Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ekstra Part


__ADS_3

Halo semuanya.. Makasih ya kalian sudah mau membaca cerita Direktur, Cinta Pertamaku! Aku bahagia sekali, kalau kalian membaca dari awal sampai tamat.


Oh iya, aku putuskan akan membuat season 2 ya. Karena komentar kalian, aku seneng ternyata kalian dengan tulus membaca ceritaku. Aku gak nyangka, cerita remahanku ini bisa membuat kalian bahagia dan antusias membacanya. Makasih banyak ya atas apresiasinya, aku bener-bener seneng banget, karena gak nyangka akan seperti ini.


Di season 2 ini, pemeran utama akan berpindah pada Vina dan Gilvan. Serta, ada tambahan dari Raina, adik Rama. Karena, surat wasiat kakek Rama itu berhubungan dengan kelanjutan hidup Raina.


Apa kalian penasaran apa isi surat wasiatnya? Tunggu ya, aku comeback gak akan lama kok, insyaAllah secepatnya..


Gita dan Rama tetap dihadirkan dalam beberapa kisah, namun kisahnya bukan lagi tertuju pada mereka, melainkan kisah cinta Vina dan Gilvan yang belum menemukan titik terangnya.


Sayangnya, aku baru gabung di Noveltoon ini, aku nggak punya GC (Grup Chat) biar bisa ngobrol dekat dengan kalian. Kalau mau chat aku, bisa by facebook ya. Messenger aku, biar kita semakin dekat ❤


Add saja facebook aku Irna Mahda Rianti. Dengan senang hati aku konfirmasi..


Akan ada orang-orang baru yang hadir di season 2 ini. Nggak banyak kok, gak akan buat kalian pusing. Hehe


Ini bonus chapter nya ya :


Sepeninggalan Kakek Rama, Gita dan Rama mulai sibuk mengurus perusahaan. Gita hampir lupa dengan Vina, sahabatnya.


Vina tahu, Gita amat sibuk ketika kakeknya Rama meninggal. Gita pasti membantu Rama mengurus perusahaan dan membereskan semua berkas-berkas perusahaan yang berada dikamar mendiang kakek Prima, untuk dipindahkan dan digantikan oleh Papi Rama.


Waktu tak terasa, sudah hampir tiga minggu Vina tak bertemu dengan Gita. Vina sudah tak bekerja di mana-mana, Vina berniat akan melamar pekerjaan di perusahaan Rama, tetapi menunggu Gita dan Rama tak sibuk lagi.


Vina tak mau mengganggu Gita, Vina akan menunggu hingga waktunya tiba. Akhir-akhir ini, badan Vina benar-benar tak sehat. Vina sepertinya harus pergi ke dokter.


"Ma, kayaknya aku harus berobat deh!" ucap Vina


"Dari kemarin mama sudah bilang sama kamu, sepertinya kamu kelelahan, ayo kita segera berobat." ajak Mama Vina.


"Ya, Ma, maafkan aku ... awalnya aku merasa tak apa-apa, tapi akhir-akhir ini, badanku sungguh tak nyaman, aku merasa tak enak, tubuhku kaku, Ma ..."


"Ya, Mama mengerti, nanti Mama antar kamu berobat. Sekarang kamu banyakin istirahat dulu saja ya, Nak ... jangan sampai kelelahan, Mama akan buatkan kamu beberapa ramuan herbal dulu."


"Makasih, Mama ... you are the best Mom in the world. I love you so much, Mommy ..."


"Ya sayang, semua ini karena Mama sangat mencintaimu. Mama akan mengerahkan semua tenaga Mam agar kau kembali sehat seperti sedia kala." Ibunya tersenyum dan mengelus kepala Vina berkali-kali.


Entah apa yang terjadi pada diri Vina, ia merasa badannya tak enak, kepalanya sering pusing sempoyongan dan ia tak semangat beraktifitas. Sudah beberapa hari ini, Vina tak nafsu makan.


Beberapa saat kemudian, Vina dan Ibundanya bergegas ke Rumah sakit. Kondisi Vina mulai tak menentu, terkadang ia lemas, pusing dan menggigil. Tapi, terkadang Vina juga terlihat seperti orang sehat, tak menunjukan rasa sakitnya sedikitpun.


Kali ini, kondisi Vina benar-benar drop, Sang Bunda tak tega membiarkannya terus seperti itu. Akhirnya mau tak mau, Vina segera diantar menuju Rumah sakit. Ibunya amat khawatir, dengan kondisi Vina saat ini.

__ADS_1


Ibunya memegang Vina, Vina tak bisa mengontrol dirinya. Vina dan Ibunya naik taksi agar segera cepat menuju rumah sakit. Didalam taksi, Vina hanya bisa memegangi perutnya yang sakit, entah mengapa, rasa sakit itu terus menjalar dan membuat Vina merasa ngilu.


Akhir-akhir ini memang terjadi perubahan yang aneh pada diri Vina. Mulai dari kebiasaannya yang muntah di pagi hari, tak mau makan dan minum, pokoknya banyak sekali keanehan yang terjadi dalan diri Vina, yang tak bisa dijelaskan.


