
Rasa canggung dan bingung menghampiri Vina. Ia tak nyaman saat bekerja. Apalagi, Andra selalu menatap kearahnya. Vina merasa, Andra memang memperhatikannya. Apakah Andra tahu, kedekatan Gilvan dengan Vina? Apakah Andra marah?
Vina mencoba tetap terlihat santai dan biasa saja, walaupun hatinya masih bingung dan takut akan kemarahan Andra. Vina tak tahu bagaimana cara menghentikan Andra.
Andra memang kesal, karena Vima dengan begitu mudahnya ingin melepaskan dirinya, namun Andra juga memang mencintai Vina, meskipun ia telah memiliki tunangan. Andra memang bermain api, namun Andra juga mulai tumbuh rasa suka pada Vina.
Awalnya, Andra memang mendekati Vina untuk urusan perusahaan, tapi lama-lama, cinta itu datang dan Andra tak mampu mengontrol perasaannya sendiri.
Waktu istirahat telah tiba, Andra tak menunjukkan tanda-tanda untuk mendekati Vina. Vina heran, biasanya Andra selalu mendekatinya walaupun hanya sekedar menggodanya.
Vina merasa bersalah, ia memutuskan untuk mendekati Andra lebih dulu. Walaupun disini Andra yang salah, tapi Vina pun merasa tak enak jika Andra melihatnya seperti musuh, tak menyapa dan saling berbicara.
"Andra." sapa Vina mendekati Andra menuju meja kerjanya
"Iya?" jawabnya
"Aku mau bicara sama kamu, kita ketemu setelah pulang kerja." pinta Vina
"Bicara apalagi? Disini saja. Aku tak akan mendengar kata putus darimu. Kita tetap berhubungan sampai kapanpun." ucap Andra
"Kenapa kamu egois sekali? Kumohon, dengarkan penjelasan ku, nanti sore temui aku di taman kota dekat kantor kita. Kalau kamu tidak datang, maka aku anggap kamu menyetujui hubungan kita telah berakhir! Aku pergi."
Vina berlalu meninggalkan Andra. Didalam hatinya, muncul rasa takut ketika mengucapkan hal tersebut. Andra tak menjawabnya, ia hanya diam tak bergeming. Benar-benar membuat Vina kesal.
Vina menelepon Gita untuk menemani makannya. Vina diminta untuk naik saja keruangan kerja Gita, karena Gita tak bisa keluar. Vina menyetujuinya. Setelah membeli beberapa snack dan minuman, ia bergegas naik ke lantai atas kantor Gita.
Gita terlihat sedang bekerja. Gita sibuk, ia tak sempat istirahat. Vina yang datang ke ruangannya, jadi merasa tak enak. Vina menyesal telah menelepon Gita, kalau akhirnya Gita sedang sibuk bekerja seperti ini.
"Maaf, Git. Aku gak tahu kalau kamu lagi sibuk." ucap Vina
"Nggak kok, aku cuma lagi ngisi waktu luang aja, Vin. Sini duduk!" saran Giya
Vina mendekati Gita yang sedang sibuk berkutat dengan komputer dan laptopnya. Gita tersenyum melihat Vina, tahu bahwa sahabatnya itu sedang membutuhkannya. Terlihat dari raut wajah Vina yang sepertinya sedang ada masalah.
"Kenapa sayang? Wajahmu ditekuk gitu?" tanya Gita
"Ini soal Gilvan." ucap Vina
"Dia kenapa? Bukankah hubungan kalian sudah lebih baik sekarang?" tanya Gita
"Memang, Gilvan kini sudah seperti Ayah yang sesungguhnya bagi Givia. Tahukah kamu? Pagi tadi dia menjemput Givia lagi. Dan? Dia memberiku uang tunjangan. Dia bilang, untuk kebutuhan aku dan Givia. Aku sangat tersentuh, Git! Kenapa, dia begitu hangat saat ini? Lagi, Papaku memintanya untuk datang ke rumah malam ini."
