Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
bertemu bersama


__ADS_3

Angkasa Putra Grup.


Vina sedang fokus bekerja. Hatinya gusar tak karuan, karena teringat ucapan Gilvan kemarin. Vina sesekali melirik kearah Andra. Namun, Andra fokus bekerja, ia tak memperhatikan hal lain selain komputernya.


Vina merasa kesal, entah benar atau tidak yang dikatakan oleh Gilvan. Namun, ada sedikit rasa percaya, Gilvan tak mungkin membohongi Vina, tapi Vina juga tak mungkin menyangka Andra seperti itu.


Jam istirahat makan siang telah tiba, Vina bergegas menuju kantin, karena tadi pagi dirinya kesiangan, belum sempat sarapan. Tiba-tiba, Andra mendekati Vina.


"Vin, ke kantin bareng yuk?" sapa Andra ramah


"Terserah." jawab Vina seadanya


Andra merasa, ada hal yang aneh pada diri Vina. Tak biasanya Vina ketus seperti ini pada dirinya.


"Kamu marah sama aku?" tanya Andra


"Nggak, kok." jawab Vina cuek


Apa jangan-jangan, dia liat gue sama Velyn kemaren? Batin Andra.


"Vin, entar sore antar aku beli buku yuk?"


"Aku bawa mobil. Gak bisa."


"Ya aku antar kamu pulang dulu. Sekalian, kamu izin dulu sama Mamamu dan Givia juga."


"Kenapa harus aku yang antar?" tanya Vina ketus


Andra, lu tetap tenang. Jangan buat Vina curiga. Mungkin saja Vina melihat gue kemarin, tapi sepertinya dia juga masih ragu. Dia gak yakin kalau itu gue. Tetap tenang, tetap santai, jangan sampai gue keceplosan. Gumam Andra.


"Ya aku harus minta antar siapa lagi? Cuma kamu yang bisa aku ajak." jawab Andra simpel


"Bukannya banyak ya wanita lain?"


"Wanita lain memang banyak, tapi yang membuat ?aku nyaman cuma kamu, Vin."


"BASI." Vina berjalan lebih dulu dari Andra


"Vin, tunggu Vin."


Andra mengikuti Vina dari belakang, Andra tak mungkin melepaskan Vina dengan mudah. Karena, Vina adalah kuncinya untuk mendapatkan posisi manager di perusahaan.


Vina dan Andra makan bersama. Vina masih kesal pada Andra. Dalam pikirannya masih terngiang-ngiang ucapan Gilvan kemarin. Sebenarnya, Vina ingin menanyakan langsung pada Andra perihal ucapan Gilvan kemarin, namun Vina terlalu malu untuk mengatakannya.


"Jadi gimana? Mau gak anterin aku ke toko buku?" tanya Andra


"Gimana nanti aja. Udah, aku mau masuk ke ruangan." jawab Vina.

__ADS_1


Vina meninggalkan Andra sendiri. Vina bingung, harus ikut atau tidak dengan Andra. Vina akan memikirkannya lagi saat nanti bekerja.


***


Sore hari ini, Rama mengajak Gita untuk menemui Gilvan di restorannya. Rama akan memperkenalkan Fadli pada Gita. Gita menyetujuinya, karena Gita pun ingin tahu, kelak yang akan bejodoh dengan Raina itu orang yang seperti apa.


Rama mengemudikan mobilnya menuju restoran Gilvan. Gita beberapa kali menelepon Mia, berkata bahwa ia akan pulang terlambat. Mia mengerti dan berpesan agar hati-hati dijalan.


"Sore, Van." sapa Gita yang sangat sumringah melihat Gilvan


"Sore, Git. Senang bertemu kamu lagi, sepertinya kamu agak gemukan ya sekarang." Gilvan tersenyum


"Iya, Van. Aku sering makan malem-malem, jadi aja gini badanku."


"Bisa aja kamu. Git, Ram, duduk dulu ayo. Biar ku siapkan minuman dingin untuk kalian." ucap Gilvan


Gilvan segera masuk kedalam pantry khusus karyawan. Gita mencari-cari keberadaan Fadli, namun Rama tak kunjung melihatnya.


"Pap, orangnya mana sih?" tanya Gita penasaran


"Belum tahu, Mam. Didalam dapur kali dia." jawab Rama


"Oh begitu. Ya sudah, suruh dia duduk bersama kita saja nanti."


"Tentu saja, Mam." jawab Rama


Memang, perjodohan ini tetap harus dilaksanakan. Mendiang Kakek Rama meminta, dan menginginkan hal tersebut. Permintaan terakhir sang Kakek, yang tak boleh diabaikan oleh Rama dan kedua orang tuanya.


"Silahkan, selamat menikmati. Pak, Buk." Fadli tersenyum sopan


"Makasih, Fad. Jangan sungkan gitu, kita kan sudah kenal."


