
Aku sudah berjanji kepadamu, kalau kau menginginkan aku pergi, aku pasti akan pergi tanpa kau suruh. Sesakit apapun hatiku, kalau kau membiarkanku disisimu, aku akan tetap tinggal. Sekarang, kau sedang bertaruh nyawa, antara hidup dan mati. Aku tahu, yang kau inginkan bukanlah aku, melainkan ayah dari bayimu itu. Aku ingin kau melahirkan ditemani ayah biologis dari bayi kita. Ya, bayimu dan Rama tetap ku anggap bayi kita. Maafkan aku, atas keserakahan ini. -Gilvan-
"Kumohon, Ram! Temani Gita. Dia sangat membutuhkanmu disana." Ucap Gilvan tulus
"Memangnya lu gak punya hati apa? Lu kira hati lu gak akan sakit kalau liat gue nemenin istri lu sendiri HAH?" Timpal Rama
"Aku tak akan sakit hati, aku bahagia Gita bisa bersama orang yang disayanginya ketika masa-masa seperti ini." Ucap Gilvan
"Untuk apa lu nikahin dia? Kalau ternyata lu nyuruh gue temenin dia saat akan melahirkan seperti ini?" Cecar Rama pada Gilvan
"Dahulu, aku hanya menolongnya. Aku memang mencintainya. Tetapi, sedalam apapun cintaku untuknya, dia tak pernah menerimaku, dia hanya memikirkanmu sepanjang hidupnya!" Ucap Gilvan
"Gue gak mau disangka pebinor. Gue bukan laki-laki yang semudah itu merusak hubungan rumah tangga kalian!" Ujar Rama
"Aku tahu kau tidak merebut istriku. Aku tahu, kau mencintainya. Kumohon, turunkan gengsimu sedikit saja. Temani Gita disaat-saat kritisnya seperti ini. Dia sangat membutuhkan ayah biologis dari bayi yang dikandungnya." Pinta Gilvan
Tiba-tiba suster memanggil-manggil keluarga Gita.
"Keluarga dan wali pasien nyonya Anggita segera menuju ruangan, Pasien Anggita sedang bersiap akan melahirkan" Ucap suster itu
Rama langsung berlari ketika mendengar suster berkata Gita akan segera melahirkan. Rama sungguh khawatir dengan kondisi Gita. Rama memaksa masuk kedalam ruang bersalin, tetai suster menahannya.
"Maaf, Pak! Anda tidak bisa masuk. Yang bisa masuk keruangan ini hanyalah suami dan orangtua dari Nyonya Anggita." Ucap suster itu
"Izinkan saya masuk!!!" Rama tetap memaksa
"Maaf, Pak. Anda tidak bisa masuk. Mohon mengerti." Suster itu sedikit tegas
"Saya harus masuk, apapun itu alasannya! Jangan buat saya marah!" Ucap Rama
"Apa bapak tidak tahu prosedur? Bapak siapanya Nyonya Anggita? Suaminya kami semua kenal,
pak!" Ucap Suster itu marah
"Apa perlu saya katakan HAH? Saya memang bukan suami dia, tapi anak yang dia kandung adalah ANAK SAYA! Minggir!!!" Rama menghempaskan suster tersebut.
Ibu dan ayah Rama sudah tiba, mereka melihat kejadian tersebut. Ibu Gita sungguh kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Rama.
__ADS_1
"Bu, apa maksud anak muda itu?" Ayah Gita ter
lihat tak mengerti
"Ibu tidak mengerti. Nanti kita temui saja Rama." Ucap Ibu
"Ibu mengenalnya?" Tanya Ayah Gita lagi
"Ibu sangat mengenalnya. Sudah, ayo kita temui Gita." Ucap Ibu Gita
Gilvan tak sanggup untuk ikut masuk keruang bersalin Gita. Hatinya tak siap melihat Gita dan Rama. Ia pasrah, hanya menunggu diruang tunggu. Ibu dan Ayah Gita akan masuk, tetapi mereka tertahan mendengar ucapan Rama.
"Git, kamu harus kuat. Kamu bisa, kumohon. Bertahanlah, Git! Aku ada disini, untukmu!" Ucap Rama
"Saaaaaakiiiiiiiiit kak! Sakit banget!!!" Gita memegang tangan Rama dan mencakarnya
"Silahkan siksa aku sekuat tenagamu. Maafkan aku tak bisa membantumu, aku yakin kau sanggup melewati ini semua Git! Aku ada disini untukmu. Kau harus kuat demi bayi kita. Kumohon!" Rama menangis didepan Gita.
