact kamu sekarang juga!" Rama tak sabar.


"Ya ampun, hormon KB juga masih melekat pada tubuhku. Tak mungkin secepat itu aku hamil." jawab Gita.


"Kak Rama ih, suka iri aja kalau aku sama Fadli bahagia!" keluh Raina.


"Aku juga ingin menjadi suami siaga. Aku tak pernah tahu rasanya menjaga istriku di kehamilan trimester pertamanya. Ayo sayang, kita ke kamar saja sekarang." ajak Rama.


"Eh, dasar kamu ya. Mau ngapain? Aku mau nemenin anak-anak main." jawab Gita.


"Gak ada. Aku pokoknya mau cepat-cepat juga jadi suami siaga seperti Fadli. Ayo," Rama menarik tangan Gita dan membawanya pergi keluar kamar Raina.


"Aw, aduh, sayang. Kamu kenapa sih, panas aja lihat orang hamil juga!"


"Aku juga mau kamu hamil lagi, sayang!" Gita dan Rama berlalu.


Raina dan Fadli tertawa, karena ulah kedua Kakaknya. Mereka bahagia, inilah akhir dari sebuah kesabaran. Akan berakhir manis dan indah pada waktunya. Fadli sangat bahagia, begitu pun juga Raina dan Fadli. Semoga, kebahagiaan mereka akan selalu tercipta sampai kapanpun. Bahagia itu, kita sendiri yang ciptakan. Sekecil apapun perbuatan, jika dilakukan bersama orang terkasih, akan sangat membahagiakan.


"Kak Rama lucu juga ya sayang." ucap Fadli.


"Kak Rama itu kayak anak kecil sebenarnya, manja tahu kalo di deket Kak Gita." jawab Raina.


"Btw, sayang, selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi Ibu." ucap Fadli.


"Kamu juga akan menjadi Ayah." ucap Raina.


"Gimana sekarang? Sudah baikan?" tanya Fadli.


"Aku masih pusing, tapi kalau ternyata ini karena dia, aku rela dan aku akan semangat untuk sembuh." Raina mengelus perutnya.


"Bagikan padaku rasa sakit mu sayang, aku akan selalu ada di sampingmu, aku gak mau, kamu terus-menerus sakit karena bayi kita, Rai." ucap Fadli.


"Iya, kamu gak usah khawatir. Aku akan sembuh kok, karena aku, sekarang kamu jadi gak kerja. Maafkan aku ya, Fad." ucap Raina.


"Tidak apa-apa, sayang. Pak Gilvan sudah mengerti. Sekarang ini, aku harus fokus menjagamu dan calon bayi kita." ucap Fadli.


"Terima kasih, atas segalanya Fadli-ku." Raina tersenyum.


"Sama-sama, istri cantikku. Sehat-sehat ya, kalau kamu ingin sesuatu, katakan padaku. Bukankah wanita hamil itu selalu ngidam?" tanya Fadli.


"Tapi, untuk saat ini aku tak mau apa-apa. Aku mau memelukmu," ucap Raina.


"Tetap seperti ini saja, aku sangat nyaman di pelukanmu. Aku sangat mencintaimu," ucap Raina.


"Terima kasih, telah mencintaiku, terima kasih, telah menerima orang sepertiku, aku sangat mencintaimu, Raina." ucap Fadli.


...❤❤❤...


"Kamu mau kemana? Kita harus ke kamar sekarang juga sayang!" Rama memaksa.


"Nanti aja, malem kan bisa! Sekarang aku mau nemenin anak-anak dulu." ucap Gita.


Gita berjalan menuju taman di rumahnya. Terlihat Nayya dan Nakka sedang bermain-main bersama. Bahagianya, melihat mereka berdua akur dan bersenang-senang di rumah besar ini.


"Coba lihat mereka, mereka sangat bahagia, bukan?" tanya Rama.


"Tentu saja, sayang. Aku benar-benar menyayangi mereka berdua." ucap Gita.


"Kalau kita tak merawatnya, entah akan bagaimana nasib Nakka." ucap Rama tiba-tiba.


"Nakka beruntung memiliki kita. Aku tak salah memutuskan, menjadikan Nakka dan Nayya anak kembar, walaupun mereka tak mirip, setidaknya kuberi nama yang sama, agar orang-orang percaya." ucap Gita.


"Lambat laun juga aku bisa menerimanya, aku hanya takut suatu hari nanti dia kan tahu, kalau ternyata kita bukanlah kedua orang tuanya." ucap Rama.


"Itu juga adalah hal yang aku takutkan. Namun, aku akan tetap meyakinkan diriku, kalau aku akan menyayangi Nakka seperti aku menyayangi Nayya." ucap Gita.


"Kamu adalah istri dan Ibu yang baik, Anggita. Aku bangga padamu, tak salah aku memilihmu sebagai istriku." ucap Rama.


"Terima kasih, sayang. Kamu juga suami yang hebat! Aku sangat beruntung memiliki dirimu," ucap Gita.


"Jangan pernah bosan untuk mencintaiku, terima kasih selama ini telah setia menemaniku, sayang." ucap Rama.


"Hidupku telah sempurna karena bersamamu. Cintaku, dan hatiku, sudah ada padamu. Hanya kamu, yang selalu aku sebut dalam doaku. Hidup dan bahagia bersamamu, selamanya, Rama Hanggara-ku." ucap Gita.


Rama merangkul pinggang Gita dengan hangat dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"I love you, peri cantik baik hati," bisik Rama.


"I love you too, pangeran ku." balas Gita.