"Wah, serius kamu? Ya bagus dong, Vin. Semoga hubunganmu dengannya akan semakin lebih baik lagi." ucap Gita
"Tapi,"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Andra. Aku memainkan perasaannya, Git. Aku jadi merasa tak enak padanya."
"Come on, Vina! Andra itu udah melakukan kesalahan besar sama lo! Dan lo berhak marah sama dia. Kenapa lo harus merasa bersalah? Biarkan aja dia merasakan akibat dari perbuatannya!" jelas Gita
"Memang, tapi entah kenapa hatiku malah jadi tak enak, bagaimana aku harus menyelesaikan semua ini dengannya?" tanya Vina
"Kuncinya, semuanya harus jujur! Kamu harus jujur pada Andra tentang Gilvan. Kamu harus menjelaskan semuanya. Jangan ada satupun yang kamu tutupi. Biarkan Andra berpikir, biarkan Andra menentukan jalannya. Kalau sampai dia tak terima dan macam-macam padamu, aku dan suamiku yang akan turun tangan! Tenang saja, aku ada dibelakang mu." jawab Gita
"Mungkinkah kalau aku jujur, semuanya akan baik-baik saja?" tanya Vina
"Jujur adalah kunci. Dengan kejujuran, hati kita akan terasa lega. Percayalah, orang yang jujur itu pasti mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya." saran Gita
"Semoga saja, Andra bisa menerimanya dengan lapang dada kalau aku jujur padanya."
"Tetap semangat. Jangan sungkan untuk memberitahuku jika Andra melakukan sesuatu yang tak diharapkan."
"Tentu, terima kasih. Kamu adalah sahabatku yang terbaik, Git!"
"Kamu jugaaaa sayang."
***
Vina sudah menunggu Andra di taman kota dekat kantornya. Sengaja, Vina lebih dulu meninggalkan Andra dan bergegas menuju taman kota. Vina ingin tahu, apa Andra akan datang atau tidak. Vina berjalan kaki, karena jaraknya hanya sekitar 800 meter dari kantor.
Vina duduk di bangku taman tersebut, berharap bahwa Andra akan datang menemuinya. Vina menunggu hampir 15 menit. Ternyata, Andra sedang berjalan kearahnya. Vina bisa melihat keberadaan Andra.
"Ada apa?" tanya Andra
"Aku akan langsung saja, Ndra."
"Terserah."
"Aku benar-benar tak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu." ucap Vina
"Aku tak ingin mendengar alasan itu lagi. Aku akan tetap mempertahankan cintaku! Kalau kamu tak ingin terjadi sesuatu pada dirimu atau anakmu, jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi." ancam Andra
Vina menghela nafas, ia sebenarnya takut, namun ia juga tak mungkin akan seperti ini terus. Vina harus memberanikan diri untuk mengatakan semuanya pada Andra.
"Jangan mengancam ku terus. Aku begini, karena ada alasannya!" timpal Vina
"Aku tak ingin mendengar alasan apapun." jawab Andra cepat
"Lelaki yang memukulmu saat itu adalah Ayah Givia. Kamu salah jika menilai anakku adalah anak haram. Aku memang tak menikah dengannya, karena saat itu dia sedang menjalani pengobatan. Kini, dia ada untuk menebus semua kesalahannya. Maafkan aku, memutuskan mu, karena aku akan kembali dengannya."
Vina terus berbicara, tak mendengarkan Andra walaupun Andra berkata tak ingin mendengar alasan apapun.
"Hahahaha! Jadi, karena lelaki itu kamu akan meninggalkanku? Iya?"