Gita mengejan sekuat tenaga, sungguh ia sudah kehabisan nafas, dadanya sesak, perutnya sakit, ia berusaha sekeras mungkin mengeluarkan bayinya.Gita kehabisan nafas, dokter segera memasang Oxygen, takut kalau terjadi apa-apa dengan Gita. Rama menangis, ia kasihan Gita harus berusaha seperti ini demi mengeluarkan buah hati mereka.
Setengah jam telah berlalu, akhirnya bayi yang dinanti-nanti oleh mereka pun hadir ke dunia.
Ibu dan Ayah Rama segera mendekat, melihat cucunya yang begitu cantik seperti Ibunya. Gita sangat pucat, wajahnya sungguh lemas. Dia sungguh tak berdaya. Gita mengalami pendarahan yang tak kunjung henti. Gita sesak nafas, nafasnya sungguh tak beraturan. Semuanya terlihat panik. Bayi yang baru saja dilahirkan segera ditangani oleh suster. Sementara mereka menenangkan Gita yang saat ini sedang dalam kondisi darurat. Gita tak sadarkan diri, karena darahnya terus saja keluar tak tertahankan. Gita mengalami pendarahan hebat, ia juga tak sadarkan diri. Gita segera dipindahkan keruang ICU untuk mendapatkan perawatan khusus.
Rama menangis sejadi-jadinya. Bayi mungilnya telah lahir kedunia, tetapi nyawa Ibunya yang menjadi taruhannya saat ini. Rama tak mau kehilangan Gita. Rama sangat histeris melibat Gita yang tak sadarkan diri.
Gilvan segera masuk keruang bersalin. Gilvan tak mengerti mengapa hal buruk terjadi pada Gita. Gilvan menenangkan Rama. Gilvan jelas amat sedih ketika mendengar Gita mengalami pendarahan hebat dan keadaannya yang tak sadarkan diri. Tetapi, hatinya lebih hancur hati Rama. Rama yang sangat mencintainya dari dulu. Rama yang tak sempat menjaga Gita selama kehamilannya, padahal bayi yang dikandung Gita adalah bayinya. Ia tak ada disisi Gita saat Gita sedang mengalami morning sickness. Rama sangat menyesali itu semua.
Orangtua Rama menangis, menangisi keadaan anaknya yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya setelah melahirkan. Mereka semua berdoa semoga hal buruk tak menimpa Gita. Bayi mungil nan lucu itu telah selesai dibersihkan. Suster menyarankan salah satu dari mereka untuk mengadzani bayi tersebut. Gilvan menyerahkan bayi kecil itu kepada Ayah Gita. Lebih baik Ayah Gita yang mengadzani bayi itu. Karena ia adalah kakeknya.
Rama sangat terpukul. Ia menangis tanpa henti. Ia menyesali perbuatannya pada Gita akhir-akhir ini. Gita pasti merasa depresi karena perbuatan Rama. Rama selalu saja menyalahka dirinya sendiri. Ia menyiksa dirinya tanpa ampun. Gilvan dan kedua orangtua Gita menahan perilaku Rama. Mereka semua menenangkan Rama.
"Nak, Rama! Dengarkan Ibu! Kamu harus percaya kalau Gita akan baik-baik saja. Kamu harus yakin, kau tak perlu buang-buang waktu hanya untuk menyakiti dirimu sendiri. Ibu mohon sama kamu, jangan seperti ini." Ibu menangis memeluk Rama dengan hangat
"Rama minta maaf, Bu! Rama mengabaikan Gita, Rama mengacuhkan Gita. Mungkin dia memikirkan hal itu sampai-sampai ia seperti ini. Maafkan kebodohan Rama ini, Bu!" Rama menangis dengan keras
"Kamu harus sabar, Nak! Kita yakin Gita akan segera sadar." Ibu menguatkan.
