Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Maafkan aku, ya!


__ADS_3

Vina dan Gita naik taksi menuju dokter kandungan. Vina berharap, dirinya tak hamil, kalau sampai Vina hamil, entah kemana arah tujuan hidupnya nanti.


"Kalau ada Rey, kita pasti tak akan kesulitan seperti ini." keluh Gita yang kesal selama naik taksi


"Git, apa Rey membenciku?" tanya Vina


"Rey bukan orang yang pendendam. Dia tak akan membencimu." ucap Gita


"Aku merasa bersalah padanya!" Vina menyesal


"Tak apa, karena kisah kalian belum terlalu jauh, Rey pasti akan mudah menerimanya." ujar Gita


"Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf padanya." ucap Vina


"Tentu saja, nanti kita datang ke rumahku, bicaralah padanya. Oke?" pinta Gita


"Baiklah, Git. Terima kasih, selalu menguatkan ku!"


Sesampainya di dokter kandungan, Gita segera membuat janji sebagai pasien VIP. Dokter kandungan yang Gita tuju adalah dokter spesialis keluarga Rama dahulu.


Tak perlu menunggu lama, Gita dan Vina segera di persilahkan masuk dan Vina segera diperiksa. Vina mendapat tindakan USG. Dokter memutar alatnya ke kiri dan ke kanan di bagian perut Vina.


"Saya lihat, ini ada kantong janin. Tetapi, janinnya belum ada. Entah karena kehamilannya masih sangat muda, atau karena ini memang hamil blighted ovum atau yang disebut hamil kosong. Hamil yang hanya ada kantungnya saja. Nanti, dua minggu lagi, datang kemari ya! Memastikan janinnya tumbuh atau tidak." ucap sang dokter


"Apa ini berbahaya dok?" tanya Vina khawatir


"Tidak, kantong ini memang merupakan kantong pelindung janin saat dalam kandungan, semoga saja nanti janinnya tumbuh. Seandainya janin tidak tumbuh, maka harus dikeluarkan."


"Apa itu akan membuat saya terluka, Dok?"


"Tidak, ini hanya tindakan pengeluaran kantong janin, namanya kuretase."


"Aborsi maksudnya, Dok?" tanya Gita asal bicara


"Ya, kasarnya begitu! Tetapi, ini hanya pengeluaran kantongnya saja. Doakan saja, nanti janinnya akan tumbuh berkembang." ucap dokter


Justru aku berdoa agar janinnya tidak tumbuh, Dok! Aku tak tahu hubunganku dan Gilvan akan seperti apa kedepannya. Aku tak ingin hamil, aku tak ingin menambah masalah baru. Aku ingin bebas, lepas. Kalaupun Gilvan nantinya tak menginginkan aku, aku bisa ikhlas pergi darinya. Tetapi, kalah janin ini hidup? Aku harus bagaimana? Semoga saja aku tidak hamil. Ucap Vina dalam hati.


Pemeriksaan selesai. Gita mengajak Vina ke rumahnya untuk bertemu Rey. Sebenarnya, Vina tak siap, tetapi Vina juga mau sampai kapan menghindar dari Rey. Mau tak mau, Vina harus berani meminta maaf pada Rey.


"Git, gue gak mau hamil." ucap Vina tiba-tiba


"Loh, kenapa?" tanya Gita heran


"Gue gak siap! Lagian, dengan kondisi Gilvan yang seperti itu, apa dia bakal ngakuin ini anaknya?" tanya Vina


"Doakan, semoga saja Gilvan cepat pulih. Kamu gak boleh pesimis gitu dong Vin." Gita memberi semangat


"Tapi, gue gak yakin. Gilvan masih gak ingat sama gue. Gue takut, nanti gue tersiksa lagi, apalagi kalau gue sampe hamil." ucap Vina


"Vin, elu tenang aja! Ada gue, ada kak Rama, ada Rey juga, kita semua bakal bantuin lo. Kita semua bakal bantuin Gilvan. Gue sama Kak Rama sudah sepakat, akan membuat Gilvan mengingat kembali semuanya!" Gita menjelaskan


"Lu serius mau bantuin Gilvan?" tanya Vina


"Serius. Gilvan itu dewa penolong hidup gue, juga hubungan gue sama kak Rama. Gue harus membalas budi gue padanya, Vin." ucap Gita

__ADS_1


"Thanks, Git. Lo emang sahabat gue yang paling baik!" Vina memeluk Gita.


Gita memesan taksi lagi. Entah kenapa, rasanya Gita malas sekali untuk naik taksi. Berbeda dengan pengawal pribadinya, semuanya terasa nyaman. Vina teringat Rey, akan bagaimana nanti reaksi Rey, kalau tahu Vina datang ke rumah Gita.


"Git, kalo Rey gak mau ngomong sama gue, gimana?" Vina khawatir


"Tenang aja!" jawab Gita santai


"Tenang aja gimana sih maksud lo?" Vina sedikit kesal


"Ya, Rey gak akan marah sama lo, udah tenang aja!" Gita tetap santai


"Ah, elu gimana sih? Kenapa tenang-tenang mulu! Hati gue gak tenang sama sekali, tau!"


"Ya, emang gue musti bilang apa coba? Ya, tenang aja! Ketemu aja belum." ucap Gita


"Ah, Gita malesin banget deh! Tau ah!" Vina kesal


"Ya ampun, Vina. Dengerin gue! Rey itu kan pengawal gue, dia digaji oleh suami gue, kalo dia berani marah sama sahabat gue, apa dia gak takut kalau gajinya bakal dipotong?" jelas Gita


"Wowww.. Sekarang lu udah maen bawa-bawa kekuasaan lu ya!"