***


Setibanya di rumah sakit, Vina duduk di samping anak kecil berusia sekitar 5 tahunan yang sedang memakan lolipop berwarna merah menyala. Entah kenapa, Vina ingin sekali memakan lolipop anak itu. Vina ingin mengambilnya, namun Vina bingung bagaimana caranya.


Ketika Vina ingin meminta permen lolipop tersebut, sayangnya Vina telah dipanggil perawat untuk segera diperiksa oleh dokter. Ada perasaan aneh yang muncul, kenapa hasratnya seperti anak kecil, dan Vina merasa ingin sekali memiliki lolipop tersebut.


Ini aneh, baru pertama kalinya Vina merasakan keinginan diluar nalarnya. Vina merasa kecewa karena tak bisa mendapatkan lolipop tersebut, terlebih lagi saat ini ia malah dipanggil Dokter untuk diperiksa. Vina merutuki Dokter itu dalam hatinya, ia kesal, karena Dokter memanggilnya, kesempatan untuk memiliki lolipop itu pun akhirnya harus berakhir sia-sia dan Vina tak bisa mendapatkannya.


Ibu Vina menemani Vina masuk keruang dokter. Dokternya wanita berusia sekitar 30 tahunan, dan sangat ramah. Dokter itu tersenyun dan mempersilakan Vina beserta ibunya duduk dihadapan sang Dokter. Mulanya, Dokter itu menanyakan diagnosa, penyebab Vina sakit dan berobat.


Perlahan, dokter itu memeriksa Vina, Vina menjelaskan kondisinya yang memburuk setelah kembali dari New York. Dokter melihat ada yang aneh pada bagian perut Vina. Perutnya sedikit keras, dan jika ditekan, seperti ada gumpalan yang berada di perut bagian bawahnya. Dokter pun mengernyitkan dahinya, merasa bahwa Vina sebenarnya tak sakit, melainkan ada sesuatu didalam perutnya.


Sang dokter melihat sang Ibu. Namun, pahit atau buruk seorang dokter harus jujur tak boleh berbohong. Ada hal yang harus sang dokter pastikan pada Vina. Dan hal itu, bersifat darurat, tak bisa ditunda lagi. Mau tak mau, Dokter harus bertajya guna mendapatkan informasi yabg akurat.


"Apa saudari saat ini mengalami keterlambatan haid?" tanya sang dokter.


DEG. Vina baru teringat. Sudah dua bulan dirinya tidak mendapati menstruasi. Apa mungkin Vina hamil? Apalagi, Vina telah melakukan hubungan dengan Gilvan dua kali. Apa mungkin?


Aku sudah gila. Mata dan hatiku benar-benar sudah tertutup oleh lelaki. Aku lupa ada Mama dan Papaku yang tentu saja pasti kecewa kalau tahu aku hamil diluar nikah. Bagaimana ini? Ya Tuhan, hukumlah aku. Maafkan kesalahanku. Mama, jangan marahi aku. Maafkan aku, aku tak berpikir jernih saat itu. Aku sudah benar-benar dibutakan oleh cinta. Batin Vina dalam hati.


Ibu Vina mulai curiga dengan apa yang dihadapi oleh anaknya. Ibu Vina berpikir, mungkinkah Vina sudah?


"Menurut pemeriksaan saya, Saudari Vina ini sedang hamil. Saya sudah mengeceknya dan memeriksa kondisi tubuhnya. Untuk lebih jelasnya, bisa melakukan USG di spesialis kandungan." ucap sang dokter


Ibu Vina sangat shock mendengar kabar Vina yang hamil. Namun, Ibunya tak mungkin memarahi Vina ditempat umum seperti ini. Ibu Vina berterima kasih pada dokter dan segera mengajak anaknya pulang.


Vina merasa bersalah sekali kepada Ibunya. Vina kehilangan akal sehatnya saat berdua bersama Gilvan. Kini, hanya penyesalan yang hinggap pada diri Vina. Ibunya tak berkat sepatah kata apapun pada Vina selama perjalanan pulang.


"Ma, Vina bisa jelaskan." ucap Vina


"Jangan bicara. Jelaskan nanti di rumah. Mama akan segera telepon Papa-mu untuk segera pulang."


"Ma, maafkan Vina." Vina memegang tangan Ibunya, namun ditepis oleh Ibunya Vina.


Vina tahu, Ibunya pasti marah besar. Vina harus menanggung semua resikonya. Meminta pertanggung jawaban pada Gilvan pun rasanya tak mungkin. Gilvan pasti masih belum sembuh.


Hati Vina dilanda rasa bimbang dan pilu. Vina tak tahu apa yang akan terjadi. Vina berdoa, semoga kedua orangtuanya memaafkan perbuatannya, dan tak menghukumnya.


Sesampainya di rumah, Vina melihat ayahnya sudah duduk di kursi dengan wajah yang penuh amarah. Vina duduk, sanggup atau tak sanggup, Vina harus memberi tahu kedua orang tuanya. .

