Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Raina-ku


__ADS_3

Fadli memutuskan untuk ke restoran saja, karena ia ingin memantau restoran juga. Ia ingin tahu, karyawan baru yang bekerja pada hari saat dirinya cuti.


Fadli akan mengelola restoran Gilvan sendiri, karena Gilvan dan Vina beberapa bulan lagi berencana untuk pindah ke New York. Gilvan akan membuka restoran di sana. Karena itulah, Fadli harus bersiap, mengelola restoran Gilvan sendiri.


Sesampainya di sana, Fadli melihat restoran sangat ramai. Bahkan, Gilvan pun membantu melayani para pelanggan. Fadli segera menghampiri Gilvan, karena tak enak jika Bosnya harus bekerja menggantikannya.


"Pak, sini, biar saya saja."


Gilvan kaget mendengar suara Fadli, ia menoleh sambil membawa nampan penuh dengan sisa makanan.


"Fadli? Kenapa kamu kesini? Kamu kan sedang cuti." ucap Gilvan.


"Di rumah juga saya ngapain, Pak. Lebih baik saya bekerja. Memang saya sedang cuti, tapi saya juga bosan, ya sudah saya memutuskan untuk kesini saja." Fadli tersenyum.


"Istrimu mana?" tanya Gilvan.


"Dia sedang kuliah, karena ini semester akhirnya. Dia sedang menyusun skripsi, karena sebentar lagi ia akan sidang." jawab Fadli.


"Pantas saja, pengantin baru ditinggalkan. Kamu sudah melakukannya?" tanya Gilvan.


"Melakukan apa, Pak?"


"Malam pertamamu, Fadli." Gilvan terkekeh.


"Mana ada malam pertama, Pak. Saya tak akan berani menyentuhnya." ucap Fadli jujur.


"HAH? Kenapa malah berkata begitu? Dia kan istrimu, kamu seharusnya melakukan hubungan suami istri dengannya, meskipun hubungan kalian dijodohkan! Malam pertama adalah hak dan kewajiban mu sebagai suami, Fad!" jelas Gilvan.


"Saya gak berani, Pak. Raina galak, dia marah-marah terus sama saya, bawaannya emosi terus, yaa saya mengerti kenapa dia begitu, makanya saya memutuskan untuk tidak melakukannya."


"Nanti juga dia luluh sama kamu, Fad. Tinggal nunggu waktu aja," Gilvan tersenyum.


"Pak, karyawan barunya mana?" tanya Fadli.


"Oh, dia sedang cuci piring di dapur. Anaknya banyak bicara, dia selalu menggoda Ara, sampai Ara kesal padanya." kata Gilvan.


"Oh iya, Ara kemana?"


"Ara sedang ke pasar, membeli tomat dan cabai, karena stok tinggal sedikit. Karena ulah Wildan, Ara jadi ingin pergi ke pasar, lucu sekali melihat mereka." ucap Gilvan.


"Begitu ya, Pak. Oh ya, aku mau bantu di restoran sampai jam 2 ya, karena jam 3 aku harus menjemput Raina di kampusnya."


"Baik, Fad. Oh iya, aku mau menjemput anakku, sebentar lagi dia pulang sekolah. Aku akan menjemputnya, dan kembali ke restoran nanti siang. Kamu bisa menjaga restoran kan Fad? Kamu tidak keberatan?" pinta Gilvan.


"Tidak, Pak. Saya tak ada kegiatan walaupun diberi cuti tiga hari. Bos silahkan jemput putri cantik saja, biar saya yang urus restoran."


"Baiklah, aku akan segera bersiap. Terima kasih, Fad. Kamu datang disaat yang tepat."


"Ya, Pak. Tentu saja."


Fadli segera membawa nampan sisa makanan para pelanggan restoran. Ia menuju dapur, lalu ia bertemu dengan Wildan, sang karyawan baru.


"Hai, karyawan baru ya?" sapa Fadli.


"Iya, Bapak siapa? Kok saya baru lihat." jawab Wildan.