"Eh, i-iya Pak." Fadli akan beranjak pergi


"Fad, sini dulu. Duduk dulu sini." ucap Rama


"I-iya, Pak. Terima kasih, saya banyak kerjaan." Fadli sungkan


"Gak apa-apa, saya udah minta izin ke Bos kamu, untuk berbincang sebentar denganmu, Fad." ucap Rama.


Fadli duduk di sebelah Rama. Ia terlihat amat canggung dan sungkan.


"Fadli, kenalin, ini istri saya! Gita namanya."


"Eh, iya Bu. Salam kenal, saya Fadli."


"Ya Fadli, salam kenal. Oh iya, rumah kamu dimana?" tanya Gita kemudian

__ADS_1


"Rumah saya di kampung, Bu. Disini awalnya saya ngontrak, cum kata Pak Gilvan tidur di atas aj, karena ada kamar 3. Jadi, sekarang saya tinggal disini." ucap Fadli


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, Fad." ucap Rama


"Apa itu, Pak?" tanya Fadli


"Apa kamu mau, berkenalan dengan adikku, Raina?" tanya Rama tiba-tiba


Ekspresi wajah Fadli berubah. Asalnya dia ramah, sekarang dia serius. Entah apa yang berada dibenak Fadli. Ia merasa, ucapan Rama terlalu aneh didengarnya.


"Maksud Pak Rama?"


"Aku ingin kamu, berkenalan dengan adikku, karena aku tahu, kamu lelaki yang baik dan sopan. Aku menyukaimu." Rama menjelaskan sehalus mungkin.


"Apa maksudnya, kalian akan menjodohkan saya, begitu?" tanya Fadli


"Intinya begitu, namun kita tidak memaksa, aku ingin kamu dekat terlebih dahulu dengan adikku, Raina. Apa kamu mau?" tanya Rama lagi


Fadli merasa tak nyaman dengan pertanyaan Rama. Gita harus mengeluarkan jurus lembut wanita agar Fadli menyetujuinya.


"Tapi, saya belum memikirkan hal seperti itu, Pak."


"Fadli, kamu lelaki yang baik dan sopan. Ada alasan yang membuat kita memilih kamu. Kamu bisa kita percaya, Aku yakin, kamu juga bisa membahagiakan Raina nantinya." Gita menambahkan


"Maaf, Pak, Bu! Saya bukan orang seperti kalian. Saya bukan anak dari kalangan terpandang seperti kalian. Beribu-ribu maaf saya, saya menolak perjodohan ini. Saya sadar, diri saya ini siapa. Saya tak mungkin bisa menjadi pasangan dari Adik Pak Rama. Maaf, saya permisi dulu, Pak, Bu. Saya banyak pekerjaan." Fasli membungkukkan badannya, lalu berlalu.


"Fad, Fadli. Tunggu." Rama kehilangan satu kesempatan.


Rama dan Gita harus main cantik. Mereka tak boleh memaksakan Fadli. Mereka harus meraih hatinya Fadli perlahan-lahan.


***


Vina jadi menemani Andra pergi ke toko buku. Vina tak lagi marah pada Andra, karena Andra telah menjelaskan, bahwa dirinya tidak pergi bersama siapapun, kalau Vina tak percaya, bisa mengunjungi tempat-tempat kemanapun Vina ingin pergi.


Vina ingin membuktikan pada Gilvan, bahwa Andra bukan orang yang Gilvan katakan. Vina ingin makan di restoran Gilvan. Vina ingin memperlihatkan, bahwa Andra adalah lelaki yang baik. Kalau Gilvan melihat Andra dengan wanita lain di restonya, kali ini Vina menantang Andra untuk datang ke resto Gilvan. Dan Andra malah menyetujuinya. Sepertinya, Andra tak menyadari hal itu. Andra tak tahu, hubungan Vina dan Gilvan.


Mereka telah sampai di restoran Givi's Chicken milik Gilvan. Vina dan Andra segera masuk kedalam. Vina tak menyadari keberadaan Rama dan Gita. Mereka masuk dengan senyum senang, tanpa mereka sadari, Gita melihatnya.


"VINA?" ucap Gita


Vina menoleh meja di sebelahnya saat ia berjalan, ia kaget melihat kedua sahabatnya berada di restoran milik Gilvan.


"GITA? Lo ngapain disini?" Vina kaget bukan main


Perasaan Vina yang semula ingin membuktikan pada Gilvan, kini ia malu. Karena, ada sahabatnya di sana. Mereka pasti marah akan perbuatan Vina yang seperti sengaja membawa Andra ke tempat Gilvan.


*Bersambung*

__ADS_1


Malam semua..


Bantu vote cerita ini ya, dari pagi belum ada vote sama sekali. mohon bantuannya 🥰🥰🥰


__ADS_2