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Papa Vina mendekati Vina yang baru saja datang. Papa nya melihat kearah Vina dengan tatapan penuh dengan amarah. Kabar itu mudah sampai di telinga Papany. Marah, kecewa, terluka, bercampur menjadi satu, ketika menatap wajah anak sulungnya itu.


PLAKKKKKKK


Papa Vina memukul Vina, Vina tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Papanya. Tapi, Vina sadar diri, ia memang pantas mendapat hukuman atas perbuatannya yang diluar batas.


"Duduk!" perintah Papa Vina


Sambil menahan rasa sakit, Vina duduk didepan kedua orangtuanya. Vina pasrah, ia memang bersalah. Ia tak mungkin menghindar dari hal ini. Ia harus menjalaninya, ia harus jujur pada orang tuanya.


"Vina, dengarkan Papa. Apa yang Mama-mu katakan itu benar? Iya?" tanya Papa Vina


"Maafkan Vina, Pa! Vina sungguh, maafkan kesalahan Vina."


Papa Vina berdecak penuh amarah. Anak semata wayangnya ternyata telah melukai hatinya. Mama Vina tak kuasa melihat anak perempuannya dipukul oleh sang Ayah, Mama Vina menangis, ia sedih sekaligus marah mengetahui bahwa Vina memang hamil.


Vina sadar, tak mungkin bisa meredam amarah kedua orang tuanya. Vina harus meminta maaf dengan tulus dan ikhlas. Vina harus menyadari kesalahannya.


Vina berdiri dari duduknya, lalu mendekat kehadapan Mama dan Papanya. Perlahan, Vina menurunkan tubuhnya, Vina bersimpuh didepan kedua orang tuanya. Kemudian, Vina bersujud, memegang kaki kedua orang tuanya.


"Mama, Papa.. Maafkan aku! Aku memang salah, aku memang berdosa, maafkan aku yang telah dibutakan oleh cinta. Aku melupakan kalian yang berharap penuh padaku. Mata dan hatiku telah tertutup. Aku benar-benar khilaf. Kini, aku menyadari kesalahanku. Aku mohon, maafkan aku. Hukum dan siksa aku, tapi jangan biarkan aku menggugurkan anak ini. Maafkan Vina, Ma, Pa! Vina benar-benar menyesal, Vina berbuat seperti ini tak mengingat perjuangan Mama dan Papa agar bisa membuat Vina sukses. Vina memang anak durhaka, maafkan Vina.. Jangan marah lagi, Vina tak sanggup seperti ini."


Vina menangis sambil bersujud di kaki kedua orang tuanya. Mama Vina tak tega melihat anaknya harus berbuat seperti ini, meskipun Mamanya sangat marah, namun dalam hati kecilnya beliau tak tega melihat putri semata wayangnya harus seperti ini.


Di kehamilan yang Vina alami, Vina butuh support keluarganya. Mama Vina mengerti, namun amarah juga tak bisa ia tutupi. Kekecewaan mendalam dirasakan sang ibu. Hatinya hancur berkeping-keping, mendapati anak yang dicintainya ternyata hamil sebelum menikah. Bahkan, entah pria mana yang tega menghamili Vina.


Kedua orang tua Vina, benar-benar menyayangkan hal ini terjadi. Betapa malunya mereka, jika nanti orang-orang tahu, kalau Vina tengah hamil di luar nikah. Reputasi keluarganya pastu akan hancur berantakan. Papa Vina tak menginginkan hal itu terjadi, ia harus mengantisipasi semuanya, sebelum semuanya benar-benar terlambat.


"Papa, kita terlalu kejam. Bangunlah, Nak. Mama tak suka kamu bersimpuh seperti ini. Bangun, jangan seperti ini."


Mama Vina membangunkan anaknya. Mama Vina memeluk Vina dengan penuh kehangatan. Hati Ibu mana yang tak sedih dan marah melihat anaknya hamil diluar nikah? Namun, semua sudah terlanjur, semua sudah terjadi, marah dan kecewa pun sudah tak ada gunanya.


Mama mengajak Vina duduk kembali. Papa Vina tetap terlihat marah dan penuh emosi. Ia masih tak puas dengan ucapan anaknya tersebut. Papanya murka, benar-benar murka. Betapa mengecewakannya Vina saat ini, ia begitu penasaran, siapa lelaki bejad yang tega menghamilinya.


Tatapan mata itu sangat tajam, wajah Papa Vina begitu merah padam, bak air mendidih. Ingin rasanya bangun dari mimpi dan tidur panjangnya, sayangnya ini bukan mimpi, ini kenyataaan pahit yang harua kekuarga Vina lewati.


"Vina, siapa lelaki yang telah menghamili mu?"


Vina terperanjat kaget, mendengar ucapan Papanya.


*Aku akan memaafkan mu, kalau kamu membawa lelaki yang telah menghamili mu kehadapan ku. Aku harus membuat perhitungan dengannya."


Bagaimana ini? Vina tak mungkin bisa membawa lelaki yang telah menghamilinya. Gilvan? Tak mungkin Gilvan bisa bertanggung jawab..

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2