Nayya dan Nakka yang melihat kemesraan kedua orang tuanya segera memanggil keduanya dengan keras. Nayya dan Nakka melambaikan tangan mereka pada Gita dan Rama.


"Mamiiiiii," seru Nayya.


"Papiiiiii," seru Nakka.


"Siniiii, main sama kita..." ajak Nayya sambil melambaikan tangannya.


"Iya sayang, Mami ke sana sekarang." Gita membalas lambaian tangan kedua anaknya.


"Gak jadi nih ke kamar?" tanya Rama.


"Enggak dong! Anak-anak lebih membutuhkan kita. Ayo, luangkan waktumu hari ini, kita main bersama mereka." ajak Gita.


"Baiklah, Rama junior akan sabar menanti. Asal...."


"Asal apa?" tanya Gita.


"Nanti malam buat bayi untuk Nayya dan Nakka!" ucap Rama.


"Bagaimana kalau sekarang pun sudah ada bayinya?" ucap Gita sambil berjalan meninggalkan Rama.


"Hah, Benarkah? Sayang, apa kamu bercanda?" Rama tak percaya.


Gita hanya tersenyum, ia tak membalas ucapan Rama. Rama semakin gemas, ia berlari mengejar Gita. Gita yang sadar dikejar oleh Rama, refleks berlari ingin menangkapnya.


"Hey, kemari kamu, awas kamu ya bikin jantungku kaget aja!" teriak Rama.


"Nakka, lihat! Mami dan Papi sedang main kejar-kejaran. Ayo kita ikutan menangkap Mami." ajak Nayya.


"Ayo, 1, 2, 3, Lariiiiiii....." Nakka dan Nayya secepat kilat berlari mengejar Gita.


"Mami, aku juga mau ikutan main kejar-kejaraaaann!" Nayya berteriak.


"Hah? Apa? Kenapa kalian ikut mengejar ku, Aaarrrgghhh, aku ketangkap!" Rama akhirnya menangkap Gita yang juga dikejar-kejar oleh kedua anaknya.


"Hayo, mami, mau kemana.." ucap Nakka.


"Istriku, kamu mau main kejar-kejaran rupanya!" ucap Rama yang langsung memeluk Gita dengan hangat.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan ucapan mu barusan ya," ucap Rama.


"Aarrgghhh, lepas, aku hanya bercanda!"


"Mami, mami. Sekarang Papi yang kita kejar ya. Papi, lepasin Mami!" teriak Nayya.


"Ah, Papi gak mau. Papi maunya peluk Mami terus. Kalian jangan peluk Mami," Rama mengerjai kedua anaknya.


"Papi jahat! Lepas, lepasin Mami gak! Kalau enggak, kita berdua bakalan gelitikin Papi!" ucap Nakka.


"Ayo Nakka, kita serang Papi..." Nayya dan Nakka mulai menggelitik pinggang Rama.


"Auhhh, aaaah, geli, geli, dong! Kalian gak asyik, main serang-serangan aja. Iya, iya, ampun, sayang-sayangku. Udahan ah, Papi lepasin Mami kalian, iya iya!" Rama menyerah.


"Kamu sih, bercanda sama anak-anak. Dasar!" Gita tertawa.


"Abisnya mereka lucu, gak boleh aja aku meluk kamu." Rama tersenyum.


"Papi, Mami, We love you....." teriak Nayya dan Nakka..


Gita dan Rama tersentuh mendengar ucapan yang dikatakan oleh kedua anaknya. Benar-benar kata-kata yang sangat indah. Kebahagiaan yang sempurna dan akhir yang sangat indah dari sebuah perjuangan besar Rama mengejar Gita. Hingga membuat perubahan pada kehidupan orang-orang disekitar mereka.


Percayalah, setiap perpisahan pasti ada pertemuan kembali. Setelah kesedihan, pasti ada kebahagiaan menanti. Bahagia, yang kita ciptakan akan membuat orang disekitar merasakan kebahagiaan yang kita buat. Sedikitpun usaha kita untuk membahagiakan orang-orang tersayang, akan besar manfaatnya untuk mereka.


Bahagia yang seutuhnya adalah ketika kita bisa hidup bersama orang yang kita cintai dan ia pun mencintai kita. Hidup bersama dan mengarungi lika-liku kehidupan. Tak ada kebahagiaan yang paling sempurna dalam hidup ini kecuali satu, yaitu "Keluarga".


Selesai.


Hai semuanya, tulis kesan pesan selama membaca cerita ini ya, aku senang kalau ada readers yang aktif, apalagi rajin komentar 😁 Alhamdulillah ceritanya sudah selesai. Aku anti pelakor, jadi buatnya sesantai mungkin, dan konfliknya senyaman mungkin, gak bikin kalian mau nimpuk aku kan ya😂


Mungkin ada beberapa request yang ingin bonus chapter, insyaAllah aku buat nanti..

__ADS_1


Makasih yang udah setia membaca dari awal sampai akhir, itu yang benar-benar membahagiakan aku. Respect untuk kalian semua pembaca setiaku, makasih banyak, terharu banget akutuh kalian mau baca cerita receh ini dari awal sampai akhir. Ah, sedihnya 😭


Pokoknya makasih banyak ya, aku selalu ingat nama-nama kalian yang rajin komentar dan juga rajin vote. Yang rajin like, aku ucapkan makasih juga, cuma maaf kalo like kan gak bisa dilihat siapa-siapanya hehe. I LOVE U GUYS ❤❤❤


__ADS_2