__ADS_1
"Iya, karena dia orang yang aku cintai. Dia juga yang memberitahu aku tentang sifat buruk mu selama ini. Dia tak mungkin dengan mudah menghajar mu, kalau dia tak tahu semuanya tentang kamu. Dia tahu, bahwa kamu memiliki seorang tunangan. Bukan begitu, Andra?" Vina tersenyum sinis
Andra terdiam. Ia kaget, kenapa Vina bisa mengetahui semuanya? Kenapa lelaki itu bisa tahu bahwa Andra sudah memiliki tunangan? Andra kesal, ia tetap menahan dirinya agar terlihat biasa saja.
"Siapa lelaki itu? Akan ku hajar dia, berani-beraninya seenak jidatnya memfitnah diriku! Katakan padaku, siapa dia?" Andra berapi-api
Vina tersenyum sinis menatap Andra,
"Dia adalah pemilik restoran Givi's Chicken! Tahu kan? Ingatkah kamu, pada saat itu membawa tunangan mu datang ke tempat itu? Jangan mengelak, Andra. Kita memang telah pantas berpisah!" jawab Vina lantang
Andra gelagapan. Ia benar-benar tak menyangka akan kejadian ini. Andra memang menyukai restoran ayam tersebut, hingga saat itu ia membawa Evelyn untuk datang ke resto itu lagi. Ia tak tahu, bahwa resto itu adalah milik Ayahnya Givia.
Sialan, gue gak tahu kalau lelaki brengs*k itu adalah pemilik restoran ayam goreng. Kalau saja gue tahu, mungkin gue gak akan bawa Velyn ke sana. Kalau udah gini, gue musti gimana? Mengelak pun sepertinya tak ada cara lain. Vina sudah tahu, dan lelaki brengs*k itu pasti sudah memberitahu semuanya. Dan dia, ternyata adalah Ayahnya Givia? SIAL! Gerutu Andra dalam hati.
Andra tak patah Arah. Ia menatap Vina. Ia melihat Vina dengan lembut. Tatapannya tak se-emosi tadi. Kini, Andra harus merayu Vina. Andra harus meyakinkan Vina.
"Vin, maafkan ku. Kukira, kamu tak tahu."
"Sudah, lupakan. Keputusanku tetap, Ndra."
Andra memegang tangan Vina. Vina menolak, namun Vina tak bisa melepaskannya. Tangan Andra terlalu kuat memegang tangannya.
"Vin, dengarkan aku. Aku memang mempunyai wanita! Namun, pada saat kejadian di diskotik, aku telah memutuskannya. Aku hanya memilikimu seutuhnya. Aku tak pernah bermain-main lagi. Aku mulai serius padamu, makanya aku berani menyentuhmu. Kumohon, percayalah padaku."
Tatapan Andra selalu saja membuat Vina tak tega, kasihan padanya. Andra memang lelaki yang membuat Vina jadi merasa bersalah.
Disisi lain, seorang wanita bertubuh tinggi dan seksi, berjalan dengan cepat mendekati Vina dan Andra. Wanita itu terlihat emosi dan penuh amarah. Dengan cepat, ia berjalan menuju bangku tempat Vina dan Andra duduk.
Emosinya kalap, tak tertahankan. Betapa sakitnya, melihat sang tunangan sedang selingkuh dan berpegangan tangan dengan wanita lain. Tanpa disadari Vina dan Andra, wanita itu langsung menyeret Vina menuju kearahnya. Wanita itu membuat Vina berdiri dari duduknya.
Betapa kaget Vina mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti ini, benar-benar membuat Vina takut. Kini rambut Vina dijambaknya, wanita itu benar-benar marah. Vina hanya bisa mengaduh kesakitan.
"Aaargghhhh, lepas! Siapa kamu!?“
Andra tak menyangka. Mata Andra memerah, ia shock, benar-benar kaget, mendapati sang kekasih ada dihadapannya sambil menyiksa Vina.
"Evelyn!?"
*Bersambung*
Selamat siang..
Gantung lagi ya, gemes gak sih? 🤭
Nanti malam lanjut lagi kok 😁
Jangan lupa like dan komentar ya sayang-sayangku... ❤
__ADS_1