"Iya lah. Kalau Rey takut sama gue, dia juga pasti takut sama lu." jelas Gita


"Oke deh, gue gak perlu khawatir lagi kalau gitu." ucap Vina


Akhirnya, Gita dan Vina telah sampai. Gita segera mengajak Vina masuk kedalam rumah itu. Gita mengunjungi dulu anak-anaknya yang sedang di timang-timang oleh baby sitternya.


"Mia, sini. Aku mau gendong Nayya cantikku. Aku kangen banget sama putri kecilku." ucap Gita semangat


"Iya, Nona. Ini, Nayya sekarang mulai banyak bicara. Saya senang mengajak Nayya ngobrol." ucap Mia


"Ya ampun, Git. Anak lu udah gede aja, gemesin banget sih, Nayyaaaaaa, uuunncccchhhhh!" ucap Vina


Gita mencari keberadaan Rey. Kata asisten yang lain, Rey sedang berada di taman belakang. Gita segera menuju ke sana. Benar saja, Rey memang sedang berada di taman. Rey sedang menyapu halaman disekitar taman.


"Rey!" panggil Gita


Rey menoleh ke sumber suara. Rey melihat Vina yang berdiri dibelakang Gita. Rey sedikit kaget, tetapi, Rey tetap stay cool. Rey tak mau Vina mengetahui isi hati Rey yang sebenarnya.


"Rey, kenapa kamu malah membersihkan taman ini?" tanya Gita


"Saya tak ada kerjaan, Nona." ucap Rey ramah


"Hallo, Rey." sapa Vina


"Hallo juga." ucap Rey datar


Kenapa? Kenapa kamu dingin sekali padaku? Kamu masih marah? Maafkan aku, Rey. Aku tahu, kamu pasti terluka. Aku menerima kemarahan mu. Batin Vina.


Nayya seperti mengerti dengan keadaan ini, Nayya yang sedang digendong Gita malah menangis. Dengan semangatnya Gita meninggalkan mereka berdua.


"Eh, maaf ya Nayya nangis. Aku tinggal dulu bentar, ya." Gita segera pergi


Vina dan Rey terlihat kikuk. Entah apa yang ada dibenak mereka masing-masing. Bina memberanikan dirinya mengajak Rey terlebih dahulu.

__ADS_1


"Rey?" tanya Vina


"Iya?" jawabnya


"Duduk di bangku taman itu yuk?" ajak Vina


"Untuk apa?"


"Aku ingin berbicara denganmu!" Vina to the point


"Baiklah."


Rey berjalan dengan penuh kehampaan. Vina tahu, Rey sakit hati dengannya. Mau bagaimana lagi? Ini jalan yang Vina pilih. Vina dan Rey duduk bersama di bangku taman tersebut.


"Rey, maafkan aku." Vina menunduk


"Maaf untuk apa?" tanya Rey


"Aku mempermainkan perasaanmu." ucap Vina


"Menurutku, tidak begitu." jawab Rey


"Maksudmu?"


"Bukankah dulu kamu memang sempat bilang, bahwa kamu tak mau kita terjalin dalam sebuah status. Itu saja sudah membuatku mengerti." jelas Rey


"Tapi, aku memberi harapan padamu."


"Tak apa, aku dengan senang hati menerimanya."


"Memangnya kamu tak sakit hati?" tanya Vina lagi


"Awalnya, aku memang sakit hati. Tetapi, aku bisa menerima kenyataan. Aku bisa menerima, bahwa Gilvan lebih membutuhkanmu daripada aku." ucap Rey


"Aku menyesal telah membuatmu sakit hati." ucao Vina


"Kamu tak boleh menyalahkan dirimu terus. Ini bukan salahmu. Ini takdir yang berbicara." ucapan Rey membuat Vina lega


"Terima kasih, kamu telah mengerti." ucap Vina


"Tentu, Vin. Selamat bahagia, selamat berjuang lagi. Aku mendukungmu!" ucao Rey tersenyum


Rey, kenapa hatimu tulus sekali? Terima kasih, Tuhan. Lelaki ini sangatlah pengertian. Semoga Rey mendapatkan wanita yang bisa membuatnya bahagia lebih daripada aku. Amin. Batin Vina.


Rey dan Vina mulai enjoy berbincang bersama. Ternyata, Rey tak se egois yang Vina pikirkan. Vina lega, akhirnya masalahnya hilang satu per satu.


Sepasang mata sedang memperhatikan Vina dan Rey. Terlihat sekali, rona cemburu diwajahnya. Tetapi, ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Oh, jadi itu wanita yang buat pengawal Rey jatuh hati? Hmm, kalau aku punya banyak uang pun, aku bisa cantik seperti dia." rasa iri menghantuinya.


*Bersambung*


Hallo readers..


Cuma mau ngingetin, bagi yang fokus baca dan kalian emang silent reader, setelah membaca minimal jangan lupa like ya.. Pembacaku ribuan, tapi yang like paling 100 orang aja.

__ADS_1


Gak apa-apa kalian gak komentar pun, tapi jangan lupa like ya.. sukai ceritanya. 🥰🥰🥰


Selamat membaca 😘❤


__ADS_2