"Jangan panggil Bapak dong, kayaknya kita seumuran, cuma pakaian saya hari ini sedang formal saja." jawab Fadli.

__ADS_1


"Eh, iya baiklah. Agar terkeras sopan saja sih, hehe."


"Saya kebetulan sedang cuti, tapi saya punya waktu lenggang, jadi saya mampir." ucap Fadlu.


"Oh, pekerja disini juga ya?" tanya Wildan.


"Iya, saya juga bekerja disini. Kenalin, saya Fadli."


"Saya Wildan, Salam kenal."


Gilvan membantu Wildan membersihkan semua piring dan gelas. Fadli dengan senang hati membantu Wildan. Tak lama, Ara datang membawa jinjingan yang lumayan berat. Wildan yang melihat itu dengan sigap, segera membawa jinjingan Ara.


"Tuan puteri, sini. Biar aku saja yang membawakannya. Kasihan dirimu, secantik ini harus membawa barang-barang yang berat!" ucap Wildan.


"Apaan sih kamu! Gak jelas banget."


"Hai, Ra. Kenapa gak bilang aku, kalau kamu mau ke pasar, kan aku bisa bawa mobil. Biar kamu gak keberatan." ucap Fadli.


"Loh, Fadli? Bukankah kamu masih cuti?" Ara kaget, melihat Fadli.


"Iya, memang aku sedang cuti. Tapi aku bosan, jadi aku memutuskan untuk ke resto saja." jawab Fadli.


"Kamu aneh! Dikasih cuti buat berduaan sama istri kamu, kamu malah ke tempat kerja! Gimana sih," umpat Ara.


"Dia sedang sibuk kuliah, sebentar lagi ia akan wisuda, jadi ia sibuk mempersiapkan segalanya. Bagaimana aku bisa berduaan?" balas Fadli.


Tiba-tiba, tak ada angin, tak ada hujan, Wildan mendekati mereka berdua, merasa telah kenal dan telah dekat,


"Jadi, Fadli ini sudah menikah ya? Yes, ternyata dirimu bukan sainganku." Wildan cengengesan.


"Saingan gimana maksudmu?" tanya Fadli.


"Saya kira, kamu menyukai tuan puteri ini, itu berarti kita akan menjadi saingan. Tapi ternyata, Fadli sudah menikah, lega rasanya hatiku." Wildan cengengesan lagi.


"Jangan ngarep kamu ya!" Ara pergi meninggalkan Wildan.


Fadli mengikuti Ara pergi. Meninggalkan Wildan sendirian di pantry. Ara berdiri di depan meja kasir, dengan wajah kesal.


"Kenapa kamu? Bete gitu keliatannya." goda Fadli.


"Kesel aku sama si Alay itu, baru pertama kerja aja udah caper kayak gitu." Ara cemberut.


"Jangan kesel-kesel sama Wildan, nanti kamu malah jadi suka sama dia." ucap Fadli.


"Sembarangan kalau ngomong! Kamu kenapa malah kesini? Istrimu kemana?" tanya Ara.


"Dia kuliah, jadi aku memutuskan untuk kesini saja, daripada jenuh di rumah." jawab Fadli.


"Bahagianya yang sudah menikah." ucap Ara.


"Biasa aja, kok. Inikan bukan pernikahan yang aku inginkan. Tak ada yang berbeda, rasanya aku masih sama seperti dulu, masih sendiri dan belum menikah."


"Kok kamu ngomongnya gitu sih? Wanita kaya itu kan sekarang istrimu, dan kamu telah SAH menjadi suaminya." ucap Ara.


"Memang, tapi hanya SAH di atas kertas saja. Aku tak merasa bahwa aku telah menikah, rasanya masih sama saja seperti aku belum menikah." jawab Fadli.


"Sabar ya, Fad. Lambat laun, kamu pasti bisa cinta dan istrimu juga akan mencintaimu." jelas Ara.

__ADS_1


"Aku dan dia akan bertahan hanya untuk kurun waktu enam bulan saja, nanti pun dia akan melepaskan aku." ucap Fadli tiba-tiba.