__ADS_1
"Selamat siang. Adakah disini yang memiliki golongan darah B? Nyonya Gita benar-benar membutuhkan transfusi darah sesegera mungkin, ia sangat kehabisan banyak darah. Stok darah B di Rumah sakit kita sangat langka sekali." Ucap suster itu
"Aduh, gimana dong dokter? Suami saya O, dan saya AB. Kita tidak memiliki golongan darah yang sama dengan Gita!" Ucap Ibu Gita menangis
"B negatif apa B positif?" Tanya Gilvan
"B negatif, Pak!" Ucap suster
"Cocok dengan saya. Silahkan ambil darah saya. Segera selamatkan Gita! Ram, lo jaga diri. Jangan terlalu banyak pikiran. Kita harus yakin Gita bakalan sehat lagi dan baik-baik saja!" Gilvan segera pergi mengikuti suster tersebut.
Ibu Gita tak tega melihat Rama hancur seperti ini. Ia mengajak Rama untuk makan siang dan menenangkan dirinya. Awalnya, Rama enggan ikut dengan Ibunya Gita, Ia hanya ingin menunggu bayi kecilnya. Ia kasihan pada bayinya. Anak yang harusnya digendong dan disusui oleh Ibunya, malah tak bisa merasakannya. Terpaksa, ketika nanti setelah enam jam Gita tak kunjung membaik, suster akan memberi susu formula untuk bayi yang baru lahir.
"Biarkanlah, bayi kecil itu perawat yang menjaganya! Lebih baik kau ikut kami. Ada yang harus aku tanyakan padamu!" Ucap Ayah Rama tegas
Rama melihat sorot mata tajam Ayah Gita. Mungkinkah ini saatnya untuk mengakui semuanya? Akankah Ayah dan Ibunya Gita menerima semua ini? Ataukah mereka akan membuatku pergi selamanya dan tak bisa bertemu dengan anak dan wanita yang kucintai? -Rama-
Rama mengikuti langkah Ayah dan Ibunya Gita. Rama sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ayahnya Gita. Ia siap menerima segala konsekuensi apapun yang akan menimpanya. Rama harus menguatkan hatinya demi Gita.
Rama dibelikan teh dan roti untuk makan siangnya. Rama enggan sedikitpun memakan makanan yang dibelikan oleh Ibu Gita. Hati dan pikirannya melayang kemana-mana. Yang ia pikirkan hanya kesembuhan Gita. Rama tak menyangka kejadiannya akan seperti ini.
"Tolong jelaskan padaku mengenai apa yang telah kau ucapkan tadi sebelum cucuku lahir!" Ucap Ayah Gita
"Maafkan aku, Om!" Rama tertunduk
"Ayah.." Ibu Gita menenangkan suaminya
"Aku tak akan marah padamu. Cukup kau jelaskan saja apa maksud dari ucapanmu tadi kepada suster yang menjaga didepan pintu ruang bersalin anakku!" Ucap ayah Gita
"Ampun, aku mohon ampun, Om! Kau boleh siksa aku sekarang juga, kau boleh menyakitiku sesuka hatimu, kau boleh membunuhku jika kau ingin. Kumohon, maafkan kesalahanku!" Rama takut menghadapi Ayah Gita
"Apa kau melihat aku akan membunuhmu? Kau belum menjelaskan apa-apa padaku. Apa benar yang kau katakan tadi? Cucuku adalah anakmu? Lalu? Gilvan bagaimana? Bukankah cucuku ini anak Gilvan?" Ucap Ayah Gita sedikit meninggi
"Ayah, mari kita dengarkan penjelasan Rama. Rama, silahkan kau bicara. Disaat terpuruk seperti ini, kami tak mungkin menyalahkanmu. Hanya kesembuhan Gita yang membuat kami bahagia. Ceritakan saja pada kami apa yang terjadi diantara kalian." Terang Ibu
"Sejujurnya.... Anak yang dikandung Gita adalah anakku. Aku menghamilinya karena suatu kesalahan. Tetapi, Gilvan mencoba menolong Gita dan mengakuinya sebagai anak dia. Aku dan Gita saling mencintai, tetapi Gita menyerah pada cinta kita karena aku memiliki tunangan, Aku yang emosi melakukan hal itu kepadanya, karena aku tak ingin dia melepaskan aku. Tapi ternyata, semuanya malah tak seperti yang aku bayangkan. Kumohon, maafkan kesalahan fatalku ini, Om!" Rama tertunduk
"PLAKKKKKKKKK" Ayah Gita menampar keras wajah Rama hingga terjatuh
__ADS_1
"Ayah, hentikan." Ibu menenangkan.
*Bersambung*