"Benarkah? Apa kamu yakin, dalam waktu enam bulan, kalian akan berpisah? Bagaimana kalau tiba-tiba cinta itu datang, dan kalian tak akan mampu melepaskannya?" tanya Ara.


"Entahlah. Aku tak mau memikirkan nanti. Memikirkan hari ini pun aku sudah pusing."


"Kenapa lagi?"


"Waduh, udah jam 2. Aku harus menjemput Raina, dia akan pulang pukul tiga. Ra, aku pergi dulu ya, Pak Gilvan nanti jam 3 juga akan kesini, kalau sibuk minta bantuan Pak Gilvan saja."


"Jangan Raina dong, tapi istriku, gituuuuuu," goda Ara.


"Ah, sudahlah. Aku pergi ya." Fadli melambaikan tangannya pada Ara.


"Hati-hati, Fad." Ara tersenyum.


Kamu bisa saja berkata, akan berpisah dengan Raina, tapi hatimu mungkin saja memberi kesempatan agar kalian bisa saling jatuh cinta. Aku tahu, ego lah yang menyelimuti diri kalian. Aku tahu, lambat laun, kalian pasti saling mencintai. Fadli, kamu lelaki yang baik. Raina beruntung mendapatkan kamu. Semoga kamu bisa merubah sifat Raina, Fad. Batin Ara.


"Tuan puteri, kok bengong aja sih?" Wildan tiba-tiba datang dan mengagetkan Ara.


"Dasar kamu Alay! Ngagetin aja!" Ara pergi lagi meninggalkan Wildan.


"Oh, Tuan puteri.."


***


Fadli segera melajukan mobilnya menuju kampus Raina. Fadli tak mau terlambat, dirinya tak mau mengecewakan Raina.


Setengah jam kemudian, Fadli telah berada di kampus Raina. Fadli segera menghubungi Raina, memberitahu Raina bahwa ia telah tiba.


📱istri Jutek-ku📱


[Halo, siapa nih?]


[Ini aku, aku udah sampai di kampus kamu. Kamu dimana?]


[Oh, aku bentar lagi pulang, tapi aku mau jalan-jalan sama temenku, gimana dong? Kayaknya, aku gak bisa deh pulang bareng sama kamu! Soalnya, temenku bawa mobil tuh. Kamu pulang lagi aja deh!]


[Kamu naik mobilku aja, biar aku yang antar. Setelah itu, aku akan pulang lagi kok. Aku gak akan ganggu kamu.]


[Fadli, kamu jangan terlalu berharap bisa sering satu mobil bareng aku ya! Aku tahu, kamu memang cari-cari kesempatan agar bisa bareng sama aku, iya kan? Maaf ya, aku gak bodoh!]


[Enggak kok, aku hanya menuruti perkataan Papi dan Kakakmu, bahwa aku harus menjemput dan mengantarmu.]


[Sudah, nanti jemput saja aku jam tujuh malam di Cafe love story, aku akan berada di sana bersama teman-temanku!]


[Baiklah. Aku pergi. Nanti ku jemput kamu jam 7.]


[Ya]


Tut.. Tut.. Tut..


Telepon dimatikan. Fadli kecewa, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Bukan salah Raina kalau ia akan pergi bersama teman-temannya, karena Raina tak mempunyai nomor Fadli. Harusnya, Fadli antisipasi dahulu sebelum datang ke kampus. Ia harusnya menelepon Raina dulu, namun ia malah langsung datang ke kampus.


Sekarang, Raina adalah istriku. Raina adalah tanggung jawabku. Cafe love story? Aku akan menunggunya di cafe tersebut. Aku tak mau terjadi hal-hal aneh lagi pada Raina. Walaupun hubungan aku dan dia seperti ini, aku tetap tak boleh mengabaikan tugasku sebagai suaminya. Aku harus mengawasinya, aku harus melindunginya. Oke, Fadli.. Kita berangkat menuju cafe tersebut, semoga saja Raina tak berbohong.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2